Sae pisan Kang, jempol opat...
>________________________________ > From: Gunawan Yusuf <[email protected]> >To: kisunda <[email protected]> >Sent: Thursday, 29 March 2012 7:34 PM >Subject: [kisunda] DIVISI SILIWANGI: dedikasi untuk para kesatria Sunda > >Entah sejak kapan, jika mendengar kata Sunda, yang terbersit adalah >sosok Kabayan. Sudah sejak lama Sunda kehilangan sosok / image yg >lebih baik dari sekedar Kabayan (tanpa bermaksud merendahkan nilai2x >bijak dari kisah Kabayan). Program pembelokan sejarah nampaknya sudah >cukup sukses merubah persepsi tentang Sunda. Bukan hanya orang non >Sunda, yang cukup mengagetkan, dalam sebuah blog, ada seorang ibu yang >sedih, malu, dan menyesali dirinya dilahirkan sebagai seorang Sunda. >Alasannya?! Anaknya ditolak menikah oleh sang calon mertua, karena >bersuku Sunda. Dengan berani, si calon mertua mengatakan, menikah >dengan orang Sunda bermasa depan suram, karena perilaku orang Sunda >yang pemalas dan pengecut. Lagi2x stereotype kesukuan. Namun yg saya >sangat prihatin, ternyata ada, dan banyak orang Sunda yg termakan >pembelokan sejarah ini, dan benar2x meyakini stereotype itu. Semoga >kisah para kesatria Sunda yg banyak ditutupi ini bisa menginspirasi >kita untuk mengenal siapa kita. > >Ada kisah Long March Siliwangi yg tidak pernah dibahas dalam buku >sejarah. Rezim orde baru dan orde lama sudah cukup lama mati2xan >menutupi aib ini. Namun nampaknya kebenaran yg 1 ini sulit ditutupi. > >Setelah Bubat, sebetulnya Jawa-Sunda pernah kembali melakukan konflik >senjata di Solo, yaitu ketika peristiwa hijrahnya pasukan Siliwangi >meninggalkan Jawa Barat karena perjanjian Renville. Sebelumnya mari >kita bahas sedikit soal Renville, karena buku sejarah SD kita pun >banyak menutupi masalah dibaliknya. Sebetulnya perjanjian ini sangat >merugikan orang Sunda, karena berakhir dengan harus lepasnya wilayah >jawa barat ke tangan Belanda. Kenapa harus jawa barat?! hal ini ga >pernah kita ketahui. > >Ingat peristiwa "Bandung Lautan Api"? lagi2x buku sejarah SD kita ga >cukup jujur mengatakan bahwa BLA terjadi gara2x perjanjian Renville. >Warga Bandung saat itu sebetulnya sangat marah dan merasa dikhianati >oleh republik, akibat perjanjian Renville. Beberapa berpikir untuk >mendirikan negara baru, yang akhirnya kita kenal DI/TII Kartosuwiryo. >Suasana panas dan perdebatan panjang bersama Komandan Divisi III TRI, >saat itu A.H. Nasution. Akhirnya Madjelis Persatoean Perdjoangan >Priangan (MP3) yang berisi para tokoh Bandung tempo dulu, akhirnya >mengambil keputusan untuk membumihanguskan Bandung sebelum diserahkan >kepada Belanda. Aki saya yang seorang pedagang dengan bersemangat >membakar tokonya sendiri. Dengan rasa penasaran saya bertanya, orang >sinting mana yg dengan sukarela membakar rumah, tempat usahanya, dan >hijrah ke antah berantah?! :o jawaban aki saya "aing mah republikan >sejati..kajeun imah jeung toko aing rata jeung taneuh tibatan dipake >ku anjing2x Belanda" ;D Jelas suatu keputusan yg sulit dipahami oleh >kita, generasi Indonesia modern. Ajaibnya 100.000 warga Bandung >memiliki idenya yg sama. > >Sebetulnya BLA jelas2x pelanggaran & penghinaan terhadap perjanjian >Renville. Namun A. H. Nasution memahami betul arti kehormatan bagi >orang Sunda. Atau bisa jadi beliau terpojok oleh tuntutan para tokoh >di MP3. Namun sekarang kita tau dan bisa menjelaskan, kenapa dari >sederet lagu perjuangan hanya Bandung satu2xnya kota yg disebut khusus >dan spesifik dalam 1 lagu. Melihat apa yg dikorbankan 100.000 penduduk >Bandung saat itu, saya rasa hal itu cukup pantas. Dan A.H. Nasution yg >hingga meninggalnya berada dalam tahanan rumah rezim Suharto, sekarang >kita tahu kenapa nama itu menjadi nama jalan. > >Ditengah dilema antara patuh dan setia pada Republik atau memberontak >karena merasa dikhianati Republik yang menyerahkan Jawa Barat begitu >saja, setibanya di Solo, bukan sambutan hangat dari saudara sebangsa >yang diterima. Divisi IV Panembahan Senopati (sekarang Div. >Diponegoro) asal Solo malah mencemooh tentara Siliwangi sebagai >“Tentara Kantong” yang selalu kalah perang. Lebih jauh mereka >mengungkit2x peristiwa Bubat yang terjadi pada abad 16. > >Kehadiran Divisi Siliwangi di jawa tengah, secara sosial menimbulkan >kesenjangan sosial. Div. Siliwangi yang berseragam lengkap yang rapi, >persenjataan lengkap, dan disiplin tinggi, sangat mencolok dibanding >div. lainnya. Hal ini membuat penampilan Divisi lainnya lebih mirip >milisi dibanding tentara profesional. Belum lagi para perwira >Siliwangi yang jauh lebih berpendidikan, mereka sangat fasih berbicara >bahasa Belanda dan Inggris. Kadang diantara perwira kerap kali >berkomunikasi dengan bahasa Belanda. > >Banyak prajurit Divisi IV Panembahan Senopati merasa terganggu oleh >kehadiran tentara Sunda ini. Siliwangi yang ber akronim SLW >diplesetkan oleh mereka sebagai Stoot Leger Wilhelmina (tentara >penyerang Wilhelmina, ratu Belanda saat itu). Sebuah dilema bagi >prajurit Siliwangi, disatu sisi mereka hijrah atas perintah republik. >Perintah yg sebetulnya bertolak belakang dengan keinginan >mempertahankan tanah kelahiran. Namun sikap profesionalisme dan >kepentingan bangsa jauh lebih penting dibanding keinginan pribadi. >Terpisah dari keluarga, kehilangan tanah kelahiran, kehilangan harta >benda. Perlakuan seperti ini jelas tidak pernah terbersit dalam >pikiran mereka. > >PKI melihat ini sebagai suatu kesempatan. Untuk memperpanas suasana, >PKI menculik dan membunuh pimpinan Divisi IV Panembahan Senopati , >Kolonel Soetarto. Mudah di tebak, Divisi IV Panembahan Senopati >menuduh Siliwangi dalangnya dibalik itu. Tidak tanggung-tanggung >Divisi IV Panembahan Senopati terang2xan mengusir tentara Siliwangi >dengan kasar namun prajurit Sunda masih berusaha untuk sabar. Melihat >Divisi Siliwangi yg tetap menolak pergi, akhirnya Divisi IV Panembahan >Senopati menyerang Kompi Siliwangi di stasiun KA Balapan Solo dengan >mendadak. Habis kesabaran, hal ini dijawab dengan mengalirnya seluruh >pasukan Siliwangi di luar kota Solo sambil menyerang tiap pos Divisi >IV Panembahan Senopati yang di jumpai. A.H. Nasution melihat yg >terjadi pun tidak dapat melakukan banyak. > >Hal ini membuat Jendral Sudirman merasa perlu turun tangan. Sudirman >mendesak agar Siliwangi memenuhi tuntutan Divisi IV Panembahan >Senopati, dan kembali ke Jawa Barat, namun Siliwangi tetap menolak >karena hal itu akan melanggar isi perjanjian Renville. Melihat banyak >korban di Divisi IV Panembahan Senopati yang terus bertambah, akhirnya >Gatot Subroto yang saat itu masih berpangkat Kolonel mengeluarkan >perintah penghentian baku tembak dan meminta komandan kesatuan yang >bertikai untuk menyatakan kesetiaan pada Republik, jika tidak akan >dianggap sebagai pemberontak. Akhirnya pertikaian dapat dihentikan. > >Akhirnya terbukti bahwa PKI dibalik ini semua. Melihat Divisi IV >Panembahan Senopati yang banyak jatuh korban, akhirnya kembali >prajurit Siliwangi yg harus menyelesaikan masalah ini. Siliwangi >ditugaskan menghantam kekuatan PKI hingga ke Madiun dan menangkap >pelaku pembunuh Kol. Soetarto. > >Dalam satu rapat sebelum keputusan hijrahnya Divisi Siliwangi, ada >keraguan, apakah Siliwangi dibiarkan bergerilya di jawa barat atau >ditarik ke jawa tengah. Merasa Belanda akan melanggar perjanjian >Renville dan melakukan agresi militer(dan ini terbukti setelahnya), >Sukarno mengatakan "Tidak, mereka pasukan elite, kita akan membutuhkan >mereka, tarik semua ke jawa tengah". > >Kiprah prajurit Sunda berikutnya, ga banyak kita tahu, dan memang >peran nya dikecil2xkan. Seorang keluarga dari Ali akbar, salah 1 >penerjun pertama Indonesia menuturkan, 7 dari 13 penerjun pertama >Indonesia adalah orang Sunda. Saat itu atas permintaan Gubernur >Kalimantan dicarilah 14 orang yg cukup gila dan berani untuk loncat >dari pesawat. Ide loncat dari pesawat dan mempercayakan 80% pada alat, >20% nya pada nasib, adalah ide yg sangat aneh saat itu. Ali Akbar >sendiri konon dipilih karena dia sering melawan atasannya, dan >diharapkan dalam penerjunan itu dia mati :)) hingga akhir hayatnya >memang karir Ali Akbar tidak secemerlang keberaniannya. Namun tidak >ada 1 akal bulus dan sebutir peluru pun berhasil membunuhnya. Ali >Akbar mati dengan tenang dikelilingi keluarga dan kerabatnya. > >Lebih jauh, Ali Akbar merupakan sahabat dari Atjoem Kasoem, seorang >pengusaha optik yg kita kenal dengan toko A. Kasoem. Sedikit orang >tahu bahwa Kasoem yang asli Garut sebelumnya adalah pejuang. Kasoem >yang saat itu masih bekerja pada toko kacamata milik yahudi Jerman, >sambil berdagang kacamata dengan sepedanya diam2x melakukan aktivitas >spionase. Profesinya membuat dia mudah keluar masuk pos2x militer >Belanda dan kantor sipil Belanda. Hingga pada suatu saat aktivitasnya >terendus Belanda. Setelah interogasi panjang, Kasoem menolak >memberikan informasi pos2x laskar pejuang, hingga akhirnya Belanda >memutuskan menghukum gantung Kasoem. Laskar pejuang yang kebetulan >melewati pos itu, mendengar ada sesama pejuang yg akan dihukum >gantung, langsung merencanakan penyerbuan. Beruntung bagi Kasoem, >penyerbuan dilakukan mendekati detik2x hukuman akan dijalankan. Dan >ternyata pemimpin laskar itu adalah Ali Akbar. Disitulah konon >perkenalan pertama mereka. Ketika Indonesia merdeka, 2 sahabat ini >dihadapkan pada 2 pilihan, meneruskan karier militer profesional, atau >menjadi sipil. Ali Akbar memilih berkarir di militer, sementara Kasoem >memilih kembali menjadi sipil dan berdagang. Hingga hari ini keluarga >Ali Akbar dan Kasoem masih menjalin hubungan. > >Ketangguhan Divisi Siliwangi membuat pemerintah sendiri akhirnya >ketakutan. Bisa jadi ketakutan akan tragedi di Solo terulang, akhirnya >Divisi ini banyak mengalami bongkar pasang. Dan peta kekuatan pun >disebar (dilemahkan?!). Secara politis, memang berbahaya jika kekuatan >ini dibiarkan. Jika sampai Divisi Siliwangi membelot, DI/TII >Kartosuwiryo akan terdengar seperti dongeng sebelum tidur. Divisi ini >juga akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya Kopassus. seperti biasa, >lagi2x sejarawan istana malu2x mengakui hal ini. > >Kita lalu membayangkan, sosok divisi militer tangguh ini pasti seram, >beringas, dan sadis. Hal itu terbantahkan ketika kita bertemu mereka. >Nampaknya divisi ini memang pantas menggunakan nama Siliwangi. Tahun >1965 - 1965, ketika jateng, jatim, dan Bali melakukan pelanggaran HAM >dengan membantai massal orang2x yg dituduh PKI, Petinggi Div. >Siliwangi jauh lebih berpendidikan dan open minded. Ibrahim Adjie >Pangdam Siliwangi saat itu melakukan pendekatan yg lebih manusiawi dan >melarang anak buahnya membunuh orang yg dituduh PKI, sehingga korban >dari tragedi ini sangat kecil di tanah Pasundan. > >Berikut pendapat Prof. Ben Anderson (Cornell Univ.) yang membandingkan >Kodam Siliwangi dengan Kodam Diponegoro: > >Dari dulu ada persaingan antara Diponegoro dan Siliwangi. Perwira >Siliwangi dianggap orang yang statusnya lebih tinggi, biasa pakai >bahasa Belanda diantara mereka sendiri dan biasa kebarat-baratan, dan >paling dekat dengan Amerika. > >Perwira Jawa Tengah sebagian besar berasal dari Peta, bikinan Jaman >Jepang. Waktu revolusi mereka merasa diri sebagai orang Jogya lah. >Orang yang mempertahankan nilai-nilai dari revolusi 45, patriotisme >Jawa, dsb. Pokoknya kalau jenderal-jenderal Bandung omong, mereka >tidak pernah pakai?ken, ken. Tapi ini bukan masalah suku. Karena tokoh >utama dari semuanya itu orang Jawa. > >Kemudian pada tahun 1978 ketika TNI mulai digunakan sebagai jagal aksi >mahasiswa, mahasiswa ITB mulai melakukan demo dan memasang spanduk >sepanjang 50 meter dipagar kampus ITB dengan tulisan menyolok :"tidak >mempercayai lagi kepemimpinan Suharto", Himawan Sutanto, Pangdam >Siliwangi saat itu membiarkan saja. > >Pendudukan kampus ITB yg pertama, Prajurit Siliwangi yang dikirim ke >ITB bukannya menertibkan mahasiswa, malah berbaur main gaple dengan >mahasiswa =)). Himawan menyebut kebijakannya dengan strategi >pendekatan tak langsung, diilhami teori Liddle Hart (strategy of >indirect approach) , yang kelihatannya berhasil menjinakkan mahasiswa >ITB ketika itu . > >Tetapi para kolega dan atasannya Himawan di Jakarta mulai panik dan >mendirikan "crisis centre". Perintah lebih tegas dari Jakarta akhirnya >memaksa Siliwang bertindak lebih ketat, Saifi Rosad yg saat itu masih >mahasiswa mengatakan Siliwangi nampak setengah hati, ketika popor >senjata mengenai kepalanya si prajurit meminta maaf. Yang mengejutkan >ketika mahasiswa terdesak, para demonstran menyanyikan lagu Indonesia >Raya, para prajurit Siliwangi nampak tertegun dan terharu. Beberapa >malah menitikkan air mata. Akhirnya para prajurit keluar dari kampus >ITB. > >Sikap Siliwangi dianggap gagal oleh Jakarta, Akhirnya dikirim Divisi >Brawijaya yang baru pulang dari Timor Leste. Perlakuan pun berbeda, >mahasiswa yg menyangka penjaga kampus mereka adalah Siliwangi dengan >santai masuk kampus jelas terkaget2x menghadapi sikap tentara yg kali >ini sadis dan brutal. Seorang mahasiswi bahkan diseret dengan dijambak >rambut, bahkan di injak2x, sementara rumah Prof Dr Iskandar >Alisjahbana, Rektor ITB saat itu ditembaki oleh tentara. Karier >Himawan Sutanto pun akhirnya redup karena kebijakannya yang betul2x >bijak. > >Saya mendapat cerita pribadi dari seorang perwira Siliwangi yg dikirim >ke Aceh. Saat itu dia menangkap sekelompok GAM yg didalamnya ada >wanita hamil. Atas perintah atasan, supaya ga nyusahin bawa2x ibu >hamil di tengah hutan, perintah atasannya adalah "sekolahin" aja, yg >artinya eksekusi mati. Bertentangan dengan nuraninya, dia bawa ibu yg >lagi hamil tua ini turun gunung dan dibawa ke rumah sakit di Banda >Aceh. Ga cuma itu, dia nungguin sampai si ibu melahirkan dan >menanggung semua biaya persalinan. Atas jasanya si ibu menamai anaknya >dengan nama perwira tersebut. Melihat sikapnya yg melawan atasan, saya >ragu kariernya akan secemerlang nuraninya. > >Lalu apakah Divisi kebanggaan rakyat Pasundan ini tidak pernah >memiliki aib?! ada 1 aib yg mengganjal. Selama era suharto, tidak >pernah sekalipun Divisi Siliwangi mengundang A.H. Nasution hingga >akhir hayatnya pada tiap acara2xnya besar Siliwangi. Padahal beliau >adalah komandan pertama Siliwangi. > >Banyak divisi lain berusaha menandingi Siliwangi. Banyak dari mereka >berpikir bahwa bertindak lebih brutal dan lebih bringas dalam setiap >tugas akan mengalahkan pamor Siliwangi. Namun mereka lupa 1 hal, >Divisi Siliwangi bukan hanya prajurit yg memenangkan peperangan, tp >lebih utama, mereka memenangkan hati rakyat. > >Prajurit Siliwangi nampaknya sadar betul, bahwa nama dibalik >divisinya, besar dan dicintai bukan karena luasnya daerah kekuasaan >seperti majapahit, bukan karena kekejamannya seperti sultan agung, >bukan karena hartanya yg melimpah seperti suharto, tapi karena >kedekatannya dengan rakyat dan sikap adil dengan nurani. > >Semoga tulisan ini menggugah kita semua, bahwa untuk menjadi >kesatria2x Sunda, bukan masalah banyak atau tidak, bukan masalah jago >silat atu tidak. Adalah sikap dan perilaku kita yg menentukan kesatria >atau tidak. Jangan pernah tertunduk akan jati diri kita sebagai anak >cucu Siliwangi. > > >------------------------------------ > >Yahoo! Groups Links > > > > > >
