Mun kitu mah atuh moal jadi tuladeun nu sangsara. Kitu petana urang Quraisy basa embung asup Islam teh. Sual darajat sosial jeung ekonomi nu disualkeun ku maranehna teh.
--- In [email protected], ilen kardani <ilen1017@...> wrote: > > Kurang minat ah jadi pengikut nabi termiskin mah sieun kababawa ripuh, mun > aya nabi terkaya mah arek miluan sugan kabawa beunghar..... > Nu ngarana termiskin pasti kurang ti saratus urang da nu terkaya oge biasana > mah ngan saratus urang di dunia teh numutkeun majalah. > Â > > ________________________________ > From: Ki Hasan <khs579@...> > To: Ki Sunda <[email protected]> > Sent: Monday, November 28, 2011 4:00 PM > Subject: [kisunda] Re: Nabi Orang Termiskin > > > Â > Nabi Orang Termiskin > www.achyutasamanta.com > Achyuta Samanta. > Sabtu, 26 November 2011 | 09:48 WIB > Oleh AHMAD SYAFII MAARIF, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah > Judul yang lengkap sebenarnya adalah âAsketik Hindu Nabinya the Poorest of > the Poor â. Ini adalah artikel refleksi kesaksian saya atas realitas > spiritual seorang asketik Hindu. > Asketik berarti sederhana ekstrem. Saya mendapat undangan dari seorang > asketik spiritual untuk mengunjungi kota Bhubaneswar, Negara Bagian Orissa, > India, 14-16 November 2011. Saya diajak menyaksikan proyek pendidikan, > sosial, dan kemanusiaan dahsyat yang telah digelutinya sejak 20 tahun lalu. > Sosok itu bernama Dr Achyuta Samanta, lahir 20 Januari 1965. Ia berasal dari > Desa Kalarabanka, salah satu tempat tinggal suku termiskin di negara bagian > itu. Samanta yatim sejak berumur empat tahun. Ibunya yang kini 83 tahun tetap > tinggal di desa, sementara saudara-saudaranya tak seorang pun mengikutinya. > Melalui perjalanan hidup yang sangat sulit, Samanta berhasil sekolah dan > mendapatkan beasiswa untuk meraih sarjana kimia dari Universitas Utkal. > Aneh bin ajaib, ia melepaskan profesinya sebagai dosen dan kemudian beralih > posisi menjadi nabinya âthe poorest of the poorâ (kalangan termiskin di > antara yang miskin). Nabi di sini hendaklah dipahami sebagai seorang pembebas > dari ketertindasan: kasta, ekonomi, pendidikan, sosial, dan politik. > Tuan dan puan jangan kaget membaca kesaksian berikut dari saya (76) yang > sudah bersyahadat sejak usia sangat dini. Senin 14 November pagi pukul 07.19, > Dr Mahendra Prasad, Direktur Hubungan Internasional Universitas Kalinga > Institute of Industrial Technology (KIIT), menjemput saya di Bandara Biju > Patnaik dengan sebuah mobil cukup mewah. > Belum ada lini penerbangan internasional langsung ke Orissa. Dengan demikian, > saya harus berjam-jam transit di Bandara Delhi yang sangat melelahkan. > Asketisme > Sampai jam itu saya belum dikenalkan dengan nama asketik Hindu yang fenomenal > itu, otak dari semua proyek kemanusiaan yang mungkin hanya dia seorang saja > di muka Bumi ini dalam makna asketisme: tak terbayangkan di tengah aset > proyek ratusan juta dollar AS. Sebuah aset yang tidak akan diwariskan kepada > keluarga, melainkan untuk publik, seperti yang ia tegaskan kepada saya. > Dalam perjalanan ke Hotel Trident, Prasad memberi saya beberapa informasi > tercetak tentang KIIT, Kalinga Institute of Social Sciences (KISS), dan > tentang Samanta. Di hotel secara selintas saya membaca informasi itu, > termasuk sosok Samanta yang beberapa jam kemudian datang menemui saya di > kamar hotel. > Saya terkejut bukan main, seorang humanis besar datang dengan baju putih > lengan panjang, celana jeans, dan sandal lusuh. Langsung saya berucap, âTak > ada gunanya Anda mengundang saya ke sini. Saya bukan siapa-siapa dibanding > Anda.â Dengan sikap penuh hormat sambil mengangkat kedua tangan ke dahi, > Samanta menjawab, âJangan berkata begitu.Saya mengagumi Anda." > Terus terang saya malu sekali karena dia tak punya alasan untuk mengagumi > saya. Syahadat usia dini tidak mengarahkan saya menjadi humanis yang berarti. > Sewaktu saya tanya tentang inti filosofinya, Samanta hanya menjawab, âUntuk > membahagiakan orang lain.â Sebuah filosofi yang melawan sifat mementingkan > diri sendiri. > > Hari itu juga Samanta untuk kedua kalinya datang ke kamar saya. Pakaiannya > tetap saja tak berganti, itu-itu saja. Ia memberikan......(Selengkapnya baca > Harian Kompas, Sabtu, 26 November 2011, halaman 6) > Â > > Dapatkan artikel ini di URL: > http://www.kompas.com/read/xml/2011/11/26/09480719/Nabi.Orang.Termiskin > ------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
