Catatan Sastra Seorang Awam:
   
  “EPILOG CINTA”, SANJAK-SANJAK CINTA KATHIRINA SUSANNA [2]
  Lukisan Lika-liku Perjalanan Batin Seorang Penyair
   
  Beberapa masalah masalah  yang ingin kucatat setelah membaca puisi-puisi 
cinta Kathirina Susanna di atas adalah: [1]. Tema cinta; [2]. Produktivitas; 
[3]. Waktu penulisan sebagai indicator; [4]. Dilema: Penjara atau Dorongan?   
   
  [1]. Tema Cinta:
   
  Dibandingkan dengan tema-tema lain,  seperti tema sosial, politik, 
lingkungan, jender dan lain-lain, secara kuantitatif, tema cinta agaknya 
merupakan subyek yang paling banyak digarap oleh penyair Kota Kinibalu ini.  
Yang saya maksudkan dengan cinta di sini adalah hubungan emosional antara 
lelaki dan perempuan karena cinta sesungguhnya bisa  mempunyai arti lebih luas 
yaitu idealisme pilihan seseorang, jalan hidup dan society grand design [peta 
besar tatanan masyarakat idaman] seorang penyair, yang juga bisa disebut mimpi. 
 Artinya lebih luas dari pengertian sebatas hubungan emosional  yang ada dan 
tumbuh di antara lelaki dan perempuan. Dalam melukiskan idealisme pilihan ini 
bisa saja terjadi dan menggunakan lambang berupa rasa cinta pada seorang 
perempuan atau lelaki.  Karena itu tidak selayaknya begitu kita membaca kata 
‘cinta’  dipahami sebagai hubungan perasaan antara lelaki dan perempuan saja. 
Tapi katakanlah, ia adalah cinta  dalam pengertian terbatas demikian, tetap 
saja ia
 tidak menjadi tabu dalam sastra. `Karena itu jika kita amati, dalam sastra 
berbagai bangsa, sering dan tidak asing ada kumpulan puisi atau cerpen atau 
esai atau novel yang khusus bertemakan tema cinta [dalam artian sempit] bahkan 
antologi puisi-piuisi erotik. Tidak ada tema tabu dan daerah terlarang  bagi 
sastra.  Dalam pencarian nilai, sastrawan tidak mempunyai hutan-hutan keramat  
yang tabu ia jelajahi seperti yang dikatakan oleh penyair Chairil Anwar dalam 
sanjaknya ‘ Kepada Kawan’: 
   
  “Jadi
  Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan
  Tembus jelajah dunia inmi dan balikkan 
  Peluk kucup pere;puan, tinggalkan kalau merayu, `
  Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
  Jangan tambatkan pada siang dan malam
  Dan 
  Hancurkan lagi apa yang kau perbuat” 
   
  Jika memperhatikan website dan tulisan-tulisan terakhir [sampai awal tahun 
2006],  tema cinta dalam pengertian sempit memang subyek yang secara kuantitas 
mendominasi karya-karya Kathirina. Barangkali hal ini erat berkaitan dengan 
pengalaman pribadi penyair.
   
  Tidak ada yang patut dikritik ketika penyair memilih subyek demikian. 
Masalahnya bagaimana secara sastra atau puisi tema tersebut diolah. Karena 
puisi adalah puisi, sastra tetap sastra yang mempunyai tuntutannya sendiri. Dan 
soal ini, aku kira, ia merupakan pertarungan dan pencarian yang tak pernah 
punya usai. Karena secara hakiki pencarian memang tak punya sudah. Sudah 
berarti kematian sebagai sastrawan atau penyair. Kemandegan pun bisa berarti 
kematian. Penyair atau sastrawan pada umumnya adalah arus yang terus mengalir 
dan mengalir tanpa henti  sebagaimana dikatakan oleh penyair T.S.Eliot:
   
  ‘It is impossible to say just what I mean!
  …………
  ..
  ‘that is not it at all,
  That is not what I meant, at all!’
   
  [Dari : ‘The Love Song Of  J. Alfred Prufrock’  in :Edward Leeson, ‘The New 
Golden Treasury of English Verse’ , Pan Book, London, 1981, hlm. 426].
   
  Apa yang dikatakan oleh T.S. Eliot ini, kukira selain menggambarkan keadaan 
pencarian sastrawan, juga menunjukkan bagaimana selayaknya menafsirkan atau  
memahami puisi yang jika menggunakan ungkapan tetua kita membaca yang tersirat 
pada yang tersurat..  
   
  Dengan metode Eliot atau leluhur kita,  maka untuk memahami puisi kiranya 
diperlukan pemahaman tentang latar belakang sejarah penyair, keadaan 
sosial-politik terutama nilai dominan suatu masyarakat pada periode sejarah 
tertentu yang kemudian melahirkan psikhologi atau reaksi tertentu baik secara 
individual atau pun secara kolektif.  Tanpa menggunakan cara pendekatan 
menyeluruh begini, kiranya akan sulit diharapkan adanya kritik dan pemahaman 
yang padan  terhadap suatu karya sasrtra. Tanpa menggunakan pendekatan 
menyeluruh begini, kritik atau komentar bakal gampang jatuh pada kesatusegian 
yang sempit dan mendekati kesewenang-wenangan asal omong.
   
   Dilihat dari segi ini, aku mempertanyakan berapa gerangan jumlah kritikus 
dan komentator sastra serius di dunia sastra Indonesia dan Nusantara? Aku 
melihat barangkali kritik dan komentar berada jauh ketinggalan di belakang 
karya-karya dari berbagai genre yang sudah dilemparkan ke tengah-tengah 
masyarakat. Yang banyak kita dapatkan adalah tulisan yang mengungkapkan suka 
tidak suka subyektif dan kurang atau belum sampai kepada tingkat usaha 
mendekati penilaian obyektif. Hanya aku cukup kagum dalam pengertian kaget akan 
keberanian sementara orang yang secara otoproklamasi sudah menyatakan diri 
sebagai kritikus sebagaimana yang terungkap dalam chating menggunakan yahoo 
messenger dengan aku: ‘ Lha aku, apakah bukan kritikus?’.  Tanpa niat mengadili 
, aku mencoba menelusuri tempat-tempat yang disebutkan guna melihat seberapa 
banyak dan seberapa kualitas tulisan yang disebutkan dengan bangga sebagai 
kritik sastra itu.  Setelah mengamati tulisan-tulisan yang dimaksud, aku sampai 
pada
 perkiraan bahwa orang-orang yang begitu percaya diri dan bangga diri ini tidak 
lain dari orang-orang sakit belaka. 
   
  Gejala lain baru yang muncul dalam dunia sastra adalah adanya 
komentar-komentar di belakang kulit buku yang diterbitkan. Komentar yang 
terkadang berkelebihan dan bersifat dekat pada iklan agar buku sastra itu laris 
dijual  -- dampak dari kekuasaan uang dalam masyrakat.
   
  Kecuali itu aku pun sering mendapatkan pendapat-pendapat  aneh seperti 
‘lesbianisme sebagai solusi ganda’ atau ‘penyair tidak perlu cerdik’, 
pendapat-pendapat nyentrik untuk menarik perhatian bersifat provokatif menduga 
sebagai suatu penemuan, tapi sebenarnya ketika tidak bisa dipertahankan 
memperlihatkan diri hanya sebagai absurditas teoritis, asing dari kenyataan 
sekali pun berselubungkan analisa akademis.
   
  Melihat gejala otoproklamasi, eksentrisme, absurditas teoritis dan 
komentar-komentar iklan begini, aku khawatir jangan-jangan dunia kritik sastra 
negeri ini sedang berada dalam keadaan sakit keras seperti halnya keadaan 
Indonesia yang tak juga keluar-keluar dari krisis bermuka majemuk.  Indonesia 
sebagai negara dan bangsa kunilai sebagai ‘orang sakit Asia Tenggara’ dan bukan 
tidak mungkin, karena keterkaitan sastra dengan keadaan sosial serta politik, 
sastrapun mengidap penyakit juga. Aku hanya berharap bahwa pendapat dan 
penglihatanku keliru karena kekurangan data. 
   
  Yang lebih kalut lagi, adalah adanya di sementara negeri tertentu di kawasan 
Nusantara ini, negara jiran Indonesia, ada yang mencamburbaurkan antara makian, 
polemik dan kritik sastra.  Yang dibicarakan bukan substansi atau teks tapi 
menyerang pribadi orang  dan sungguh malang tulisan begini disebut sebagai 
kritik, ujud dari kemajemukan  atau ‘interaksi tanpa prejudice’, sedangkan 
serangan pribadi di luar teks dikategorikan sebagai polemik.  Dengan tingkat 
pemahaman begini, aku hanya melihat betapa jauhnya pendukung sastra Nusantara 
kekinian berada di belakang sastra dunia sehingga akhirnya menampakkan rendah 
diri dengan mendewa-dewakan sastra negeri lain terutama Barat sementara 
khazanah sastra diri sendiri kurang dikahayati. 
   
  Pertanyaan utama di sini  adalah: Apakah kita tidak punya rasa kompleks 
rendah diri di hadapan sastra negeri-negeri lain? Kita begitu bangga menyebut 
nama Boll, Grass,  Hess, Sartre, Marquez, Octavio Paz, Updike, dan lain-lain 
tapi yang mengangkat penulis-penulis Nusantara justru orang-orang Barat. Apakah 
ini tidak suatu ironi? Dan yang lebih luarbiasa setelah  orang-orang Barat 
mengangkat penulis-penulis Nusantara dan menghargai mereka, barulah  kita 
ikut-ikutan [bukan ‘ikut’ tapi ‘ikut-ikutan’] memberi lirikan. Apakah nama dari 
model mentalitas begini, mentalitas yang tidak bisa menghargai dan mencintai 
diri sendiri?
   
  Cinta, kalau kita bicara tentang cinta, aku cenderung melihatnya sebagai  
suatu konsep yang menempatkan manusia sebagai titik sentral tanpa obyek. Aku 
yang mencintai dan yang dicintai adalah setara sebagai subyek. Ketika sama-sama 
menjadi subyek maka tidak ada yang berhak menyebut diri sebagai juruselamat 
atau melakukan misi suci.  Mentalitas ‘ikut-ikutan’ tidak lain dari menempatkan 
diri sebagai obyek. Apabila dalam mencintai ada subyek dan obyek, maka cinta 
itu mempunyai ciri kasta rendah dan tinggi seperti yang dituangkan dalam konsep 
‘konco wingking’, ‘perempuan sebagai bunga’ ,  dan sejenisnya.
   
  Mengamati puisi-puisi cinta Kathirina, terutama ‘Epilog Cinta’-nya, aku 
berkesan kuat bahwa penyair Kota Kini ini masih menempatkan diri sebagai obyek. 
Sikapnya yang mengangkap ‘cinta’ sebagai ‘kosong’ dan lain-lain seperti 
‘membekukan hati’ kukira hanyalah ungkapan dari sikap yang memperlakukan diri 
sebagai obyek dan bukan sebagai subyek sebagaimana yang ia tulis di bawah ini:
   
  “Apakah kamu percaya cinta itu bererti kebahagian?
  Aku tidak percaya
  Kerana padaku
  Cinta itu satu pergorbanan
  Satu penderitaan
  Demi kebahagian orang lain!”
   
   Dalam tatanan masyarakat maskulin umumnya anak manusia tidak dipandang 
sebagai subyek setara tapi dipilah antara subyek dan obyek bahkan obyek 
penderita atau pelengkap penderita. Masalah ini akan lebih diperjelas dan 
dipertajam lagi apabila dilakukan studi banding melalui teks  berbagai penulis 
kekinian dari berbagai negeri seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan  
Brunei.  Akan lebih-lebih menarik lagi jika teks-teks  May Theo, seorang 
penulis  Singapura, yang orisinal dan kritis, dibandingkan dengan teks-teks  
Kathirina dari Sabah atau penulis-penulis Indonesia seperti yang terdapat dalam 
kucerpen ‘Hongkong, Namaku Peri Cinta’ dan Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu,Fira 
Basuki, Dorothea Rosa Herliany, Harsanti [Shantined], bahkan Toeti Heraty dan 
lain-lain…
   
  Melalui studi perbandingan teks-teks demikian, barangkali kita bisa melihat 
tempat dan tingkat kita dan dari pengenalan demikian, kita bisa membuat peta 
rancangan perjalanan maju selanjutnya. Studi banding demikian, atau 
pembandingan demikian untuk penyair secara individual, barangkali juga sangat 
berguna sebagai kaca melihat diri dan melangkah lebih jauh lagi.  ***
   
  Paris, Januari 2006.
  JJ. Kusni  
                
---------------------------------
Yahoo! Mail - now with Autocomplete that helps fill email addresses. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke