Dina film klasik, silat Cina, mindeng manggihan pendekar mawa 'Kanjut
Kundang' keur wadah duit, boh keur kaperluan balanja atawa bekel ngalalana.
Mun tea mah duit keretas nu ayeuna ilahar dipake diganti ku duit logam,
jiga dinar jeung dirham, wayahna kudu siap-siap ngaganti dompet ku 'kanjut
kundang'.
===
Perangi Riba dengan Penggunaan Dinar dan DirhamJumat, 07/12/2012 - 14:31

CIREBON,(PRLM).-Sultan Sepuh, Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Arief
Natadiningrat bersama Prof. Umar Ibrahim Vadillo, cendekiawan Muslim asal
Spanyol serta para pengusaha memprakarsai penggunaan Dinar (alat tukar dari
emas) dan Dirham (alat tukar dari perak) yang nilainya tetap stabil.
Peluncuran Dinar dan Dirham itu berlangsung di Keraton Kasepuhan Cirebon.

"Lounching Dinar dan Dirham berlogo Keraton Kasepuhan Cirebon tersebut
berlangsung Kamis kemarin di Kasepuhan yang dihadiri oleh Professor Umar
Ibrahim Vadillo yang memelopori kembalinya Dinar dan Dirham sebagai alat
tukar," kata Sultan Arief, Jumat (7/12).

Menurut Arief, sekarang sudah waktunya meninggalkan rupiah dan menggantikan
alat tukar transaksi jual beli dengan Dinar dan Dirham, alat tukar yang
sebenarnya.

Sultan Arief Natadiningrat, menambahkan, sangat bersyukur atas dipilihnya
Cirebon sebagai daerah yang dipercaya untuk mengembalikan kejayaan Dinar
dan Dirham yang memiliki nilai tukar 2,5 juta rupiah untuk satu Dinar serta
70 ribu rupiah untuk setiap keping Dirham.

"Apa lagi jika melihat sejarah, Sunan Gunungjati juga semasa beliau
jumeneng di Cirebon menggunakan alat tukat Dinar dan Dirham," katanya.

Hadir pada saat lounching, Direktur Wakala Induk Nusantara (WIN), Zaim
Sayyidi, Ketua Nasional Jaringan Wirausahawan Pengguna Dinar dan Dirham
(JAWARA), Abdarrahman, sejumlah tokoh pengusaha lainnya.

Umar Ibrahim Vadillo dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh Zaim
Sayyidi mengungkapkan, Dinar dan Dirham sangat berguna sebagai alat tukar
yang tak akan pernah mengalami inflasi seperti dialami oleh berbagai mata
uang lainnya pada waktu sekarang. Keduanya dianggap sangat pas untuk
dijadikan alat tukar di seluruh negara-negara di dunia.

Vadillo mengakui, setelah Kekhalifahan Usmani Turki pada tahun 1924, Dinar
dan Dirham yang terbuat dari logam mulia tersebut mendadak lenyap
peredarannya. Mereka beralih kepada uang pecahan kertas yang tidak
menyandarkan pada emas dan perak hingga rentan terkena inflasi.

"Saya sangat prihatin dengan nasib mata uang kertas, terutama rupiah yang
selama ini beredar, sudah tanpa disadari tidak memiliki nilai apa-apa,"
kata Vadillo.

Dia beralasan, karena dalam produksinya, hanya dibatasi oleh aturan
konvensional antar pemimpin negara besar, khususnya mereka para pencetak
uang kertas. Seperti Amerika Serikat, sewaktu pemerintahan Presiden Barrack
Obama saja sudah mencetak setidaknya 1.000 triliun Dollar di negara adidaya
tersebut.

Justru hal ini yang bisa mengakibatkan uang kertas sekarang tak bernilai.
Jauh berbeda dengan Dinar dan Dirham yang mengikuti harga emas dan perak.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan dan penting atas penggunaan kembali
Dinar dan Dirham, lanjut Vadillo,

untuk memerangi perkembangan riba di semua bank. Sebab perekonomian dunia
semakin hancur itu akibat perkembangan riba yang sudah tak terkendali.
Padahal, dalam Alkuran sudah jelas, Alloh menghalalkan perniagaan dan
mengharamkan riba.

Jika Ummat Islam menggunakan Dinar dan Dirham, artinya bisa memerangi riba.
Diterangkan, koin Dinar dan Dirham yang dengan mencantumkan logo Kasultanan
Kasepuhan tersebut diproduksi di Amerika Serikat, tetapi, desainnya di
Kazakstan.(A-146/A-107).***
http://www.pikiran-rakyat.com/node/214253

Kirim email ke