euh... ti dinya deu geuning sumberna :-)
 
=> http://albanduni.wordpress.com


________________________________
Dari: Irpan Rispandi <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Dikirim: Kamis, 19 Januari 2012 15:43
Judul: Re: [kisunda] Trs: [Lovers-of-Ahlul-Bayt] DPP Ahlul Bait Indonesia 
Mengadu ke Komisi III DPR


  

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/inilah-dokumen-rahasia-agama-syiah-imamiyah.htm

Inilah Dokumen Rahasia sekte agama Syiah, tentang misi jangka panjang mereka 
(50 tahun kedepan), untuk menegakkan kembali dinasti Persia yang telah runtuh 
oleh Islam berabad-abad lamanya, sekaligus membumi-hanguskan negara-negara 
Ahlus Sunnah, musuh bebuyutan mereka. Dokumen ini disebarkan oleh Ikatan Ahlus 
Sunnah di Iran, begitu pula majalah-majalah di berbagai negara Ahlus Sunnah 
(Islam), termasuk diantaranya Majalah al-Bayan, edisi 123, Maret 1998.
Karena naskah yang tersebar adalah naskah dalam bahasa arab, maka kami 
terjemahkan ke dalam bahasa indonesia, agar orang yang tidak mampu berbahasa 
arab pun bisa memahami isi naskah tersebut.
Sekarang kami persilahkan Anda membaca terjemahannya:
((Bila kita tidak mampu untuk mengusung revolusi ini ke negara-negara tetangga 
yang muslim, tidak diragukan lagi yang terjadi adalah sebaliknya, peradaban 
mereka -yang telah tercemar budaya barat- akan menyerang dan menguasai kita.
Alhamdulillah, -berkat anugerah Allah dan pengorbanan para pengikut imam yang 
pemberani- berdirilah sekarang di Iran, Negara Syiah Itsna Asyariyyah (syiah 
pengikut 12 imam), setelah perjuangan berabad-abad lamanya. Oleh karena itu, 
-atas dasar petunjuk para pimpinan syi’ah yang mulia- kita mengemban amanat 
yang berat dan bahaya, yakni: menggulirkan revolusi.
Kita harus akui, bahwa pemerintahan kita adalah pemerintahan yang berasaskan 
madzhab syi’ah, disamping tugasnya melindungi kemerdekaan negara dan hak-hak 
rakyatnya. Maka wajib bagi kita untuk menjadikan pengguliran revolusi sebagai 
target yang paling utama.
Akan tetapi, karena melihat perkembangan dunia saat ini dengan aturan UU antar 
negaranya, tidak mungkin bagi kita, untuk menggulirkan revolusi ini, bahkan 
bisa jadi hal itu mendatangkan resiko besar yang bisa membahayakan kelangsungan 
kita.
Karena alasan ini, maka -setelah mengadakan tiga pertemuan, dan menghasilkan 
keputusan, yang disepakati oleh hampir seluruh anggota-, kami menyusun strategi 
jangka panjang 50 tahun, yang terdiri dari 5 tahapan, setiap tahapan berjangka 
10 tahun, yang bertujuan untuk menggulirkan revolusi islam ini, ke seluruh 
negara-negara tetangga, dan menyatukan kembali dunia Islam (dengan 
men-syi’ah-kannya).
Karena bahaya yang kita hadapi dari para pemimpin Wahabiah dan mereka yang 
berpaham ahlus sunnah, jauh lebih besar dibandingkan bahaya yang datang dari 
manapun juga, baik dari timur maupun barat, karena orang-orang Wahabi dan Ahlus 
Sunnah selalu menentang pergerakan kita. Merekalah musuh utama Wilayatul Fakih 
dan para imam yang ma’shum, bahkan mereka beranggapan bahwa menjadikan faham 
syi’ah sebagai landasan negara, adalah hal yang bertentangan dengan agama dan 
adat, dengan begitu berarti mereka telah memecah dunia Islam menjadi dua kubu 
yang saling bermusuhan.
Atas dasar ini:
Kita harus menambah kekuatan di daerah-daerah berpenduduk Ahlus Sunnah di Iran, 
khususnya kota-kota perbatasan. Kita harus menambah masjid-masjid dan 
husainiyyat kita di sana, disamping menambah volume dan keseriusan dalam 
pengadaan acara-acara peringatan ritual syi’ah.
Kita juga harus menciptakan iklim yang kondusif, di kota-kota yang dihuni oleh 
90-100 persen penduduk Ahlus Sunnah, agar kita bisa mengirim dalam jumlah besar 
kader-kader syi’ah dari berbagai kota dan desa pedalaman, ke daerah-daerah 
tersebut, untuk selamanya tinggal, kerja, dan bisnis di sana.
Dan merupakan kewajiban negara dan instansinya, untuk memberikan perlindungan 
langsung kepada mereka yang diutus untuk menempati daerah itu, dengan tujuan 
agar dengan berlalunya waktu, mereka bisa merebut jabatan pegawai di berbagai 
kantor, pusat pendidikan dan layanan umum, yang masih di pegang oleh kaum Ahlus 
Sunnah.
Strategi yang kami buat untuk pengguliran revolusi ini, -tidak seperti anggapan 
banyak kalangan- akan membuahkan hasil, tanpa adanya kericuhan, pertumpahan 
darah, atau bahkan perlawanan dari kekuatan terbesar dunia. Sungguh dana besar 
yang kita habiskan untuk mendanai misi ini, tak akan hilang tanpa timbal-balik.
Teori Memperkuat Pilar-pilar Negara:
Kita tahu, bahwa kunci utama untuk menguatkan pilar-pilar setiap negara, dan 
perlindungan terhadap rakyatnya, berada pada tiga asas utama:
Pertama: Kekuatan yang dimiliki oleh pemerintahan yang sedang berkuasa.
Kedua: Ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh para ulama dan penelitinya.
Ketiga: Ekonomi yang terfokus pada kelompok pengusaha pemilik modal.
Apabila kita mampu menggoncang pemerintahan, dengan cara memunculkan 
perseteruan antara ulama dan penguasanya, atau memecah konsentrasi para pemilik 
modal di negara itu, dengan menarik modalnya ke negara kita atau negara lain, 
tak diragukan lagi, kita telah menciptakan keberhasilan yang gemilang dan 
menarik perhatian dunia, karena kita telah meruntuhkan tiga pilar tersebut.
Adapun rakyat jelata setiap negara, yang berjumlah rata-rata 70-80 persen, 
mereka hanyalah pengikut hukum dan kekuatan yang menguasainya. Mereka 
disibukkan oleh tuntutan hidupnya, untuk mencari rizki, makan dan tempat 
tinggalnya. Oleh karena itu, mereka akan membela siapa pun yang sedang 
berkuasa. Dan untuk mencapai atap setiap rumah, kita harus menaiki tangga 
utamanya.
Tetangga-tetangga kita dari kaum Ahlus Sunnah dan Wahabi adalah: Turki, Irak, 
Afganistan, Pakistan, dan banyak negara kecil di pinggiran selatan, serta 
gerbangnya negara teluk persia, yang tampak seakan negara-negara yang bersatu, 
padahal sebenarnya berpecah-belah. Daerah-daerah ini, adalah kawasan yang 
sangat penting sekali, baik di masa lalu, maupun di masa-masa yang akan datang. 
Ia juga ibarat kerongkongan dunia di bidang minyak bumi. Tidak ada di muka bumi 
ini kawasan yang lebih sensitif melebihinya. Para penguasa di kawasan ini 
memiliki taraf hidup yang tinggi, karena penjualan minyak buminya.
Kategori Penduduk di Kawasan Ini
Penduduk di kawasan ini terbagi dalam tiga golongan:
Pertama: Penduduk baduwi dan padang pasir, yang telah ada sejak beratus-ratus 
tahun lalu.
Kedua: Pendatang yang hijrah dari berbagai pulau dan pelabuhan, yang telah 
hijrah sejak zaman pemerintahan Syah Isma’il as-Shofawi, dan terus berlangsung 
hingga zamannya Nadirsyah Afsyar, Karim Khan Zind, Raja al-Qojar, dan keluarga 
al-Bahlawi. Dan telah banyak perjalanan hijrah dari waktu ke waktu, sejak 
mulainya revolusi Islam.
Ketiga: Mereka yang berasal dari negara arab lainnya, dan kota-kota pedalaman 
Iran.
Adapun lahan bisnis, perusahaan ekspor impor dan kontraktor, biasanya dikuasai 
oleh selain penduduk asli. Sedangkan penduduk asli, kebanyakan mereka hidup 
dari menyewakan lahan dan jual-beli tanah. Mengenai para keluarga penguasa, 
biasanya mereka hidup dari gaji pokok penjualan minyak buminya.
Adapun kerusakan masyarakat, budaya, banyaknya praktik yang menyimpang dari 
islam, itu sangat jelas terlihat. Karena mayoritas penduduk negara-negara ini, 
telah larut dalam kenikmatan dunia, kefasikan dan perbuatan keji. Banyak dari 
mereka yang mulai membeli perumahan, saham perusahaan, dan menyimpan modal 
usahanya di Eropa dan Amerika, khususnya di Jepang, Inggris, Swedia, dan Swiss, 
karena kekhawatiran mereka akan runtuhnya negara mereka di masa-masa mendatang. 
Sesungguhnya dengan menguasai negara-negara ini, berarti kita telah menguasai 
setengah dunia.
Beberapa Tahapan Dalam Menggulirkan Revolusi Ini
Untuk menjalankan misi panjang 50 tahun ini, langkah pertama yang harus kita 
lakukan adalah: memperbaiki hubungan kita dengan negara-negara tetangga, dan 
harus ada hubungan yang kuat dan sikap saling menghormati, antara kita dengan 
mereka. Bahkan kita juga harus memperbaiki hubungan kita dengan Irak, setelah 
perang berakhir dan Sadam Husein jatuh, karena menjatuhkan seribu kawan itu 
lebih ringan, dibanding menjatuhkan satu lawan.
Dengan adanya hubungan politik, ekonomi dan budaya antara kita dengan mereka, 
tentunya akan masuk sekelompok kader dari Iran ke negara-negara ini, sehingga 
memungkinkan kita untuk mengirim para duta secara resmi, yang pada hakekatnya 
adalah pelaksana program revolusi ini, selanjutnya kita akan tentukan misi 
khusus mereka saat menugaskan dan mengirimkannya.
Janganlah kita beranggapan bahwa 50 tahun adalah waktu yang panjang, karena 
kesuksesan langkah kita ini benar-benar membutuhkan perencanaan yang 
berkelanjutan hingga 20 tahun. Sungguh tersebarnya paham syi’ah, yang kita 
rasakan di banyak negara saat ini, bukanlah buah dari perencanaan 1 atau 2 hari.
Dulunya kita tidak memiliki seorang pun pegawai di negara manapun, apalagi 
kader dengan jabatan menteri, wakil negara dan presiden. Bahkan dulunya banyak 
kelompok, seperti Wahabiah, Syafi’iah, Hanafiah, Malikiah, dan Hanbaliah, 
memandang kita sebagai kelompok yang murtad dari Islam, sehingga pengikut 
mereka telah berkali-kali mengadakan pemusnahan kaum syi’ah secara massal. 
Memang benar kita tidak merasakan pahitnya hari-hari itu, tetapi nenek moyang 
kita pernah merasakannya. Kehidupan kita hari ini adalah buah dari gagasan, 
pemikiran dan langkah mereka. Mungkin juga kita tidak akan hidup di masa depan, 
akan tetapi revolusi dan madzhab kita akan tetap ada.
Untuk menunaikan misi ini, tidaklah cukup hanya dengan mengorbankan hidup, atau 
apapun yang paling berharga sekalipun, akan tetapi juga membutuhkan pemrograman 
yang telah matang dikaji.
Harus ada perencanaan untuk masa depan, walaupun untuk 500 tahun ke depan, 
apalagi hanya 50 tahun saja. Karena kita adalah pewaris berjuta-juta syuhada’, 
yang gugur di tangan setan-setan yang mengaku muslim, darah mereka terus 
mengalir dalam sejarah, sejak meninggalnya Rasul hingga hari ini. Dan cucuran 
darah itu tidak akan kering, sehingga setiap orang yang mengaku muslim, 
meyakini hak Ali dan keluarga Rasulullah, mengakui kesalahan nenek moyang 
mereka, dan mengakui syi’ah sebagai pewaris utama ajaran Islam.
Beberapa Tahapan Penting Dalam Perjalanan Misi Ini
Tahap Pertama (sepuluh tahun pertama):
Kita tidak ada masalah dalam menyebarkan madzhab syi’ah di Afganistan, 
Pakistan, Turki, Iran dan Bahrain. Karena itu, kita akan menjadikan tahapan 
sepuluh tahun kedua, sebagai tahapan pertama di 5 negara ini.
Sedangkan tugas para duta kita di belahan negara lain adalah tiga hal:
Pertama: Membeli lahan tanah, perumahan dan perhotelan.
Kedua: Menyediakan lapangan pekerjaan, kebutuhan hidup dan fasilitasnya kepada 
para pengikut paham syi’ah, agar mereka mau hidup di rumah yang dibeli, 
sehingga bertambah banyak jumlah penduduk yang sepaham dengan kita.
Ketiga: Membangun jaringan dan relasi yang kuat dengan para pemodal di pasar 
dagang, dengan para pegawai kantor, khususnya mereka yang menjabat sebagai 
kepala tinggi, dengan tokoh publik dan dengan siapapun yang memiliki hak 
keputusan penuh di berbagai instansi negara.
Di sebagian negara-negara ini, ada beberapa daerah, yang sedang dalam proyek 
pengembangan, bahkan di sana ada rencana proyek pengembangan untuk puluhan 
desa, kampung, dan kota kecil lainnya. Tugas wajib para duta yang kita kirim 
adalah membeli sebanyak mungkin rumah di desa itu, untuk kemudian dijual dengan 
harga yang pantas kepada orang yang mau menjual hak miliknya di pusat kota. 
Sehingga dengan langkah ini, kota yang padat penduduknya bisa kita rebut dari 
tangan mereka.
Tahap Kedua (sepuluh tahun kedua):
Kita harus mendorong masyarakat syi’ah untuk menghormati UU, taat kepada para 
pelaksana UU dan pegawai negara, serta berusaha mendapatkan surat ijin resmi 
untuk berbagai acara ritual syi’ah, pendirian masjid, dan husainiyyat. Karena 
surat ijin resmi tersebut, akan kita ajukan sebagai tanda bukti resmi di 
masa-masa mendatang untuk mengadakan berbagai acara dengan bebas.
Kita juga harus berkonsentrasi pada kawasan yang tinggi tingkat kepadatan 
penduduknya, untuk kita jadikan sebagai tempat diskusi tentang masalah-masalah 
(syiah) yang sangat sensitif.
Para duta syi’ah, -pada dua tahapan ini- diharuskan untuk mendapatkan 
kewarganegaraan dari negara yang ditempatinya, dengan memanfaatkan relasi atau 
hadiah yang sangat berharga sekalipun. Mereka juga harus mendorong para 
kadernya agar menjadi pegawai negeri, dan segera masuk -khususnya- dalam 
barisan militer negara.
Pada pertengahan tahap kedua: Harus dihembuskan -secara rahasia dan tidak 
langsung- isu bahwa ulama Ahlus Sunnah dan Wahabiah adalah penyebab kerusakan 
di masyarakat, dan berbagai praktek menyimpang syariat yang banyak terjadi di 
negara itu. Yaitu melalui selebaran-selebaran yang berisi kritikan, dengan 
mengatas-namakan sebagian badan keagamaan atau tokoh Ahlus Sunnah dari negara 
lain. Tak diragukan lagi, ini akan memprovokasi sejumlah besar rakyat negara 
itu, sehingga pada akhirnya mereka akan menangkap pimpinan agama atau figur 
Ahlus Sunnah yang dituduh itu, atau kemungkinan lain; rakyat negara itu akan 
menolak isi selebaran itu, dan para ulamanya akan membantahnya dengan sekuat 
tenaga. Dan setelah itu kita munculkan banyak huru hara, yang akan berakibat 
pada diberhentikannya penanggung jawab masalah itu, atau digantikannya dengan 
staf yang baru.
Langkah ini, akan menyebabkan buruknya kepercayaan pemerintah kepada seluruh 
ulama di negaranya, sehingga menjadikan mereka tidak bisa menyebarkan agama, 
membangun masjid dan pusat pendidikan agama. Selanjutnya pemerintah akan 
menganggap seluruh ajakan yang berbau agama sebagai bentuk pelanggaran terhadap 
peraturan negara.
Ditambah lagi, akan berkembang rasa benci dan saling menjauh antara penguasa 
dengan ulama di negara itu, sehingga Ahlus Sunnah dan Wahabiyah akan kehilangan 
pelindung mereka dari dalam, padahal tidak mungkin ada orang yang melindungi 
mereka dari luar.
Tahap Ketiga (sepuluh tahun ketiga):
Pada tahap ini, telah terbangun jaringan yang kuat, antara duta-duta kita 
dengan para pemilik modal dan pegawai atasan, diantara mereka juga banyak yang 
telah masuk dalam barisan militer dan jajaran pemerintahan, yang bekerja dengan 
penuh ketenangan dan hati-hati, tanpa ikut campur dalam urusan agama, sehingga 
kepercayaan penguasa lebih meningkat lagi dari sebelumnya.
Pada tahapan ini, di saat berkembangnya perseteruan, perpecahan, dan iklim yang 
memanas antara penguasa dengan ulama, maka diharuskan kepada sebagian ulama 
terkemuka syiah yang telah menjadi penduduk negara itu, untuk mensosialisasikan 
keberpihakan mereka kepada penguasa negara itu, khususnya pada musim-musim 
ritual keagamaan (syi’ah), sekaligus menampakkan bahwa syi’ah adalah aliran 
yang tak membahayakan pemerintahan mereka. Apabila situasi memungkinkan mereka 
untuk bersosialisasi melalui media informasi yang ada, maka janganlah ragu-ragu 
memanfaatkannya untuk menarik perhatian para penguasa, sehingga mereka senang 
dan menempatkan kader kita pada jabatan pemerintahan, dengan tanpa ada rasa 
takut atau cemas dari mereka.
Pada tahapan ini, dengan adanya perubahan yang terjadi di banyak pelabuhan, 
pulau, dan kota lainnya di negara kita, ditambah dengan devisa perbankan kita 
yang terus meningkat, kita akan merencanakan langkah-langkah untuk menjatuhkan 
perekonomian negara-negara tetangga. Tentu saja para pemilik modal dengan 
alasan keuntungan, keamanan dan stabilitas ekonomi, akan mengirimkan seluruh 
rekening mereka ke negara kita; dan ketika kita memberikan kebebasan kepada 
semua orang, dalam menjalankan seluruh kegiatan ekonominya, dan pengelolaan 
rekening banknya di negara kita, tentunya negara mereka akan menyambut rakyat 
kita, atau bahkan memberikan kemudahan dalam kerjasama ekonomi.
Tahap Keempat (sepuluh tahun keempat):
Pada tahap ini, telah terhampar di depan kita fenomena; dimana banyak negara 
yang para penguasa dan ulamanya saling bermusuhan, pebisnis yang hampir 
bangkrut dan lari, serta masyarakat yang tak aman, sehingga siap menjual hak 
miliknya dengan separo harga sekalipun, agar mereka bisa pindah ke daerah yang 
aman.
Di saat terjadinya kegentingan inilah, para duta kita akan menjadi pelindung 
bagi hukum dan para penguasanya. Apabila para duta itu bekerja dengan 
sungguh-sungguh, tentunya mereka akan mendapatkan jabatan terpenting dalam 
pemerintahan dan kemiliteran, sehingga dapat mempersempit jurang pemisah antara 
para pemilik perusahaan yang ada dengan para penguasa.
Keadaan seperti ini, memungkinkan kita untuk menuduh mereka yang bekerja dengan 
tulus untuk penguasa sebagai para penghianat negara, dan ini akan menyebabkan 
diberhentikannya mereka atau bahkan diusir dan diganti dengan kader kita.
Langkah ini akan membuahkan dua keuntungan, pertama: Pengikut kita akan 
mendapat kepercayaan yang lebih baik dari sebelumnya. Kedua: Kebencian ahlus 
sunnah akan semakin meningkat, karena meningkatnya kekuatan syi’ah di berbagai 
instansi negara. Ini akan mendorong ahlus sunnah untuk meningkatkan langkah 
menentang penguasa. Di saat seperti itu, kader-kader kita harus bersanding 
membela penguasa, dan mengajak masyarakat untuk berdamai dan tetap tenang. Dan 
pada saat yang bersamaan, mereka akan membeli kembali rumah dan barang yang 
semula akan mereka tinggalkan.
Tahap Kelima (sepuluh tahun terakhir):
Pada sepuluh tahun kelima, tentunya iklim dunia telah siap menerima revolusi, 
karena kita telah mengambil tiga pilar utama dari mereka, yang meliputi: 
keamanan dan ketenangan dan kenyamanan. Sedangkan pemerintahan yang berkuasa, 
akan menjadi seperti kapal ditengah badai dan nyaris tenggelam, sehingga 
menerima semua masukan yang akan menyelamatkan jiwanya.
Di saat seperti ini, kita akan memberikan masukan melalui beberapa tokoh 
penting dan terkenal, untuk membentuk himpunan rakyat dalam rangka memperbaiki 
keadaan negara, dan kita akan membantu penguasa untuk mengawasi berbagai 
instansi dan mengamankan negara. Tak diragukan lagi, tentunya mereka akan 
menerima usulan itu, sehingga para kader pilihan kita akan mendapatkan hampir 
keseluruhan kursi di dalamnya. Kenyataan ini tentu akan menyebabkan larinya 
para pengusaha, ulama dan pegawai setia pemerintahan, sehingga kita akan dapat 
menggulirkan revolusi islam kita, ke berbagai negara, tanpa menimbulkan 
peperangan atau pertumpahan darah.
Seandainya, pada sepuluh tahun terakhir, rencana ini tidak membuahkan hasil, 
kita tetap bisa mengadakan revolusi rakyat dan merebut kekuasaan dari tangan 
penguasa.
Apabila penganut syi’ah adalah penduduk, penghuni dan rakyat negara itu, maka 
berarti kita telah menunaikan kewajiban, yang bisa kita pertanggung-jawabkan di 
depan Allah, agama, dan madzhab kita. Bukan tujuan kita untuk mengantarkan 
seseorang kepada tampuk pimpinan, tetapi tujuan kita hanyalah menggulirkan 
revolusi, sehingga kita mampu mengangkat bendera kemenangan agama tuhan ini, 
dan menampakkan nilai-nilai kita di seluruh negara. Selanjutnya kita mampu maju 
melawan dunia kafir dengan kekuatan yang lebih besar, dan menghias alam dengan 
cahaya Islam dan ajaran syi’ah, sampai datangnya imam Mahdi yang dinantikan))
–selesai sudah naskah misi revolusi itu–
Lihatlah wahai para pembaca, betapa busuknya rencana mereka, betapa besarnya 
kebencian mereka terhadap Ahlus Sunnah. Kita sekarang tahu bahwa Syi’ah 
bukanlah sekedar aliran paham biasa, akan tetapi ia sekarang berubah menjadi 
aliran pergerakan politik yang bisa merongrong eksistensi negara. Lihatlah 
bagaimana mereka merencanakan pengguliran revolusi sedikit demi sedikit, 
bagaimana mereka menjadikan dutanya sebagai alat penyebar aliran, sekaligus 
alat politiknya.
Subhanallah, semoga Allah menyelamatkan kita Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Islam) 
dari tipu daya mereka.
Allah berfirman (yang artinya):“Mereka membuat tipu daya, maka Allah pun 
membalas dengan tipu daya. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya…” 
(Qs Ali Imron: 54)
Semoga tulisan ini bisa menyadarkan mereka yang menyuarakan, perlunya 
pendekatan antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah.
Sungguh mengherankan, adakah yang masih mengharapkan kebaikan dari kaum yang 
selalu berbohong atas Allah dan Rasul-Nya. Adakah yang masih ingin membangun 
kerukunan dengan kaum yang meyakini bahwa Al-Qur’an sudah tidak orisinil lagi. 
Adakah yang masih mengharapkan bersanding dengan kaum yang mengkafirkan Abu 
Bakar, Umar, Utsman, bahkan seluruh Sahabat Rasul, kecuali tiga saja (Salman 
al-Farisy, Miqdad dan Abu Dzar). Adakah yang masih berprasangka baik kepada 
kaum yang menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selama hidupnya telah 
berzina dengan Aisyah. Adakah Ahlus Sunnah yang masih menganggap baik kaum yang 
telah membunuh ratusan bahkan ribuan ulama Ahlus Sunnah di Iran dan negara 
lainnya… Adakah Ahlus Sunnah yang masih toleran dengan kaum yang tidak 
mengizinkan satu pun masjid Ahlus Sunnah di Teheran Ibu kota Iran. Sungguh 
tidak pernah habis rasa heran ini melihat kenyataan yang ada di lapangan.
Mungkin banyak diantara kita yang tidak melihat bukti nyata dari omongan 
diatas… mungkin ada yang mengatakan bahwa fakta di atas adalah sebatas tuduhan 
yang tak beralasan. tapi ingatlah bahwa diantara inti ajaran kaum Syi’ah adalah 
Taqiyyah, yakni: membohongi publik untuk keselamatan diri… ingatlah bahwa 
bohong semacam itu dalam akidah mereka adalah amalan ibadah yang berpahala… 
Ingatlah hadits palsu yang selalu mereka gembar-gemborkan: “Tidak punya agama, 
siapa pun yang tidak menerapkan taqiyyah.”
Ternyata selama ini, kita tidak melihat kejanggalan yang ada pada mereka, 
disebabkan takiyah (baca: kebohongan) mereka kepada kita. Ternyata selama ini 
tidak terlihat perbedaan yang mendasar antara kita dan mereka, karena tabir 
tebal yang mereka gunakan untuk menutupi kebusukan batin. Tapi itulah, 
sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga… Selincah-lincah kuda 
berlari pasti akan terpeleset juga… Inilah diantara bukti semerbaknya bau busuk 
mereka. Alhamdulillah.. awwalan wa aakhiron berkat Allah azza wa jall terbuka 
juga misi rahasia jangka panjang mereka…
Subhanakallahumma wa bihamdika… wa tabaarakasmuk wa ta’ala jadduk… wa laa 
ilaaha ghoiruk…
Sumber artikel: http://www.albayan-magazine.com/sereah.htm
Penerjemah: Addariny
Dipublikasi ulang oleh muslim.or.id dengan beberapa editing

On 01/19/2012 02:34 PM, Ahsa wrote: 
  
>
>
>=> http://albanduni.wordpress.com
>
>----- Pesan yang Diteruskan -----
>Dari: ajieb jiejieb mustajieb <[email protected]>
>Kepada: "[email protected]" <[email protected]>; 
>"[email protected]" <[email protected]> 
>Dikirim: Kamis, 19 Januari 2012 14:32
>Judul: [Lovers-of-Ahlul-Bayt] DPP Ahlul Bait Indonesia Mengadu ke Komisi III 
>DPR
>
>
>
>
>
>DPP Ahlul Bait Indonesia Mengadu ke Komisi III DPR 
>Sosbud / Selasa, 17 Januari 2012 12:29 WIB
>
>
>
>

Kirim email ke