Bahasa Belanda Tidak Laku di Nusantara
Oleh *Joss Wibisono*
Dibuat *16 Desember 2011 16:38*
 [image: image/jpeg
icon]bahasa_belanda.jpg<http://cdn.radionetherlands.nl/data/files/images/lead/article/2011/12/bahasa_belanda_0.jpg>

*Orang Indonesia selalu bangga punya satu bahasa sebagai bahasa nasional.
Bahasa ini bukan warisan bangsa penjajah. Mungkin ada orang
Indonesia bertanya mengapa berlainan dengan Spanyol, Portugal, Prancis atau
Inggris di bekas jajahan mereka, Belanda tidak memberlakukan bahasanya di
Nusantara? *

Rasanya seperti ada sesuatu yang terlewat pada setiap bulan bahasa, sebagai
bagian ritual mengenang heroiknya Sumpah Pemuda. Itulah mengajukan dan
berupaya mencari jawaban terhadap sebuah pertanyaan penting: mengapa
penjajah Belanda dulu tidak mewajibkan warga Nusantara berbahasa Belanda?
Bukankah di Filipina, Spanyol memberlakukan bahasa mereka, seperti juga
Portugal di Timor Lorosa’e?

*Tak berwawasan*
Kekuatan kolonial Eropa lain: Inggris, Prancis, Spanyol dan Portugal,
memang selalu membuat wilayah jajahan mereka juga berbahasa penjajah.
Bahasa-bahasa Inggris, Prancis, Portugis dan Spanyol bukan saja menjadi
bahasa pemerintahan di Afrika, Asia Selatan dan Amerika Latin, tetapi juga
merupakan bahasa yang diajarkan di sekolah-sekolah pada belahan dunia itu.

Alhasil ketika kolonialisme berakhir, negara-negara yang merdeka dari
jajahan Inggris, Prancis, Portugal dan Spanyol tetap menggunakan bahasa
(bekas) penjajah sebagai bahasa nasional. Atau, walaupun sudah punya bahasa
nasional seperti Maroko atau Aljazair yang berbahasa Arab, Bahasa Prancis
seolah merupakan bahasa nasional kedua yang sekaligus merupakan bahasa
penghubung dengan dunia internasional.

Mengapa penjajah Belanda tidak berbuat serupa di Indonesia? Jawabannya
panjang dan rumit, serta bergantung dari zamannya. Kalau harus disingkat
dan dipermudah mungkin bisa dikatakan itulah watak orang Belanda. Orang
Belanda dikenal kikir, tidak suka membuang kebiasaan (apalagi kebiasaan
yang murah) dan, dalam soal bahasa ini, mereka juga tidak terlalu punya
wawasan masa depan.

Kalau Indonesia juga berbahasa Belanda, maka sekarang bahasa ini akan
digunakan oleh nyaris 300 juta orang, sementara sekarang tidak sampai 100
juta orang. Watak tak berwawasan ini akhirnya memang menguntungkan kita.
Ketika menjadi Indonesia (harus diakui ini berkat Belanda) kita akhirnya
berbahasa Indonesia, tidak berbahasa Belanda.

*Dialek kreol*
Satu hal penting perlu ditegaskan, Belanda mulai menguasai Nusantara
sebagai sebuah perusahaan dagang multinasional: VOC. Sebagai perusahaan,
VOC jelas hanya memburu laba yang dilakukannya melalui monopoli serta
kekerasan.

Perusahaan multi nasional pertama ini tidak merasa perlu
membahasabelandakan wilayah-wilayah yang dikuasainya. Langkah ini pasti
butuh biaya besar yang jelas akan mengurangi laba. Karena itu tetap
digunakan bahasa setempat atau bahasa Melajoe, toh bahasa ini sudah lama
merupakan lingua franca (bahasa pengantar) kepulauan Nusantara.

Ini berarti bahwa bahasa Belanda harus bisa bersaing dengan bahasa-bahasa
yang sudah ada di Nusantara. Selain bahasa Melajoe dan bahasa daerah yang
begitu banyak, pada zaman VOC itu, bahasa Portugis juga banyak digunakan.

Menurut Lilie Suratminto, dosen dan peneliti bahasa Universitas Indonesia,
orang Portugis sudah 100 tahun lebih awal tiba di Nusantara ketimbang
Belanda. Jadi, selain bahasa Melajoe, bahasa Portugis juga banyak dipakai,
terutama di Batavia dan Ambon. Tentu saja bahasa Portugis ini berbeda
dengan yang ada di Portugal, karena bahasa ini adalah dialek kreolnya.

Sebenarnya, dalam soal bahasa, VOC sudah mengambil langkah-langkah tertentu
yang bertujuan memperluas penyebaran bahasa Belanda. Di Maluku dibuka
sekolah dalam bahasa Belanda, selain itu pada pelbagai gereja protestan
juga berlangsung kebaktian dalam bahasa Belanda. Tapi ternyata bahasa
Belanda tidak juga memasyarakat di Maluku. Di luar sekolah, anak-anak tetap
berbahasalokal dan dan pengunjung gereja berbahasa Belanda tetap itu-itu
saja, jumlah mereka tidak bertambah.

Alhasil ketika pada awal abad 19 VOC bangkrut, bahasa Belanda di Nusantara
tidak mengalami kemajuan. Jangankan bahasa pengantar, jumlah orang
berbahasa Belanda waktu itu juga tidak mengalami peningkatan. Dengan
begitu, langkah-langkah yang ditempuh VOC di bidang bahasa jelas telah
gagal.
*
Bahasa ekslusif*
Setelah VOC bangkrut, Nusantara diambil alih oleh pemerintah Belanda,
lahirnya Hindia Belanda pada abad 19. Memang Inggris sempat memerintah,
tetapi begitu Nusantara kembali ke tangan Belanda, tidak ada terobosan
terhadap politik bahasa VOC yang gagal itu.

Bahasa Belanda tetap ekslusif, tidak dibuka untuk umum. Para peneliti
bahasa melihat paling sedikit ada dua sebab. Pertama Belanda takut
munculnya semacam bentuk dialek bahasa mereka di Nusantara. Ini sudah
terjadi dengan bahasa Portugis yang digunakan di Batavia misalnya.

Mereka yang berbahasa Portugis itu tidak merasa terikat dengan Portugal.
Padahal Belanda ingin supaya mereka yang bisa berbahasa Belanda tetap setia
pada mereka.

Kedua penguasaan bahasa Belanda oleh massa rakyat, terutama kalangan yang
tidak beragama Nasrani, dianggap berbahaya. Karena itu politik bahasa
pemerintah Hindia Belanda pada Abad 19 itu hanya diarahkan pada warga kulit
putih dan tidak kepada massa rakyat Nusantara.

Bahkan pada tahun 1864 diputuskan untuk tidak lagi mengupayakan bahasa
Belanda sebagai bahasa pengantar di Nusantara, menggantikan bahasa Melajoe.
Bahasa Belanda hanya diajarkan di sekolah-sekolah Belanda yang juga
menerima sedikit murid elit pribumi, yaitu kalangan ningrat.

Sebaliknya, orang-orang Belanda yang berniat meniti karier di Hindia
Belanda diwajibkan fasih berbahasa Melajoe, syukur-syukur kalau menguasai
salah satu bahasa daerah.

Pada awal abad 20 Belanda mengubah politik kolonialnya, ketika
memberlakukan apa yang disebut Politik Etis. Bertujuan untuk mendidik dan
mengangkat martabat pribumi Inlanders, zaman ini ditandai dengan dibukanya
pelbagai lembaga pendidikan. Bahasa Belanda menjadi salah satu mata
pelajaran wajib. Apakah itu berarti peningkatan jumlah orang yang fasih
berbahasa Belanda?

Jawabannya bisa diikuti pada bagian
kedua<http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/kekhawatiran-dan-keraguan-politik-bahasa-kolonial>
[1].

 ------------------------------
*URL sumber:*
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/bahasa-belanda-tidak-laku-di-nusantara
 *Links:*
[1]
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/kekhawatiran-dan-keraguan-politik-bahasa-kolonial
 *Images:*
[i1]
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/lead/article/2011/12/bahasa_belanda_0.jpg
[i2] http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia

Kirim email ke