Pesantren Al Ittifaq Belajar Agama dan Mengemas Sayuran Senin, 31 Agustus 2009 | 11:33 WIB
Aroma khas bawang daun menyengat hidung begitu memasuki salah satu bagian gedung dalam kompleks Pondok Pesantren Al Ittifaq di Desa Alamendah, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Aroma itu muncul dari pengemasan daun bawang oleh para santri. "Bekal keterampilan ini saya dapatkan selama saya belajar di pondok pesantren," tutur Zaenal Arifin (24) yang berada di antara kerumunan santri. Dia juga berasal dari Desa Alamendah dan sudah tiga tahun menimba ilmu agama di pondok pesantren yang diasuh KH Fuad Affandi itu. Tidak hanya pertanian, pesantren ini juga mengajarkan peternakan, bisnis, hingga ilmu bangunan kepada santri, tergantung pada minat mereka. Bahkan, beberapa bangunan yang ada di dalam kompleks pesantren, termasuk tempat pengemasan sayuran berlangsung, dibangun para santri sendiri. Setiap hari pesantren ini setidaknya menyuplai 7 ton komoditas sayuran, seperti kubis, kentang, tomat, dan bawang daun, ke Jakarta dan Bandung. Semuanya tentu tidak dihasilkan dari lahan 14 hektar yang dimiliki pesantren, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sekitar melalui kelompok tani. Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al Ittifaq KH Apep Saepuddin menjelaskan, sinergi antara pendidikan pertanian dan peternakan serta ilmu agama berlangsung sejak 30 tahun lebih. Tidak hanya membekali santri dengan ilmu agama, mereka juga memberi bekal agar santri berkarya di tengah masyarakat demi kesejahteraan bersama. Sebagian hasil yang didapatkan digunakan pesantren untuk menyokong biaya operasional sehari-hari. "Santri yang belajar ke tempat ini tidak perlu memikirkan biaya, cukup datang dengan kemauan dan mereka pasti akan mendapatkan ilmu sekaligus keterampilan hidup," tutur Apep. Untuk itulah, bercocok tanam hingga berternak menjadi rutinitas bagi santri di Pondok Pesantren Al Ittifaq. Begitu siang hari seusai belajar agama, santri langsung berpencar menuju kebun masing-masing dan beberapa lainnya bertugas mengemas sayuran untuk dikirim ke supermarket. Memasuki bulan puasa, kesibukan di Pesantren Al Ittifaq tidak terganggu. *Terorisme* Perburuan aparat berwajib terhadap pelaku teror bom yang mengarahkan pengawasannya kepada pesantren justru tidak membuat Pondok Pesantren Al Ittifaq risau. Dengan nada santai, Apep menuturkan, santri terlalu sibuk untuk ikut-ikutan cara berpikir teroris. Bahkan, KH Fuad pernah membuat sebuah syair yang berisi definisi jihad versi Pondok Pesantren Al Ittifaq. Ditulis pada 2005, syair itu kembali didengungkan setelah tragedi bom di Kuningan beberapa waktu lalu. Salah satu baitnya berbunyi: Wanti-wanti para santri (pesan kepada para santri)/salah ngalarapkeun jihad (salah menerapkan jihad)/kade rek beunang ka olo (hati-hati tertipu)/salah kaprah mun nafsiran (salah kaprah dalam menafsirkan)/bener ayat salah prakna (ayatnya benar tapi salah penerapan)/utak atik dawuh Rosul (utak atik sabda Rasul)/papalingpang jeung buktina (tidak sesuai dengan buktinya). Apep menegaskan, jihad versi Pondok Pesantren Al Ittifaq adalah memanggul cangkul dan berjuang demi kemaslahatan. Bukan definisi sempit yang membawa kehancuran. (Didit Putra Erlangga Rahardjo) Foto : 1 Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo Santri Pondok Pesantren Al Ittifaq di Desa Alamendah, Ciwidey, Kabupaten Bandung, membungkus sayuran untuk disuplai ke beberapa supermarket di kawasan Bandung dan Jakarta, Sabtu (29/8). *Rahardjo, Didit Putra Erlangga* http://www.kompas.com/lipsus052009/antasariread/2009/08/31/11332277/Belajar.Agama.dan.Mengemas.Sayuran
