Waktu uing shalat jumaah di Masjid Sultan, Singapura, poe jumaah nu katukang, 
khotib nu asalna ti Boznia Herzegovina ngingetkeun ka jamaah supaya urang teh 
ngaca unggal poe hareupeun eunteung bari nanyakeun ka diri sorangan saha ari 
urang teh. Sarta urang kudu netepkeun dina hate: kuring Islam (peaceful atawa 
mere kadamean), kuring iman (secure atawa boga rasa cinta), sarta kuring ikhsan 
(beautiful atawa ngalakonan hal-hal anu dianggap endah ku sasama mahluk).

Salam,Aschev

--- On Fri, 9/30/11, Sp Saprudin <[email protected]> wrote:

From: Sp Saprudin <[email protected]>
Subject: Bls: [kisunda] Fwd: Restrukturisasi Rukun Iman?
To: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Friday, September 30, 2011, 4:18 AM















 
 



  


    
      
      
      Bener urang kudu ngarjontkeun kaimanan, tangtuna kaimanan anu didasari ku 
Aqidah Islamiyah
tulisan ieu tah nyaritakeun/mengkritisi masalah Restrukturisasi Rukun Iman, 
mazhab Asy'ariah anu dipake ku mayoritas Islam Indonesia (NU). Ceuk kuring mah 
tulisan Dr. Muhsin Labib henteu aya tulisan nu rada aneh
Upami pakait jeung kalakuan hiji jalma anu baris nyilakakeun jalmi 
lain, saperti teroris anu nisbatkan kana amalan jihad, tah eta rada kaharti mun 
kalimat ieu : " henteu kaasup jelema anu iman lamun nyilakakeun - komo mateni - 
anu lian kalawan tanpa alasan anu dibenerkeun". Bahasanna meureun Aqidah 
Islamiyah anu bener teh anu mana?




Dari: Ahmad Sahidin <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Dikirim: Kamis, 29 September 2011 8:54
Judul: Re: [kisunda] Fwd: Restrukturisasi Rukun Iman?




  

Leres. Perkawis terorisme jigana mah teu acan tiasa ngaleuyeupan guaran samodel 
Kang Oman.


Pada 29 September 2011 08:27, oman abdurahman <[email protected]> menulis:


  



Kritis pisan kang Ahmad eusi seratan teh, ngaakibatkeun si kuring natanyakeun 
pedaran rukun islam jeung rukun iman salila ieu. Urang memang perlu 
terus-terusan ngaronjatkeun kaimanan. Tapi, "iman" anu mana? 

Aya hiji katerangan, cenah toleransi (hilm) oge bagian tina kaimanan. Samentara 
cekelan si kuring: Iman teh kudu ngabuahkeun hasil, anapon hasilna nyaeta amal 
shaleh. Jadi, antara iman jeung amal shaleh teh sapaket. Kukituna, henteu 
kaasup jelema anu iman lamun nyilakakeun - komo mateni - anu lian kalawan tanpa 
alasan anu dibenerkeun.

manar






2011/9/29 Ahmad Sahidin <[email protected]>




Salam. Sampurasun... ieu seratan dihandap ceuk simkuring mah sae
kanggo urang supados tiasa kritis na urusan agama. Diserat ku doktor
filsafat lulusan UIN Jakarta sareng ngajar di ICAS-Universitas
Paramadina Jakarta. Nyanggakeun hideung bodasna...


Restrukturisasi Rukun Iman?
Dr MUHSIN LABIB

BANYAK orang menjadikan enam rukun iman sebagai salah satu kriteria
pembeda antara mukmin dan sesat. Benarkah itu sudah final? Bila tidak
alergi terhadap kristisisme, mari mengamati substansi dan sistematika
enam rukun tersebut.

Pertama, lima rukun iman mazhab ini didasarkan pada al-Qur’an. Yang
perlu diketahui ialah perbedaan antara ‘percaya kepada’ dan ‘kepada
bahwa’. Sejauh pengetahuan saya, semua item dalam rukun iman itu lebih
difaokuskan pada ‘kepercayaan kepada’, bukan ‘kepercayaan tentang’.
Padahal kepercayaan kepada Allah, malaikat dan lainnya adalah
 buah
dari kepada tentang wujud Allah, malaikat dan lainnya. Inilah paradoks
yang terlewat oleh banyak orang.

Kedua, dasar pembentukan rukun iman dalam mazhab Asy’ariah adalah teks
suci. Padahal menjadikan teks sebagai dasar kepercayaan yang merupakan
produk spekulasi rasional kurang bisa dipertanggugjawabkan. Tapi
apabila al-Qur’an dijadikan sebagai dasar keimanan kepada Allah, yang
merupakan sila pertama dalam rukun iman, maka konsekuensi logisnya,
kepercayaan kepada al-Quran mendahului kepercayaan kepada Allah.
Bukankah al-Qur’an diyakini sebagai wahyu Allah setelah meyakini
keberadaan Allah dan setelah mengimani orang yang menerimanya (nabi)?
Kepercayaan akan keberadaan Allah mesti diperoleh dengan akal fitri
sebelum mempercayai al-Quran. Al-Quran adalah petunjuk bagi yang telah
beriman, sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat suci di dalamnya.
Al-Quran adalah pedoman bagi yang mengimani Allah dan
 nabinya.
Artinya, al-Quran dijadikan sebagai dasar setelah memastikan wujud
Allah dan kemestian kenabian Muhammad.

Ketiga, rukun pertama adalah keimanan kepada Allah. Apa maksud dari
kalimat ini? Apakah meyakini keberadanNya saja ataukah keesaannya?
Sekadar ‘kata kepada Allah’ masih menyimbang banyak pertanyaan.2)
Apakah iman ini berhubungan dengan ‘iman kepada’ ataukah ‘iman tentang
ketuhanan’? persoalan teologi tidak sesederhana yang dibayangkan oleh
sebagian orang. Pernahkah kita mendengar ayat yang terjemahannya
(kurang lebih), “Dan apabila kau (Muhammad) tanya mereka, siapa yang
menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka berkata, Allah”. Bukankah
ini sudah memenuhi standar keimanan kepada Allah?

Keempat, rukun kedua adalah iman kepada malaikat. Mestinya bukan iman
kepada para malaikat, tapi iman tentang malaikat. ‘Iman kepada’
mestinya muncul setelah ‘iman tentang’. Selain
 itu, iman kepada
malaikat semestinya tidak muncul setelah iman kepada Allah (iman akan
wujud Allah). Bagaimana mungkin bisa meyakini wujud para malaikat
lengkap dengan departemen-departemannya sebelum mempercayai al-Quran
yang mewartakannya? Kemudian, alasan yang mungkin dikemukakan oleh
pendukung ialah bahwa iman kepada para malaikat itu tercantum sebagai
salah satu sifat mukmin dalam al-Quran. Memang benar. Tapi, bila
kepercayaan kepada atau tentang wujud para malaikat dianggap sebagai
rukun (keyakinan fundamental) karena tertera dalam al-Quran, maka
bukankah seluruh yang diberitakan dalam al-Quran juga mesti dijadikan
rukun pula. Bayangkan berapa banyak yang mesti dicantumkan dalam list
rukun itu! Bukankah semua yang ada dalam al-Quran mesti diimani
(dipastikan adanya)? Kalaupun keimanan kepada (tentang) para malaikat
memang sebuah keharusan, tapi mestikah dijadikan rukun? Apa alasan
rasional dan implikasi
 teologis dari keimanan kepada malaikat sehingga
layak menempati urutan kedua dalam rukun iman, apalagi rukun yang
mendahului iman kepada kenabian?

Kelima, rukun ketiga adalah iman kepada (tentang) kitab-kitab suci.
Apa yang dimaksud dengan iman kepada kitab-kitab suci? Apakah kita
mesti beriman kepada Injil, Taurat dan zabur sebagai kitab Allah?
Ataukah kita mesti meyakini bahwa Injil, Taurat dan Zabur pernah
menjadi kitab-kitab suci? Apakah al-Quran juga termasuk di dalamnya?
Bila al-Quran juga termasuk di dalamnya? Mana mungkin kita mengimani
al-Quran dari teks al-Quran? Logiskah meyakini al-Quran sebagai wahyu
karena al-Quran menetapkannya demikian di dalamnya? Selain itu,
mestinya keimanan tentang Injil, Taurat dan Zabur sebagai kitab suci
bersumber dari al-Quran, tapi meyakini al-Quran sebagai wahyu Allah
bersumber dari kenabian Muhammad saw. Padahal keimanan kepada para
nabi muncul setelah keimanan
 kepada kitab-kitab suci. Ini benar-benar
membingungkan. Lagi pula, apa urgensi keimanan kepada (tentang)
kitab-kitab itu sebagai rukun? Mengimaninya memang keharusan, tapi
mengapa dijadikan sebagai rukun? Lagi-lagi, bila alasannya dicantumkan
dalam list rukun iman karena tertera dalam al-Quran, maka mestinya
banyak hal lain dalam al-Quran yang bisa dimasukkan dalam rukun-rukun
iman.

Keenam, rukun keempat adalah iman kepada (tentang) para rasul. Apakah
yang dimaksud dengan ‘para rasul’ itu semua utusan minus Nabi
Muhammad? Bila ya, mestinya hal itu diyakini setelah meyakini kenabian
Muhammad saw. Padahal keyakinan akan kenabian Muhammad mesti tidak
didasarkan pada al-Quran, karena keyakinan akan kebenaran al-Quran
bersumber dari keyakinan akan kebenaran klaim Muhammad saw sebagai
nabi. Keimanan kepada kebenaran al-Quran sebagai wahyu adalah
konsekuensi dari keyakinan akan kebenaran Muhammad sebagai nabi.
 Bila
tidak, artinya keimanan kepada para rasul plus Muhammad, maka hal itu
menimbulkan kontradiksi. Bagaimana mungkin meyakini nabi Muhammad dan
para nabi yang tercantum dalam al-Quran, padahal keyakinan akan
al-Quran sebagai kitab wahyu muncul setelah keyakinan akan kebenaran
klaim kenabian Muhammad saw sebagai nabi.

Ketujuh, rukun kelima adalah iman tentang ketentuan Allah, baik dan
buruk. Ini salah satu paradoks teologi yang paling membingungkan. Poin
kelima ini telah dikritik oleh para teolog Sunni kontemporer karena
dianggap sebagai sumber fatalisme.

Kedelapan, rukun keenam adalah iman kepada (tentang) hari akhir.
Inilah poin keimanan yang letaknya paling sistematis. Ia memang pantas
berada di urutan terakhir. Hanya saja, perlu diperjelas, apakah hari
akhir itu hari kiamat (di dunia) atau hari setelah kebangkitan (pasca
dunia).

Kesembilan, yang mengejutkan ialah, bahwa manusia yang mengimani
 enam
rukun diatas, meski tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, bisa
dianggap mukmin. Mengapa? Tahukah Anda? Silakan menanggapi dengan
semangat persaudaraan.

http://www.facebook.com/notes/muhsin-labib/restrukturisasi-rukun-iman/10150399517370730



--
=> www.ahmadsahidin.wordpress.com



--
=> www.ahmadsahidin.wordpress.com


------------------------------------

Yahoo! Groups Links










-- 
=> www.ahmadsahidin.wordpress.com










    
     

    
    


 



  








Kirim email ke