Aya seratan sae, numutkeun kuring pendidikan ayeuna mah asa keleuleuwihi.
Umpamana ayeuna nuju usum sakola model RSBI.  Anu mana leuwih condong ka 
"gengsi" jeung "trik" neangan duit badag. :)
Padahal aya efek negatip na:
1. Sakola jadi eksklusip
2. Kabeh materi di inggriskeun, tungtungna inti materi pelajaran pokok na teu 
nyampei ka barudak
3. budaya lokal bisa ngaleungit.
 
===============
ANAK, PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
By Joscev Audivacx



Anak, Pendidikan dan Kebudayaan
 
Oleh
Audifax
Bergiat di SMART HRPD, Forum Studi Kebudayaan (FSK) ITB dan Pustaka Kushala
 
Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk pada 
gelombang, 
menjelma burung yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan; 
di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.
 
"Tuan, jangan kauganggu permainanku ini."
 
Sapardi Djoko Damono 
(Di tangan anak-anak)
 
 
Pendidikan tak bisa dilepaskan dari kebudayaan. Melalui budayalah karakter 
manusia terbentuk. Masuk akal jika dulu, Departemen Pendidikan disatukan dengan 
kebudayaan, artinya kebudayaan punya kontribusi besar bagi pendidikan dan bukan 
semata obyek pariwisata. Pemisahan antara pendidikan dan kebudayaan bukan saja 
menimbulkan persoalan lepasnya kontribusi budaya pada pendidikan, namun juga 
pada kebudayaan itu sendiri. Saat ini, banyak kebudayaan daerah yang sekarat 
dan berkutat pada pertanyaan siapa yang akan melestarikan suatu bentuk 
kebudayaan di generasi selanjutnya. Ini terjadi karena kebudayaan bergeser 
menjadi objek dan bukan lagi menjadi subjek atau bagian hidup dari individu.
 
Kebudayaan, meliputi masyarakat, lingkungan hingga keluarga. Itulah komponen 
utama pendidikan karakter. Jika ditilik lebih jauh, Ki Hadjar Dewantara pernah 
mengemukakan konsep pendidikan among methode, yang bertumbuh menurut kodrat 
(natuurlijke groei) dan menggunakan keadaban budaya kita sendiri 
(cultuurhistorie) sebagai penunjuk jalan bagi perkembangan individu. Pada 
kongres Taman Siswa tahun 1930 dirumuskan Panca Dharma yang terdiri dari: (1) 
kodrat alam, (2) kemerdekaan, (3) kebudayaan, (4) kebangsaan, dan (5) 
kemanusiaan. Kelimanya adalah komponen utama pendidikan di Taman Siswa. Konsep 
itu mendasari bagaimana budaya lokal menjadi pijakan yang nantinya akan 
berjalan selaras dengan kebangsaan dan kapasitas untuk bersaing di tingkat 
internasional.
 
Pendapat Ki Hadjar Dewantara tersebut sejalan dengan pemikiran Mangunwijaya 
yang menempatkan manusia Indonesia sebagai warga etnis yang memiliki 
tanggungjawab sebagai warga dunia. Inilah yang kemudian diterjemahkan dalam 
konsep Taman Siswa melalui penguasaan Bahasa Daerah. Pelajaran Bahasa Daerah, 
bukan semata mengajarkan grammatika dan vocabulary bahasa daerah, melainkan 
berbagai nilai-nilai kearifan lokal yang sangat diperlukan agar anak semakin 
dekat dan berpijak pada lingkungan alam, sosial dan budayanya.
 
Persoalan pengembangan nilai budaya lokal sebagai bagian dari pendidikan 
nasional kita inilah yang nampaknya kurang tergarap, terutama dalam pembentukan 
karakter. Ironisnya, kebutuhan akan pendidikan karakter sebagai bagian dari 
pendidikan formal sebenarnya cukup tinggi dan kemudian coba dipenuhi dengan 
mengadaptasi sistem pendidikan dari sejumlah negara ke dalam suatu sekolah. 
Sekarang kita akan sering menemui sekolah yang mengadopsi sistem pendidikan 
Singapore, Eropa, Internasional, Montessori dan sejenisnya ke dalam pendidikan 
formal mereka.
 
Padahal, justru hal semacam itulah yang pada tahun 1930 dikritik oleh Ki Hadjar 
Dewantara, yaitu mengenai penerapan pendidikan Belanda di Indonesia. Ki Hadjar 
dan Taman Siswa kemudian membuat konsep pendidikan yang menjadikan kekayaan 
nilai budaya lokal sebagai dasar untuk membangun pendidikan yang mampu membuat 
bangsa bersaing di dunia internasional. Ki Hadjar Dewantara memandang budaya 
adalah sesuatu yang bersifat kontinyu, konvergen dan konsentris sehingga fase 
kesukuan berkembang bersama fase keindonesiaan maupun fase keinterasionalan.
 
Dalam psikoanalisa, dijelaskan bahwa individu, memeroleh eksistensinya melalui 
budaya yang memberi tempat pada tubuhnya. Artinya, keberadaan individu 
sebenarnya tak bisa dilepaskan begitu saja dari akar budayanya masing-masing. 
Etnisitas bukan semata persoalan ikatan primordial, melainkan juga nilai-nilai 
moral dan sosial. Pada jaman dahulu, nilai-nilai ini menjadi pedoman hidup 
keseharian. Dengan beragam suku, sebenarnya Indonesia memiliki kekayaan nilai 
kehidupan yang luar biasa. Banyak akar budaya yang bisa digali dan dijadikan 
bentuk pendidikan bagi anak, seperti: cerita rakyat, nilai lokal, artifak 
budaya, atau simbolisasi-simbolisasi dalam adat.
 
Pendidikan berbasis budaya inilah yang semestinya bisa dikemas dalam pelajaran 
Bahasa Daerah atau berbagai kesenian lokal yang diajarkan di sekolah. Baik 
bahasa maupun bentuk kesenian daerah, bukan semata persoalan penguasaan 
ketrampilan, melainkan memahami filosofi yang mendasarinya. Begitu juga dengan 
berbagai cerita rakyat, legenda atau mite (mitos), bukan semata cerita isapan 
jempol, hiburan atau mesti dihafal kapan atau dimana terjadinya, tapi memiliki 
nilai-nilai kehidupan yang harus digali dan dapat menjadi bekal penting bagi 
hidup seorang anak di masa mendatang.
 
Mengemas mitologi dan kesenian dari budaya lokal ke dalam pendidikan, bukanlah 
hal baru. Ki Hadjar Dewantara dengan konsepnya juga bukan satu-satunya yang 
bicara pentingnya kebudayaan bagi pendidikan. Banyak ilmuwan, filsuf hingga 
pakar pendidikan melihat pentingnya berbagai artifak budaya yang mengandung 
nilai-nilai, bagi pendidikan anak. Di sinilah sebenarnya esensi pendidikan. 
Bukan sekedar standarisasi angka, torehan prestasi atau lembar ijazah. 
Pendidikan bertujuan membentuk insan-insan berbudaya yang tak hanya cerdas 
namun memiliki budi pekerti dan paham nilai luhur kehidupan.
 
Mircea Eliade, filsuf yang memelajari kebudayaan dan mitologi, mengatakan bahwa 
fungsi terdepan dari mite adalah menghasilkan suatu model yang bisa 
diberlakukan umum untuk pengajaran perilaku. Mite bahkan bisa memberikan sebuah 
pengalaman relijius bagi pembacanya. Dengan menceritakan atau mengemas ulang 
nilai-nilai mitologi, maka anggota dari sebuah masyarakat tradisional mampu 
membawa dirinya pada kekinian tanpa kehilangan keterkaitannya pada akar 
mitologis yang membantu mendekatkan mereka pada penyingkapan hal-hal yang 
sifatnya Ilahi.
 
Joseph Campbell, seorang pakar mitologi, menjelaskan mite atau mitos memiliki 
empat fungsi: 1) Fungsi pengalaman semesta yang membantu individu merasakan 
pengalaman dirinya di dalam semesta,  2) Fungsi kosmologis yang membantu 
individu untuk mampu menjelaskan bentuk semesta menurut dirinya, 3) Fungsi 
sosiologis yang mendukung dan menguji tatanan sosial yang berlaku, dan 4) 
Fungsi Pedagogis, yang mengajarkan bagaimana hidup dalam sebuah rentang 
kehidupan yang manusiawi, berikut segala keterbatasan sebagai manusia.
 
Lynn Hartle dan Candace Jaruszewicz dalam tulisan Rewiring and Networking 
Language, Literacy,
and Learning through the Arts: Developing Fluency with Technology (2009), 
menjelaskan bahwa penting bagi anak-anak untuk memelajari, membuat dan 
menggunakan simbol. Salah satu media untuk belajar adalah seni. Di sini Hartle 
dan Candace mengemukakan bagaimana seni yang berkaitan dengan ekologi dan 
budaya dapat diajarkan pada anak dan membantu mereka dalam memaknakan berbagai 
hal dalam kehidupan mereka.
 
Peranan kebudayaan dalam pendidikan, juga dikemukakan oleh Lev Vygotsky, pakar 
pendidikan anak yang mengemukakan amatannya mengenai dialektika antara anak dan 
konteks sosio-kulturalnya. Dunia tempat kita hidup adalah sesuatu yang 
manusiawi karena dipenuhi materi dan objek simbolik (tanda, sistem pengetahuan) 
yang dikonstruksi secara kultural, dan memiliki historisitas dalam muatan 
sosial dan asal-usul. Semua itu berperan dalam pertumbuhan anak.
 
Kita perlu memertimbangkan lagi semua itu dan mengonsepkan sebuah pendidikan 
yang tak lepas dari kebudayaan.  Diperlukan sebuah kolaborasi antara pedagog, 
ilmuwan dan praktisi psikologi, seniman dan budayawan untuk menyusun sebuah 
konsep pendidikan berbasis kebudayaan. Dengan muatan nilai-nilai kehidupan yang 
digali melalui budaya tempat si anak tersebut hidup, diharapkan akan terbentuk 
karakter yang luhur seiring bertambahnya pengetahuan dan ketrampilan anak.
 
Dengan demikian, pendidikan tak terjebak pada semata perolehan angka dan 
status, melainkan bagaimana membantu anak memaknakan kehidupan yang 
dijalaninya. Pendidikan juga bukan semata bermuara menenteng ijazah untuk 
mencari kerja. Juga, bukan untuk mencetak manusia-manusia pandai yang asing 
dengan budayanya sendiri. Dan barangkali, satu hal penting adalah agar 
pendidikan kita tak semata menghasilkan individu-individu yang lihai bersaing 
namun kehilangan kehalusan budi.
 
Semoga, saya tak sendiri dengan kerinduan akan pendidikan yang mengakomodasi 
nilai-nilai luhur kebudayaan negeri ini.
 
 
 

 


Salam
 

Kirim email ke