Kekhawatiran dan Keraguan Politik Bahasa Kolonial Oleh *Joss Wibisono* Dibuat *22 Desember 2011 13:14* [image: image/jpeg icon]Replika Prins Willem<http://cdn.radionetherlands.nl/data/files/images/lead/article/2011/12/voc.jpg>
*P**enguasa kolonial membuka pelbagai sekolah untuk kalangan pribumi pada awal abad 20. Tapi hanya elite pribumi yang bisa bersekolah dan memperoleh pelajaran bahasa Belanda. Selain itu, masih banyak pertimbangan lain yang menyebabkan bahasa Belanda tidak tersebar di Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia. * Memasuki abad 20, Den Haag melancarkan apa yang disebut Politik Etis terhadap Hindia Belanda. Bertujuan antara lain meningkatkan martabat pribumi Inlanders, Politik Etis juga ditandai dengan upaya memperluas pendidikan. Maka dibukalah HIS, Hollands-Inlandse School sekolah dasar untuk pribumi dan HCS, Hollands-Chinese School untuk keturunan Tionghwa. Tapi itu tidaklah berarti bahasa Belanda diajarkan secara massal, karena paling sedikit ada dua alasan *Mangsa nasionalis* Pertama, untuk bisa mengajarkan bahasa Belanda di seantero Nusantara, perlu dibuka sangat banyak sekolah dengan jumlah pengajar yang sangat banyak pula. Hanya dengan alasan jumlah yang sangat banyak ini, penguasa kolonial di Batavia sudah dari awal memutuskan tidak akan mengajarkan bahasa Belanda secara massal. Seperti pada zaman VOC kebutuhan berbahasa Belanda tidak dianggap mendesak, terutama karena sudah ada Melajoe sebagai lingua franca, bahasa pengantar. Kedua, pemerintah kolonial Hindia Belanda sendiri sebenarnya juga tidak terlalu berminat meningkatkan jumlah orang yang bisa berbahasa Belanda. Mereka percaya makin banyak warga Hindia Belanda yang bisa berbahasa Belanda, akan makin banyak pula apa yang mereka sebut sebagai “half-intellectueel witteboordproletariaat” (proletar kerah putih yang tidak matang). Dikhawatirkan mereka akan menjadi “mangsa” kalangan nasionalis yang menginginkan kemerdekaan Indonesia. Karena kekhawatiran ini jumlah sekolah-sekolah yang dibuka juga tidak langsung ditingkatkan, sebelum jelas lulusannya benar-benar membawa keuntungan bagi penguasa kolonial. [related-articles] Alhasil bahasa Belanda hanya diajarkan di HIS atau HCS, tidak pada semua sekolah yang waktu itu ada di Hindia Belanda. Tentu saja karena pada dua jenis sekolah itu, maka hanya kalangan elite yang bisa memperoleh pelajaran bahasa Belanda. Rakyat biasa, di Jawa paling-paling bersekolah Ångkå Loro dengan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar. Di beberapa kota Sumatra, seperti Padang atau Medan, sekolah-sekolah swasta, menggunakan bahasa Melajoe. Ini berarti bahwa politik bahasa penguasa kolonial waktu itu bertumpu pada dua bahasa: bahasa Belanda dan bahasa setempat. *Timbul masalah* Walau begitu, jumlah pribumi yang fasih berbahasa Belanda meningkat juga, sampai awal tahun 1920an. Peningkatan itu mencapai 14 kali lipat lebih. Padahal HIS dan HCS sendiri sebenarnya tidak mengajarkan bahasa Belanda sebagai bahasa ibu kepada murid-muridnya. Antara tahun 1917 sampai 1933 masih dibedakan pengajaran bahasa Belanda sebagai bahasa asing, ini untuk siswa-siswa HIS dan HCS. Selain itu bahasa Belanda masih diajarkan sebagai bahasa ibu, ini untuk siswa-siswa ELS, Europese Lagere School yang tentu saja bermurid kulit putih Eropa. Kees Groeneboer, direktur Pusat Bahasa Belanda Erasmus di Jakarta meneliti bahasa Belanda di Hindia Belanda. Hasil penelitiannya itu terbit sebagai buku berjudul Weg tot het Westen (Jalan ke Barat), tentang posisi bahasa Belanda di Nusantara. Menurut Groeneboer politik tidak menyebarkan bahasa Belanda ini juga karena penguasa kolonial tidak ingin campur tangan lebih dalam pada wilayah-wilayah yang jelas bermayoritas penduduk Muslim. Di wilayah-wilayah ini orang menggunakan bahasa Melajoe. Kalau wilayah-wilayah ini masih diwajibkan berbahasa Belanda, maka ditakutkan bisa timbul masalah besar. Warga Muslim itu dikhawatirkan akan makin tidak puas dengan penguasa kolonial, sesuatu yang tidak diinginkan Batavia. Para missionaris atau zendeling juga dilarang masuk wilayah-wilayah itu. Sebaliknya untuk wilayah-wilayah penyebaran agama Nasrani, demikian Kees Groeneboer, digunakan bahasa Belanda. Tapi ditambahkannya itu wilayah-wilayah agak kecil, misalnya Batak, Maluku, Manado. Jelas ini lagi-lagi berarti bahasa Belanda tidak diberi kesempatan untuk tersebar dengan luas. *Kosa kata miskin* Dengan demikian, pada akhir zaman penjajahan hanyalah 2% warga Hindia Belanda yang bisa berbahasa Belanda. Dari jumlah ini, Kees Groeneboer memperkirakan sekitar satu persen bisa berbahasa Belanda dengan fasih dan canggih, sedangkan satu persen lagi, walaupun sudah lancar, bahasa Belanda mereka sebenarnya tidak terlalu tinggi. Walau begitu jumlah dua persen warga Hindia Belanda ini sudah banyak juga, sudah mencapai 1,4 juta orang. Faktor jumlah penduduk inilah yang menurut Kees Groeneboer berperan penting bagi politik bahasa Belanda untuk Hindia Barat yang terdiri dari Suriname dan Antila Belanda. Pada awal abad 20 jumlah penduduk wilayah ini tidaklah banyak, diperkirakan belum mencapai 200 ribu orang. Jumlah seperti ini memungkinkan untuk menyediakan pendidikan berbahasa Belanda. Kees melihat masih ada dua faktor lain yang tidak kalah pentingnya. Pertama, pemerintah kolonial Hindia Barat ingin mengasimilasikan seluruh penduduk pada pemerintahan kolonial. Kedua Belanda berminat menyebarkan agama Nasrani dan untuk ini dipakai bahasa Belanda. Kosa kata bahasa setempat dianggap terlalu miskin untuk penyebaran agama Nasrani. Dengan politik seperti ini, dan macam-macam keraguan, termasuk keyakinan bahwa Belanda yang kecil itu tidak mungkin bisa membahasabelandakan Nusantara, masuk akal saja kalau bahasa Belanda tidak pernah menjadi bahasa pengantar. *Tidak tersentuh* Jumlah pribumi yang fasih berbahasa Belanda juga tetap sedikit dibandingkan jumlah warga Hindia Belanda secara keseluruhan. Karena tidak diajarkan lagi, bahasa Belanda akhirnya menjadi bahasa yang benar-benar asing. Apalagi ketika generasi yang dulu fasih berbahasa Belanda makin tipis ditelan zaman. Sekarang, jumlah mereka yang bisa bebahasa Belanda benar-benar minoritas. Khalayak ramai lebih memilih Inggris sebagai bahasa internasional. Akibatnya pelbagai buku, terbitan dan tulisan-tulisan dalam bahasa Belanda dari zaman pra Indonesia yang penting untuk sejarah bangsa makin tidak tersentuh. * * ------------------------------ *URL sumber:* http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/kekhawatiran-dan-keraguan-politik-bahasa-kolonial *Links:* *Images:* [i1] Replika Prins Willem -- http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/lead/article/2011/12/voc.jpg [i2] http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia
