Kritis pisan kang Ahmad eusi seratan teh, ngaakibatkeun si kuring natanyakeun pedaran rukun islam jeung rukun iman salila ieu. Urang memang perlu terus-terusan ngaronjatkeun kaimanan. Tapi, "iman" anu mana?
Aya hiji katerangan, cenah toleransi (hilm) oge bagian tina kaimanan. Samentara cekelan si kuring: Iman teh kudu ngabuahkeun hasil, anapon hasilna nyaeta amal shaleh. Jadi, antara iman jeung amal shaleh teh sapaket. Kukituna, henteu kaasup jelema anu iman lamun nyilakakeun - komo mateni - anu lian kalawan tanpa alasan anu dibenerkeun. manar 2011/9/29 Ahmad Sahidin <[email protected]> > Salam. Sampurasun... ieu seratan dihandap ceuk simkuring mah sae > kanggo urang supados tiasa kritis na urusan agama. Diserat ku doktor > filsafat lulusan UIN Jakarta sareng ngajar di ICAS-Universitas > Paramadina Jakarta. Nyanggakeun hideung bodasna... > > > Restrukturisasi Rukun Iman? > Dr MUHSIN LABIB > > BANYAK orang menjadikan enam rukun iman sebagai salah satu kriteria > pembeda antara mukmin dan sesat. Benarkah itu sudah final? Bila tidak > alergi terhadap kristisisme, mari mengamati substansi dan sistematika > enam rukun tersebut. > > Pertama, lima rukun iman mazhab ini didasarkan pada al-Qur’an. Yang > perlu diketahui ialah perbedaan antara ‘percaya kepada’ dan ‘kepada > bahwa’. Sejauh pengetahuan saya, semua item dalam rukun iman itu lebih > difaokuskan pada ‘kepercayaan kepada’, bukan ‘kepercayaan tentang’. > Padahal kepercayaan kepada Allah, malaikat dan lainnya adalah buah > dari kepada tentang wujud Allah, malaikat dan lainnya. Inilah paradoks > yang terlewat oleh banyak orang. > > Kedua, dasar pembentukan rukun iman dalam mazhab Asy’ariah adalah teks > suci. Padahal menjadikan teks sebagai dasar kepercayaan yang merupakan > produk spekulasi rasional kurang bisa dipertanggugjawabkan. Tapi > apabila al-Qur’an dijadikan sebagai dasar keimanan kepada Allah, yang > merupakan sila pertama dalam rukun iman, maka konsekuensi logisnya, > kepercayaan kepada al-Quran mendahului kepercayaan kepada Allah. > Bukankah al-Qur’an diyakini sebagai wahyu Allah setelah meyakini > keberadaan Allah dan setelah mengimani orang yang menerimanya (nabi)? > Kepercayaan akan keberadaan Allah mesti diperoleh dengan akal fitri > sebelum mempercayai al-Quran. Al-Quran adalah petunjuk bagi yang telah > beriman, sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat suci di dalamnya. > Al-Quran adalah pedoman bagi yang mengimani Allah dan nabinya. > Artinya, al-Quran dijadikan sebagai dasar setelah memastikan wujud > Allah dan kemestian kenabian Muhammad. > > Ketiga, rukun pertama adalah keimanan kepada Allah. Apa maksud dari > kalimat ini? Apakah meyakini keberadanNya saja ataukah keesaannya? > Sekadar ‘kata kepada Allah’ masih menyimbang banyak pertanyaan.2) > Apakah iman ini berhubungan dengan ‘iman kepada’ ataukah ‘iman tentang > ketuhanan’? persoalan teologi tidak sesederhana yang dibayangkan oleh > sebagian orang. Pernahkah kita mendengar ayat yang terjemahannya > (kurang lebih), “Dan apabila kau (Muhammad) tanya mereka, siapa yang > menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka berkata, Allah”. Bukankah > ini sudah memenuhi standar keimanan kepada Allah? > > Keempat, rukun kedua adalah iman kepada malaikat. Mestinya bukan iman > kepada para malaikat, tapi iman tentang malaikat. ‘Iman kepada’ > mestinya muncul setelah ‘iman tentang’. Selain itu, iman kepada > malaikat semestinya tidak muncul setelah iman kepada Allah (iman akan > wujud Allah). Bagaimana mungkin bisa meyakini wujud para malaikat > lengkap dengan departemen-departemannya sebelum mempercayai al-Quran > yang mewartakannya? Kemudian, alasan yang mungkin dikemukakan oleh > pendukung ialah bahwa iman kepada para malaikat itu tercantum sebagai > salah satu sifat mukmin dalam al-Quran. Memang benar. Tapi, bila > kepercayaan kepada atau tentang wujud para malaikat dianggap sebagai > rukun (keyakinan fundamental) karena tertera dalam al-Quran, maka > bukankah seluruh yang diberitakan dalam al-Quran juga mesti dijadikan > rukun pula. Bayangkan berapa banyak yang mesti dicantumkan dalam list > rukun itu! Bukankah semua yang ada dalam al-Quran mesti diimani > (dipastikan adanya)? Kalaupun keimanan kepada (tentang) para malaikat > memang sebuah keharusan, tapi mestikah dijadikan rukun? Apa alasan > rasional dan implikasi teologis dari keimanan kepada malaikat sehingga > layak menempati urutan kedua dalam rukun iman, apalagi rukun yang > mendahului iman kepada kenabian? > > Kelima, rukun ketiga adalah iman kepada (tentang) kitab-kitab suci. > Apa yang dimaksud dengan iman kepada kitab-kitab suci? Apakah kita > mesti beriman kepada Injil, Taurat dan zabur sebagai kitab Allah? > Ataukah kita mesti meyakini bahwa Injil, Taurat dan Zabur pernah > menjadi kitab-kitab suci? Apakah al-Quran juga termasuk di dalamnya? > Bila al-Quran juga termasuk di dalamnya? Mana mungkin kita mengimani > al-Quran dari teks al-Quran? Logiskah meyakini al-Quran sebagai wahyu > karena al-Quran menetapkannya demikian di dalamnya? Selain itu, > mestinya keimanan tentang Injil, Taurat dan Zabur sebagai kitab suci > bersumber dari al-Quran, tapi meyakini al-Quran sebagai wahyu Allah > bersumber dari kenabian Muhammad saw. Padahal keimanan kepada para > nabi muncul setelah keimanan kepada kitab-kitab suci. Ini benar-benar > membingungkan. Lagi pula, apa urgensi keimanan kepada (tentang) > kitab-kitab itu sebagai rukun? Mengimaninya memang keharusan, tapi > mengapa dijadikan sebagai rukun? Lagi-lagi, bila alasannya dicantumkan > dalam list rukun iman karena tertera dalam al-Quran, maka mestinya > banyak hal lain dalam al-Quran yang bisa dimasukkan dalam rukun-rukun > iman. > > Keenam, rukun keempat adalah iman kepada (tentang) para rasul. Apakah > yang dimaksud dengan ‘para rasul’ itu semua utusan minus Nabi > Muhammad? Bila ya, mestinya hal itu diyakini setelah meyakini kenabian > Muhammad saw. Padahal keyakinan akan kenabian Muhammad mesti tidak > didasarkan pada al-Quran, karena keyakinan akan kebenaran al-Quran > bersumber dari keyakinan akan kebenaran klaim Muhammad saw sebagai > nabi. Keimanan kepada kebenaran al-Quran sebagai wahyu adalah > konsekuensi dari keyakinan akan kebenaran Muhammad sebagai nabi. Bila > tidak, artinya keimanan kepada para rasul plus Muhammad, maka hal itu > menimbulkan kontradiksi. Bagaimana mungkin meyakini nabi Muhammad dan > para nabi yang tercantum dalam al-Quran, padahal keyakinan akan > al-Quran sebagai kitab wahyu muncul setelah keyakinan akan kebenaran > klaim kenabian Muhammad saw sebagai nabi. > > Ketujuh, rukun kelima adalah iman tentang ketentuan Allah, baik dan > buruk. Ini salah satu paradoks teologi yang paling membingungkan. Poin > kelima ini telah dikritik oleh para teolog Sunni kontemporer karena > dianggap sebagai sumber fatalisme. > > Kedelapan, rukun keenam adalah iman kepada (tentang) hari akhir. > Inilah poin keimanan yang letaknya paling sistematis. Ia memang pantas > berada di urutan terakhir. Hanya saja, perlu diperjelas, apakah hari > akhir itu hari kiamat (di dunia) atau hari setelah kebangkitan (pasca > dunia). > > Kesembilan, yang mengejutkan ialah, bahwa manusia yang mengimani enam > rukun diatas, meski tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, bisa > dianggap mukmin. Mengapa? Tahukah Anda? Silakan menanggapi dengan > semangat persaudaraan. > > > http://www.facebook.com/notes/muhsin-labib/restrukturisasi-rukun-iman/10150399517370730 > > > > -- > => www.ahmadsahidin.wordpress.com > > > > -- > => www.ahmadsahidin.wordpress.com > > > ------------------------------------ > > Yahoo! Groups Links > > > >
