Hade mun boled geus bisa diproses leuwih awet, jadi tipung misalna. Bisa jadi bahan produksi tatanen Kang Udin.
2011/10/13 Sp Saprudin <[email protected]> > ** > > > Atuh sa-RW-eun kabagian ieu mah..... > Mun unggal melak mantang tiap tangkal betina sagedena kitu, atuh > lumayan........tapi pangsa pasarna kumaha nyah? Hanas marelak mantang we > tapi euweuh nu meuli. Dahar bae meureun, sakampung dahar mantang, apan mun > ngadahar mantang (hui boled) hitutna sok bau, atuh ekspor hitut boled we ka > Malaysia, da Malaysia kiwari geus ngalunjak nurustunjung, nongtorogan gede > hulu. > > *Dari:* Ki Hasan <[email protected]> > *Kepada:* Ki Sunda <[email protected]> > *Cc:* Urang Sunda <[email protected]>; Baraya Sunda < > [email protected]> > *Dikirim:* Kamis, 13 Oktober 2011 2:55 > *Judul:* [kisunda] Hui Boled "Gentong"? > > > Dikira Gentong Ternyata Hui Boled 21,5 Kg > Selasa, 11 Oktober 2011 | 11:03 WIB > *PULUHAN *tahun jadi petani, Titi (46) tidak pernah terkejut seperti yang > dialaminya Sabtu (8/10) siang. Saat menusukkan ujung golok ke tanah di bawah > rumpun mantang (ubi jalar atau *hui boled*) di kebun samping rumahnya, > warga Dusun Margadanu RT 02/07, Desa Margajaya, Kecamatan Sukadana, Ciamis, > itu tak menyangka bahwa ia tengah menggali sebuah ubi jalar dengan ukuran > raksasa. > > "Awalnya saya kira ada gentong di simpan dalam tanah. Coba lihat, warna dan > bulatnya seperti gentong. Setelah ditusuk ternyata tidak keras, makanya > tanah terus saya gali," ujar istri Makmun (48) itu kepada *Tribun*, Senin > (10/10). > > Ia pun lantas meminta bantuan suaminya untuk meneruskan menggali tanah. > Begitu tanah di sekitar "gentong" itu tergali, ternyata itu adalah ubi jalar > alias *hui boled* dengan ukuran luar biasa besar. Satu rumpun ubi jalar > yang dipanen hanya berisi satu ubi raksasa itu. > > "Puluhan tahun jadi petani, baru kali ini dapat *mantang* sebesar ini," > ujar Makmun. > > Tentu saja temuan ubi jalar ukuran tak lazim ini membuat warga setempat > heboh selama tiga hari terakhir. Bayangkan saja, ukuran *hui boled *itu > sebesar gentong. Tinggi mencapai 45 cm, garis keliling satu meter, dan berat > 21,5 kg (kira-kira seberat bocah usia tujuh tahun). > > Menurut Makmun, tanah yang ditanaminya dengan ubi jalar tersebut merupakan > lahan bekas rumah milik kakaknya, H Saun (50), yang kini menjadi bos kerupuk > di Cakung, Jakarta. > > "Di tanah ini sebenarnya masih banyak puing-puing, juga ada ubin di > bawahnya. Tetapi ternyata tanahnya subur, lihat saja singkong dan pisang > yang ditanam di sini juga subur, termasuk mantang yang kemarin dipanen," > ujar Makmun. > > Kata Makmun, tumbuhan yang berbuah mantang ukuran raksasa tersebut ditanam > tujuh bulan lalu, merupakan ubi jalar varietas lokal yang gagang (jalar)-nya > diminta dari Engking, tetangganya. "Saya sama istri tak pernah mimpi > apa-apa. Tiba-tiba dapat mantang sebesar ini," katanya. > > Kini mantang raksasa itu disimpan di rumahnya. "Kemarin Pak Camat juga > nengok ke sini. Semua pada kaget, ada ubi jalar ukurannya sebesar ini. Ada > yang bilang, ini mantang manohara," ujar Makmun sambil tertawa. > > Meski aneh bin ajaib, Makmun belum berniat untuk menjual mantang hasil > bercocok tanamnya tersebut. "Meski ditawar dengan harga sejuta pun tak akan > dijual. Mau diperlihatkan dulu sama Kang H Saun. Nanti terserah beliau mau > diapain," katanya. > > Ubi mantang raksasa hasil bercocok tanam yang ditemukan tak jauh dari > Komplek MTs Margadanu dan kandang sapi H Wasdi tersebut menjadi buah bibir > warga. > > Desa Margajaya sendiri, kata Sunarya, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian, > Peternakan, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Sukadana, merupakan salah satu > sentra produksi ubi jalar di Kecamatan Sukadana. Total areal tanaman ubi > jalar di desa ini sekitar 70 hektare dengan hasil produksi dijual ke pasar > lokal, yakni Pasar Dongkal Ciilat. "Harga mantang sekarang cukup murah, > hanya Rp 1.500/kg," ujarnya. > > Menurut Sunarya, dalam sejarah pertanian di Sukadana, baru kali ini ada > petani yang memanen ubi jalar yang ukurannya sampai seberat 21,5 kg. > "Biasanya mantang yang paling besar hanya sampai setengah kilogram. Tapi ini > 21,5 kg. Meski tumbuhnya kurang terawat, ditanam di lahan bekas rumah yang > masih banyak puingnya. Tapi pasokan hara ke umbinya berjalan secara > optimal," ujar Sunarya. (*) > > *Dapatkan artikel ini di URL:* > http://jabar.tribunnews.com/102892/Dikira Gentong Ternyata Hui Boled 21,5 > Kg > > > > >
