Hehehe. Lain Kang Obay, na ari riba pakait jeung bentuk fisik mata uang kitu?
2012/12/9 Obay <[email protected]> > ** > > > ** Hanjakal beritana teu jero, padahal sistem mata uang mah lain ngan > ukur babandingan pisik wungkul. Didinnya aya nilai ekspektasi. Hartina > lamun dinar ngan dijamin ku niali pisikna, teu beda jeung emas biasa. > > Anu kuring hemeng dina berita ieu, jang Vadillo nyebutkeun sistem duit > ayeuna teh goreng alatan ulon-ulona amerika. Tapi geuning Dinar na dicitak > di amerika. Asa ningali karikatur mahasiswa demo ngaboikot amerika bari > marake lepis jeung ngarinum kokakola, murak bekel burger mekdi. Tojaiah. > Powered by Kejo BearĀ® > ------------------------------ > *From: * Ki Hasan <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Sun, 9 Dec 2012 09:17:09 +0800 > *To: *Ki Sunda<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Cc: *Baraya Sunda<[email protected]>; Urang Sunda< > [email protected]> > *Subject: *[Urang Sunda] Dompet vs Kanjut Kundang? > > > > Dina film klasik, silat Cina, mindeng manggihan pendekar mawa 'Kanjut > Kundang' keur wadah duit, boh keur kaperluan balanja atawa bekel ngalalana. > Mun tea mah duit keretas nu ayeuna ilahar dipake diganti ku duit logam, > jiga dinar jeung dirham, wayahna kudu siap-siap ngaganti dompet ku 'kanjut > kundang'. > === > Perangi Riba dengan Penggunaan Dinar dan DirhamJumat, 07/12/2012 - 14:31 > > CIREBON,(PRLM).-Sultan Sepuh, Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Arief > Natadiningrat bersama Prof. Umar Ibrahim Vadillo, cendekiawan Muslim asal > Spanyol serta para pengusaha memprakarsai penggunaan Dinar (alat tukar dari > emas) dan Dirham (alat tukar dari perak) yang nilainya tetap stabil. > Peluncuran Dinar dan Dirham itu berlangsung di Keraton Kasepuhan Cirebon. > > "Lounching Dinar dan Dirham berlogo Keraton Kasepuhan Cirebon tersebut > berlangsung Kamis kemarin di Kasepuhan yang dihadiri oleh Professor Umar > Ibrahim Vadillo yang memelopori kembalinya Dinar dan Dirham sebagai alat > tukar," kata Sultan Arief, Jumat (7/12). > > Menurut Arief, sekarang sudah waktunya meninggalkan rupiah dan > menggantikan alat tukar transaksi jual beli dengan Dinar dan Dirham, alat > tukar yang sebenarnya. > > Sultan Arief Natadiningrat, menambahkan, sangat bersyukur atas dipilihnya > Cirebon sebagai daerah yang dipercaya untuk mengembalikan kejayaan Dinar > dan Dirham yang memiliki nilai tukar 2,5 juta rupiah untuk satu Dinar serta > 70 ribu rupiah untuk setiap keping Dirham. > > "Apa lagi jika melihat sejarah, Sunan Gunungjati juga semasa beliau > jumeneng di Cirebon menggunakan alat tukat Dinar dan Dirham," katanya. > > Hadir pada saat lounching, Direktur Wakala Induk Nusantara (WIN), Zaim > Sayyidi, Ketua Nasional Jaringan Wirausahawan Pengguna Dinar dan Dirham > (JAWARA), Abdarrahman, sejumlah tokoh pengusaha lainnya. > > Umar Ibrahim Vadillo dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh Zaim > Sayyidi mengungkapkan, Dinar dan Dirham sangat berguna sebagai alat tukar > yang tak akan pernah mengalami inflasi seperti dialami oleh berbagai mata > uang lainnya pada waktu sekarang. Keduanya dianggap sangat pas untuk > dijadikan alat tukar di seluruh negara-negara di dunia. > > Vadillo mengakui, setelah Kekhalifahan Usmani Turki pada tahun 1924, Dinar > dan Dirham yang terbuat dari logam mulia tersebut mendadak lenyap > peredarannya. Mereka beralih kepada uang pecahan kertas yang tidak > menyandarkan pada emas dan perak hingga rentan terkena inflasi. > > "Saya sangat prihatin dengan nasib mata uang kertas, terutama rupiah yang > selama ini beredar, sudah tanpa disadari tidak memiliki nilai apa-apa," > kata Vadillo. > > Dia beralasan, karena dalam produksinya, hanya dibatasi oleh aturan > konvensional antar pemimpin negara besar, khususnya mereka para pencetak > uang kertas. Seperti Amerika Serikat, sewaktu pemerintahan Presiden Barrack > Obama saja sudah mencetak setidaknya 1.000 triliun Dollar di negara adidaya > tersebut. > > Justru hal ini yang bisa mengakibatkan uang kertas sekarang tak bernilai. > Jauh berbeda dengan Dinar dan Dirham yang mengikuti harga emas dan perak. > > Hal lain yang perlu dipertimbangkan dan penting atas penggunaan kembali > Dinar dan Dirham, lanjut Vadillo, > > untuk memerangi perkembangan riba di semua bank. Sebab perekonomian dunia > semakin hancur itu akibat perkembangan riba yang sudah tak terkendali. > Padahal, dalam Alkuran sudah jelas, Alloh menghalalkan perniagaan dan > mengharamkan riba. > > Jika Ummat Islam menggunakan Dinar dan Dirham, artinya bisa memerangi riba. > Diterangkan, koin Dinar dan Dirham yang dengan mencantumkan logo > Kasultanan Kasepuhan tersebut diproduksi di Amerika Serikat, tetapi, > desainnya di Kazakstan.(A-146/A-107).*** > http://www.pikiran-rakyat.com/node/214253 >
