Sinta Ridwan: Gadis Lupus yang Bercita-cita Bangun Museum Digital Naskah
Kuno Indonesia
Oktober 21, 2011
 tags: Aksakun <http://indonesiaproud.wordpress.com/tag/aksakun/>, Buku
Berteman Dengan
Kematian<http://indonesiaproud.wordpress.com/tag/buku-berteman-dengan-kematian/>,
ensiklopedia naskah
kuno<http://indonesiaproud.wordpress.com/tag/ensiklopedia-naskah-kuno/>,
Fiolog <http://indonesiaproud.wordpress.com/tag/fiolog/>, Sinta
Ridwan<http://indonesiaproud.wordpress.com/tag/sinta-ridwan/>,
Unpad <http://indonesiaproud.wordpress.com/tag/unpad/>

<http://indonesiaproud.files.wordpress.com/2011/10/sinta-ridwan-di-indonesiaproud-wordpress-com.gif>Jika
Anda pertama kali melihatnya, mungkin tak akan menyangka, jika gadis
berusia 26 tahun ini adalah penyandang lupus, penyakit yang hingga kini
belum ada obatnya, karena penampilannya selalu percaya diri dan penuh
senyum.

Sinta 
Ridwan<http://indonesiaproud.wordpress.com/2011/10/21/sinta-ridwan-gadis-lupus-yang-bercita-cita-bangun-museum-digital-naskah-kuno-indonesia/>yang
baru menamatkan kuliah S2 di jurusan Filiologi Universitas Padjadjaran
(Unpad) Bandung ini menganggap obat yang paling mujarab dari segala
penyakit adalah rasa bahagia.**

*“ Jadi kalau kita sakit, jangan dirasakan kalau kita sakit, tetapi
kita harus berpikir sesuatu yang menyenangkan dan terus tersenyum walaupun
kita sedang sakit,”* ucap Sinta.

[image: sinta ridwan di
indonesiaproud.wordpress.com]<http://indonesiaproud.files.wordpress.com/2011/10/sinta-ridwan-di-indonesiaproud-wordpress-com.jpg>Pengalaman
Sinta dengan penyakit lupus yang telah dideritanya sejak tahun 2005 lalu
dia catatkan dalam sebuah buku otobiografi berbentuk novel berjudul
“*Berteman Dengan
Kematian*”. Dalam buku itu Sinta menceritakan tentang perjuangan dirinya
untuk berjuang  melawan lupus yang bersemayam di dalam  tubuhnya.

Untuk mengisi hari-harinya wanita yang hobi membuat puisi ini berusaha
untuk memberikan manfaat bagi orang sekitarnya. Salah satu upaya Sinta
untuk  memberikan arti hidupnya bagi orang lain dan bangsa ini adalah
dengan cara mengajarkan naskah kuno sesuai dengan latar belakangnya sebagai
seorang Fiolog.

Dengan ilmu itu Sinta membuka kelas aksara kuno di Gedung Indonesia
Menggugat, di Jalan Perintis  kemerdekaan Bandung. Kelas aksara kuno atau
yang disingkat kelas Aksakun ini  pertama kali dibentuk pada tahun 2009
atas dasar gagasan dari seniman-seniman beraliran metal yang beralamat di
Ujung Berung, Bandung.

Dari dorongan para seniman yang biasa memainkan musik cadas itulah kelas
aksakun berdiri dengan jumlah murid sebanyak 35 orang. Pengikut aksakun
mengalami pasang surut. Tercatat dari awal beridiri hingga sekarang
orang-orang yang pernah naskah kuno oleh Sinta sekitar 200 orang.

Murid yang mengikuti kelas aksakun terdiri dari pelajar, mahasiswa, hingga
masyarakat umum. Sinta mengaku tujuan dibentuknya kelas  aksakun ini adalah
untuk menjaga dan melestarikan naskah-naskah kuno yang merupakan warisan
masa lalu.

*“Tidak ada masa kini tanpa adanya masa lalu, dan itu semua  tertuang di
dalam naskah kuno,”* ungkapnya. Sinta membebaskan teman-temanya
yang mengikuti pelajaran naskah kuno itu untuk mengaplikasikan ilmu yang
didapat sesuai dengan keinginannya masing-masing.

Banyak dari murid Sinta yang membuat tulisan kuno untuk dijadikan desain
kaos dan poster. Selain itu, ada juga murid yang membuat lirik lagu yang
mengadaptasi dari naskah-naskah kuno.

Menurut Sinta, di dalam naskah kuno itu terdapat berbagai macam kandungan
di antaranya gaya hidup, kesehatan, tuntutan manusia agar dapat menghargai
alam, dan sastra orang-orang masa lalu.

Kecintaan Sinta terhadap naskah kuno mengalahkan rasa sakit akibat lupus.
Sinta mengaku jika sedang tidak enak badan tidak  menyurutkan dia untuk
absen tidak mengajar kelas aksara kuno, *“Karena dengan  mengajar saya
menjadi bahagia dan itu bisa mengalihkan rasa sakit saya,”* akunya.

Selain itu Sinta di tengah keterbatasan fisiknya akibat lupus itu
bercita-cita ingin membangun sebuah museum digital yang akan diberi nama
ensiklopedia naskah kuno. Tujuan dari pembuatan museum digital itu adalah
untuk memudahkan orang-orang agar dapat mengakses naskah kuno dengan mudah.

Sinta beranggapan selama ini orang-orang jarang mempelajari ataupun membaca
naskah-naskah kuno itu karena sulitnya mengakses catatan-catatan
orang-orang dari masa lalu yang tersebebar di seluruh penjuru nusantara.

Dengan hadirnya museum digital itu akan memudahkan orang-orang untuk
mempelajari sejarahnya langsung dari sumber sejarah tanpa harus bersusah
payah pergi ke museum.

Sumber:* 
kickandy.com/hope<http://indonesiaproud.wordpress.com/2011/10/21/sinta-ridwan-gadis-lupus-yang-bercita-cita-bangun-museum-digital-naskah-kuno-indonesia/>
*


**

Kirim email ke