Xixixi punten da kumaha atuh tulisanna dikirim ka sababaraha milis... Lamun kudu diterjemahkeun heula khusus keur ka milis us jadina rada riweuh hehehe.
Mun teu dikirim ka us oge nyaah meh apal infona hehehe. Tapi bari jeung kitu oge tetep aya harib-2 susundaan anu ditulis ;). Ari ngawales mah teteeep make bahasa sunda Kang ;). nuhuuuuns, mang kabayan www.udarider.com -----Original Message----- From: MRachmat Rawyani <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 14 May 2013 19:43:03 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Cc: <[email protected]> Subject: Re: [Urang Sunda] RE: Indonesia Teu aya moderator/kuncen nu negor ka mang Kabayan nya, dina perkara kikiriman di milis, dimana salah sahiji saratna satiasana kedah migunakeun basa Sunda. Pastina Mang Kabayan ngartos kana perkara ieu, tapi jigana hilap teu aya nu negor, dianggapna teu naon-naon. Satiasa-tiasana mah atuh urang teh diajar patuh kana naon anu tos janten kasapukan urang sadaya. aya dongengna yeuh. Hiji mangsa, waktos kuring ngahadiran pangleler Rancage di gedong Erasmus Huis/Pusat Kebudayaan Belanda di Kuninga Jakarta (taun...?), aya Anton Moeliono, salah sawios ahli bahasa Indonesia. Harita teh anu presentasi Prof. Haidar Alwasilah perkawis basa Sunda. Moderatornya Mang Ajip Rosidi. Kuring ngabatin, pasti bakal rame yeuh. Pas giliran tanya jawab, Pak Anton Moeliono ngajukeun pertanyaan, hilap deui naon anu ditaroskeun. Tapi harita teh moderator netelakeun, yen teu samangsa-mangsa upama migunakeun basa daerah bade barontak atawa jadi teu nasionalis. Justru ngamumule basa daerah teh ciri seorang nasionalis. (Duka tah kumaha upama sabalikna. Saurang putra daerah padahal tiasa basa daerah, tapi upama ngedalkeun pipikiranana dina basa Indonesia. Naha nasionalis atanapi alim disebat daerahisme). Peace ah. eh..punten ah. mrachmatrawyani --- On Tue, 5/14/13, mang kaby <[email protected]> wrote: From: mang kaby <[email protected]> Subject: [Urang Sunda] RE: Indonesia To: [email protected] Date: Tuesday, May 14, 2013, 9:26 AM Waaaaaaaah segeeernya baca tulisan Pak Upu di bawah Kang Sur…. Nuhuuuuns udah di forward lagi …. Mamang forward ke yang lain juga ya ;)…. Jadi kangen ngobrol-2 n’ ngopi-2 bareng Pak Upu sampe-2 ngak terasa sampe larut malam hahahaha. Yuuuu aaaah kapan kita kongkow di Balong sambil ngopi cap teko + ngemil kacang bogor :). Nah Mamang juga sempet masantren di Imogiri ketemu dengan Ustad Iskandar juga gara-2 Pak Upu hehehehe…. Ketika itu jalan bareng ke Jogja & Solo menghadiri temen yang di Wisuda Doktor disana. Ustad Iskandar ini temen Pak Upu n’ beliau bikin pesantren dengan konsep Sustainable Development :)… Luar biasa tooop banget… ngak terasa ngobrol yang tadinya hanya ingin mampir sebentar untuk say hi saja jadinya ngobrol lebih dari 5 jam sharing knowledge hehehe. Setuju banget bahwa dasar pendirian Indonesia adalah Idea of a Nation yang berkeadilan bersama, kemakmuran bersama, kehormatan bersama, dan keuntungan bersama sesuai yang tercantum dalam UUD 45 dan Pancasila. Bukan berdasarkan cerita Nusantara yang bekas Jajahannya Gajah Mada ataupun kesamaan Agama Islam yang mayoritas. Indonesia lebih dari itu…. Kalo beberapa orang mulai membuat komitmen-2 lainnya yang tidak sejalan dengan ide dasar pembentukan Indonesia ya pertanyaaan besar. Apa mau seperti Rusia terpecah-2 lagi? Aceh Merdeka, Papua Merdeka, Bali Merdeka, Sunda juga merdekaaaa aaah… pan ngak ada dalam sejarah Sunda dijajah Gajahmada mah hehehehe. Indonesia…. Unity in Diversity 1. Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. 3. Persatuan Indonesia. 4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan. 5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bwahahaha Mamang masih apal euy Pancasila hehehe…. Dalem sebenernya maknanya yang dibuat oleh para pendiri bangsa ini….. Huuuuuuuuurrrrmaaaaat graaaaaak!! nuhuuuns, mang asep kabayan www.dkabayan.com From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of suryana Sent: Tuesday, May 14, 2013 5:47 AM To: [email protected] Subject: [kota-bogor] Indonesia Menarik disimak, dibawah ini adalah tulisan Oom UPU ditahun 2004 lalu. ++++++ Nama Indonesia adalah nama yang diberikan kepada gugus kepulauan yang sekarang dikenal sebagai Indonesia oleh beberapa petualang Inggris maupun Jerman (Bastian)pada abad ke 16,berasal dari kata Endo-Nesos. Cerita dari Herr.Bastian ini yang menimbulkan keinginan banyak petualang dan pedagang Eropa ingin berpetulng ke "sorga diseberang lautan" Portugis dan Spanyol sudah hilir mudik berdagang digugus kepukauan ini, tetapi tidak memberikan nama yang "patented" Arah pelayarannya sedikit di rahasiakan karena takut disaingi.,ada beberapa orang Belanda yang bekerja dikapal Portugis dan pernah datang ke Banten dan Maluku,mereka menjadi sumber informasi pedagang Belanda akan adanya pulau rempah rempah yang kaya. Beberapa pulau antara lain "Flores" menjadi nama yang patent, yang berarti bunga,atau daerah seperti " Natal" (kelahiran), pelaut Portugis singgah disana tepat pada hari Natal. dan beberapa lagi nama berasal dari bahasa Spanyol . Tidak ada satu kerajaanpun sebelum itu mengenal atau mempunyai teritorial seperti yang sekarang disebut Negara Republik Indonesia.Semua kerajaan , kesultanan atau apapun namanya, merupakan daerah otonoom dan atau bisa saja merupakan jajahan atau daerah yang "terkalahkan" oleh kerajaan lainnya. Agamanya? Hindu atau animist,Islam di pesisir P.Jawa dan beberapa daerah lainnya dalam jumlah yang kecil,hasil garapan pedagang Arab. Sriwijaya, Majapahit,Pajajaran dan setelah itu Mataram dll merupakan daerah kekuasaan sendiri sendiri, demikian juga daerah daerah lainnya Keberadaan kerajaan ini jauh sebelum petualang Eropa datang , yang ada hanya hubungan dengan bangsa bangsa di kawasan Asia. Perubahan identitas kekuasaan berdasarkan agama disuatu daerah, kerap terbukti menghancurkan identitas masyarakat yang ada didaerah tsb Perubahan secara evolusioner dan damai, maupun secara kekerasan. Kecuali jika ada kompromi yang membuat "warna" agama tsb berbudaya daerahnya. Tanpa mengurangi substansi agama itu sendiri,demikian pula bagi penyebaran agama Islam misalnya. Apa ada kerajaan atau kesultanan yang akhirnya menjadi kerajaan Islam dengan nama yang baru karena dinasti yang baru? Bisa saja,...sesuai perkembangan zaman disaat itu ,dan siapa pemenangnya dalam perebutan kekuasaan dalam kerajaan tsb Pemerintah kolonial Belanda berusaha menggunakan "Insulinde" sebagai pengganti nama jajahannya yang bernama "Nederlands Indie" (India-nya Belanda)membedakan dengan Indianya Inggris. Terkadang Nederlands Indie hanya disebut "Indie" Awalnya , hanya Batavia yang dikenal sebagai kota pelabuhan milik VOC dikawasan ini."De koningin van het Oosten" kota yang disebut Ratu di Timur. (1619) VOC dan nantinya Kerajaan Belanda mempunyai daerah jajahan lainnya lagi,a.l Formosa (milik PT,VOC), New Amsterdam (New York sekarang) Aruba ,,Bon Air Curacao (ABC Eilanden). Harus diingat, yang menjajah gugus kepulauan Endo-Nesos , awalnya adalah sebuah Perseroan Terbatas bernama VOC.Bukan Kerajaan Belanda! Kerajaan Belanda "turun tangan" setelah "BUMN" VOC(Verenigde Oost Companie) ini bangkrut pada abad 18. Nyatanya nama Insulinde tidak begitu populer, sebagian masyarakat asli menamakan daerah ini sebagai Nusantara, inipun tidak berhasil disosialisasikan . Negara kesatuan Republik Indonesia secara "de jure " baru ada sejak 17 Agustus 1945, merupakan komitment pada saat itu dan akhirnya secara "de jure pula diakui keberadaannya oleh negara negara lain dan Dewan bangsa bangsa (sekarang PBB). Ketika itulah baru "Indonesia" menjadi nama yang dipatentkan untuk gugus kepulauan yang sekarang bernama NKRI,dari Sabang sampai Marauke Salah jika ada yang berbicara "Luka lama jangan dibuka".......dimana lukanya? Ini sejarah,...tidak ada yang perlu terluka! Tenang tenang saja,....Indonesia adalah kesepakatan bangsa bangsa yang berdiam, berbudaya dan beragama sesuai keinginan atau keberadaannya. Ketika komitment dibuat ( N. K R.I.), pasti ada "keuntungan" dan Kepentingan" bersama yang dianggap semua pihak ,terwakili secara adil. maka dibuatlah komitment itu! Dari banyak data dan sumber informasi yang pernah saya telusuri, posisi Aceh adalah yang paling spesifik.Aceh tidak pernah menjadi bagian administratif Kolonial Belanda.Sebelum diserang pertama kali pada tahun 1857. Banyak daerah lain "mengundang" VOC ikut campur dengan imbalan monopoli dagang atau pemilikan daerah sebagai imbal jasa membantu fihak yang bertikai dalam perebutan kekuasaan ( contoh :Jogya- Solo) Atau dikalahkan secara militer dalam perebutan daerah perdagangan. Aceh melakukan perdagangan dengan VOC maupun nantinya dengan pemerintah kolonial Belanda (setelah bangkrutnya PT.VOC) yang berpusat di Batavia sebagai negara yang berdaulat, dan diakui kedaulatannya oleh Kolonial Belanda,Inggris dll. Ada baiknya jika buku Paul van t'Veer "Atjeh orloog" saya terjemahkan menjadi tambahan wawasan untuk kita semua.Kapan ya? Jadi kita sepakat dulu, R.I. adalah suatu produk , komitment bangsa bangsa yang ada dikawasan Nusantara, Insulinde , Endo Nesos yang dijajah maupun tidak, oleh Kolonist Kerajaan Belanda, berdasarkan keinginan bersama demi kemakmuran bersama, keadilan bersama dst. Berbeda dengan Kerajaan Sriwijaya, Ternate, Bone, Makasar dll...... yang primordial sifatnya! Membingungkan memang, beberapa sahabat milis mencampur adukkan , waktu fakta keinginan membela agamanya, pola pikirnya menjadi sejarah.Ada yang mencampurkan antara kekhalifahan Islam di Turki (Otoman) dengan wali di Jawa ......pautan waktunya bisa ratusan tahun , minimal puluihan tahun Islam disebarkan di kawasan ini, melalui perdagangan abad ke 11/12,ada yang sedang diselidiki saat ini berupa transkripsi ,potongan keramik ,cap,yang baru didapat dipantai Jawa,(Cirebon) yang diperkirakan berasal dari abad ke 9 Masehi,inipun belum pasti. Jadi janganlah mencampur adukkan waktu, data, bukti bukti lalu membuat sejarah" seperti yang kita temui pada cerita Da Vinci Code-nya Dan Brown. Menegangkan, enak dibaca , tetapi hanya sebagian kecilnya saja mengandung obyektifitas sejarah. Indonesia sebagai "Nation" pada hakekatnya dibangun dari sebuah "Idea", bukan dibangun dari sebuah "Teritorial" Teritorial datang belakangan , setelah "penghuni" teritorial tadi terwakili kepentingan dan kehendaknya , walaupun masih berupa "Idea" Sudah semestinyalah sebuah nation dibangun dari sebuah idea, seperti banyak negara negara lain yang terdiri dari banyak suku dan bangsa berhasil membangun sebuah nation,contoh dapat kita temui jika kita mau sedikit berpikir lebih berwawasan. Kesultanan Aceh, telah cukup lama mencoba mengembangkan ide Nation di seluruh kawasan Sumatera karena kesamaan kultural yang mereka yakini di seantero Sumatra(cf bulletin GAM) Memang sulit jika "nation " dibangun karena hanya alasan "agama yang sama" sedangkan teritorinya berjauhan. Contoh Pakistan Timur yang sekarang bernama Bangladesh, Muaranya pada perpecahan menjadi 2 negara,Pakistan dan Bangladesh(Ide awal datang dari Inggris, bukan dari bangsa yang ada disana) Atau kita tanyakan mengapa Afghanistan tidak bergabung saja dengan Pakistan karena sama sama Islam? Atau seluruh negara Arab bergabung saja? Tidak semudah itu bukan? Idea membuat "One Nation" ada atau tidak? Hanya karena mereka bisa sama sama ke mesjid? Terlalu simplistis! Tetapi tidak apa apa, berpikir "lain" boleh boleh saja, asal jangan mensejarahkan pikiran tsb, secara sangat subyektif. Pengaruh Islam yang sangat kuat di Aceh misalnya,tidak ada duanya di kawasan Endo-Nesos, tambah kental ketika Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan menyerang Kesultanan Aceh. Aceh satu satunya perlawanan dengan membawa identitas agama Islam sebagai kutub yang berlawanan dengan agama Nasrani yang dianut para penyerangnya dikutub lainnya. Anggapan inipun tidak seluruhnya benar. Sebagian besar penyerang adalah tentara bayaran dari Jawa,Madura, (Islam agamanya),Bali, Ambon Timor, Makasar ,Jerman, Perancis,bahkan Inggris dan Afrika jumlah serdadu Belanda tidak mencukupi kebutuhan perang melawan Aceh Tepatnya tg 1 April 1857 , Aceh Darussalam ditembaki dengan meriam dari kapal de Citadel van Antwerpen. Maka ketika itu dapat dikatakan negara Islam yang berdaulat diserang oleh kolonial Belanda yang bermarkas di P.Jawa (Batavia). Pada kurun waktu perang Aceh inilah, terjadi hubungan antara Sultan Aceh dan pemerintah Turki. Sultan Aceh menyerahkkan Kesultanannya, rakyatnya kepada kesultanan Otoman ,tertuang dalam surat pribadi Sultan Aceh untuk Kesultanan Turki,karena Turki satu satunya negara Islam yang dapat diandalkan ketika itu. Habib Abdurachman el Zahir, penasihat tinggi Sultan Aceh yang membawa surat penyerahan kedaulatan Aceh tsb (1873) kepada Sultan Turki,agar dilindungi dan dibantu ketika diserang Belanda.Mengharapkan adanya solidaritas Islamiyah. Sebelum itu, memang ada hubungan diplomatik,dagang antara Aceh dng Turki, demikian pula dengan negara lainnya, tetapi tidak explisit sebagai "ikatan negara Islamiah".Hanya saling mengakui existensi masing masing. Abdurachman el Zahir bukan orang Aceh, orang Mesir, diplomat, politikus ulung yang digaji sebagai penasihat tinggi Sultan Aceh. Abdurachman melakukan tugasnya dengan sangat profesional, dengan inteligensia yang tinggi. Ini diakui oleh Belanda dan dunia saat itu! Penyerahan yang sia sia,......penyerahan Sultan Aceh diabaikan Duta besar Inggris dan Belanda yang menanyakan kepada perdana menteri Turki maksud keberadaan Habib Abdurachman el Zahir di Istambul ketika itu, dijawab sang menteri: Kami tidak ingin membuat masalah lebih rumit dengan meladeni bangsa barbar didaerah yang jauh tsb. Kata kata ini ada dalam surat balasan perdana menteri Turki disimpan di arsip Inggris dan Belanda sebagai laporan Duta besar mereka ke pada menteri mereka masing masing . Tulisan ini hanya ilustrasi , untuk sedikit memberikan gambaran mengenai apakah Islam adalah Indonesia, atau apakah Indonesia adalah Islam. Nyatanya Indonesia adalah komitment, Islam sebagai "agama negara" hanya ada di Aceh dan itu jelas bukan Indonesia, sejak awal Aceh seperti juga daerah lainnya di Indonesia berkomitment menjadi Indonesia berdasarkan Idea membuat suatu Nation, dengan syarat syarat yang saya sebutkan diatas, keadilan bersama, keuntungan bersama, kemakmuran bersama kehormatan bersama dst..dst..... Jika nantinya, komitment ini menjadi rapuh, karena dirasakan dihianati, tidak perlu terkejut jika model runtuhnya Republik Rakyat Rusia menjadi hasilnya dimasa depan, mungkin lebih parah, karena dasar pemikiran agamais yang dikedepankan. Jadi kembali dulu-lah pada komitment "Indonesia" yang awal,dengan kepala dingin, saling menghormati , tanpa dominansi agama tertentu, suku tertentu, jangan membelokkan sejarah secara subyektif, gabungkan "kesamaan" yang kita miliki, perkecil "perbedaan "yang ada! Jangan perbedaan di "adu" tetapi kesamaan yang di "padu" Atau "Indonesia" akan menjadi "Sejarah"........bisa saja,kalau semua setuju
