Mantap Kang Gunawan. Sok korehan lalakon nu teu kaungkab ku media. Ngarah aya refernsi pembanding jeung nu aya. Hade jigana nya mun urang daraek nepungan tokoh-tokoh jaman baheula, terus dituliskeun lalakon jeung pamanggih aranjeuna.
2012/3/29 Gunawan Yusuf <[email protected]> > Entah sejak kapan, jika mendengar kata Sunda, yang terbersit adalah > sosok Kabayan. Sudah sejak lama Sunda kehilangan sosok / image yg > lebih baik dari sekedar Kabayan (tanpa bermaksud merendahkan nilai2x > bijak dari kisah Kabayan). Program pembelokan sejarah nampaknya sudah > cukup sukses merubah persepsi tentang Sunda. Bukan hanya orang non > Sunda, yang cukup mengagetkan, dalam sebuah blog, ada seorang ibu yang > sedih, malu, dan menyesali dirinya dilahirkan sebagai seorang Sunda. > Alasannya?! Anaknya ditolak menikah oleh sang calon mertua, karena > bersuku Sunda. Dengan berani, si calon mertua mengatakan, menikah > dengan orang Sunda bermasa depan suram, karena perilaku orang Sunda > yang pemalas dan pengecut. Lagi2x stereotype kesukuan. Namun yg saya > sangat prihatin, ternyata ada, dan banyak orang Sunda yg termakan > pembelokan sejarah ini, dan benar2x meyakini stereotype itu. Semoga > kisah para kesatria Sunda yg banyak ditutupi ini bisa menginspirasi > kita untuk mengenal siapa kita. > > Ada kisah Long March Siliwangi yg tidak pernah dibahas dalam buku > sejarah. Rezim orde baru dan orde lama sudah cukup lama mati2xan > menutupi aib ini. Namun nampaknya kebenaran yg 1 ini sulit ditutupi. > > Setelah Bubat, sebetulnya Jawa-Sunda pernah kembali melakukan konflik > senjata di Solo, yaitu ketika peristiwa hijrahnya pasukan Siliwangi > meninggalkan Jawa Barat karena perjanjian Renville. Sebelumnya mari > kita bahas sedikit soal Renville, karena buku sejarah SD kita pun > banyak menutupi masalah dibaliknya. Sebetulnya perjanjian ini sangat > merugikan orang Sunda, karena berakhir dengan harus lepasnya wilayah > jawa barat ke tangan Belanda. Kenapa harus jawa barat?! hal ini ga > pernah kita ketahui. > > Ingat peristiwa "Bandung Lautan Api"? lagi2x buku sejarah SD kita ga > cukup jujur mengatakan bahwa BLA terjadi gara2x perjanjian Renville. > Warga Bandung saat itu sebetulnya sangat marah dan merasa dikhianati > oleh republik, akibat perjanjian Renville. Beberapa berpikir untuk > mendirikan negara baru, yang akhirnya kita kenal DI/TII Kartosuwiryo. > Suasana panas dan perdebatan panjang bersama Komandan Divisi III TRI, > saat itu A.H. Nasution. Akhirnya Madjelis Persatoean Perdjoangan > Priangan (MP3) yang berisi para tokoh Bandung tempo dulu, akhirnya > mengambil keputusan untuk membumihanguskan Bandung sebelum diserahkan > kepada Belanda. Aki saya yang seorang pedagang dengan bersemangat > membakar tokonya sendiri. Dengan rasa penasaran saya bertanya, orang > sinting mana yg dengan sukarela membakar rumah, tempat usahanya, dan > hijrah ke antah berantah?! :o jawaban aki saya "aing mah republikan > sejati..kajeun imah jeung toko aing rata jeung taneuh tibatan dipake > ku anjing2x Belanda" ;D Jelas suatu keputusan yg sulit dipahami oleh > kita, generasi Indonesia modern. Ajaibnya 100.000 warga Bandung > memiliki idenya yg sama. > > Sebetulnya BLA jelas2x pelanggaran & penghinaan terhadap perjanjian > Renville. Namun A. H. Nasution memahami betul arti kehormatan bagi > orang Sunda. Atau bisa jadi beliau terpojok oleh tuntutan para tokoh > di MP3. Namun sekarang kita tau dan bisa menjelaskan, kenapa dari > sederet lagu perjuangan hanya Bandung satu2xnya kota yg disebut khusus > dan spesifik dalam 1 lagu. Melihat apa yg dikorbankan 100.000 penduduk > Bandung saat itu, saya rasa hal itu cukup pantas. Dan A.H. Nasution yg > hingga meninggalnya berada dalam tahanan rumah rezim Suharto, sekarang > kita tahu kenapa nama itu menjadi nama jalan. > > Ditengah dilema antara patuh dan setia pada Republik atau memberontak > karena merasa dikhianati Republik yang menyerahkan Jawa Barat begitu > saja, setibanya di Solo, bukan sambutan hangat dari saudara sebangsa > yang diterima. Divisi IV Panembahan Senopati (sekarang Div. > Diponegoro) asal Solo malah mencemooh tentara Siliwangi sebagai > “Tentara Kantong” yang selalu kalah perang. Lebih jauh mereka > mengungkit2x peristiwa Bubat yang terjadi pada abad 16. > > Kehadiran Divisi Siliwangi di jawa tengah, secara sosial menimbulkan > kesenjangan sosial. Div. Siliwangi yang berseragam lengkap yang rapi, > persenjataan lengkap, dan disiplin tinggi, sangat mencolok dibanding > div. lainnya. Hal ini membuat penampilan Divisi lainnya lebih mirip > milisi dibanding tentara profesional. Belum lagi para perwira > Siliwangi yang jauh lebih berpendidikan, mereka sangat fasih berbicara > bahasa Belanda dan Inggris. Kadang diantara perwira kerap kali > berkomunikasi dengan bahasa Belanda. > > Banyak prajurit Divisi IV Panembahan Senopati merasa terganggu oleh > kehadiran tentara Sunda ini. Siliwangi yang ber akronim SLW > diplesetkan oleh mereka sebagai Stoot Leger Wilhelmina (tentara > penyerang Wilhelmina, ratu Belanda saat itu). Sebuah dilema bagi > prajurit Siliwangi, disatu sisi mereka hijrah atas perintah republik. > Perintah yg sebetulnya bertolak belakang dengan keinginan > mempertahankan tanah kelahiran. Namun sikap profesionalisme dan > kepentingan bangsa jauh lebih penting dibanding keinginan pribadi. > Terpisah dari keluarga, kehilangan tanah kelahiran, kehilangan harta > benda. Perlakuan seperti ini jelas tidak pernah terbersit dalam > pikiran mereka. > > PKI melihat ini sebagai suatu kesempatan. Untuk memperpanas suasana, > PKI menculik dan membunuh pimpinan Divisi IV Panembahan Senopati , > Kolonel Soetarto. Mudah di tebak, Divisi IV Panembahan Senopati > menuduh Siliwangi dalangnya dibalik itu. Tidak tanggung-tanggung > Divisi IV Panembahan Senopati terang2xan mengusir tentara Siliwangi > dengan kasar namun prajurit Sunda masih berusaha untuk sabar. Melihat > Divisi Siliwangi yg tetap menolak pergi, akhirnya Divisi IV Panembahan > Senopati menyerang Kompi Siliwangi di stasiun KA Balapan Solo dengan > mendadak. Habis kesabaran, hal ini dijawab dengan mengalirnya seluruh > pasukan Siliwangi di luar kota Solo sambil menyerang tiap pos Divisi > IV Panembahan Senopati yang di jumpai. A.H. Nasution melihat yg > terjadi pun tidak dapat melakukan banyak. > > Hal ini membuat Jendral Sudirman merasa perlu turun tangan. Sudirman > mendesak agar Siliwangi memenuhi tuntutan Divisi IV Panembahan > Senopati, dan kembali ke Jawa Barat, namun Siliwangi tetap menolak > karena hal itu akan melanggar isi perjanjian Renville. Melihat banyak > korban di Divisi IV Panembahan Senopati yang terus bertambah, akhirnya > Gatot Subroto yang saat itu masih berpangkat Kolonel mengeluarkan > perintah penghentian baku tembak dan meminta komandan kesatuan yang > bertikai untuk menyatakan kesetiaan pada Republik, jika tidak akan > dianggap sebagai pemberontak. Akhirnya pertikaian dapat dihentikan. > > Akhirnya terbukti bahwa PKI dibalik ini semua. Melihat Divisi IV > Panembahan Senopati yang banyak jatuh korban, akhirnya kembali > prajurit Siliwangi yg harus menyelesaikan masalah ini. Siliwangi > ditugaskan menghantam kekuatan PKI hingga ke Madiun dan menangkap > pelaku pembunuh Kol. Soetarto. > > Dalam satu rapat sebelum keputusan hijrahnya Divisi Siliwangi, ada > keraguan, apakah Siliwangi dibiarkan bergerilya di jawa barat atau > ditarik ke jawa tengah. Merasa Belanda akan melanggar perjanjian > Renville dan melakukan agresi militer(dan ini terbukti setelahnya), > Sukarno mengatakan "Tidak, mereka pasukan elite, kita akan membutuhkan > mereka, tarik semua ke jawa tengah". > > Kiprah prajurit Sunda berikutnya, ga banyak kita tahu, dan memang > peran nya dikecil2xkan. Seorang keluarga dari Ali akbar, salah 1 > penerjun pertama Indonesia menuturkan, 7 dari 13 penerjun pertama > Indonesia adalah orang Sunda. Saat itu atas permintaan Gubernur > Kalimantan dicarilah 14 orang yg cukup gila dan berani untuk loncat > dari pesawat. Ide loncat dari pesawat dan mempercayakan 80% pada alat, > 20% nya pada nasib, adalah ide yg sangat aneh saat itu. Ali Akbar > sendiri konon dipilih karena dia sering melawan atasannya, dan > diharapkan dalam penerjunan itu dia mati :)) hingga akhir hayatnya > memang karir Ali Akbar tidak secemerlang keberaniannya. Namun tidak > ada 1 akal bulus dan sebutir peluru pun berhasil membunuhnya. Ali > Akbar mati dengan tenang dikelilingi keluarga dan kerabatnya. > > Lebih jauh, Ali Akbar merupakan sahabat dari Atjoem Kasoem, seorang > pengusaha optik yg kita kenal dengan toko A. Kasoem. Sedikit orang > tahu bahwa Kasoem yang asli Garut sebelumnya adalah pejuang. Kasoem > yang saat itu masih bekerja pada toko kacamata milik yahudi Jerman, > sambil berdagang kacamata dengan sepedanya diam2x melakukan aktivitas > spionase. Profesinya membuat dia mudah keluar masuk pos2x militer > Belanda dan kantor sipil Belanda. Hingga pada suatu saat aktivitasnya > terendus Belanda. Setelah interogasi panjang, Kasoem menolak > memberikan informasi pos2x laskar pejuang, hingga akhirnya Belanda > memutuskan menghukum gantung Kasoem. Laskar pejuang yang kebetulan > melewati pos itu, mendengar ada sesama pejuang yg akan dihukum > gantung, langsung merencanakan penyerbuan. Beruntung bagi Kasoem, > penyerbuan dilakukan mendekati detik2x hukuman akan dijalankan. Dan > ternyata pemimpin laskar itu adalah Ali Akbar. Disitulah konon > perkenalan pertama mereka. Ketika Indonesia merdeka, 2 sahabat ini > dihadapkan pada 2 pilihan, meneruskan karier militer profesional, atau > menjadi sipil. Ali Akbar memilih berkarir di militer, sementara Kasoem > memilih kembali menjadi sipil dan berdagang. Hingga hari ini keluarga > Ali Akbar dan Kasoem masih menjalin hubungan. > > Ketangguhan Divisi Siliwangi membuat pemerintah sendiri akhirnya > ketakutan. Bisa jadi ketakutan akan tragedi di Solo terulang, akhirnya > Divisi ini banyak mengalami bongkar pasang. Dan peta kekuatan pun > disebar (dilemahkan?!). Secara politis, memang berbahaya jika kekuatan > ini dibiarkan. Jika sampai Divisi Siliwangi membelot, DI/TII > Kartosuwiryo akan terdengar seperti dongeng sebelum tidur. Divisi ini > juga akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya Kopassus. seperti biasa, > lagi2x sejarawan istana malu2x mengakui hal ini. > > Kita lalu membayangkan, sosok divisi militer tangguh ini pasti seram, > beringas, dan sadis. Hal itu terbantahkan ketika kita bertemu mereka. > Nampaknya divisi ini memang pantas menggunakan nama Siliwangi. Tahun > 1965 - 1965, ketika jateng, jatim, dan Bali melakukan pelanggaran HAM > dengan membantai massal orang2x yg dituduh PKI, Petinggi Div. > Siliwangi jauh lebih berpendidikan dan open minded. Ibrahim Adjie > Pangdam Siliwangi saat itu melakukan pendekatan yg lebih manusiawi dan > melarang anak buahnya membunuh orang yg dituduh PKI, sehingga korban > dari tragedi ini sangat kecil di tanah Pasundan. > > Berikut pendapat Prof. Ben Anderson (Cornell Univ.) yang membandingkan > Kodam Siliwangi dengan Kodam Diponegoro: > > Dari dulu ada persaingan antara Diponegoro dan Siliwangi. Perwira > Siliwangi dianggap orang yang statusnya lebih tinggi, biasa pakai > bahasa Belanda diantara mereka sendiri dan biasa kebarat-baratan, dan > paling dekat dengan Amerika. > > Perwira Jawa Tengah sebagian besar berasal dari Peta, bikinan Jaman > Jepang. Waktu revolusi mereka merasa diri sebagai orang Jogya lah. > Orang yang mempertahankan nilai-nilai dari revolusi 45, patriotisme > Jawa, dsb. Pokoknya kalau jenderal-jenderal Bandung omong, mereka > tidak pernah pakai?ken, ken. Tapi ini bukan masalah suku. Karena tokoh > utama dari semuanya itu orang Jawa. > > Kemudian pada tahun 1978 ketika TNI mulai digunakan sebagai jagal aksi > mahasiswa, mahasiswa ITB mulai melakukan demo dan memasang spanduk > sepanjang 50 meter dipagar kampus ITB dengan tulisan menyolok :"tidak > mempercayai lagi kepemimpinan Suharto", Himawan Sutanto, Pangdam > Siliwangi saat itu membiarkan saja. > > Pendudukan kampus ITB yg pertama, Prajurit Siliwangi yang dikirim ke > ITB bukannya menertibkan mahasiswa, malah berbaur main gaple dengan > mahasiswa =)). Himawan menyebut kebijakannya dengan strategi > pendekatan tak langsung, diilhami teori Liddle Hart (strategy of > indirect approach) , yang kelihatannya berhasil menjinakkan mahasiswa > ITB ketika itu . > > Tetapi para kolega dan atasannya Himawan di Jakarta mulai panik dan > mendirikan "crisis centre". Perintah lebih tegas dari Jakarta akhirnya > memaksa Siliwang bertindak lebih ketat, Saifi Rosad yg saat itu masih > mahasiswa mengatakan Siliwangi nampak setengah hati, ketika popor > senjata mengenai kepalanya si prajurit meminta maaf. Yang mengejutkan > ketika mahasiswa terdesak, para demonstran menyanyikan lagu Indonesia > Raya, para prajurit Siliwangi nampak tertegun dan terharu. Beberapa > malah menitikkan air mata. Akhirnya para prajurit keluar dari kampus > ITB. > > Sikap Siliwangi dianggap gagal oleh Jakarta, Akhirnya dikirim Divisi > Brawijaya yang baru pulang dari Timor Leste. Perlakuan pun berbeda, > mahasiswa yg menyangka penjaga kampus mereka adalah Siliwangi dengan > santai masuk kampus jelas terkaget2x menghadapi sikap tentara yg kali > ini sadis dan brutal. Seorang mahasiswi bahkan diseret dengan dijambak > rambut, bahkan di injak2x, sementara rumah Prof Dr Iskandar > Alisjahbana, Rektor ITB saat itu ditembaki oleh tentara. Karier > Himawan Sutanto pun akhirnya redup karena kebijakannya yang betul2x > bijak. > > Saya mendapat cerita pribadi dari seorang perwira Siliwangi yg dikirim > ke Aceh. Saat itu dia menangkap sekelompok GAM yg didalamnya ada > wanita hamil. Atas perintah atasan, supaya ga nyusahin bawa2x ibu > hamil di tengah hutan, perintah atasannya adalah "sekolahin" aja, yg > artinya eksekusi mati. Bertentangan dengan nuraninya, dia bawa ibu yg > lagi hamil tua ini turun gunung dan dibawa ke rumah sakit di Banda > Aceh. Ga cuma itu, dia nungguin sampai si ibu melahirkan dan > menanggung semua biaya persalinan. Atas jasanya si ibu menamai anaknya > dengan nama perwira tersebut. Melihat sikapnya yg melawan atasan, saya > ragu kariernya akan secemerlang nuraninya. > > Lalu apakah Divisi kebanggaan rakyat Pasundan ini tidak pernah > memiliki aib?! ada 1 aib yg mengganjal. Selama era suharto, tidak > pernah sekalipun Divisi Siliwangi mengundang A.H. Nasution hingga > akhir hayatnya pada tiap acara2xnya besar Siliwangi. Padahal beliau > adalah komandan pertama Siliwangi. > > Banyak divisi lain berusaha menandingi Siliwangi. Banyak dari mereka > berpikir bahwa bertindak lebih brutal dan lebih bringas dalam setiap > tugas akan mengalahkan pamor Siliwangi. Namun mereka lupa 1 hal, > Divisi Siliwangi bukan hanya prajurit yg memenangkan peperangan, tp > lebih utama, mereka memenangkan hati rakyat. > > Prajurit Siliwangi nampaknya sadar betul, bahwa nama dibalik > divisinya, besar dan dicintai bukan karena luasnya daerah kekuasaan > seperti majapahit, bukan karena kekejamannya seperti sultan agung, > bukan karena hartanya yg melimpah seperti suharto, tapi karena > kedekatannya dengan rakyat dan sikap adil dengan nurani. > > Semoga tulisan ini menggugah kita semua, bahwa untuk menjadi > kesatria2x Sunda, bukan masalah banyak atau tidak, bukan masalah jago > silat atu tidak. Adalah sikap dan perilaku kita yg menentukan kesatria > atau tidak. Jangan pernah tertunduk akan jati diri kita sebagai anak > cucu Siliwangi. > > > ------------------------------------ > > Yahoo! Groups Links > > > >
