Kurang minat ah jadi pengikut nabi termiskin mah sieun kababawa ripuh, mun aya 
nabi terkaya mah arek miluan sugan kabawa beunghar.....
Nu ngarana termiskin pasti kurang ti saratus urang da nu terkaya oge biasana 
mah ngan saratus urang di dunia teh numutkeun majalah.
 

________________________________
From: Ki Hasan <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]> 
Sent: Monday, November 28, 2011 4:00 PM
Subject: [kisunda] Re: Nabi Orang Termiskin


  
Nabi Orang Termiskin
 www.achyutasamanta.com
Achyuta Samanta. 
Sabtu, 26 November 2011 | 09:48 WIB
Oleh AHMAD SYAFII MAARIF, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah
Judul yang lengkap sebenarnya adalah ”Asketik Hindu Nabinya the Poorest of the 
Poor ”. Ini adalah artikel refleksi kesaksian saya atas realitas spiritual 
seorang asketik Hindu.
Asketik berarti sederhana ekstrem. Saya mendapat undangan dari seorang asketik 
spiritual untuk mengunjungi kota Bhubaneswar, Negara Bagian Orissa, India, 
14-16 November 2011. Saya diajak menyaksikan proyek pendidikan, sosial, dan 
kemanusiaan dahsyat yang telah digelutinya sejak 20 tahun lalu.
Sosok itu bernama Dr Achyuta Samanta, lahir 20 Januari 1965. Ia berasal dari 
Desa Kalarabanka, salah satu tempat tinggal suku termiskin di negara bagian 
itu. Samanta yatim sejak berumur empat tahun. Ibunya yang kini 83 tahun tetap 
tinggal di desa, sementara saudara-saudaranya tak seorang pun mengikutinya.
Melalui perjalanan hidup yang sangat sulit, Samanta berhasil sekolah dan 
mendapatkan beasiswa untuk meraih sarjana kimia dari Universitas Utkal.
Aneh bin ajaib, ia melepaskan profesinya sebagai dosen dan kemudian beralih 
posisi menjadi nabinya ”the poorest of the poor” (kalangan termiskin di antara 
yang miskin). Nabi di sini hendaklah dipahami sebagai seorang pembebas dari 
ketertindasan: kasta, ekonomi, pendidikan, sosial, dan politik.
Tuan dan puan jangan kaget membaca kesaksian berikut dari saya (76) yang sudah 
bersyahadat sejak usia sangat dini. Senin 14 November pagi pukul 07.19, Dr 
Mahendra Prasad, Direktur Hubungan Internasional Universitas Kalinga Institute 
of Industrial Technology (KIIT), menjemput saya di Bandara Biju Patnaik dengan 
sebuah mobil cukup mewah.
Belum ada lini penerbangan internasional langsung ke Orissa. Dengan demikian, 
saya harus berjam-jam transit di Bandara Delhi yang sangat melelahkan.
Asketisme
Sampai jam itu saya belum dikenalkan dengan nama asketik Hindu yang fenomenal 
itu, otak dari semua proyek kemanusiaan yang mungkin hanya dia seorang saja di 
muka Bumi ini dalam makna asketisme: tak terbayangkan di tengah aset proyek 
ratusan juta dollar AS. Sebuah aset yang tidak akan diwariskan kepada keluarga, 
melainkan untuk publik, seperti yang ia tegaskan kepada saya.
Dalam perjalanan ke Hotel Trident, Prasad memberi saya beberapa informasi 
tercetak tentang KIIT, Kalinga Institute of Social Sciences (KISS), dan tentang 
Samanta. Di hotel secara selintas saya membaca informasi itu, termasuk sosok 
Samanta yang beberapa jam kemudian datang menemui saya di kamar hotel.
Saya terkejut bukan main, seorang humanis besar datang dengan baju putih lengan 
panjang, celana jeans, dan sandal lusuh. Langsung saya berucap, ”Tak ada 
gunanya Anda mengundang saya ke sini. Saya bukan siapa-siapa dibanding Anda.” 
Dengan sikap penuh hormat sambil mengangkat kedua tangan ke dahi, Samanta 
menjawab, ”Jangan berkata begitu.Saya mengagumi Anda."
Terus terang saya malu sekali karena dia tak punya alasan untuk mengagumi saya. 
Syahadat usia dini tidak mengarahkan saya menjadi humanis yang berarti. Sewaktu 
saya tanya tentang inti filosofinya, Samanta hanya menjawab, ”Untuk 
membahagiakan orang lain.” Sebuah filosofi yang melawan sifat mementingkan diri 
sendiri.

Hari itu juga Samanta untuk kedua kalinya datang ke kamar saya. Pakaiannya 
tetap saja tak berganti, itu-itu saja. Ia memberikan......(Selengkapnya baca 
Harian Kompas, Sabtu, 26 November 2011, halaman 6)
 

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/11/26/09480719/Nabi.Orang.Termiskin

Kirim email ke