Teu aya moderator/kuncen nu negor ka mang Kabayan nya,  dina perkara kikiriman 
di milis, dimana salah sahiji saratna  satiasana kedah migunakeun basa Sunda. 
Pastina Mang Kabayan ngartos kana perkara ieu, tapi jigana hilap teu aya nu 
negor, dianggapna teu naon-naon. Satiasa-tiasana mah atuh urang teh  diajar 
patuh kana naon anu tos janten kasapukan urang sadaya. 

aya dongengna yeuh. Hiji mangsa, waktos kuring ngahadiran pangleler Rancage di 
gedong Erasmus Huis/Pusat Kebudayaan Belanda di Kuninga Jakarta (taun...?), aya 
Anton Moeliono, salah sawios ahli bahasa Indonesia. Harita teh anu presentasi 
Prof. Haidar Alwasilah perkawis basa Sunda. Moderatornya Mang Ajip Rosidi. 
Kuring ngabatin, pasti bakal rame yeuh.

Pas giliran tanya jawab, Pak Anton Moeliono ngajukeun pertanyaan, hilap deui 
naon anu ditaroskeun. Tapi harita teh moderator netelakeun, yen teu 
samangsa-mangsa upama migunakeun basa daerah bade barontak atawa jadi teu 
nasionalis. Justru ngamumule basa daerah teh ciri seorang nasionalis. (Duka tah 
kumaha upama sabalikna. Saurang putra daerah padahal tiasa basa daerah, tapi 
upama ngedalkeun pipikiranana dina basa Indonesia. Naha nasionalis atanapi alim 
disebat daerahisme).

Peace ah. eh..punten ah.

mrachmatrawyani

--- On Tue, 5/14/13, mang kaby <[email protected]> wrote:

From: mang kaby <[email protected]>
Subject: [Urang Sunda] RE: Indonesia
To: [email protected]
Date: Tuesday, May 14, 2013, 9:26 AM
















 



  


    
      
      
      







Waaaaaaaah segeeernya baca tulisan Pak Upu di bawah Kang Sur….
Nuhuuuuns udah di forward lagi …. Mamang forward ke yang lain juga ya ;)….
Jadi kangen ngobrol-2 n’ ngopi-2 bareng Pak Upu sampe-2 ngak terasa sampe
larut malam hahahaha. Yuuuu aaaah kapan kita kongkow di Balong sambil ngopi cap
teko + ngemil kacang bogor :). 

   

Nah Mamang juga sempet masantren di Imogiri ketemu dengan Ustad
Iskandar juga gara-2 Pak Upu hehehehe…. Ketika itu jalan bareng ke Jogja
& Solo menghadiri temen yang di Wisuda Doktor disana. Ustad Iskandar ini
temen Pak Upu n’ beliau bikin pesantren dengan konsep Sustainable
Development :)… Luar biasa tooop banget… ngak terasa ngobrol yang
tadinya hanya ingin mampir sebentar untuk say hi saja jadinya ngobrol lebih
dari 5 jam sharing knowledge hehehe.  

   

Setuju banget bahwa dasar pendirian Indonesia adalah Idea of a
Nation yang berkeadilan bersama, kemakmuran bersama, kehormatan bersama, dan
keuntungan bersama sesuai yang tercantum dalam UUD 45 dan Pancasila. Bukan
berdasarkan cerita Nusantara yang bekas Jajahannya Gajah Mada ataupun kesamaan
Agama Islam yang mayoritas. Indonesia lebih dari itu…. Kalo beberapa
orang mulai membuat komitmen-2 lainnya yang tidak sejalan dengan ide dasar
pembentukan Indonesia ya pertanyaaan besar. Apa mau seperti Rusia terpecah-2
lagi? Aceh Merdeka, Papua Merdeka, Bali Merdeka, Sunda juga merdekaaaa aaah…
pan ngak ada dalam sejarah Sunda dijajah Gajahmada mah hehehehe.  

   

Indonesia…. Unity in Diversity 

1.      
Ketuhanan Yang Maha Esa. 

2.      
Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. 

3.      
Persatuan Indonesia. 

4.      
Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan / Perwakilan.  

5.      
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. 

   

Bwahahaha Mamang masih apal euy Pancasila hehehe…. Dalem sebenernya
maknanya yang dibuat oleh para pendiri bangsa ini…..
Huuuuuuuuurrrrmaaaaat graaaaaak!! 

   



nuhuuuns, 

mang asep kabayan 

www.dkabayan.com 



   





From:
[email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
suryana

Sent: Tuesday, May 14, 2013 5:47 AM

To: [email protected]

Subject: [kota-bogor] Indonesia 











Menarik disimak, dibawah ini adalah tulisan Oom
UPU ditahun 2004 lalu.

++++++



Nama Indonesia adalah nama yang diberikan kepada gugus kepulauan yang

sekarang dikenal sebagai Indonesia oleh beberapa petualang Inggris maupun

Jerman (Bastian)pada abad ke 16,berasal dari kata Endo-Nesos.

Cerita dari Herr.Bastian ini yang menimbulkan keinginan banyak petualang dan

pedagang Eropa ingin berpetulng ke "sorga diseberang lautan"



Portugis dan Spanyol sudah hilir mudik berdagang digugus kepukauan ini,

tetapi tidak memberikan nama yang "patented"

Arah pelayarannya sedikit di rahasiakan karena takut disaingi.,ada beberapa

orang Belanda yang bekerja dikapal Portugis dan pernah datang ke Banten dan

Maluku,mereka menjadi sumber informasi pedagang Belanda akan adanya pulau

rempah rempah yang kaya.



Beberapa pulau antara lain "Flores" menjadi nama yang patent, yang
berarti

bunga,atau daerah seperti " Natal" (kelahiran), pelaut Portugis
singgah

disana tepat pada hari Natal. dan beberapa lagi nama berasal dari bahasa

Spanyol .



Tidak ada satu kerajaanpun sebelum itu mengenal atau mempunyai teritorial

seperti yang sekarang disebut Negara Republik Indonesia.Semua kerajaan ,

kesultanan atau apapun namanya, merupakan daerah otonoom dan atau bisa saja

merupakan jajahan atau daerah yang "terkalahkan" oleh kerajaan
lainnya.



Agamanya?

Hindu atau animist,Islam di pesisir P.Jawa dan beberapa daerah lainnya

dalam jumlah yang kecil,hasil garapan pedagang Arab.



Sriwijaya, Majapahit,Pajajaran dan setelah itu Mataram dll merupakan

daerah kekuasaan sendiri sendiri, demikian juga daerah daerah lainnya

Keberadaan kerajaan ini jauh sebelum petualang Eropa datang , yang ada hanya

hubungan dengan bangsa bangsa di kawasan Asia.



Perubahan identitas kekuasaan berdasarkan agama disuatu daerah, kerap

terbukti menghancurkan identitas masyarakat yang ada didaerah tsb

Perubahan secara evolusioner dan damai, maupun secara kekerasan.



Kecuali jika ada kompromi yang membuat "warna" agama tsb berbudaya

daerahnya.

Tanpa mengurangi substansi agama itu sendiri,demikian pula bagi penyebaran

agama Islam misalnya.



Apa ada kerajaan atau kesultanan yang akhirnya menjadi kerajaan Islam

dengan nama yang baru karena dinasti yang baru?

Bisa saja,...sesuai perkembangan zaman disaat itu ,dan siapa pemenangnya

dalam perebutan kekuasaan dalam kerajaan tsb



Pemerintah kolonial Belanda berusaha menggunakan "Insulinde" sebagai

pengganti nama jajahannya yang bernama "Nederlands Indie" (India-nya

Belanda)membedakan dengan Indianya Inggris.

Terkadang Nederlands Indie hanya disebut "Indie"



Awalnya , hanya Batavia yang dikenal sebagai kota pelabuhan milik VOC

dikawasan ini."De koningin van het Oosten" kota yang disebut Ratu di
Timur.

(1619)



VOC dan nantinya Kerajaan Belanda mempunyai daerah jajahan lainnya lagi,a.l

Formosa (milik PT,VOC), New Amsterdam (New York sekarang) Aruba ,,Bon Air

Curacao (ABC Eilanden).



Harus diingat, yang menjajah gugus kepulauan Endo-Nesos , awalnya adalah

sebuah Perseroan Terbatas bernama VOC.Bukan Kerajaan Belanda!

Kerajaan Belanda "turun tangan" setelah "BUMN"
VOC(Verenigde Oost Companie)

ini bangkrut pada abad 18.



Nyatanya nama Insulinde tidak begitu populer, sebagian masyarakat asli

menamakan daerah ini sebagai Nusantara, inipun tidak berhasil

disosialisasikan .



Negara kesatuan Republik Indonesia secara "de jure " baru ada sejak
17

Agustus 1945, merupakan komitment pada saat itu dan akhirnya secara "de
jure

pula diakui keberadaannya oleh negara negara lain dan Dewan bangsa bangsa

(sekarang PBB).



Ketika itulah baru "Indonesia" menjadi nama yang dipatentkan untuk
gugus

kepulauan yang sekarang bernama NKRI,dari Sabang sampai Marauke



Salah jika ada yang berbicara "Luka lama jangan dibuka".......dimana

lukanya?

Ini sejarah,...tidak ada yang perlu terluka!

Tenang tenang saja,....Indonesia adalah kesepakatan bangsa bangsa yang

berdiam, berbudaya dan beragama sesuai keinginan atau keberadaannya.



Ketika komitment dibuat ( N. K R.I.), pasti ada "keuntungan" dan

Kepentingan" bersama yang dianggap semua pihak ,terwakili secara adil.
maka

dibuatlah komitment itu!



Dari banyak data dan sumber informasi yang pernah saya telusuri, posisi Aceh

adalah yang paling spesifik.Aceh tidak pernah menjadi bagian administratif

Kolonial Belanda.Sebelum diserang pertama kali pada tahun 1857.



Banyak daerah lain "mengundang" VOC ikut campur dengan imbalan
monopoli

dagang atau pemilikan daerah sebagai imbal jasa membantu fihak yang

bertikai

dalam perebutan kekuasaan ( contoh :Jogya- Solo)

Atau dikalahkan secara militer dalam perebutan daerah perdagangan.



Aceh melakukan perdagangan dengan VOC maupun nantinya dengan pemerintah

kolonial Belanda (setelah bangkrutnya PT.VOC) yang berpusat di Batavia

sebagai negara yang berdaulat, dan diakui kedaulatannya oleh Kolonial

Belanda,Inggris dll.

Ada baiknya jika buku Paul van t'Veer "Atjeh orloog" saya terjemahkan

menjadi tambahan wawasan untuk kita semua.Kapan ya?



Jadi kita sepakat dulu, R.I. adalah suatu produk , komitment bangsa bangsa

yang ada dikawasan Nusantara, Insulinde , Endo Nesos yang dijajah maupun

tidak, oleh Kolonist Kerajaan Belanda, berdasarkan keinginan bersama demi

kemakmuran bersama, keadilan bersama dst.

Berbeda dengan Kerajaan Sriwijaya, Ternate, Bone, Makasar dll...... yang

primordial sifatnya!



Membingungkan memang, beberapa sahabat milis mencampur adukkan , waktu fakta

keinginan membela agamanya, pola pikirnya menjadi sejarah.Ada yang

mencampurkan antara kekhalifahan Islam di Turki (Otoman) dengan wali di Jawa

......pautan waktunya bisa ratusan tahun , minimal puluihan tahun



Islam disebarkan di kawasan ini, melalui perdagangan abad ke 11/12,ada yang

sedang diselidiki saat ini berupa transkripsi ,potongan keramik ,cap,yang

baru didapat dipantai Jawa,(Cirebon) yang diperkirakan berasal dari abad ke

9 Masehi,inipun belum pasti.



Jadi janganlah mencampur adukkan waktu, data, bukti bukti lalu membuat

sejarah" seperti yang kita temui pada cerita Da Vinci Code-nya Dan Brown.

Menegangkan, enak dibaca , tetapi hanya sebagian kecilnya saja mengandung

obyektifitas sejarah.



Indonesia sebagai "Nation" pada hakekatnya dibangun dari sebuah
"Idea",

bukan dibangun dari sebuah "Teritorial"

Teritorial datang belakangan , setelah "penghuni" teritorial tadi
terwakili

kepentingan dan kehendaknya , walaupun masih berupa "Idea"



Sudah semestinyalah sebuah nation dibangun dari sebuah idea, seperti banyak

negara negara lain yang terdiri dari banyak suku dan bangsa berhasil

membangun sebuah nation,contoh dapat kita temui jika kita mau sedikit

berpikir lebih berwawasan.



Kesultanan Aceh, telah cukup lama mencoba mengembangkan ide Nation di

seluruh kawasan Sumatera karena kesamaan kultural yang mereka yakini di

seantero Sumatra(cf bulletin GAM)



Memang sulit jika "nation " dibangun karena hanya alasan "agama
yang sama"

sedangkan teritorinya berjauhan. Contoh Pakistan Timur yang sekarang bernama

Bangladesh,

Muaranya pada perpecahan menjadi 2 negara,Pakistan dan Bangladesh(Ide awal

datang dari Inggris, bukan dari bangsa yang ada disana)



Atau kita tanyakan mengapa Afghanistan tidak bergabung saja dengan Pakistan

karena sama sama Islam?

Atau seluruh negara Arab bergabung saja?



Tidak semudah itu bukan?

Idea membuat "One Nation" ada atau tidak?

Hanya karena mereka bisa sama sama ke mesjid?

Terlalu simplistis!



Tetapi tidak apa apa, berpikir "lain" boleh boleh saja, asal jangan

mensejarahkan pikiran tsb, secara sangat subyektif.



Pengaruh Islam yang sangat kuat di Aceh misalnya,tidak ada duanya di kawasan

Endo-Nesos, tambah kental ketika Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan

menyerang Kesultanan Aceh.



Aceh satu satunya perlawanan dengan membawa identitas agama Islam sebagai

kutub yang berlawanan dengan agama Nasrani yang dianut para penyerangnya

dikutub lainnya.



Anggapan inipun tidak seluruhnya benar.

Sebagian besar penyerang adalah tentara bayaran dari Jawa,Madura, (Islam

agamanya),Bali, Ambon Timor, Makasar ,Jerman, Perancis,bahkan Inggris dan

Afrika jumlah serdadu Belanda tidak mencukupi kebutuhan perang melawan Aceh



Tepatnya tg 1 April 1857 , Aceh Darussalam ditembaki dengan meriam dari

kapal de Citadel van Antwerpen.

Maka ketika itu dapat dikatakan negara Islam yang berdaulat diserang oleh

kolonial Belanda yang bermarkas di P.Jawa (Batavia).



Pada kurun waktu perang Aceh inilah, terjadi hubungan antara Sultan Aceh dan

pemerintah Turki. Sultan Aceh menyerahkkan Kesultanannya, rakyatnya kepada

kesultanan Otoman ,tertuang dalam surat pribadi Sultan Aceh untuk Kesultanan

Turki,karena Turki satu satunya negara Islam yang dapat diandalkan ketika

itu.



Habib Abdurachman el Zahir, penasihat tinggi Sultan Aceh yang membawa surat

penyerahan kedaulatan Aceh tsb (1873) kepada Sultan Turki,agar dilindungi

dan dibantu ketika diserang Belanda.Mengharapkan adanya solidaritas

Islamiyah.



Sebelum itu, memang ada hubungan diplomatik,dagang antara Aceh dng Turki,

demikian pula dengan negara lainnya, tetapi tidak explisit sebagai "ikatan

negara Islamiah".Hanya saling mengakui existensi masing masing.



Abdurachman el Zahir bukan orang Aceh, orang Mesir, diplomat, politikus

ulung yang digaji sebagai penasihat tinggi Sultan Aceh.

Abdurachman melakukan tugasnya dengan sangat profesional, dengan

inteligensia yang tinggi.

Ini diakui oleh Belanda dan dunia saat itu!



Penyerahan yang sia sia,......penyerahan Sultan Aceh diabaikan

Duta besar Inggris dan Belanda yang menanyakan kepada perdana menteri Turki

maksud keberadaan Habib Abdurachman el Zahir di Istambul ketika itu, dijawab

sang menteri:



Kami tidak ingin membuat masalah lebih rumit dengan meladeni bangsa barbar

didaerah yang jauh tsb.



Kata kata ini ada dalam surat balasan perdana menteri Turki disimpan di

arsip Inggris dan Belanda sebagai laporan Duta besar mereka ke pada menteri

mereka masing masing .



Tulisan ini hanya ilustrasi , untuk sedikit memberikan gambaran mengenai

apakah Islam adalah Indonesia, atau apakah Indonesia adalah Islam.

Nyatanya Indonesia adalah komitment, Islam sebagai "agama negara"
hanya ada

di Aceh dan itu jelas bukan Indonesia, sejak awal



Aceh seperti juga daerah lainnya di Indonesia berkomitment menjadi Indonesia

berdasarkan Idea membuat suatu Nation, dengan syarat syarat yang saya

sebutkan diatas, keadilan bersama, keuntungan bersama, kemakmuran bersama

kehormatan bersama dst..dst.....



Jika nantinya, komitment ini menjadi rapuh, karena dirasakan dihianati,

tidak perlu terkejut jika model runtuhnya Republik Rakyat Rusia menjadi

hasilnya dimasa depan, mungkin lebih parah, karena dasar pemikiran agamais

yang dikedepankan.



Jadi kembali dulu-lah pada komitment "Indonesia" yang awal,dengan
kepala

dingin, saling menghormati , tanpa dominansi agama tertentu, suku tertentu,

jangan membelokkan sejarah secara subyektif, gabungkan "kesamaan"
yang kita

miliki, perkecil "perbedaan "yang ada!

Jangan perbedaan di "adu" tetapi kesamaan yang di "padu"



Atau "Indonesia" akan menjadi "Sejarah"........bisa
saja,kalau semua setuju 





 










    
     

    
    






  








Kirim email ke