Surat Jembatan Sembilan
INGATAN INDONESIA: APA & BAGAIMANA?
Kalau PM Dominique de Villepin, yang seorang budayawan, ketika berbicara
tentang masyarakat dan kebudayaan Perancis, sampai pada kesimpulan bahwa << il
ny a pas une memoire francaise, mais des memoires>>, bahwa Perancis tidak
terbentuk dari hanya satu ingatan, tapi oleh ingatan-ingatan [jamak], pada
saat itu, saya kira, Villepin sedang menyimpulkan keadaan kehidupan
masyarakat secara umum dengan menggunakan pendekatan sejarah. Ingatan Perancis
hari ini terdiri dari rupa-rupa ingatan Korsika, ingatan Breton, ingtan Basque,
Kaledonia Baru, Martinik, Reunion, Guadalup, Guayana, ingatan Maghrebien,
ingatan kaum Komunar dan ingatan-ingatan lain yang berlangsung sepanjang
sejarah Perancis hingga menjadi Perancis yang sekarang. Keragaman ingatan dan
latarbelakangnya ini direkatkan oleh sistem nilai republiken: liberte, egalite
et fratenite buah Revolusi Perancis 14 Juli 1789. Rangkaian nilai-nilai
inilah yang menjadi dasar ini di mana ditegakkan Republik Perancis sampai
sekarang. Barangkali dari sudut pandang ini pulalah kita bisa memahami
mengapa gerakan kemerdekaan tidak kuat berkembang di Guadalup, dengan Kaledonia
Baru , masalah kemerdekaan diselesaikan melalui Persetujuan Matignon [antara
PM. Rocard dan Tjibau pimpinan independentis], gerakan kemerdekaan Korsika,
Breton dan Basque bukan makin berkembang kuat tapi justru sebaliknya. Sikap
alm.Tjibau dari Kaledonia Baru dan penyair Aime Cesaire, yang dipandang sebagai
jiwa atau nurani rakyat Martinik, atas dasar nilai-nilai republiken di atas
menerima otonomi pulau di ruang lingkup Republik Perancis [dune autonomie de
lile dans lespace francais] yang anti kolonial dan perbudakan. Kolonialisme
dan perbudakan adalah setali tiga uang, suatu kejahatan terhadap kemanusiaan,
tanpa unsur positif apa pun juga , tandas Serge Letchimy, walikota Fort-de
France, penerus Aime Cesaire. [Lihat: Le Nouvel Obersevateur, Paris, 15-21
Desember 2005]. Masalah kolonialisme dan perbudakan bukanlah
masalah main-main, ia adalah suatu horror. Ia bukanlah masalah kaum kiri atau
gerakan kemerdekaan tapi masalah kemanusiaan ujar Serge Letchimy. Jika jalan
pikiran ini diteruskan maka kita akan sampai ke masalah bahwa kemerdekaan bukan
pula sebagai pembuka jalan bagi penindasan dan perbudakan baru. Kemerdekaan
diluar lingkup nilai-nilai republiken bukanlah kemerdekaan lagi. Kemerdekaan
tidak terpisahkan dari nilai manusiawi.
Menghormati serta mempertimbangkan adanya keragaman ingatan dan latarbelakang
ingatan beragam ini, maka keragaman ini kemudian dirajut-anyam oleh
nilai-nilai perekat yaitu nilai-nilai republiken yang mewajibkan semua pihak
menghormati dan menjaga nilai-nilai perekat ini serta menemukan bentuk-bentuk
padan atau yang rasuk [compatible] dalam pelaksanaan kongkretnya di lapangan,
lebih-lebih di bidang hukum. Nilai-nilai perekat ini merupakan patokan
pegangan bagi semua warga republik baik pemegang kekuasaan atau warga republik
biasa. Di hadapan nilai-nilai ini semuanya setara.
****
Menggunakan cara pandang atau pendekatan tentang ingatan [memoire]
Perancis di atas sebagai perbandingan dalam melihat masalah Indonesia hari
ini, saya melihat adanya suatu paralelisme sejarah sebagaimana yang dijabarkan
dalam rumusan bhinneka tunggal ika. Bihnneka dalam budaya, ika dari segi
kemanusiaan dan mimpi yang kemudian dianyamrajut dalam bentuk Republik dan
Indonesia. Kalau penglihatan saya benar, sari manusiawi nilai-nilai budaya
dan mimpi yang terdapat di berbagai etnik /bangsa sebelum menjadi Republik dan
Indonesia, tertuang dalam rumusan Republik dan Indonesia. Republik dan
Indonesia adalah sari nilai yang terdapat di kalangan etnik/bangsa sebelum
menjadi Republik dan Indonesia. Karena itu bhinneka tunggal ika atau
sastra-seni kepulauan , saya kira, merupakan politik kebudayaan yang paling
rasuk dan padan kenyataan dan haridepan. Sebelum bergabung dan menjadi Republik
dan Indonesia, masing-masing daerah, maasing-masing etnik/bangsa mempunyai
ingatan
[memoire] masing-masing. Sayangnya kesadaran ber- Republik dan ber-Indonesia
masih lemah, bahkan terkadang sengaja dilemahkan oleh sentralisme dan alur
pikiran tunggal [la pensee unique] yang beretentangan dengan republik dan
Indonesia. Saya mengira, separatisme, tidak lain adalah reaksi spontan tanpa
renungan mendasar tapi wajar dari pengingkaran atas hakekat republik dan
Indonesia. Masalah yang kita hadapi hari ini, saya kira, bersangkanparan dari
pengingkaran rangkaian nilai Republik dan Indonesia. Pengingkaran atas
rangkaian nilai-nilai ini, antara mewujudkan diri dalam pengingkaran akan
ingatan [memoire] Indonesia dan memoire etnik/bangsa sebelum Republik Indonesia
yang disepakati sebagai perekat keragaman. Republik dan Indonesia, sebagai
rangkaian nilai , pada galibnya masih punya dasar sosial-ekonomi sebagai
penunjang. Tapi dasar-dasar ini akan rusak dan binasa jika ingatan `[memoire]
etnik/bangsa dan Indonesia tidak diindahkan.
Dalam konteks ini, saya mengkhawatirkan, kebanggaan menjadi Dayak, Papua,
Aceh, Bugis atau entah apa lagi hanyalah jawaban spontan yang sulit
dipertanggungjawabkan secara nilai berdasarkan apa yang dikatakan Paul Ricoeur
bahwa kebudayaan itu majemuk, kemanusiaan itu tunggal. Saya mengkhawatirkan
separatisme atau ide kemerdekaan hanya ujud lain dari jalan pintas, pola pikir
dan mentalitas mie instan produk Orba yang militeristik, ujud dari rasa
kompleks secara psikhologis selain bentuk spontan perlawanan atas penindasan
[dengan garis bawah pada kata spontan]. Adanya persoalan-persoalan demikian ,
saya kira, merupakan bukti bahwa Republik dan Indonesia belum berbentuk tapi
masih berada dalam proses menjadi di ruang [lespace, space] geografis bernama
Indonesia. Anak bangsa dan negeri ini , saya kira masih punya dasar perekat
yang belum terujud total dan sedang berproses yaitu rangkaian nilai republiken
dan Indonesia. Nilai republiken dan keindonesiaan tidak bertentangan dengan
kemerdekaan manusiawi, sedangkan separatisme masih patut dipertanyakan sebab
bisa saja terjadi separatisme itu adalah bentuk dari penempatan kemarahan
sebagai pedoman berpolitik. Republik dan Indonesia hari ini belum menjadi
republik dan Indonesia sesungguhnya. Ingatan Indonesia dan ingatan etnik/bangsa
sebelum 17 Agustus 1945 agaknya diabaikan dan tidak dimasukan ke dalam hitungan
pemegang kekuasaan. Pengabaian ini menumbuhkan radikalisasi yang akrab dengan
kekerasan dan ekstrimisme yang hanya kita ke jalan buntu. Karena belum menjadi
Republik dan Indonesia, tidak sedikit orang-orang di ruang [lespace, space]
republik politik dan Indonesia politik tidak merasakannya sebagai rumah betang
[betang= rumah panjang] bersama yang aman tapi sering jadi nama dari sebuah
penjara berskala Indonesia. Pengingkaran nilai republik dan Indonesia ini
pulalah, saya kira, yang menyebabkan Indonesia sebagai orang sakit Asia
Tenggara , the sick man of Southeast Asia. Orang sakit yang tidak
bisa menghargai diri sendiri termasuk keragaman ingatannya. Ingatan daerah dan
ingatan Indonesia tidak bisa dipisahkan untuk mewujudkan Republik dan Indonesia
sebagai rangkaian nilai. Mayoritas berkecenderungan mengabaikan ingatan-ingatan
demikian, kecenderungan yang saya namakan keangkuhan mayoritas dan tak pelak
sering secara spotan dijawab oleh keangkuhan minoritas seperti terungkap pada
kata-kata: Aku bangga sebagai Dayak. Mengapa tidak bangga menjadi anak
manusia yang manusiawi?! Di mana tempat kebanggaan yang terakhir ini?!
Paris, Desember 2005
JJ.Kusni
---------------------------------
Yahoo! Mail - now with Autocomplete that helps fill email addresses.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/