Leres. Perkawis terorisme jigana mah teu acan tiasa ngaleuyeupan guaran samodel Kang Oman.
Pada 29 September 2011 08:27, oman abdurahman <[email protected]> menulis: > ** > > > Kritis pisan kang Ahmad eusi seratan teh, ngaakibatkeun si kuring > natanyakeun pedaran rukun islam jeung rukun iman salila ieu. Urang memang > perlu terus-terusan ngaronjatkeun kaimanan. Tapi, "iman" anu mana? > > Aya hiji katerangan, cenah toleransi (hilm) oge bagian tina kaimanan. > Samentara cekelan si kuring: Iman teh kudu ngabuahkeun hasil, anapon hasilna > nyaeta amal shaleh. Jadi, antara iman jeung amal shaleh teh sapaket. > Kukituna, henteu kaasup jelema anu iman lamun nyilakakeun - komo mateni - > anu lian kalawan tanpa alasan anu dibenerkeun. > > manar > > > 2011/9/29 Ahmad Sahidin <[email protected]> > >> Salam. Sampurasun... ieu seratan dihandap ceuk simkuring mah sae >> kanggo urang supados tiasa kritis na urusan agama. Diserat ku doktor >> filsafat lulusan UIN Jakarta sareng ngajar di ICAS-Universitas >> Paramadina Jakarta. Nyanggakeun hideung bodasna... >> >> >> Restrukturisasi Rukun Iman? >> Dr MUHSIN LABIB >> >> BANYAK orang menjadikan enam rukun iman sebagai salah satu kriteria >> pembeda antara mukmin dan sesat. Benarkah itu sudah final? Bila tidak >> alergi terhadap kristisisme, mari mengamati substansi dan sistematika >> enam rukun tersebut. >> >> Pertama, lima rukun iman mazhab ini didasarkan pada al-Qur’an. Yang >> perlu diketahui ialah perbedaan antara ‘percaya kepada’ dan ‘kepada >> bahwa’. Sejauh pengetahuan saya, semua item dalam rukun iman itu lebih >> difaokuskan pada ‘kepercayaan kepada’, bukan ‘kepercayaan tentang’. >> Padahal kepercayaan kepada Allah, malaikat dan lainnya adalah buah >> dari kepada tentang wujud Allah, malaikat dan lainnya. Inilah paradoks >> yang terlewat oleh banyak orang. >> >> Kedua, dasar pembentukan rukun iman dalam mazhab Asy’ariah adalah teks >> suci. Padahal menjadikan teks sebagai dasar kepercayaan yang merupakan >> produk spekulasi rasional kurang bisa dipertanggugjawabkan. Tapi >> apabila al-Qur’an dijadikan sebagai dasar keimanan kepada Allah, yang >> merupakan sila pertama dalam rukun iman, maka konsekuensi logisnya, >> kepercayaan kepada al-Quran mendahului kepercayaan kepada Allah. >> Bukankah al-Qur’an diyakini sebagai wahyu Allah setelah meyakini >> keberadaan Allah dan setelah mengimani orang yang menerimanya (nabi)? >> Kepercayaan akan keberadaan Allah mesti diperoleh dengan akal fitri >> sebelum mempercayai al-Quran. Al-Quran adalah petunjuk bagi yang telah >> beriman, sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat suci di dalamnya. >> Al-Quran adalah pedoman bagi yang mengimani Allah dan nabinya. >> Artinya, al-Quran dijadikan sebagai dasar setelah memastikan wujud >> Allah dan kemestian kenabian Muhammad. >> >> Ketiga, rukun pertama adalah keimanan kepada Allah. Apa maksud dari >> kalimat ini? Apakah meyakini keberadanNya saja ataukah keesaannya? >> Sekadar ‘kata kepada Allah’ masih menyimbang banyak pertanyaan.2) >> Apakah iman ini berhubungan dengan ‘iman kepada’ ataukah ‘iman tentang >> ketuhanan’? persoalan teologi tidak sesederhana yang dibayangkan oleh >> sebagian orang. Pernahkah kita mendengar ayat yang terjemahannya >> (kurang lebih), “Dan apabila kau (Muhammad) tanya mereka, siapa yang >> menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka berkata, Allah”. Bukankah >> ini sudah memenuhi standar keimanan kepada Allah? >> >> Keempat, rukun kedua adalah iman kepada malaikat. Mestinya bukan iman >> kepada para malaikat, tapi iman tentang malaikat. ‘Iman kepada’ >> mestinya muncul setelah ‘iman tentang’. Selain itu, iman kepada >> malaikat semestinya tidak muncul setelah iman kepada Allah (iman akan >> wujud Allah). Bagaimana mungkin bisa meyakini wujud para malaikat >> lengkap dengan departemen-departemannya sebelum mempercayai al-Quran >> yang mewartakannya? Kemudian, alasan yang mungkin dikemukakan oleh >> pendukung ialah bahwa iman kepada para malaikat itu tercantum sebagai >> salah satu sifat mukmin dalam al-Quran. Memang benar. Tapi, bila >> kepercayaan kepada atau tentang wujud para malaikat dianggap sebagai >> rukun (keyakinan fundamental) karena tertera dalam al-Quran, maka >> bukankah seluruh yang diberitakan dalam al-Quran juga mesti dijadikan >> rukun pula. Bayangkan berapa banyak yang mesti dicantumkan dalam list >> rukun itu! Bukankah semua yang ada dalam al-Quran mesti diimani >> (dipastikan adanya)? Kalaupun keimanan kepada (tentang) para malaikat >> memang sebuah keharusan, tapi mestikah dijadikan rukun? Apa alasan >> rasional dan implikasi teologis dari keimanan kepada malaikat sehingga >> layak menempati urutan kedua dalam rukun iman, apalagi rukun yang >> mendahului iman kepada kenabian? >> >> Kelima, rukun ketiga adalah iman kepada (tentang) kitab-kitab suci. >> Apa yang dimaksud dengan iman kepada kitab-kitab suci? Apakah kita >> mesti beriman kepada Injil, Taurat dan zabur sebagai kitab Allah? >> Ataukah kita mesti meyakini bahwa Injil, Taurat dan Zabur pernah >> menjadi kitab-kitab suci? Apakah al-Quran juga termasuk di dalamnya? >> Bila al-Quran juga termasuk di dalamnya? Mana mungkin kita mengimani >> al-Quran dari teks al-Quran? Logiskah meyakini al-Quran sebagai wahyu >> karena al-Quran menetapkannya demikian di dalamnya? Selain itu, >> mestinya keimanan tentang Injil, Taurat dan Zabur sebagai kitab suci >> bersumber dari al-Quran, tapi meyakini al-Quran sebagai wahyu Allah >> bersumber dari kenabian Muhammad saw. Padahal keimanan kepada para >> nabi muncul setelah keimanan kepada kitab-kitab suci. Ini benar-benar >> membingungkan. Lagi pula, apa urgensi keimanan kepada (tentang) >> kitab-kitab itu sebagai rukun? Mengimaninya memang keharusan, tapi >> mengapa dijadikan sebagai rukun? Lagi-lagi, bila alasannya dicantumkan >> dalam list rukun iman karena tertera dalam al-Quran, maka mestinya >> banyak hal lain dalam al-Quran yang bisa dimasukkan dalam rukun-rukun >> iman. >> >> Keenam, rukun keempat adalah iman kepada (tentang) para rasul. Apakah >> yang dimaksud dengan ‘para rasul’ itu semua utusan minus Nabi >> Muhammad? Bila ya, mestinya hal itu diyakini setelah meyakini kenabian >> Muhammad saw. Padahal keyakinan akan kenabian Muhammad mesti tidak >> didasarkan pada al-Quran, karena keyakinan akan kebenaran al-Quran >> bersumber dari keyakinan akan kebenaran klaim Muhammad saw sebagai >> nabi. Keimanan kepada kebenaran al-Quran sebagai wahyu adalah >> konsekuensi dari keyakinan akan kebenaran Muhammad sebagai nabi. Bila >> tidak, artinya keimanan kepada para rasul plus Muhammad, maka hal itu >> menimbulkan kontradiksi. Bagaimana mungkin meyakini nabi Muhammad dan >> para nabi yang tercantum dalam al-Quran, padahal keyakinan akan >> al-Quran sebagai kitab wahyu muncul setelah keyakinan akan kebenaran >> klaim kenabian Muhammad saw sebagai nabi. >> >> Ketujuh, rukun kelima adalah iman tentang ketentuan Allah, baik dan >> buruk. Ini salah satu paradoks teologi yang paling membingungkan. Poin >> kelima ini telah dikritik oleh para teolog Sunni kontemporer karena >> dianggap sebagai sumber fatalisme. >> >> Kedelapan, rukun keenam adalah iman kepada (tentang) hari akhir. >> Inilah poin keimanan yang letaknya paling sistematis. Ia memang pantas >> berada di urutan terakhir. Hanya saja, perlu diperjelas, apakah hari >> akhir itu hari kiamat (di dunia) atau hari setelah kebangkitan (pasca >> dunia). >> >> Kesembilan, yang mengejutkan ialah, bahwa manusia yang mengimani enam >> rukun diatas, meski tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, bisa >> dianggap mukmin. Mengapa? Tahukah Anda? Silakan menanggapi dengan >> semangat persaudaraan. >> >> >> http://www.facebook.com/notes/muhsin-labib/restrukturisasi-rukun-iman/10150399517370730 >> >> >> >> -- >> => www.ahmadsahidin.wordpress.com >> >> >> >> -- >> => www.ahmadsahidin.wordpress.com >> >> >> ------------------------------------ >> >> Yahoo! Groups Links >> >> >> >> > > -- => www.ahmadsahidin.wordpress.com
