Assalamualaikum, 
Dupi  aya wargi nu tiasa masihan kontak Neng Sinta Ridwan? Simkuring peryogi 
pisan. 
Hatur nuhun sateuacana. 

Darmawan Sepriyossa 
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: Ki Hasan <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 14 Apr 2012 21:58:10 
To: Ki Sunda<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: Baraya Sunda<[email protected]>; Urang 
Sunda<[email protected]>
Subject: [kisunda] Re: Tokoh - Sinta Ridwan, Bandung

Sinta Ridwan: “Berteman Dengan Kematian”, “Bersahabat Dengan Makna
Kehidupan”
 14 Oct

 JIKA ada ungkapan, bahwa musibah adalah berkah, rupanya itu bukanlah
mengada-ada atau ucapan pelipur lara. Mungkin banyak orang yang pernah
ditimpa misibah, kemudian ia mengambil hikmahnya dan akhirnya ia sadar
bahwa itu berkah.

Orang miskin belum tentu sengsara, orang sakit belum tentu menderita.
Banyak orang miskin dan orang sakit justru bisa hidup bahagia. Mengapa?
Jawabanya dapat disimak ketika Dewi Kunti berdialog dengan Krishna dalam
epos Mahabharata. Suatu hari Krishna berkata, “Bibi, tampaknya bibi hidup
menderita, hidup dalam serba kekurangan. Kalau bibi mau, aku akan beri bibi
hidup dengan segala kemewahan.”

Apa jawab Kunti? “Nak, bibimu ini tidak menginginkan kemewahan duniawi.
Bibi justru merasa bahagia dalam penderitaan. Karena dengan hidup seperti
ini, bibimu selalu berdoa, menyebut nama Tuhan berulang-ulang sehingga
merasa selalu dekat dengan Tuhan. Adakah yang lebih bahagia selain dekat
dengan Tuhan?”

Dialog Krishna dan Kunti itu rupanya memiliki makna yang sama, jika kita
menyimak pengakuan Sinta dalam bkunya: “Berteman Dengan Kematian”. Di atas
planet bumi ini, mungkin tidak banyak orang seperti Sinta. Seorang gadis
pengidap lupus, suatu penyakit yang setara dengan HIV/AIDS yang belum ada
obatnya. Penyakit itu membuat tubuhnya melemah dari hari kehari.

Penampilannya  selalu  percaya   diri  dan  penuh   senyum.  Jika  Anda
pertama kali melihatnya, mungkin  tak  akan menyangka,  jika   gadis
berusia 26 tahun  ini  adalah  penyandang lupus, penyakit  yang   hingga
kini belum ada  obatnya.

Namun ironisnya, penyakit itu justru membuat Sinta tampak tegar. Penyakit
itu membuat ia sadar, bahwa Dewa Kematian selalu tersenyum, melambaikan
tangan di depannya. Karena itu pula, Sinta ingin memberi makna hidup ini
agar lebih berarti. Mumpung masih hidup, Sinta ingin berbuat sesuatu yang
berguna dan penuh makna.

Itu bisa ia buktikan, terbukti ia berhasil merogoh mutiara hidup dalam
penderitaannya. Sinta yang lahir dari keluarga broken home dapat membiayai
hidup dan kuliahnya sendiri. Bahkan ia menanggung kuliah adiknya, dan
justru memberikan semangat hidup buat orang-orang di sekelilingnya.
Jangankan orang sakit, orang sehatpun jarang seperti itu.

Sinta yang baru menamatkan kuliah S2 di jurusan  Filiologi Universitas
Padjajaran ini   menganggap obat yang paling mujarap dari segala penyakit
adalah rasa  bahagia.“ Jadi kalau kita sakit, jangan dirasakan kalau kita
sakit, tetapi kita  harus berpikir sesuatu yang menyenangkan dan terus
tersenyum walaupun kita  sedang sakit,” ucap Sinta.

Pengalaman Sinta dengan penyakit lupus yang telah dideritanya sejak  tahun
2005 lalu dia catatkan dalam sebuah buku otobiografi berbentuk  novel
berjudul “Berteman  Dengan Kematian”.  Dalam buku itu Sinta menceritakan
tentang perjuangan dirinya untuk berjuang  melawan lupus yang  bersemayam
di dalam  tubuhnya.

Untuk mengisi hari-harinya wanita yang hobi membuat puisi ini berusaha
untuk memberikan manfaat bagi orang sekitarnya. Salah satu upaya Sinta
untuk  memberikan arti hidupnya bagi orang lain dan bangsa ini adalah
dengan cara  mengajarkan naskah kuno sesuai dengan latar belakangnya
sebagai seorang Fiolog.

Dengan ilmu itu Sinta membuka kelas aksara kuno di Gedung  Indonesia
Menggugat, di  Jalan Perintis  kemerdekaan Bandung. Kelas aksara kuno atau
yang disingkat kelas Aksakun ini  pertama kali dibentuk pada tahun 2009
atas dasar gagasan dari seniman-seniman  beraliran  metal yang beralamat di
Ujung Berung, Bandung.

Dari dorongan para seniman yang biasa memainkan musik cadas itulah kelas
aksakun  berdiri dengan jumlah murid sebanyak 35 orang. Pengikut aksakun
mengalami  pasang surut. Tercatat  dari awal beridiri hingga sekarang
orang-orang yang pernah naskah kuno oleh  Sinta sekitar 200 orang.

Murid yang mengikuti kelas aksakun terdiri dari pelajar, mahasiswa, hingga
masyarakat  umum. Sinta mengaku tujuan dibentuknya kelas  aksakun ini
adalah untuk menjaga dan melestarikan naskah-naskah kuno yang  merupakan
warisan masa lalu.

“Tidak ada masa kini tanpa adanya masa lalu, dan itu semua  tertuang di
dalam naskah kuno,” ungkapnya. Sinta membebaskan teman-temanya yang
mengikuti pelajaran naskah kuno itu untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat
sesuai dengan keinginannya masing-masing.

Banyak dari murid Sinta yang membuat tulisan kuno  untuk dijadikan
*design* dalam
sebuah  kaos, dan poster-poster. Selain itu ada juga murid yang membuat
lirik lagu yang mengadaptasi dari  naskah-naskah kuno.

Menurut Sinta di dalam naskah kuno itu terdapat  berbagai macam kandungan
diantaranya gaya hidup, kesehatan, tuntutan manusia agar dapat  menghargai
alam, dan sastra orang-orang masa laliu.

Kecintaan Sinta terhadap naskah kuno mengalahkan rasa  sakit akibat lupus.
Sinta mengaku jika sedang tidak enak badan tidak  menyurutkan dia untuk
absen tidak mengajar kelas aksara kuno, “karena dengan  mengajar saya
menjadi bahagia dan itu bisa mengalihkan rasa sakit saya,”  akunya.

Selain itu Sinta di tengah keterbatasan fisiknya  akibat lupus itu
bercita-cita ingin membangun sebuah museum digital yang akan  diberi nama
ensiklopedia naskah kuno. Tujuan dari pembuatan museum digital itu  adalah
untuk memudahkan orang-orang agar dapat mengakses naskah kuno dengan  mudah.

Sinta  beranggapan selama ini orang-orang jarang mempelajari ataupun
membaca  naskah-naskah kuno itu karena sulitnya mengakses catatan-catatan
orang-orang  dari masa lalu yang tersebebar di seluruh penjuru nusantara.
Dengan hadirnya  museum digital itu akan memudahkan orang-orang untuk
mempelajari sejarahnya  langsung dari sumber sejarah tanpa harus berusasah
payah pergi ke museum.

Sumber:

   1.
   
www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=15&id=44373<http://www.kickandy.com/hope/hope/sinopsis/profilenarsum/read/1867/Sinta-Ridwan.html>
   2.
   www.kickandy.com/hope/hope/sinopsis/profilenarsum/read/1867/Sinta-Ridwan.html

Related articles, courtesy of Zemanta:

Kirim email ke