Catatan di Meja Nusa Dua & Cafe Bandar: WALAU PUN AKU TAK LAGI MASUK DI KENANGAN Mendengar Seorang Penyanyi Jalanan Solo-Yogya Namanya pun aku tak tahu. Tapi wajahnya, gayanya, suaranya, gerak-geriknya masih melekat kuat di ingatanku. Barangkali ia pun tidak ingat lagi kepadaku. Juga tidak ingat akan wajahku apalagi untuk tahu namaku yang waktu itu hanyalah salah seorang penumpang dari sekian penumpang bus ber AC antara Solo-Yogya, mengenakan T-shirt hitam bergambar Bung Karno sedang berpidato dengan kata-kata yang berisikan: Beri aku sepuluh pemuda maka aku akan goncangkan bumi, kata-kata yang kukenal sejak remaja SMA Yogya. Kata-kata dan ide-ide Bung Karno sejak remaja kudapatkan selalu inspiratif dan membakar. Dan aku membiarkan diriku dibakar oleh mimpi-mimpi sekalipun terkadang nampaknya mimpi merupakan sesuatu yang sangat khayali bagi cakrawala nampak di mata tapi tetap tak terjangkau tangan. Dengan membiarkan diri terbakar jadi abu oleh api mimpi, aku kemudian merasa dari abu diriku, aku akan muncul sebagai seekor phoenix abadi bersama mimpi-mimpi itu. Adakah perobahan maju di dunia yang tidak diawali oleh mimpi? Bahkan kalau kuamati, sampai sekarang pun kudapatkan bumi kita tidak kelebihan mimpi. Malah sering kusaksikan keadaan betapa kita kurang sanggup bermimpi. Oleh kesukaanku pada mimpi, aku selalu menganggap bahwa yang tidak mungkin masih menyimpan kemungkinan asalkan kita benar mengkhayati mimpi itu dan dengan sekuat tenaga mewujudkannya. Ambil contoh; Indonesia Merdeka tadinya adalah sebuah mimpi. Kemudian ketika ide itu menjelma menjadi kekuatan material saat ia dianut oleh rakyat maka mimpi yang tadinya nampak khayali, lalu melahirkan Republik Indonesia yang juga rumusan dari suatu grand design haridepan. Penyanyi itu, seorang lelaki berusia sekitar 30 tahun. Ia naik dari Prambanan. Ketika ia memperkenalkan diri sambil meminta maaf kepada seluruh penumpang jika merasa kehadirannya menganggu kenyamanan, dari logatnya segera kutahu bahwa ia berasal dari Tapanuli lingkungan yang juga sangat kukenal sejak usia belasan tahun, kemudian bahkan melalui suatu upacara adat telah memberiku marga Simanjuntak saat aku berkunjung ke Sumatera Utara. Bajunya nampak kuyup oleh keringat. Wajahnya nampak lelah dan sepasang matanya yang menyimpan sekian rahasia, nampak lapar. Sejenak aku teringat akan kawan-kawan lama Tapanuliku yang entah di mana sekarang mereka berada setelah Tragedi Nasional September 1965 meletus. Apakah mereka masih hidup, berapa`yang hidup, jika hidup di mana, semua pertanyaan ini tinggal pertanyaan yang tak pernah pasti kudapatkan jawabannya, kecuali nama-nama, wajah dan mimpi mereka terukir selalu dalam kenangan yang tak pernah mengkhianatiku. Tak terobohkan oleh tragedi sedahsyat apa pun. Pengalaman dan kenangan akan kawan-kawan Tapanuliku yang dibangkitkan kembali oleh penyanyi jalanan dlam bus antara Solo-Yogya ini melayangkan ingatanku akan kata-kata Nectar teman dekatku dari Singapura yang mengatakan bahwa persahabatan itu jauh lebih langgeng dari cinta. Untuk menjadi sahabat sejati saja bukanlah soal sederhana. Tidak gampang bersahabat dan mendapatkan sahabat. Sedangkan cinta sangat dekat benci. Oleh pengalamannya, Nectar lebih menyanjung persahabatan daripada cinta. Waktu, kemudian, pelan-pelan mendorongku untuk memahami kata-kata kesimpulan Nectar. Untuk memahami sesuatu barangkali apa yang dikatakan oleh S.Sitaim, seorang penyair Kinibalu, Sabah, perlu berada di sepatuku mungkin diperlukan. Berada di sepatuku dengan kata lain barangkali bisa dikatakan memahami segala segi keadaan dan diri seseorang atau mungkin dekat dengan konsep tepa selira jika menggunakan ungkapan orang Jawa Tengah -- walau pun konsep ini nampaknya dalam perkembangan makin tidak diindahkan atau dipinggirkan oleh orang Jawa Tengah sendiri. Ujud dari perkembangan masyarakat, bergesernya nilai-nilai kolektif ke individualistis sehingga kebiasaan jutakan yang subyektif dan angkuh makin berkembang sejalan dengan terjadinya rural exodus. Penyanyi muda itu meraup semua senar gitar tuanya untuk menarik perhatian penumpang dan melakukan konsentrasi. Disusul dengan tabuhan tiga kali pada dada gitarnya. Intro ini tanpa disadari telah memikat perhatian para penumpang bus. Saya akan menyanyikan lagu Panbers [Panjaitan Bersaudara] Gereja Tua. Mudah-mudahan berkenan, ujar sang penyanyi yang nampak bertarung dengan kelelahan dan panas jalan. Lelaki muda itu melanjutkan petikan introduksi untuk lagu ;Gereja Tua dan dengan suara patah-patah karena kebanyakan merokok dan kondisi tak terpelihara sebagai penyanyi, ia mulai melantunkan lirik lagu tersebut: Masihkah kau ingat waktu di desa Bercanda bersama di samping gereja Kala itu kita masih remaja Yang polos hatinya bercerita Waktu kini telah lama berlalu Sudah sepuluh tahun tak bertemu Entah di mana kini kau berada Tak tahu di mana rimbanya Hanya satu yang tak terlupakan Kala senja di gereja tua Waktu itu hujan rintik-rintik Kita berteduh dibawah atapnya Kita berdiri begitu rapat Hingga suasana begitu hangat Tanganmu ku dekap erat-erat Kenangan itu selalu ku ingat Biarpun saat ini kau telah berdua Itu bukan kesalahanmu Kuhanya ingin dapat bertemu Bila bertemu puaslah hatiku Sekali pun lirik lagi ini dinyanyikan dengan suara patah-patah seorang yang lelah dan lapar, tapi ia disuarakan dengan penuh perasaan dan pengkahayatan seakan sang penyanyi menuturkan pengalaman dirinya sendiri, menyenandungkan harapan yang pernah tumbuh disemai oleh cinta yang polos di masa remaja, melukiskan kekecewaan dan kepahatian ketika harapan itu remuk. Tapi keremukan tidak merusak keindahan mimpi dan kenangannya. Keindahan polos itu senantiasa menguntitnya sebagai bayangan. Ketika berhadapan dengan kenyataan yang keras satu-satunya kemudian keinginan yang tertinggal adalah : Kuhanya ingin dapat bertemu dan Bila bertemu puaslah hatiku. Lirik dan lagu sangatlah padu dan si penyanyi jalanan autobusku membawakan sari jiwa lagu itu dengan utuh. Aku merasa sangat ia pukau dan ketika ia mendekati kursi dudukku, ia ke genggamannya kuselipkan lembaran Rp.100.000,- sambil mengucapkan maliate [terimakasih] , ucapan yang membuat si penyanyi bingung memanandang mataku yang basah. Ia memegang bahuku tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan turun dari bus menjelang masuk Yogya. Ia sebagai penyanyi mempunyai kisah sendiri, aku sebagai pendengar mempunyai latar kisah sendiri. Kami bertemu di sebuah lagu. Ujud dari kedaulatan teks dan pendengar/pembaca. Di lagu Panbers Gereja Tua ini, aku dapatkan kisah kesetiaan kasih remaja yang polos tapi kemudian terpaksa berpisah dan saling tak tahu di rimba mana masing-masing berada. Tragedi jutaan pribadi dan tanahair padanya disatukan. Tapi kepahitan tidak mehancurkan harapan ujud dari kekuatan anak manusia yang tak gampang dihancurkan. Saban mengambil bus Yogya-Solo , diam-diam aku berharap bisa bertemu lagi dengan penyanyi lagu itu dan ingin ia mendendangkan lagu yang mempertemukan kami Gereja Tua. Tapi keinginananku hanyalah keinginan yang berjarak dengan kenyataan. Tahun lalu aku pulang dan seperti biasa mengambil kendaraan umum saban menggunakan rute Solo-Yogya. Tapi aku tak pernah lagi bertemu dengan penyanyiku yang mengurai seluruh kenangan dan mimpi. Sejak itu penyanyi tersebut, tanpa kusadari masuk jadi khazanah kenanganku walau pun bisa kupastikan aku luput dari kenangannya sebagai orang yang memang tak ia kenal. Hidup seperti kata penyair Amerika Walt Whitman tak obah bagai orang papasan di jalan. Berada di sepatu perasaanku Judith Magdalena, si puteri Kawanua, ketika kembali dari Indonesia, awal tahun 2006, secara khusus mengoleh-olehiku kaset Panbers ini. Terimakasih Magdalena. Di bawah atap gereja tua dan hujan rintik-rintik, bagai phoenix, kenanganku mengarungi angkasa mimpi segala cuaca. Hidup pemimpi dan cinta pun sering kulihat adalah phoenix itu sendiri. Kupasti kau pun tahu dan menjadi rahasia jemarimu yang asyik menyulam sementara aku masih saja mengelanai jalan-jalan benua tanpa tahu kapan pulang. Kubayangkan bahwa ketika itu sebenarnya kau ingin menyulam namaku tapi kau urung sendiri dan membiarkannya bertaburan bersama angin. Cest la vie dan ceca la vie, kudengar ngiang-gaung suara Nectar menyusup ruang telinga tak pernah hampa cerita dan kenang. Kau hanya tersenyum menutup pilu Sysiphus. *** Paris, Januari 2006. JJ.Kusni
Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Clean water saves lives. Help make water safe for our children. http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/.DlolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
