http://islamtimes.org/vdcg7y9qxak9tz4.1ira.html

menurut hemat saya, demo tidak cukup disini
tetapi harus ke kepalanya yaitu Amerika, sebab dengan kelakuan brengsek amerika 
dan eropa terus menggempur perekonomian
Iran dan menyetop minyak iran di eropa, akhirnya kita kena imbasnya juga...
Iran bilang: mau diembargo ke dari 32 tahun lalu sudah diembargo, mau dipotong 
minyak iran, mangga, siapa yang butuh...




Demo Anti BBM Naik
Demo BBM: Ancaman Amerika dan Politik Pamrih
Islam Times- Dalam setiap kesempatan mereka begitu familiar menyiapkan 
berton-ton kata-kata dan konsep-konsep abstrak melegalkan penghianatan 
amanat rakyat dihadapan rakyat. Sebuah perpaduan yang adonannya pas 
untuk menepis setiap kemungkinan kecurigaan rakyat kalau ini tak lebih 
dari program persengkongkolan kejahatan yang paripurna.

Vivanews
Demo dan protes atas rencana pemerintah untuk menaikkan tarif BBM 
kali ini tidak saja membawa emosional juga membawa berbagai sudut 
dimensi moral. Dan gregetnya, aksi ini menimbulkan gempa politik dan 
gemuruh yang meledak-ledak dari yang mengusung ideologi hingga yang 
hanya sekedar hura-hura dan pura-pura. 

Gemuruh ledakan gempa 
politik semakin parah lagi saat para politisi mengerahkan massanya yang 
nampak sekali sedang berlomba mencari muka untuk mensterilkan wajah 
mereka yang sudah bopeng dan lebam untuk kemudian menyibukkan diri 
mendongkrak citra dan rasa. Dalam setiap kesempatan mereka begitu 
familiar menyiapkan berton-ton kata-kata dan konsep-konsep abstrak 
melegalkan penghianatan amanat rakyat dihadapan rakyat. Sebuah perpaduan
yang adonannya pas untuk menepis setiap kemungkinan kecurigaan rakyat 
kalau ini tak lebih dari program persengkongkolan kejahatan yang 
paripurna. 

Ironis bila mengingat mereka telah digaji mahal-mahal
dengan uang pajak rakyat untuk sesuatu yang derajatnya jauh lebih mulia
dari sekedar kekuasaan sesaat. Sebuah momentum pamrih politik demi 
investasi menggiurkan menjelang Pemilu 2014 nanti.

Tak heran jika
banyak politisi mencoba menggunakan amunisi kenaikan BBM bertekad 
menggoyang rezim dengan harapan “siapa tahu bisa jadi pahlawan”. Mereka 
yang secara sadar tidak bakal mampu mendongkel rezim, namun tetap 
berupaya sebagai modal politik menjelang Pemilu 2014 kelak.

Yang 
menggelikan adalah, mereka yang menjejakkan dua kaki ditempat berbeda. 
Satu di pemerintahan dan menjadi bagian dari koalisi dan satu lagi di 
pihak oposisi. Yang model demikan ini tidak pernah alpa memanfaatkan 
momentum dan sentimen publik terhadap kebijakan pemerintah yang memang 
sedikitnya merugikan rakyat dan menguntungkan segelintir taipan kaya 
raya dan asing. Tentu saja jalan bejad seperti itu adalah bagian dari 
investasi menggiurkan menjelang Pemilu 2014 nanti.

Sebab, sudah 
jadi rahasia umum kalau sektor energi Indonesia, khususnya minyak dan 
gas, banyak bergantung kepada pendanaan dan kehadiran predator asing 
utamanya AS. ”Posisi tawar Indonesia dibidang energi,” menurut Priagung 
Rahmanto dari Reforminer Institue, ”sangat lemah.” Sekitar 55% produksi 
minyak mentah Indonesia ada di tangan Chevron, katanya. Di tengah 
seratnya anggaran negara, penurunan produksi minyak mentah dari 
perusahaan seperti Chevron tentu adalah hal terakhir yang ingin didengar
pemerintah. Tapi, kata Priagung, Indonesia tak serta-merta harus 
membebek. ”Kita harus menghitung apa yang bakal kita dapat dari patuh 
kepada aS,” katanya.

Dia pribadi bilang Indonesia tak perlu 
tunduk. Tapi apakah politisi-politisi diatas masih punya nyali untuk 
tidak berkata "IYA" kepada Amerika Serikat? 

Senada dengan apa 
yang dikatakan oleh Rahmanto, Hasyim Muzadi juga menilai pemerintah saat
ini lebih takut kepada pihak asing daripada membela kepentingan 
rakyatnya sendiri. "Di sinilah letaknya, mengapa pihak asing selalu 
mendesak pemerintah untuk mencabut subsidi. Tentu itu bukan untuk 
kepentingan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," kata Hasyim 
Muzadi di Jakarta, Selasa (27/3).

Pro-kontra kenaikan harga BBM 
adalah ekses otomatis yang akan dihadapi bangsa ini, kapan saja dan 
dimana saja, bahkan rakyat terpaksa harus berhadap-hadapan dengan 
TNI/Polri, pilar negara kebanggaan jutaan warga sebangsa. 

Tapi, 
kencangnya tekanan asing dan ketertundukan pemerintah pada kehendak 
perusahaan predator kaya raya utamanya AS, akan memaksa pemerintah untuk
tidak punya pilihan selain menggolkan kenaikan harga BBM. Sementara 
politisi yang koar-koar teriak keadilan di luar sana, bisa dibilang 
adalah mereka yang tak bisa ikut menikmati dan merayakan nikmatnya kue 
politik dan kekuasaan. Sebagian adalah mereka yang memang sejak awal 
terpelanting dan tidak bisa merasakan lezatnya kue kekuasaan. Sebagian 
lagi adalah mereka yang tidak dapat tempat karena seat pesawat kekuasaan
SBY “sudah penuh”. Bahkan sebagian lagi belum pernah mengecap kekuasaan
dan belakangan terang-terangan menyatakan perlawanan atas rezim.

Dan,
ancaman Washinton untuk Indonesia sebenarnya bukan cerita baru meski 
ini jarang di ketahui publik umum. Tapi bagi politisi dan pejabat elit 
di Jakarta sana, tentu sangat fasih dan familiar memahami persoalan ini,
tapi mengapa mereka tetap anteng dan tenang menggerendel mulut mereka? 
[Islam Times/on] Redaksi Islam Times

Kirim email ke