Entah sejak kapan, jika mendengar kata Sunda, yang terbersit adalah
sosok Kabayan. Sudah sejak lama Sunda kehilangan sosok / image yg
lebih baik dari sekedar Kabayan (tanpa bermaksud merendahkan nilai2x
bijak dari kisah Kabayan). Program pembelokan sejarah nampaknya sudah
cukup sukses merubah persepsi tentang Sunda. Bukan hanya orang non
Sunda, yang cukup mengagetkan, dalam sebuah blog, ada seorang ibu yang
sedih, malu, dan menyesali dirinya dilahirkan sebagai seorang Sunda.
Alasannya?! Anaknya ditolak menikah oleh sang calon mertua, karena
bersuku Sunda. Dengan berani, si calon mertua mengatakan, menikah
dengan orang Sunda bermasa depan suram, karena perilaku orang Sunda
yang pemalas dan pengecut. Lagi2x stereotype kesukuan. Namun yg saya
sangat prihatin, ternyata ada, dan banyak orang Sunda yg termakan
pembelokan sejarah ini, dan benar2x meyakini stereotype itu. Semoga
kisah para kesatria Sunda yg banyak ditutupi ini bisa menginspirasi
kita untuk mengenal siapa kita.
Ada kisah Long March Siliwangi yg tidak pernah dibahas dalam buku
sejarah. Rezim orde baru dan orde lama sudah cukup lama mati2xan
menutupi aib ini. Namun nampaknya kebenaran yg 1 ini sulit ditutupi.
Setelah Bubat, sebetulnya Jawa-Sunda pernah kembali melakukan konflik
senjata di Solo, yaitu ketika peristiwa hijrahnya pasukan Siliwangi
meninggalkan Jawa Barat karena perjanjian Renville. Sebelumnya mari
kita bahas sedikit soal Renville, karena buku sejarah SD kita pun
banyak menutupi masalah dibaliknya. Sebetulnya perjanjian ini sangat
merugikan orang Sunda, karena berakhir dengan harus lepasnya wilayah
jawa barat ke tangan Belanda. Kenapa harus jawa barat?! hal ini ga
pernah kita ketahui.
Ingat peristiwa "Bandung Lautan Api"? lagi2x buku sejarah SD kita ga
cukup jujur mengatakan bahwa BLA terjadi gara2x perjanjian Renville.
Warga Bandung saat itu sebetulnya sangat marah dan merasa dikhianati
oleh republik, akibat perjanjian Renville. Beberapa berpikir untuk
mendirikan negara baru, yang akhirnya kita kenal DI/TII Kartosuwiryo.
Suasana panas dan perdebatan panjang bersama Komandan Divisi III TRI,
saat itu A.H. Nasution. Akhirnya Madjelis Persatoean Perdjoangan
Priangan (MP3) yang berisi para tokoh Bandung tempo dulu, akhirnya
mengambil keputusan untuk membumihanguskan Bandung sebelum diserahkan
kepada Belanda. Aki saya yang seorang pedagang dengan bersemangat
membakar tokonya sendiri. Dengan rasa penasaran saya bertanya, orang
sinting mana yg dengan sukarela membakar rumah, tempat usahanya, dan
hijrah ke antah berantah?! :o jawaban aki saya "aing mah republikan
sejati..kajeun imah jeung toko aing rata jeung taneuh tibatan dipake
ku anjing2x Belanda" ;D Jelas suatu keputusan yg sulit dipahami oleh
kita, generasi Indonesia modern. Ajaibnya 100.000 warga Bandung
memiliki idenya yg sama.
Sebetulnya BLA jelas2x pelanggaran & penghinaan terhadap perjanjian
Renville. Namun A. H. Nasution memahami betul arti kehormatan bagi
orang Sunda. Atau bisa jadi beliau terpojok oleh tuntutan para tokoh
di MP3. Namun sekarang kita tau dan bisa menjelaskan, kenapa dari
sederet lagu perjuangan hanya Bandung satu2xnya kota yg disebut khusus
dan spesifik dalam 1 lagu. Melihat apa yg dikorbankan 100.000 penduduk
Bandung saat itu, saya rasa hal itu cukup pantas. Dan A.H. Nasution yg
hingga meninggalnya berada dalam tahanan rumah rezim Suharto, sekarang
kita tahu kenapa nama itu menjadi nama jalan.
Ditengah dilema antara patuh dan setia pada Republik atau memberontak
karena merasa dikhianati Republik yang menyerahkan Jawa Barat begitu
saja, setibanya di Solo, bukan sambutan hangat dari saudara sebangsa
yang diterima. Divisi IV Panembahan Senopati (sekarang Div.
Diponegoro) asal Solo malah mencemooh tentara Siliwangi sebagai
“Tentara Kantong” yang selalu kalah perang. Lebih jauh mereka
mengungkit2x peristiwa Bubat yang terjadi pada abad 16.
Kehadiran Divisi Siliwangi di jawa tengah, secara sosial menimbulkan
kesenjangan sosial. Div. Siliwangi yang berseragam lengkap yang rapi,
persenjataan lengkap, dan disiplin tinggi, sangat mencolok dibanding
div. lainnya. Hal ini membuat penampilan Divisi lainnya lebih mirip
milisi dibanding tentara profesional. Belum lagi para perwira
Siliwangi yang jauh lebih berpendidikan, mereka sangat fasih berbicara
bahasa Belanda dan Inggris. Kadang diantara perwira kerap kali
berkomunikasi dengan bahasa Belanda.
Banyak prajurit Divisi IV Panembahan Senopati merasa terganggu oleh
kehadiran tentara Sunda ini. Siliwangi yang ber akronim SLW
diplesetkan oleh mereka sebagai Stoot Leger Wilhelmina (tentara
penyerang Wilhelmina, ratu Belanda saat itu). Sebuah dilema bagi
prajurit Siliwangi, disatu sisi mereka hijrah atas perintah republik.
Perintah yg sebetulnya bertolak belakang dengan keinginan
mempertahankan tanah kelahiran. Namun sikap profesionalisme dan
kepentingan bangsa jauh lebih penting dibanding keinginan pribadi.
Terpisah dari keluarga, kehilangan tanah kelahiran, kehilangan harta
benda. Perlakuan seperti ini jelas tidak pernah terbersit dalam
pikiran mereka.
PKI melihat ini sebagai suatu kesempatan. Untuk memperpanas suasana,
PKI menculik dan membunuh pimpinan Divisi IV Panembahan Senopati ,
Kolonel Soetarto. Mudah di tebak, Divisi IV Panembahan Senopati
menuduh Siliwangi dalangnya dibalik itu. Tidak tanggung-tanggung
Divisi IV Panembahan Senopati terang2xan mengusir tentara Siliwangi
dengan kasar namun prajurit Sunda masih berusaha untuk sabar. Melihat
Divisi Siliwangi yg tetap menolak pergi, akhirnya Divisi IV Panembahan
Senopati menyerang Kompi Siliwangi di stasiun KA Balapan Solo dengan
mendadak. Habis kesabaran, hal ini dijawab dengan mengalirnya seluruh
pasukan Siliwangi di luar kota Solo sambil menyerang tiap pos Divisi
IV Panembahan Senopati yang di jumpai. A.H. Nasution melihat yg
terjadi pun tidak dapat melakukan banyak.
Hal ini membuat Jendral Sudirman merasa perlu turun tangan. Sudirman
mendesak agar Siliwangi memenuhi tuntutan Divisi IV Panembahan
Senopati, dan kembali ke Jawa Barat, namun Siliwangi tetap menolak
karena hal itu akan melanggar isi perjanjian Renville. Melihat banyak
korban di Divisi IV Panembahan Senopati yang terus bertambah, akhirnya
Gatot Subroto yang saat itu masih berpangkat Kolonel mengeluarkan
perintah penghentian baku tembak dan meminta komandan kesatuan yang
bertikai untuk menyatakan kesetiaan pada Republik, jika tidak akan
dianggap sebagai pemberontak. Akhirnya pertikaian dapat dihentikan.
Akhirnya terbukti bahwa PKI dibalik ini semua. Melihat Divisi IV
Panembahan Senopati yang banyak jatuh korban, akhirnya kembali
prajurit Siliwangi yg harus menyelesaikan masalah ini. Siliwangi
ditugaskan menghantam kekuatan PKI hingga ke Madiun dan menangkap
pelaku pembunuh Kol. Soetarto.
Dalam satu rapat sebelum keputusan hijrahnya Divisi Siliwangi, ada
keraguan, apakah Siliwangi dibiarkan bergerilya di jawa barat atau
ditarik ke jawa tengah. Merasa Belanda akan melanggar perjanjian
Renville dan melakukan agresi militer(dan ini terbukti setelahnya),
Sukarno mengatakan "Tidak, mereka pasukan elite, kita akan membutuhkan
mereka, tarik semua ke jawa tengah".
Kiprah prajurit Sunda berikutnya, ga banyak kita tahu, dan memang
peran nya dikecil2xkan. Seorang keluarga dari Ali akbar, salah 1
penerjun pertama Indonesia menuturkan, 7 dari 13 penerjun pertama
Indonesia adalah orang Sunda. Saat itu atas permintaan Gubernur
Kalimantan dicarilah 14 orang yg cukup gila dan berani untuk loncat
dari pesawat. Ide loncat dari pesawat dan mempercayakan 80% pada alat,
20% nya pada nasib, adalah ide yg sangat aneh saat itu. Ali Akbar
sendiri konon dipilih karena dia sering melawan atasannya, dan
diharapkan dalam penerjunan itu dia mati :)) hingga akhir hayatnya
memang karir Ali Akbar tidak secemerlang keberaniannya. Namun tidak
ada 1 akal bulus dan sebutir peluru pun berhasil membunuhnya. Ali
Akbar mati dengan tenang dikelilingi keluarga dan kerabatnya.
Lebih jauh, Ali Akbar merupakan sahabat dari Atjoem Kasoem, seorang
pengusaha optik yg kita kenal dengan toko A. Kasoem. Sedikit orang
tahu bahwa Kasoem yang asli Garut sebelumnya adalah pejuang. Kasoem
yang saat itu masih bekerja pada toko kacamata milik yahudi Jerman,
sambil berdagang kacamata dengan sepedanya diam2x melakukan aktivitas
spionase. Profesinya membuat dia mudah keluar masuk pos2x militer
Belanda dan kantor sipil Belanda. Hingga pada suatu saat aktivitasnya
terendus Belanda. Setelah interogasi panjang, Kasoem menolak
memberikan informasi pos2x laskar pejuang, hingga akhirnya Belanda
memutuskan menghukum gantung Kasoem. Laskar pejuang yang kebetulan
melewati pos itu, mendengar ada sesama pejuang yg akan dihukum
gantung, langsung merencanakan penyerbuan. Beruntung bagi Kasoem,
penyerbuan dilakukan mendekati detik2x hukuman akan dijalankan. Dan
ternyata pemimpin laskar itu adalah Ali Akbar. Disitulah konon
perkenalan pertama mereka. Ketika Indonesia merdeka, 2 sahabat ini
dihadapkan pada 2 pilihan, meneruskan karier militer profesional, atau
menjadi sipil. Ali Akbar memilih berkarir di militer, sementara Kasoem
memilih kembali menjadi sipil dan berdagang. Hingga hari ini keluarga
Ali Akbar dan Kasoem masih menjalin hubungan.
Ketangguhan Divisi Siliwangi membuat pemerintah sendiri akhirnya
ketakutan. Bisa jadi ketakutan akan tragedi di Solo terulang, akhirnya
Divisi ini banyak mengalami bongkar pasang. Dan peta kekuatan pun
disebar (dilemahkan?!). Secara politis, memang berbahaya jika kekuatan
ini dibiarkan. Jika sampai Divisi Siliwangi membelot, DI/TII
Kartosuwiryo akan terdengar seperti dongeng sebelum tidur. Divisi ini
juga akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya Kopassus. seperti biasa,
lagi2x sejarawan istana malu2x mengakui hal ini.
Kita lalu membayangkan, sosok divisi militer tangguh ini pasti seram,
beringas, dan sadis. Hal itu terbantahkan ketika kita bertemu mereka.
Nampaknya divisi ini memang pantas menggunakan nama Siliwangi. Tahun
1965 - 1965, ketika jateng, jatim, dan Bali melakukan pelanggaran HAM
dengan membantai massal orang2x yg dituduh PKI, Petinggi Div.
Siliwangi jauh lebih berpendidikan dan open minded. Ibrahim Adjie
Pangdam Siliwangi saat itu melakukan pendekatan yg lebih manusiawi dan
melarang anak buahnya membunuh orang yg dituduh PKI, sehingga korban
dari tragedi ini sangat kecil di tanah Pasundan.
Berikut pendapat Prof. Ben Anderson (Cornell Univ.) yang membandingkan
Kodam Siliwangi dengan Kodam Diponegoro:
Dari dulu ada persaingan antara Diponegoro dan Siliwangi. Perwira
Siliwangi dianggap orang yang statusnya lebih tinggi, biasa pakai
bahasa Belanda diantara mereka sendiri dan biasa kebarat-baratan, dan
paling dekat dengan Amerika.
Perwira Jawa Tengah sebagian besar berasal dari Peta, bikinan Jaman
Jepang. Waktu revolusi mereka merasa diri sebagai orang Jogya lah.
Orang yang mempertahankan nilai-nilai dari revolusi 45, patriotisme
Jawa, dsb. Pokoknya kalau jenderal-jenderal Bandung omong, mereka
tidak pernah pakai?ken, ken. Tapi ini bukan masalah suku. Karena tokoh
utama dari semuanya itu orang Jawa.
Kemudian pada tahun 1978 ketika TNI mulai digunakan sebagai jagal aksi
mahasiswa, mahasiswa ITB mulai melakukan demo dan memasang spanduk
sepanjang 50 meter dipagar kampus ITB dengan tulisan menyolok :"tidak
mempercayai lagi kepemimpinan Suharto", Himawan Sutanto, Pangdam
Siliwangi saat itu membiarkan saja.
Pendudukan kampus ITB yg pertama, Prajurit Siliwangi yang dikirim ke
ITB bukannya menertibkan mahasiswa, malah berbaur main gaple dengan
mahasiswa =)). Himawan menyebut kebijakannya dengan strategi
pendekatan tak langsung, diilhami teori Liddle Hart (strategy of
indirect approach) , yang kelihatannya berhasil menjinakkan mahasiswa
ITB ketika itu .
Tetapi para kolega dan atasannya Himawan di Jakarta mulai panik dan
mendirikan "crisis centre". Perintah lebih tegas dari Jakarta akhirnya
memaksa Siliwang bertindak lebih ketat, Saifi Rosad yg saat itu masih
mahasiswa mengatakan Siliwangi nampak setengah hati, ketika popor
senjata mengenai kepalanya si prajurit meminta maaf. Yang mengejutkan
ketika mahasiswa terdesak, para demonstran menyanyikan lagu Indonesia
Raya, para prajurit Siliwangi nampak tertegun dan terharu. Beberapa
malah menitikkan air mata. Akhirnya para prajurit keluar dari kampus
ITB.
Sikap Siliwangi dianggap gagal oleh Jakarta, Akhirnya dikirim Divisi
Brawijaya yang baru pulang dari Timor Leste. Perlakuan pun berbeda,
mahasiswa yg menyangka penjaga kampus mereka adalah Siliwangi dengan
santai masuk kampus jelas terkaget2x menghadapi sikap tentara yg kali
ini sadis dan brutal. Seorang mahasiswi bahkan diseret dengan dijambak
rambut, bahkan di injak2x, sementara rumah Prof Dr Iskandar
Alisjahbana, Rektor ITB saat itu ditembaki oleh tentara. Karier
Himawan Sutanto pun akhirnya redup karena kebijakannya yang betul2x
bijak.
Saya mendapat cerita pribadi dari seorang perwira Siliwangi yg dikirim
ke Aceh. Saat itu dia menangkap sekelompok GAM yg didalamnya ada
wanita hamil. Atas perintah atasan, supaya ga nyusahin bawa2x ibu
hamil di tengah hutan, perintah atasannya adalah "sekolahin" aja, yg
artinya eksekusi mati. Bertentangan dengan nuraninya, dia bawa ibu yg
lagi hamil tua ini turun gunung dan dibawa ke rumah sakit di Banda
Aceh. Ga cuma itu, dia nungguin sampai si ibu melahirkan dan
menanggung semua biaya persalinan. Atas jasanya si ibu menamai anaknya
dengan nama perwira tersebut. Melihat sikapnya yg melawan atasan, saya
ragu kariernya akan secemerlang nuraninya.
Lalu apakah Divisi kebanggaan rakyat Pasundan ini tidak pernah
memiliki aib?! ada 1 aib yg mengganjal. Selama era suharto, tidak
pernah sekalipun Divisi Siliwangi mengundang A.H. Nasution hingga
akhir hayatnya pada tiap acara2xnya besar Siliwangi. Padahal beliau
adalah komandan pertama Siliwangi.
Banyak divisi lain berusaha menandingi Siliwangi. Banyak dari mereka
berpikir bahwa bertindak lebih brutal dan lebih bringas dalam setiap
tugas akan mengalahkan pamor Siliwangi. Namun mereka lupa 1 hal,
Divisi Siliwangi bukan hanya prajurit yg memenangkan peperangan, tp
lebih utama, mereka memenangkan hati rakyat.
Prajurit Siliwangi nampaknya sadar betul, bahwa nama dibalik
divisinya, besar dan dicintai bukan karena luasnya daerah kekuasaan
seperti majapahit, bukan karena kekejamannya seperti sultan agung,
bukan karena hartanya yg melimpah seperti suharto, tapi karena
kedekatannya dengan rakyat dan sikap adil dengan nurani.
Semoga tulisan ini menggugah kita semua, bahwa untuk menjadi
kesatria2x Sunda, bukan masalah banyak atau tidak, bukan masalah jago
silat atu tidak. Adalah sikap dan perilaku kita yg menentukan kesatria
atau tidak. Jangan pernah tertunduk akan jati diri kita sebagai anak
cucu Siliwangi.
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/