Benang KUSUT ! Itulah kata2 paling tepat untuk uraiaan kang Muhammaad Zen ini.
Benar apa yaang dikatakan Akang Muhammad zen, walaupun raasanya kurang 
sistimatis; tapi secara keseluruhan apa yang ditulisnya mengandung kebenaran.

Kita tidak tahu siapa yang akan mampu mengurai benang kusut ini ? Atau mungkin 
saaja tak ada satupun yang MAMPU. Jadi kalau deemikian, yang aakan dilaakukaan 
semua orang, siapapun dia , adalaah mencari jalan paling mudah, apakah itu akan 
memecahkan masalaah aatau tidak; sudah gak penting lagi !

Terlalu banyak yang harus dibenahi, terlalu banyak yang harus dipikirkaan; 
terlalu banyak keruwetan dan berbelit belit didalamnya. Semuanya serba runyam 
dan ssulit; membikin kita semua sakit kepala ! Dan ini kenyataan ! Bukan mimpi 
! Ini kenyataan yaang sangat pahit yang harus dihaadapi oleh Bangsa ini.

Terlalu banyak keruwetan didalamnya, terlalu banyak manusia yang memanfaatkan 
situasi bukan untuk kepentingan Bangsa, tapi kepentingan kelompok dan golongan.
Artinya hampir tak ada pemikir yang benar2 ihlas; tak ada pemikir yang benar2 
jujur; semua ada pamrih2 tertentu. Ini menambah rumitnya masalah.  

Kita terpaksa menerima apa adanya saja; apa yang nampak dipermukaan, itulah 
yang mau tidak mau harus kita terima. Masalah di NKRI sudaah seperti lingkaraan 
setang atau benang kusut; yang tetap kita harapkan adalaah : adakah yang bisa 
mengurai benang kusut ini ? Entahlah

--- On Sat, 3/31/12, Mohammad zen <[email protected]> wrote:

From: Mohammad zen <[email protected]>
Subject: [kisunda] Minyak BBM, siapa yang salah
To: "[email protected]" <[email protected]>, 
"[email protected]" <[email protected]>
Date: Saturday, March 31, 2012, 12:02 PM








 



  


    
      
      
      http://islamtimes.org/vdcg7y9qxak9tz4.1ira.html



menurut hemat saya, demo tidak cukup disini

tetapi harus ke kepalanya yaitu Amerika, sebab dengan kelakuan brengsek amerika 
dan eropa terus menggempur perekonomian

Iran dan menyetop minyak iran di eropa, akhirnya kita kena imbasnya juga...

Iran bilang: mau diembargo ke dari 32 tahun lalu sudah diembargo, mau dipotong 
minyak iran, mangga, siapa yang butuh...






Demo Anti BBM Naik

Demo BBM: Ancaman Amerika dan Politik Pamrih

Islam Times- Dalam setiap kesempatan mereka begitu familiar menyiapkan 

berton-ton kata-kata dan konsep-konsep abstrak melegalkan penghianatan 

amanat rakyat dihadapan rakyat. Sebuah perpaduan yang adonannya pas 

untuk menepis setiap kemungkinan kecurigaan rakyat kalau ini tak lebih 

dari program persengkongkolan kejahatan yang paripurna.



Vivanews

Demo dan protes atas rencana pemerintah untuk menaikkan tarif BBM 

kali ini tidak saja membawa emosional juga membawa berbagai sudut 

dimensi moral. Dan gregetnya, aksi ini menimbulkan gempa politik dan 

gemuruh yang meledak-ledak dari yang mengusung ideologi hingga yang 

hanya sekedar hura-hura dan pura-pura. 



Gemuruh ledakan gempa 

politik semakin parah lagi saat para politisi mengerahkan massanya yang 

nampak sekali sedang berlomba mencari muka untuk mensterilkan wajah 

mereka yang sudah bopeng dan lebam untuk kemudian menyibukkan diri 

mendongkrak citra dan rasa. Dalam setiap kesempatan mereka begitu 

familiar menyiapkan berton-ton kata-kata dan konsep-konsep abstrak 

melegalkan penghianatan amanat rakyat dihadapan rakyat. Sebuah perpaduan

 yang adonannya pas untuk menepis setiap kemungkinan kecurigaan rakyat 

kalau ini tak lebih dari program persengkongkolan kejahatan yang 

paripurna. 



Ironis bila mengingat mereka telah digaji mahal-mahal

 dengan uang pajak rakyat untuk sesuatu yang derajatnya jauh lebih mulia

 dari sekedar kekuasaan sesaat. Sebuah momentum pamrih politik demi 

investasi menggiurkan menjelang Pemilu 2014 nanti.



Tak heran jika

 banyak politisi mencoba menggunakan amunisi kenaikan BBM bertekad 

menggoyang rezim dengan harapan “siapa tahu bisa jadi pahlawan”. Mereka 

yang secara sadar tidak bakal mampu mendongkel rezim, namun tetap 

berupaya sebagai modal politik menjelang Pemilu 2014 kelak.



Yang 

menggelikan adalah, mereka yang menjejakkan dua kaki ditempat berbeda. 

Satu di pemerintahan dan menjadi bagian dari koalisi dan satu lagi di 

pihak oposisi. Yang model demikan ini tidak pernah alpa memanfaatkan 

momentum dan sentimen publik terhadap kebijakan pemerintah yang memang 

sedikitnya merugikan rakyat dan menguntungkan segelintir taipan kaya 

raya dan asing. Tentu saja jalan bejad seperti itu adalah bagian dari 

investasi menggiurkan menjelang Pemilu 2014 nanti.



Sebab, sudah 

jadi rahasia umum kalau sektor energi Indonesia, khususnya minyak dan 

gas, banyak bergantung kepada pendanaan dan kehadiran predator asing 

utamanya AS. ”Posisi tawar Indonesia dibidang energi,” menurut Priagung 

Rahmanto dari Reforminer Institue, ”sangat lemah.” Sekitar 55% produksi 

minyak mentah Indonesia ada di tangan Chevron, katanya. Di tengah 

seratnya anggaran negara, penurunan produksi minyak mentah dari 

perusahaan seperti Chevron tentu adalah hal terakhir yang ingin didengar

 pemerintah. Tapi, kata Priagung, Indonesia tak serta-merta harus 

membebek. ”Kita harus menghitung apa yang bakal kita dapat dari patuh 

kepada aS,” katanya.



Dia pribadi bilang Indonesia tak perlu 

tunduk. Tapi apakah politisi-politisi diatas masih punya nyali untuk 

tidak berkata "IYA" kepada Amerika Serikat? 



Senada dengan apa 

yang dikatakan oleh Rahmanto, Hasyim Muzadi juga menilai pemerintah saat

 ini lebih takut kepada pihak asing daripada membela kepentingan 

rakyatnya sendiri. "Di sinilah letaknya, mengapa pihak asing selalu 

mendesak pemerintah untuk mencabut subsidi. Tentu itu bukan untuk 

kepentingan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," kata Hasyim 

Muzadi di Jakarta, Selasa (27/3).



Pro-kontra kenaikan harga BBM 

adalah ekses otomatis yang akan dihadapi bangsa ini, kapan saja dan 

dimana saja, bahkan rakyat terpaksa harus berhadap-hadapan dengan 

TNI/Polri, pilar negara kebanggaan jutaan warga sebangsa. 



Tapi, 

kencangnya tekanan asing dan ketertundukan pemerintah pada kehendak 

perusahaan predator kaya raya utamanya AS, akan memaksa pemerintah untuk

 tidak punya pilihan selain menggolkan kenaikan harga BBM. Sementara 

politisi yang koar-koar teriak keadilan di luar sana, bisa dibilang 

adalah mereka yang tak bisa ikut menikmati dan merayakan nikmatnya kue 

politik dan kekuasaan. Sebagian adalah mereka yang memang sejak awal 

terpelanting dan tidak bisa merasakan lezatnya kue kekuasaan. Sebagian 

lagi adalah mereka yang tidak dapat tempat karena seat pesawat kekuasaan

 SBY “sudah penuh”. Bahkan sebagian lagi belum pernah mengecap kekuasaan

 dan belakangan terang-terangan menyatakan perlawanan atas rezim.



Dan,

 ancaman Washinton untuk Indonesia sebenarnya bukan cerita baru meski 

ini jarang di ketahui publik umum. Tapi bagi politisi dan pejabat elit 

di Jakarta sana, tentu sangat fasih dan familiar memahami persoalan ini,

 tapi mengapa mereka tetap anteng dan tenang menggerendel mulut mereka? 

[Islam Times/on] Redaksi Islam Times

    
     

    
    






  



Kirim email ke