Ini Pemicu Serangan Belanda ke Rawagede
Kamis, 15 September 2011 | 13:21 WIB
 
Besar<http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/09/15/brk,20110915-356413,id.html#>
Kecil<http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/09/15/brk,20110915-356413,id.html#>
Normal<http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/09/15/brk,20110915-356413,id.html#>
  [image: foto]  <http://image.tempointeraktif.com/?id=90806&width=490>

Peristiwa pembantaian Rawagede. pierrescolumn.punt.nl

*TEMPO Interaktif*, *Jakarta* - Sejarawan Rusdhy Hoesein menuturkan pemicu
serangan Belanda ke Rawagede 64 tahun lalu adalah seorang intel. Intel
tersebut adalah anak seorang polisi yang pernah ditangkap gerombolan
pengacau di Rawagede lalu dilepaskan. "Tidak jelas namanya, tapi dia memberi
tahu bahwa di Rawagede ada gerombolan pengacau," kata Rushdy ketika
dihubungi pada Kamis 15 September 2011.

Atas laporan intel dan juga gangguan keamanan pasca-Agresi Militer I 21
Juli-5 Agustus 1947, Belanda memutuskan menumpas gerombolan tersebut. Usai
Agresi, Indonesia-Belanda mengalami masa gencatan senjata hingga
penandatanganan Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948.

Saat itu sejumlah Tentara Nasional Indonesia dari pasukan Siliwangi terpaksa
hijrah sebagai bagian dari kesepakatan Perjanjian Renville. Perjanjian
tersebut menyatakan Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta, dan
Sumatera sebagai bagian wilayah Indonesia.

Dalam masa-masa genjatan senjata ternyata masih banyak sempalan yang tidak
menerima kesepakatan dua negara. "Mereka itu kayak teroris, merampok
pedagang Cina, mengambil rel kereta, mencuri kabel listrik," kata Rushdy.

Nah, di Rawagede pun gerombolan ini beraksi. Belanda merasa gusar, sehingga
dikirimlah sekitar 90 pasukan Belanda asli bukan KNIL (tentara Belanda dari
penduduk Indonesia). Mereka datang pada 9 Desember 1947 pagi yang kala itu
diwarnai hujan. Hujan yang mengguyur ternyata menyebabkan gangguan sinyal
pada alat komunikasi pasukan Belanda yang dipimpin oleh Alphons Wijnen.

Akibat macetnya sinyal, Rushdy menjelaskan, Belanda menjadi panik dan takut.
"Jadi mereka melakuan tindakan agresif," tutur dia. Pasukan Belanda
mendatangi tiap rumah penduduk dan mengumpulkan warga di tanah lapang.
Tercatat 431 orang meninggal dunia. Namun menurut Nota Ekses dari Belanda
jumlah korban 150 orang.

"Mayor Wijnen menuturkan orang yang ditangkap itu bukan petani karena
tangannya halus," tutur Rushdy. Tapi jatuhnya korban hingga ratusan orang
dalam masa genjatan senjata telah membuat gerah Johannes Leimena, salah
seorang anggota perwakilan perjanjian Renville. Leimena, menurut Rushdy,
membuat surat protes atas kejadian Rawagede.

Karena ternyata di antara ratusan korban, yang benar-benar pengacau hanya
empat orang. "Empat orang itu ditembak langsung oleh Wijnen," ujar Rushdy.
Kini korban Rawagede bisa bernapas sedikit lega. Hakim di pengadilan Belanda
memerintahkan Pemerintah Belanda membayar kompensasi terhadap para janda
tersebut dengan segera. Mengenai aturan soal pembayaran kompensasi kepada
para janda tersebut, kata hakim, didasarkan pada undang-undang yang berlaku
di Belanda.

*DIANING SARI*

*
*

Kirim email ke