Hehehe. Jigana horeameun negorna, Kang Yani. Mang Kabayan mah tuda bageur teuing: mun diingetan sakalimah, pulangana batian mangparagraf-paragraf. Hehehe
2013/5/15 MRachmat Rawyani <[email protected]> > ** > > > Teu aya moderator/kuncen nu negor ka mang Kabayan nya, dina perkara > kikiriman di milis, dimana salah sahiji saratna satiasana kedah migunakeun > basa Sunda. Pastina Mang Kabayan ngartos kana perkara ieu, tapi jigana > hilap teu aya nu negor, dianggapna teu naon-naon. Satiasa-tiasana mah atuh > urang teh diajar patuh kana naon anu tos janten kasapukan urang sadaya. > > aya dongengna yeuh. Hiji mangsa, waktos kuring ngahadiran pangleler > Rancage di gedong Erasmus Huis/Pusat Kebudayaan Belanda di Kuninga Jakarta > (taun...?), aya Anton Moeliono, salah sawios ahli bahasa Indonesia. Harita > teh anu presentasi Prof. Haidar Alwasilah perkawis basa Sunda. Moderatornya > Mang Ajip Rosidi. Kuring ngabatin, pasti bakal rame yeuh. > > Pas giliran tanya jawab, Pak Anton Moeliono ngajukeun pertanyaan, hilap > deui naon anu ditaroskeun. Tapi harita teh moderator netelakeun, yen teu > samangsa-mangsa upama migunakeun basa daerah bade barontak atawa jadi teu > nasionalis. Justru ngamumule basa daerah teh ciri seorang nasionalis. (Duka > tah kumaha upama sabalikna. Saurang putra daerah padahal tiasa basa daerah, > tapi upama ngedalkeun pipikiranana dina basa Indonesia. Naha nasionalis > atanapi alim disebat daerahisme). > > Peace ah. eh..punten ah. > > mrachmatrawyani > > --- On *Tue, 5/14/13, mang kaby <[email protected]>* wrote: > > > From: mang kaby <[email protected]> > Subject: [Urang Sunda] RE: Indonesia > To: [email protected] > Date: Tuesday, May 14, 2013, 9:26 AM > > > > > Waaaaaaaah segeeernya baca tulisan Pak Upu di bawah Kang Sur…. Nuhuuuuns > udah di forward lagi …. Mamang forward ke yang lain juga ya ;)…. Jadi > kangen ngobrol-2 n’ ngopi-2 bareng Pak Upu sampe-2 ngak terasa sampe larut > malam hahahaha. Yuuuu aaaah kapan kita kongkow di Balong sambil ngopi cap > teko + ngemil kacang bogor :). > > > > Nah Mamang juga sempet masantren di Imogiri ketemu dengan Ustad Iskandar > juga gara-2 Pak Upu hehehehe…. Ketika itu jalan bareng ke Jogja & Solo > menghadiri temen yang di Wisuda Doktor disana. Ustad Iskandar ini temen Pak > Upu n’ beliau bikin pesantren dengan konsep Sustainable Development :)… > Luar biasa tooop banget… ngak terasa ngobrol yang tadinya hanya ingin > mampir sebentar untuk say hi saja jadinya ngobrol lebih dari 5 jam sharing > knowledge hehehe. > > > > Setuju banget bahwa dasar pendirian Indonesia adalah Idea of a Nation yang > berkeadilan bersama, kemakmuran bersama, kehormatan bersama, dan keuntungan > bersama sesuai yang tercantum dalam UUD 45 dan Pancasila. Bukan berdasarkan > cerita Nusantara yang bekas Jajahannya Gajah Mada ataupun kesamaan Agama > Islam yang mayoritas. Indonesia lebih dari itu…. Kalo beberapa orang mulai > membuat komitmen-2 lainnya yang tidak sejalan dengan ide dasar pembentukan > Indonesia ya pertanyaaan besar. Apa mau seperti Rusia terpecah-2 lagi? Aceh > Merdeka, Papua Merdeka, Bali Merdeka, Sunda juga merdekaaaa aaah… pan ngak > ada dalam sejarah Sunda dijajah Gajahmada mah hehehehe. > > > > Indonesia…. Unity in Diversity > > 1. Ketuhanan Yang Maha Esa. > > 2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. > > 3. Persatuan Indonesia. > > 4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam > Permusyawaratan / Perwakilan. > > 5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. > > > > Bwahahaha Mamang masih apal euy Pancasila hehehe…. Dalem sebenernya > maknanya yang dibuat oleh para pendiri bangsa ini….. Huuuuuuuuurrrrmaaaaat > graaaaaak!! > > > > nuhuuuns, > > mang asep kabayan > > www.dkabayan.com > > > > *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] *On > Behalf Of *suryana > *Sent:* Tuesday, May 14, 2013 5:47 AM > *To:* [email protected] > *Subject:* [kota-bogor] Indonesia > > Menarik disimak, dibawah ini adalah tulisan Oom UPU ditahun 2004 lalu. > ++++++ > > Nama Indonesia adalah nama yang diberikan kepada gugus kepulauan yang > sekarang dikenal sebagai Indonesia oleh beberapa petualang Inggris maupun > Jerman (Bastian)pada abad ke 16,berasal dari kata Endo-Nesos. > Cerita dari Herr.Bastian ini yang menimbulkan keinginan banyak petualang > dan > pedagang Eropa ingin berpetulng ke "sorga diseberang lautan" > > Portugis dan Spanyol sudah hilir mudik berdagang digugus kepukauan ini, > tetapi tidak memberikan nama yang "patented" > Arah pelayarannya sedikit di rahasiakan karena takut disaingi.,ada beberapa > orang Belanda yang bekerja dikapal Portugis dan pernah datang ke Banten dan > Maluku,mereka menjadi sumber informasi pedagang Belanda akan adanya pulau > rempah rempah yang kaya. > > Beberapa pulau antara lain "Flores" menjadi nama yang patent, yang berarti > bunga,atau daerah seperti " Natal" (kelahiran), pelaut Portugis singgah > disana tepat pada hari Natal. dan beberapa lagi nama berasal dari bahasa > Spanyol . > > Tidak ada satu kerajaanpun sebelum itu mengenal atau mempunyai teritorial > seperti yang sekarang disebut Negara Republik Indonesia.Semua kerajaan , > kesultanan atau apapun namanya, merupakan daerah otonoom dan atau bisa saja > merupakan jajahan atau daerah yang "terkalahkan" oleh kerajaan lainnya. > > Agamanya? > Hindu atau animist,Islam di pesisir P.Jawa dan beberapa daerah lainnya > dalam jumlah yang kecil,hasil garapan pedagang Arab. > > Sriwijaya, Majapahit,Pajajaran dan setelah itu Mataram dll merupakan > daerah kekuasaan sendiri sendiri, demikian juga daerah daerah lainnya > Keberadaan kerajaan ini jauh sebelum petualang Eropa datang , yang ada > hanya > hubungan dengan bangsa bangsa di kawasan Asia. > > Perubahan identitas kekuasaan berdasarkan agama disuatu daerah, kerap > terbukti menghancurkan identitas masyarakat yang ada didaerah tsb > Perubahan secara evolusioner dan damai, maupun secara kekerasan. > > Kecuali jika ada kompromi yang membuat "warna" agama tsb berbudaya > daerahnya. > Tanpa mengurangi substansi agama itu sendiri,demikian pula bagi penyebaran > agama Islam misalnya. > > Apa ada kerajaan atau kesultanan yang akhirnya menjadi kerajaan Islam > dengan nama yang baru karena dinasti yang baru? > Bisa saja,...sesuai perkembangan zaman disaat itu ,dan siapa pemenangnya > dalam perebutan kekuasaan dalam kerajaan tsb > > Pemerintah kolonial Belanda berusaha menggunakan "Insulinde" sebagai > pengganti nama jajahannya yang bernama "Nederlands Indie" (India-nya > Belanda)membedakan dengan Indianya Inggris. > Terkadang Nederlands Indie hanya disebut "Indie" > > Awalnya , hanya Batavia yang dikenal sebagai kota pelabuhan milik VOC > dikawasan ini."De koningin van het Oosten" kota yang disebut Ratu di Timur. > (1619) > > VOC dan nantinya Kerajaan Belanda mempunyai daerah jajahan lainnya lagi,a.l > Formosa (milik PT,VOC), New Amsterdam (New York sekarang) Aruba ,,Bon Air > Curacao (ABC Eilanden). > > Harus diingat, yang menjajah gugus kepulauan Endo-Nesos , awalnya adalah > sebuah Perseroan Terbatas bernama VOC.Bukan Kerajaan Belanda! > Kerajaan Belanda "turun tangan" setelah "BUMN" VOC(Verenigde Oost Companie) > ini bangkrut pada abad 18. > > Nyatanya nama Insulinde tidak begitu populer, sebagian masyarakat asli > menamakan daerah ini sebagai Nusantara, inipun tidak berhasil > disosialisasikan . > > Negara kesatuan Republik Indonesia secara "de jure " baru ada sejak 17 > Agustus 1945, merupakan komitment pada saat itu dan akhirnya secara "de > jure > pula diakui keberadaannya oleh negara negara lain dan Dewan bangsa bangsa > (sekarang PBB). > > Ketika itulah baru "Indonesia" menjadi nama yang dipatentkan untuk gugus > kepulauan yang sekarang bernama NKRI,dari Sabang sampai Marauke > > Salah jika ada yang berbicara "Luka lama jangan dibuka".......dimana > lukanya? > Ini sejarah,...tidak ada yang perlu terluka! > Tenang tenang saja,....Indonesia adalah kesepakatan bangsa bangsa yang > berdiam, berbudaya dan beragama sesuai keinginan atau keberadaannya. > > Ketika komitment dibuat ( N. K R.I.), pasti ada "keuntungan" dan > Kepentingan" bersama yang dianggap semua pihak ,terwakili secara adil. maka > dibuatlah komitment itu! > > Dari banyak data dan sumber informasi yang pernah saya telusuri, posisi > Aceh > adalah yang paling spesifik.Aceh tidak pernah menjadi bagian administratif > Kolonial Belanda.Sebelum diserang pertama kali pada tahun 1857. > > Banyak daerah lain "mengundang" VOC ikut campur dengan imbalan monopoli > dagang atau pemilikan daerah sebagai imbal jasa membantu fihak yang > bertikai > dalam perebutan kekuasaan ( contoh :Jogya- Solo) > Atau dikalahkan secara militer dalam perebutan daerah perdagangan. > > Aceh melakukan perdagangan dengan VOC maupun nantinya dengan pemerintah > kolonial Belanda (setelah bangkrutnya PT.VOC) yang berpusat di Batavia > sebagai negara yang berdaulat, dan diakui kedaulatannya oleh Kolonial > Belanda,Inggris dll. > Ada baiknya jika buku Paul van t'Veer "Atjeh orloog" saya terjemahkan > menjadi tambahan wawasan untuk kita semua.Kapan ya? > > Jadi kita sepakat dulu, R.I. adalah suatu produk , komitment bangsa bangsa > yang ada dikawasan Nusantara, Insulinde , Endo Nesos yang dijajah maupun > tidak, oleh Kolonist Kerajaan Belanda, berdasarkan keinginan bersama demi > kemakmuran bersama, keadilan bersama dst. > Berbeda dengan Kerajaan Sriwijaya, Ternate, Bone, Makasar dll...... yang > primordial sifatnya! > > Membingungkan memang, beberapa sahabat milis mencampur adukkan , waktu > fakta > keinginan membela agamanya, pola pikirnya menjadi sejarah.Ada yang > mencampurkan antara kekhalifahan Islam di Turki (Otoman) dengan wali di > Jawa > ......pautan waktunya bisa ratusan tahun , minimal puluihan tahun > > Islam disebarkan di kawasan ini, melalui perdagangan abad ke 11/12,ada yang > sedang diselidiki saat ini berupa transkripsi ,potongan keramik ,cap,yang > baru didapat dipantai Jawa,(Cirebon) yang diperkirakan berasal dari abad ke > 9 Masehi,inipun belum pasti. > > Jadi janganlah mencampur adukkan waktu, data, bukti bukti lalu membuat > sejarah" seperti yang kita temui pada cerita Da Vinci Code-nya Dan Brown. > Menegangkan, enak dibaca , tetapi hanya sebagian kecilnya saja mengandung > obyektifitas sejarah. > > Indonesia sebagai "Nation" pada hakekatnya dibangun dari sebuah "Idea", > bukan dibangun dari sebuah "Teritorial" > Teritorial datang belakangan , setelah "penghuni" teritorial tadi terwakili > kepentingan dan kehendaknya , walaupun masih berupa "Idea" > > Sudah semestinyalah sebuah nation dibangun dari sebuah idea, seperti banyak > negara negara lain yang terdiri dari banyak suku dan bangsa berhasil > membangun sebuah nation,contoh dapat kita temui jika kita mau sedikit > berpikir lebih berwawasan. > > Kesultanan Aceh, telah cukup lama mencoba mengembangkan ide Nation di > seluruh kawasan Sumatera karena kesamaan kultural yang mereka yakini di > seantero Sumatra(cf bulletin GAM) > > Memang sulit jika "nation " dibangun karena hanya alasan "agama yang sama" > sedangkan teritorinya berjauhan. Contoh Pakistan Timur yang sekarang > bernama > Bangladesh, > Muaranya pada perpecahan menjadi 2 negara,Pakistan dan Bangladesh(Ide awal > datang dari Inggris, bukan dari bangsa yang ada disana) > > Atau kita tanyakan mengapa Afghanistan tidak bergabung saja dengan Pakistan > karena sama sama Islam? > Atau seluruh negara Arab bergabung saja? > > Tidak semudah itu bukan? > Idea membuat "One Nation" ada atau tidak? > Hanya karena mereka bisa sama sama ke mesjid? > Terlalu simplistis! > > Tetapi tidak apa apa, berpikir "lain" boleh boleh saja, asal jangan > mensejarahkan pikiran tsb, secara sangat subyektif. > > Pengaruh Islam yang sangat kuat di Aceh misalnya,tidak ada duanya di > kawasan > Endo-Nesos, tambah kental ketika Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan > menyerang Kesultanan Aceh. > > Aceh satu satunya perlawanan dengan membawa identitas agama Islam sebagai > kutub yang berlawanan dengan agama Nasrani yang dianut para penyerangnya > dikutub lainnya. > > Anggapan inipun tidak seluruhnya benar. > Sebagian besar penyerang adalah tentara bayaran dari Jawa,Madura, (Islam > agamanya),Bali, Ambon Timor, Makasar ,Jerman, Perancis,bahkan Inggris dan > Afrika jumlah serdadu Belanda tidak mencukupi kebutuhan perang melawan Aceh > > Tepatnya tg 1 April 1857 , Aceh Darussalam ditembaki dengan meriam dari > kapal de Citadel van Antwerpen. > Maka ketika itu dapat dikatakan negara Islam yang berdaulat diserang oleh > kolonial Belanda yang bermarkas di P.Jawa (Batavia). > > Pada kurun waktu perang Aceh inilah, terjadi hubungan antara Sultan Aceh > dan > pemerintah Turki. Sultan Aceh menyerahkkan Kesultanannya, rakyatnya kepada > kesultanan Otoman ,tertuang dalam surat pribadi Sultan Aceh untuk > Kesultanan > Turki,karena Turki satu satunya negara Islam yang dapat diandalkan ketika > itu. > > Habib Abdurachman el Zahir, penasihat tinggi Sultan Aceh yang membawa surat > penyerahan kedaulatan Aceh tsb (1873) kepada Sultan Turki,agar dilindungi > dan dibantu ketika diserang Belanda.Mengharapkan adanya solidaritas > Islamiyah. > > Sebelum itu, memang ada hubungan diplomatik,dagang antara Aceh dng Turki, > demikian pula dengan negara lainnya, tetapi tidak explisit sebagai "ikatan > negara Islamiah".Hanya saling mengakui existensi masing masing. > > Abdurachman el Zahir bukan orang Aceh, orang Mesir, diplomat, politikus > ulung yang digaji sebagai penasihat tinggi Sultan Aceh. > Abdurachman melakukan tugasnya dengan sangat profesional, dengan > inteligensia yang tinggi. > Ini diakui oleh Belanda dan dunia saat itu! > > Penyerahan yang sia sia,......penyerahan Sultan Aceh diabaikan > Duta besar Inggris dan Belanda yang menanyakan kepada perdana menteri Turki > maksud keberadaan Habib Abdurachman el Zahir di Istambul ketika itu, > dijawab > sang menteri: > > Kami tidak ingin membuat masalah lebih rumit dengan meladeni bangsa barbar > didaerah yang jauh tsb. > > Kata kata ini ada dalam surat balasan perdana menteri Turki disimpan di > arsip Inggris dan Belanda sebagai laporan Duta besar mereka ke pada menteri > mereka masing masing . > > Tulisan ini hanya ilustrasi , untuk sedikit memberikan gambaran mengenai > apakah Islam adalah Indonesia, atau apakah Indonesia adalah Islam. > Nyatanya Indonesia adalah komitment, Islam sebagai "agama negara" hanya ada > di Aceh dan itu jelas bukan Indonesia, sejak awal > > Aceh seperti juga daerah lainnya di Indonesia berkomitment menjadi > Indonesia > berdasarkan Idea membuat suatu Nation, dengan syarat syarat yang saya > sebutkan diatas, keadilan bersama, keuntungan bersama, kemakmuran bersama > kehormatan bersama dst..dst..... > > Jika nantinya, komitment ini menjadi rapuh, karena dirasakan dihianati, > tidak perlu terkejut jika model runtuhnya Republik Rakyat Rusia menjadi > hasilnya dimasa depan, mungkin lebih parah, karena dasar pemikiran agamais > yang dikedepankan. > > Jadi kembali dulu-lah pada komitment "Indonesia" yang awal,dengan kepala > dingin, saling menghormati , tanpa dominansi agama tertentu, suku tertentu, > jangan membelokkan sejarah secara subyektif, gabungkan "kesamaan" yang kita > miliki, perkecil "perbedaan "yang ada! > Jangan perbedaan di "adu" tetapi kesamaan yang di "padu" > > Atau "Indonesia" akan menjadi "Sejarah"........bisa saja,kalau semua setuju > > >
