Selasa, 19 Juli 2011  UNDAK USUK BASA WARISAN FEODAL

Masyarakat Sunda pada masa sebelum perang bukan saja terkotak-kotak menurut
kedudukannya secara sosial, melainkan juga dipisahkan oleh pemakaian bahasa
yang berkelas-kelas dengan aturan 'undak usuk basa'. Pemimpin yang berasal
dari suku lain bisa berhadapan sama tinggi dengan para pejabat pribumi
seperti bupati dan para pembantunya, mereka bisa berbicara dalam bahasa
Indonesia atau bahasa Belanda yang demokratis karena tidak mengenal
tingkat-tingkat bahasa, sedang pemimpin orang Sunda kalau berhadapan dengan
bupati ( Kanjeng Dalem ) pada waktu itu harus berbicara dengan bahasa Sunda
yang memaksanya menempatkan diri sebagai ' abdi dalem' yang berbicara
dengan 'dampal dalem' serta harus cermat menggunakan kata-kata sesuai
dengan aturan 'undak usuk'.


Kalau dia sampai melakukan kesalahan dalam memenuhi aturan undak usuk, dia
akan langsung mendapat hukuman sosial, antaranya ditertawakan sebagai orang
yang tak tahu sopan santun, bukan orang sekolahan, orang kampung dan
sebagainya.Bahasa Sunda yang bagi pecaturnya memberi beban berupa 'undak
usuk basa' yang sebenarnya tak ada manfaatnya secara praktis, karena
tingkat-tingkat bahasa ( unggah-ungguhing basa ) yang dibuat pada masa
Mataram waktu diperintah oleh Sultan Agung itu semata-mata untuk membuat
garis batas antara priyayi dengan kebanyakan ternyata kian lama kian rumit,
sejalan dengan kian berkurangnya daerah kekuasaan Mataram karena sedikit
demi sedikit jatuh ke tangan Belanda.


Meskipun tidak intensif, bahasa Sunda sekarang pun masih mengajarkan undak
usuk basa di sekolah-sekolah, sehingga anak-anak dan orang Sunda yang sudah
dewasa juga, selalu merasa takut salah kalau berbicara bahasa Sunda.
Sebagai jalan keluar mereka menggunakan bahasa Indonesia. Jadi, orang Sunda
enggan menggunakan bahasa Sunda juga antaranya karena adanya ancaman
hukuman sosial kalau dalam pembicaraan itu dia melanggar ketentuan
'undak-usuk basa'.Maka 'undak-usuk basa' sebaiknya diabaikan saja. Di
sekolah tak perlu diajarkan.


Karena tatar Sunda termasuk wilayah Republik Indonesia yang demokratis,
maka tak pantaslah mempertahankan bahasa yang feodalistis yang membedakan
manusia berdasarkan kedudukan sosialnya. Tanpa 'undak-usuk basa', orang
akan lebih mudah belajar dan lebih berani mempergunakan bahasa Sunda.
Undak-usuk cukup diketahui sebagai pengetahuan, terutama untuk membaca teks
sastera atau naskah-naskah lama, serta sebgai kekayaan budaya. *Dikutip
dari : Masa Depan Budaya Daerah

http://babadbanten.blogspot.com/2011/07/undak-usuk-basa-warisan-feodal.html

Kirim email ke