Jelas atuh nya lain karena agama papasean teh, tapi karena masalah pribadi. Hiji hal anu mindeng pisan kapanggih dina kahirupan, dina agama naon wae.
manar 2012/1/10 Ahsa <[email protected]> > ** > > > Agama dan Kekerasan**** > Oleh JALALUDDIN RAKHMAT **** > ** ** > "Jika aku bisa mengayunkan tongkat sihirku dan harus memilih apakah > melenyapkan > perkosaan atau agama, aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk melenyapkan > agama," tulis Sam Harris, yang bersama Daniel Dennett dan Richard Dawkins > dikenal sebagai the Unholy Trinity of Atheism. > > "Agama sudah semestinya ditinggalkan manusia bukan karena alasan teologis, > tetapi -masih kata Harris dalam The End of Faith: Religion: Terror and the > Future of Reason - "karena agama telah menjadi sumber kekerasan sekarang > ini dan pada setiap zaman di masa yang lalu". > > Romo Magnis pernah mengatakan kepadaku bahwa orang menjadi ateis lebih > banyak bukan karena pemikiran filsafat atau sains. Mereka menjadi ateis > karena tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para pengikut agama. Mereka > melihat kontradiksi antara apa yang dikhotbahkan dengan apa yang dilakukan. > > Alkisah, ada seorang Inggris yang sangat religius. Kalau bukan orang yang > tekun ibadat, ia orang yang rajin 'mencoba' berbagai agama. Ia dibesarkan > sebagai Anglikan, dididik sebagai Methodist, berpindah kepada Greek > Orthodoxy karena perkawinan, dan dikawinkan kembali oleh seorang rabbi > Yahudi. > > Sebagai wartawan, ia mengembara secara geografis dan intelektual. Ia > mengumpulkan setumpuk data tentang keterlibatan semua agama dalam berbagai > peperangan dalam sejarah. Hasil pengembaraan 'spiritualnya' membuahkan > buku: god (dengan huruf kecil) is not Great. Ia menuliskan namanya dengan > setiap huruf pertamanya huruf besar: Christopher Hitchens. Ia membagi > bab-bab dalam bukunya berdasarkan kontribusi setiap agama pada pembunuhan, > peperangan, dan kekejaman. Seumur hidupnya, ia menjadi pendakwah ateis yang > efektif, terutama terhadap orang-orang yang menjadi korban kekejaman agama. > > Setelah Hitchens, Dan Baker menulis buku dengan judul yang ditulis dengan > huruf kecil dan subjudul dengan huruf besar semua: godless, How an > Evangelical Preacher Became One of America’s Leading Atheists. Jawab: > Karena tindakan kekerasan umat beragama. > > Ayaan Hirsi Ali untuk Islam sama dengan Hitch dan Dan Baker untuk Kristen. > Ia lahir di Somalia, dari keluarga bangsawan Muslim. Waktu remaja, ia masuk > sekolah muslimah yang berbahasa Inggris dan didanai Saudi. Guru-gurunya > keluaran Saudi. Dengan semangat ia berpindah dari mazhab Syafii yang > toleran kepada mazhab baru yang sangat keras. Hidup dengan aliran keras ini > tidak membahagiakannya. Ia menyaksikan berbagai tindakan kekerasan, > terutama kepada perempuan, atas nama agama. > > Ia mengungsi ke negeri Belanda. Di sini, ia mendapat perlakuan yang tidak > enak dari sesama Muslim. Setelah kecewa dengan peristiwa 11 September, > setelah membaca Manifesto Atheis dari Herman Philipse, secara resmi ia > meninggalkan Islam dan menyatakan diri Atheis. > > Pada 2004, Ayaan, yang kini menjadi anggota Parlemen Belanda, menulis > naskah dan menyediakan suara untuk film pendek Submission. Seorang aktris, > berpakaian chador yang tembus pandang, mengisahkan penderitaan empat tokoh > perempuan yang ditindas atas nama Islam. > > Melalui chador yang transparan, penonton melihat tubuh telanjang yang > bertuliskan ayat-ayat Al-Quran. Film ini tentu saja menimbulkan kemarahan > hatta di negeri Belanda sekalipun. Produsernya, Theo van Gogh, dibunuh di > jalan di Amsterdam. Di atas jenazahnya diselipkan surat dan pisau yang > berisi ancaman kepada Ayaan. Ia ditunjuk Time sebagai 100 most influential > people in the world. "This woman is a major hero of our time," kata Richard > Dawkins, anggota trinitas Atheis. Hirsi Ali menjadi dewi ateis sedunia. > > Walhasil, kenapa orang menjadi atheis? Karena mereka menyaksikan atau > mengalami sendiri tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama agama. > Agamanya sendiri sebetulnya hanya menjadi kambing hitam. Bisa saja orang > menyulut konflik karena motif-motif sekular –misalnya, ekonomi, politik, > rasialisme - tetapi mereka menyelimuti nya dengan jubah agama. > > Jika kita belajar sejarah, kita akan segera tahu bahwa konflik Palestina > adalah konflik etnis (Yahudi yang terdiri dari 22,9 persen ateis, 21 persen > sekular dan sisanya menganut agama Yahudi dan etnis Arab yang terdiri dari > Islam dan Kristen); bahwa konflik di Irlandia Utara disebabkan karena > masalah etnis-politis, setelah Inggris mendirikan Perkebunan Ulster tahun > 1609; bahwa konflik bersenjata antara Pakistan dan India tentang Kashmir > ditimbulkan oleh kebijakan pemerintah kolonial Inggris, dan bukan karena > anjuran Kitab Suci; bahwa perang Irak dan Iran dimulai dari perebutan > wilayah, bukan karena perbedaan mazhab (terbukti setelah perang diketahui > bahwa Syiah juga mayoritas di Irak). > > Bagaimana dengan konflik Sunnah dan Syiah di berbagai tempat di Jawa > Timur, termasuk Sampang? "Bukan karena perbedaan pendapat, tetapi karena > perbedaan pendapatan," kata petinggi NU masih dari daerah yang sama. Rois > dan Tajul, kakak-beradik, dilantik sebagai pengurus Ijabi (Ikatan Jamaah > Ahlil Bait Indonesia) pada 2007. Pada 2009, mereka terlibat konflik > keluarga, antara lain karena masalah santri perempuan di pesantren Tajul. > > Karena persoalan pendapatan, Rois meninggalkan paham Syiah dan beralih > pendapat. Katanya, "Saya kembali ke Nahdhiyin, karena banyaknya > penyimpangan dalam ajaran Syiah". Pada pengujung 2011, Rois –menurut > pengakuannya sendiri- membiarkan orang-orang yang sependapat dengan dia > menghancurkan teritori dan massa pengikut saudaranya. Media melaporkan, > "Roisul Hukama memimpin massa Ahli Sunnah untuk menyerang perkampungan dan > pesantren Tajul Muluk, yang berpaham Syiah". Para tokoh Islam, dengan > pendapatan yang lebih besar, kemudian menabuh genderang perang. Atas nama > agama! > > Siapakah yang beruntung? Tidak satu pihak pun. Tidak Rois dan tidak Tajul. > Siapakah yang menang? Kaum ateis. Mereka punya amunisi baru. Mereka akan > menisbahkan tindakan kekerasan dan kekejian kepada agama. Tidak jadi soal > apakah penyebab yang sebenarnya itu berasal dari masalah ekonomis, politis, > ideologis, ethnis, atau sekedar pertikaian di antara keluarga miskin di > kampung yang miskin! > > * JALALUDDIN RAKHMAT** **adalah Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait > Indonesia*** > > http://www.detiknews.com/read/2012/01/04/083526/1806073/103/agama-dan-kekerasan > **** > > >
