PONDOK PESANTRESN AL-MAQOM, CIBABAT Mengkaji Al-Quran Memakai Bahasa Sunda Selasa, 2 Agustus 2011 | 11:04 WIB
*SEMANGAT *belajar para santri Pondok Pesantren (Pontren) Al-Maqom buat memperdalam pengetahuan tentang ajaran Islam di Mesjid dan Majelis Taklim Al-Maqom di Jalan Pesantren VI, Kampung Pasantren RT 06/15 Kelurahan Cibabat, Cimahi Utara, Kota Cimahi, tidak ubahnya api unggun yang tidak pernah padam. Sepanjang bulan suci Ramadan, kajian Al-Quran maupun kitab Ilmu alat Nahwu Sharaf, Balaghoh Fikih Tauhid, serta macam-macam tafsir untuk para ajengan Ihya Ulumuddin, dilakukan lebih intensif dibanding waktu-waktu biasanya. "Program kajian maupun aktivitas di Bulan Suci Ramadan, kami rancang tidak cuma buat para santri mukim, tapi juga buat masyarakat sekitar. Termasuk para murid Raudatul Athfal (RA) Al-Maqom dan SD Islam Terpadu Al-Maqom. Buat mengajak masyarakat sekitar datang ke sini, program kajian kami umumkan melalui pengeras suara," ujar Ustaz A Zakari, Staf Pengajar Pondok Pesantren Al-Maqom, Jumat (29/7) siang. Pendalaman kitab kuning buat ibu-ibu dan bapak-bapak sudah dimulai sejak pukul 06.00-07.00 WIB. Kajian Al-Quran dengan terjemahan bahasa Sunda yang disusun langsung pendiri Pesantren Cibabat (cikal bakal Pontren Al Maqom), Mama Eyang Cibabat KHR Muhammad Kurdi, dimulai pukul 09.00 WIB hingga menjelang Zuhur dan dilanjutkan setelah Zuhur hingga menjelang Asar. "Setelah Asar hingga Maghrib ada kajian kitab kuning atau kitab-kitab klasik berisi tentang ajaran tauhid, fikih, dan tasawuf. Setelah berbuka puasa masih ada lagi pembacaan surat Yasiin, salat tarawih berjemaah, mendengar ceramah, dan tadarus Al-Quran hingga pukul 22.00," tambah Zakari. Di lingkungan Pontren Al-Maqom yang didirikan tahun 1985, memperdalam ajaran Islam tidak hanya dilakukan para remaja dan orang dewasa. Para murid RA Al-Maqom bahkan mulai dikenalkan tata cara pelaksanaan ibadah puasa, melalui cara-cara menyenangkan. "Kami ajak anak-anak ke dalam suasana Ramadan. Meski tidak semua berpuasa. Di antara yang kami terapkan selama Ramadan anak-anak tidak perlu membawa bekal makanan dan minuman. Kemudian kami sampaikan dongeng tentang tata cara berpuasa serta hikmah berpuasa," ujar Kepala RA Al-Maqom, Leni Herliani. Agak berbeda perlakuan yang diterapkan pada para murid SD Islam Terpadu Al-Maqom. Kepala SD Islam Terpadu Al-Maqom, Dra Euis Sariningsih, melalui Bendahara SD Islam Terpadu Al-Maqom, Siti Jamilah, mengatakan, para murid tidak lagi dibuatkan program khusus seperti pesantren kilat. "Sebab agenda belajar para murid SD Islam Terpadu Al-Maqom memang sudah padat. Dalam kegiatan sehari-hari mereka sudah dibiasakan belajar menerapkan ajaran Islam. Misalnya melaksanakan salat wajib dan salat sunat berjemaah, menerapkan adab belajar terpisah ruang antara laki-laki dan perempuan. Satu tradisi yang diadakan tiap tahun, pekan terakhir sebelum memasuki Bulan Ramadan, para siswa diajak berkemah di sekitar halaman sekolah. Di dalam kegiatan ini disisipkan tausiyah sebagai bekal mereka menjalankan saum," kata Siti Jamilah. Tradisi belajar dan memperdalam ajaran Islam sejak kecil inilah yang terus melekat dalam diri setiap santri Pontren Al-Maqom. Sekalipun saat ini mereka sudah berkiprah mengamalkan ilmu yang diperoleh di tengah masyarakat dengan berbagai profesi. Baik di institusi pemerintahan maupun swasta. Sebagian santri Pontren Al-Maqom lainnya meneruskan belajar memperdalam Islam ke berbagai negara di Timur Tengah. (*) Penulis : Ricky Reynald Yulman Editor : Darajat Arianto
