Dulurs,

Anu resep kana kekerasan jeung penyiksaan mah jelema, duka teuing Gusti Nu Maha 
Suci mah make jeung nyiksa triliunan/biliunan/saemhemh jelema dadamelan 
Anjeuna. Teu percaya? sok tingali kumaha polahna jelema anu nibankeun rajam ka 
wanoja ngora keneh, awakna dikubur sadada, terus ditenggoran ti jarak 2 meteran 
ku batu sareukeut, gedena sagede peureup, nepi ka ancurna, bencar sirah jeung 
awakna dilimpudan getih seger. Naha lain ku batu anu gede sakalian? pan ngarah 
lila disiksana jadi nu lalajo gimir ningalina jeung moal nurutan pagawean 
rucah. Nu nyiksana ge teu kagok, aya kana sa RT-eunana, tapi angger we geningan 
nu keuna ku hukuman rajam teu beak-beak.

Kuring mah encan ningali dikieu na mah, ngan sugan aya batur urang nu di Iran? 
Tega miluan maledogan henteu?


Mun enya eta parentah ti Gusti Nu Maha Suci................hapunten abdi Gusti 
moal tiasa nedunan eta pamundut.



________________________________
 From: Ahsa <[email protected]>
To: "[email protected]" 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]>; "[email protected]" 
<[email protected]> 
Sent: Tuesday, January 10, 2012 1:23 PM
Subject: [kisunda] Agama dan Kekerasan
 

  
Agama dan Kekerasan
Oleh JALALUDDIN RAKHMAT      
 
"Jika aku bisa mengayunkan tongkat sihirku dan harus memilih apakah melenyapkan 
perkosaan atau agama, aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk melenyapkan agama," 
tulis Sam Harris, yang bersama Daniel Dennett dan Richard Dawkins dikenal 
sebagai the Unholy Trinity of Atheism.

"Agama sudah semestinya ditinggalkan manusia bukan karena alasan teologis, 
tetapi -masih kata Harris dalam The End of Faith: Religion: Terror and the 
Future of Reason - "karena agama telah menjadi sumber kekerasan sekarang ini 
dan pada setiap zaman di masa yang lalu".

Romo Magnis pernah mengatakan kepadaku bahwa orang menjadi ateis lebih banyak 
bukan karena pemikiran filsafat atau sains. Mereka menjadi ateis karena 
tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para pengikut agama. Mereka melihat 
kontradiksi antara apa
 yang dikhotbahkan dengan apa yang dilakukan.

Alkisah, ada seorang Inggris yang sangat religius. Kalau bukan orang yang tekun 
ibadat, ia orang yang rajin 'mencoba' berbagai agama. Ia dibesarkan sebagai 
Anglikan, dididik sebagai Methodist, berpindah kepada Greek Orthodoxy karena 
perkawinan, dan dikawinkan kembali oleh seorang rabbi Yahudi. 

Sebagai wartawan, ia mengembara secara geografis dan intelektual. Ia 
mengumpulkan setumpuk data tentang keterlibatan semua agama dalam berbagai 
peperangan dalam sejarah. Hasil pengembaraan 'spiritualnya' membuahkan buku: 
god (dengan huruf kecil) is not Great. Ia menuliskan namanya dengan setiap 
huruf pertamanya huruf besar: Christopher Hitchens. Ia membagi bab-bab dalam 
bukunya berdasarkan kontribusi setiap agama pada pembunuhan, peperangan, dan 
kekejaman. Seumur hidupnya, ia menjadi pendakwah ateis yang efektif, terutama 
terhadap orang-orang yang menjadi korban kekejaman agama.

Setelah Hitchens,
 Dan Baker menulis buku dengan judul yang ditulis dengan huruf kecil dan 
subjudul dengan huruf besar semua: godless, How an Evangelical Preacher Became 
One of America’s Leading Atheists. Jawab: Karena tindakan kekerasan umat 
beragama.

Ayaan Hirsi Ali untuk Islam sama dengan Hitch dan Dan Baker untuk Kristen. Ia 
lahir di Somalia, dari keluarga bangsawan Muslim. Waktu remaja, ia masuk 
sekolah muslimah yang berbahasa Inggris dan didanai Saudi. Guru-gurunya 
keluaran Saudi. Dengan semangat ia berpindah dari mazhab Syafii yang toleran 
kepada mazhab baru yang sangat keras. Hidup dengan aliran keras ini tidak 
membahagiakannya. Ia menyaksikan berbagai tindakan kekerasan, terutama kepada 
perempuan, atas nama agama.

Ia mengungsi ke negeri Belanda. Di sini, ia mendapat perlakuan yang tidak enak 
dari sesama Muslim. Setelah kecewa dengan peristiwa 11 September, setelah 
membaca Manifesto Atheis dari Herman Philipse, secara resmi ia meninggalkan 
Islam
 dan menyatakan diri Atheis.

Pada 2004, Ayaan, yang kini menjadi anggota Parlemen Belanda, menulis naskah 
dan menyediakan suara untuk film pendek Submission. Seorang aktris, berpakaian 
chador yang tembus pandang, mengisahkan penderitaan empat tokoh perempuan yang 
ditindas atas nama Islam.

Melalui chador yang transparan, penonton melihat tubuh telanjang yang 
bertuliskan ayat-ayat Al-Quran. Film ini tentu saja menimbulkan kemarahan hatta 
di negeri Belanda sekalipun. Produsernya, Theo van Gogh, dibunuh di jalan di 
Amsterdam. Di atas jenazahnya diselipkan surat dan pisau yang berisi ancaman 
kepada Ayaan. Ia ditunjuk Time sebagai 100 most influential people in the 
world. "This woman is a major hero of our time," kata Richard Dawkins, anggota 
trinitas Atheis. Hirsi Ali menjadi dewi ateis sedunia.

Walhasil, kenapa orang menjadi atheis? Karena mereka menyaksikan atau mengalami 
sendiri tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama agama.
 Agamanya sendiri sebetulnya hanya menjadi kambing hitam. Bisa saja orang 
menyulut konflik karena motif-motif sekular –misalnya, ekonomi, politik, 
rasialisme - tetapi mereka menyelimuti nya dengan jubah agama.

Jika kita belajar sejarah, kita akan segera tahu bahwa konflik Palestina adalah 
konflik etnis (Yahudi yang terdiri dari 22,9 persen ateis, 21 persen sekular 
dan sisanya menganut agama Yahudi dan etnis Arab yang terdiri dari Islam dan 
Kristen); bahwa konflik di Irlandia Utara disebabkan karena masalah 
etnis-politis, setelah Inggris mendirikan Perkebunan Ulster tahun 1609; bahwa 
konflik bersenjata antara Pakistan dan India tentang Kashmir ditimbulkan oleh 
kebijakan pemerintah kolonial Inggris, dan bukan karena anjuran Kitab Suci; 
bahwa perang Irak dan Iran dimulai dari perebutan wilayah, bukan karena 
perbedaan mazhab (terbukti setelah perang diketahui bahwa Syiah juga mayoritas 
di Irak).

Bagaimana dengan konflik Sunnah dan Syiah di
 berbagai tempat di Jawa Timur, termasuk Sampang? "Bukan karena perbedaan 
pendapat, tetapi karena perbedaan pendapatan," kata petinggi NU masih dari 
daerah yang sama. Rois dan Tajul, kakak-beradik, dilantik sebagai pengurus 
Ijabi (Ikatan Jamaah Ahlil Bait Indonesia) pada 2007. Pada 2009, mereka 
terlibat konflik keluarga, antara lain karena masalah santri perempuan di 
pesantren Tajul.

Karena persoalan pendapatan, Rois meninggalkan paham Syiah dan beralih 
pendapat. Katanya, "Saya kembali ke Nahdhiyin, karena banyaknya penyimpangan 
dalam ajaran Syiah". Pada pengujung 2011, Rois –menurut pengakuannya sendiri- 
membiarkan orang-orang yang sependapat dengan dia menghancurkan teritori dan 
massa pengikut saudaranya. Media melaporkan, "Roisul Hukama memimpin massa Ahli 
Sunnah untuk menyerang perkampungan dan pesantren Tajul Muluk, yang berpaham 
Syiah". Para tokoh Islam, dengan pendapatan yang lebih besar, kemudian menabuh 
genderang perang. Atas nama
 agama!

Siapakah yang beruntung? Tidak satu pihak pun. Tidak Rois dan tidak Tajul. 
Siapakah yang menang? Kaum ateis. Mereka punya amunisi baru. Mereka akan 
menisbahkan tindakan kekerasan dan kekejian kepada agama. Tidak jadi soal 
apakah penyebab yang sebenarnya itu berasal dari masalah ekonomis, politis, 
ideologis, ethnis, atau sekedar pertikaian di antara keluarga miskin di kampung 
yang miskin! 

 JALALUDDIN RAKHMATadalah Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia
http://www.detiknews.com/read/2012/01/04/083526/1806073/103/agama-dan-kekerasan
 

Kirim email ke