Nabi Orang Termiskin
  
www.achyutasamanta.com<http://www1.kompas.com/printnews/xml/2011/11/26/09480719/Nabi.Orang.Termiskin#>
Achyuta Samanta.
 Sabtu, 26 November 2011 | 09:48 WIB

Oleh *AHMAD SYAFII MAARIF*, *Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah*

Judul yang lengkap sebenarnya adalah ”Asketik Hindu Nabinya the Poorest of
the Poor ”. Ini adalah artikel refleksi kesaksian saya atas realitas
spiritual seorang asketik Hindu.

Asketik berarti sederhana ekstrem. Saya mendapat undangan dari seorang
asketik spiritual untuk mengunjungi kota Bhubaneswar, Negara Bagian Orissa,
India, 14-16 November 2011. Saya diajak menyaksikan proyek pendidikan,
sosial, dan kemanusiaan dahsyat yang telah digelutinya sejak 20 tahun lalu.

Sosok itu bernama Dr Achyuta Samanta, lahir 20 Januari 1965. Ia berasal
dari Desa Kalarabanka, salah satu tempat tinggal suku termiskin di negara
bagian itu. Samanta yatim sejak berumur empat tahun. Ibunya yang kini 83
tahun tetap tinggal di desa, sementara saudara-saudaranya tak seorang pun
mengikutinya.

Melalui perjalanan hidup yang sangat sulit, Samanta berhasil sekolah dan
mendapatkan beasiswa untuk meraih sarjana kimia dari Universitas Utkal.

Aneh bin ajaib, ia melepaskan profesinya sebagai dosen dan kemudian beralih
posisi menjadi nabinya ”the poorest of the poor” (kalangan termiskin di
antara yang miskin). Nabi di sini hendaklah dipahami sebagai seorang
pembebas dari ketertindasan: kasta, ekonomi, pendidikan, sosial, dan
politik.

Tuan dan puan jangan kaget membaca kesaksian berikut dari saya (76) yang
sudah bersyahadat sejak usia sangat dini. Senin 14 November pagi pukul
07.19, Dr Mahendra Prasad, Direktur Hubungan Internasional Universitas
Kalinga Institute of Industrial Technology (KIIT), menjemput saya di
Bandara Biju Patnaik dengan sebuah mobil cukup mewah.

Belum ada lini penerbangan internasional langsung ke Orissa. Dengan
demikian, saya harus berjam-jam transit di Bandara Delhi yang sangat
melelahkan.

*Asketisme*

Sampai jam itu saya belum dikenalkan dengan nama asketik Hindu yang
fenomenal itu, otak dari semua proyek kemanusiaan yang mungkin hanya dia
seorang saja di muka Bumi ini dalam makna asketisme: tak terbayangkan di
tengah aset proyek ratusan juta dollar AS. Sebuah aset yang tidak akan
diwariskan kepada keluarga, melainkan untuk publik, seperti yang ia
tegaskan kepada saya.

Dalam perjalanan ke Hotel Trident, Prasad memberi saya beberapa informasi
tercetak tentang KIIT, Kalinga Institute of Social Sciences (KISS), dan
tentang Samanta. Di hotel secara selintas saya membaca informasi itu,
termasuk sosok Samanta yang beberapa jam kemudian datang menemui saya di
kamar hotel.

Saya terkejut bukan main, seorang humanis besar datang dengan baju putih
lengan panjang, celana jeans, dan sandal lusuh. Langsung saya berucap, ”Tak
ada gunanya Anda mengundang saya ke sini. Saya bukan siapa-siapa dibanding
Anda.” Dengan sikap penuh hormat sambil mengangkat kedua tangan ke dahi,
Samanta menjawab, ”Jangan berkata begitu.Saya mengagumi Anda."

Terus terang saya malu sekali karena dia tak punya alasan untuk mengagumi
saya. Syahadat usia dini tidak mengarahkan saya menjadi humanis yang
berarti. Sewaktu saya tanya tentang inti filosofinya, Samanta hanya
menjawab, ”Untuk membahagiakan orang lain.” Sebuah filosofi yang melawan
sifat mementingkan diri sendiri.

Hari itu juga Samanta untuk kedua kalinya datang ke kamar saya. Pakaiannya
tetap saja tak berganti, itu-itu saja. Ia memberikan......(*Selengkapnya
baca Harian Kompas <http://epaper.kompas.com/>, Sabtu, 26 November 2011,
halaman 6*)



*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://www.kompas.com/read/xml/2011/11/26/09480719/Nabi.Orang.Termiskin

Kirim email ke