Baraya,

Mangsa usum pisan korupsi ayeuna teh. Dimana mendi anu diuruskeun teh
korupsi. Dina layar kaca saban poe katempo beungeut koruptor atawa beungeut
anu kuat sangkaan manehna koruptor.

Al Qur'an (kanggo ummat Islam/ anu percanten) sabenerna geus maparin
pepeling pikeun ngahulag atawa nyegah supaya henteu ngalakukeun korupsi
atawa kajahatan sejenna, malah memeresna teh tina akarna pisan. Salah
sahijina, sakumaha dina surah Yasin ayat 65: manusa kudu yakin yen dina
hiji waktu engke jaganing geto, leungeun jeung sukuna baris ngomong, mere
kasaksian kana naon anu - basa keur di dunya - dipigawe (leungeun) jeung
kamana ngalengkah (suku).

Di handap ieu syair (rumpaka) kawih tina salah sahiji kawih alm Chrisye anu
kasohor, "Ketika Tangan dan Kaki Berbicara". Istimewana ieu rumpaka teh
dilengkepan ku cariosan anu nganggitna ku anjeun, Bp Taufik Ismail,
ngeunaan kasangtukangna diciptakeunana eta rumpaka, lengkep jeung kumaha
hese beleke-na Chrisye alm ngawihkeunana dina raraga ngarekam eta kawih.
Ceuk Chrisye ku anjeun, eta kawih hiji-hijina kawih anjeunna (anu
saabreg-abreg) anu ngarekamna ngan sakali jadi. Alatan teu kaur ku cimata
tea nalika rekamanana.

Wilujeng maca, mugia manfaat. Hampura teu ditarjamahkeun kana basa Sunda.

manar

---------- Forwarded message ----------
From: Aries Muftie <[email protected]>
Date: 2013/3/16
Subject: [SUARA] Re: *Kenangan Taufik Ismail tentang Chrisye*
To: "[email protected]" <[email protected]>


**


Sangat menyentuh, dan itu memang lagu spiritual

Sent from my iPad

On Mar 16, 2013, at 11:17 AM, Tommy tamtomo <[email protected]> wrote:



Di forward ke saya dari saudara saya, Ade Sumantri, putra nya alm. Prof
Slamet Iman Santoso

Punya makna universal

TT
----------------

Mudah2an berkenan...

Renungan di akhir pekan...

*Kenangan Taufik Ismail tentang Chrisye*


Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata,
”Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya,
tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?” Karena saya
suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti
selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline
sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan
berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah
ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi
relijius.

Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah
seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi
masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu.
Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet,
apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan
saya mau bilang, ” Chris, maaf ya, macet. Sori.”

Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat
65 yang berbunyi, A’udzubillahi minasy syaithonirrojim. “Alyauma nakhtimu
‘alaa afwahihim, watukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu
yaksibuun” saya berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut
mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan
bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” Saya tergugah. Makna ayat
tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa! Saya hidupkan lagi pita
rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke lirik-lirik lagi
tersebut.

Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa
masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah
penulisan lirik itu selesai.

Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Keesokannya dengan
lega saya berkata di telepon,” Chris, alhamdulillah selesai”. Chrisye
sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik
tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar
menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis
lagi, berkali-kali. Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah,
Chrisye – Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309)

bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik
dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada
kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya
benar-benarbenar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu
menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya
berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir.
Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons
saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu.

Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki
Berkata. Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada
kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang
malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan
kesulitan saya.

“Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufiq.
Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana
bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya.

Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan
kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi.
Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur,
sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini.
Dilumpuhkan oleh lagu sendiri! Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu
itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum
direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia
sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya
lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus
untuk mendoakan saya.

Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai.
Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak
sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu,
itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang!
Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja,
rasanya ingin berlari!

Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang
pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar
meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama
menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya
terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan
saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian
mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat
kelak. Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi
dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau
pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada
baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu
sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.

* *
Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran
album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser
untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa
Bang, kurang?” Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik
lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi
saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah
Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan
hak saya. Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai
pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye
menemukan jalan keluar. “Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar
administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah
ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ‘kan?”

Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras
menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya
solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.

* *
Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris
Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk
rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan
adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan
empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album
sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan
pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang
amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga
terbuka lebar baginya. Amin.

Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya…. sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina

  

Kirim email ke