Selamat menikmati suguhan dari Mas Nano di Jerman
Salam,
Mukhlisin
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/102006/03/0901.htm
Mereaksi Pidato Paus
Oleh ESTANANTO 
Jauh sebelum kontroversi September 2006, bulan Agustus 2005 Paus Benediktus XVI 
yang baru saja naik tahta menerima 10 delegasi muslim Jerman dalam rangkaian 
acaranya di "Weldjugendtag" (Pertemuan Pemuda Katolik Sedunia) di Koeln 
(Cologne). Dalam audiensi itu Paus berpesan agar "menghilangkan kebencian dalam 
hati" dan "bekerja sama menghadapi teror berbasis agama". 

Sampai saat itu pernyataan tersebut masih merupakan misteri, karena dunia masih 
ingat betapa kerasnya usaha pendahulu beliau yaitu mendiang Paus Johannes 
Paulus II dalam mengadakan dialog antariman. Sedemikian hormatnya sebagian kaum 
muslimin terhadap Johannes Paulus II, Dalil Boubakeur ketua Dewan Islam Prancis 
menjelaskan, ketika Johannes Paulus II sakit keras bulan April 2005, bahwa 
muslim juga berdoa untuk kesembuhan Paus (Johannes Paulus II). Suatu harmoni 
yang sangat baru dalam sejarah tanpa Gereja Katolik sendiri kehilangan jati 
dirinya.

Setahun setelah Paus Benediktus XVI mengajak untuk "bekerja sama", dalam orasi 
ilmiah di Universitas Regensburg beliau seolah memperjelas apa yang dimaksud 
dengan "kebencian" dan "teror berbasis agama". Di univesitas ini, tahun 1959 
silam beliau pernah menjadi dosen teologi. Dalam orasi ilmiah yang berjudul 
"Glaube, Vernunft, und Universitaet" (Iman, Rasionalitas, dan Universitas) itu, 
tema sebenarnya adalah bagaimana kedudukan iman dan rasionalitas di dunia 
modern. Paus mengutip diskusi antara Kaisar Manuel II Paleologos dan "seorang 
terdidik berkebangsaan Persia" yang terjadi antara tahun 1394 dan 1402 ketika 
Konstantinopel, ibukota kekaisaran Romawi Timur terkepung. 

Kutipan ini pun diambil dari kutipan buku karya Profesor Theodor Khoury dari 
kota Muenster. Kutipan ini bagi Paus dalam orasinya adalah "sangat menarik" 
sehingga diakui sendiri oleh beliau menjadi "titik awal" pemikirannya ketika 
berbicara tentang masalah iman dan rasionalitas. Untuk melihat apa yang 
sesungguhnya dikatakan Paus, penulis merujuk ke baik transkripsi asli orasi 
Paus dalam bahasa Jerman maupun juga terjemahan bahasa Inggris di situs resmi 
Tahta Suci Vatikan, http://www.vatican.va. 

Manuel II menyinggung bahwa dalam Alquran, kitab suci umat Islam, ada ayat 
"Tidak ada paksaan dalam agama" (la ikraha fi ad-diin...QS Al-Baqarah: 256), 
seraya menambahkan, "tetapi kita juga tahu bahwa ayat ini (turun) ketika 
Muhammad sedang dalam keadaan lemah dan tidak punya kekuasaan. Sedangkan jihad 
disebut dalam Alquran belakangan kemudian."

Padahal, ayat Al-Baqarah ayat 256 adalah surat madaniyyah - bukan makkiyah - 
yang turun berkenaan dengan kaum Anshar di Madinah, yaitu, tentu saja terjadi 
setelah hijrah yang menunjukkan bahwa ayat ini turun justru ketika Nabi 
Muhammad sudah memiliki kekuasaan sendiri di Madinah. Sesungguhnya menurut 
riwayat Ibnu Abbas dari Ibnu Jarir dari Sa'id atau Ikrimah, ayat ini justru 
melarang seorang bernama Al-Hushain dari suku Bani Salim bin 'Auf dari kaum 
Anshar memaksa anaknya yang beragama Nasrani untuk memeluk Islam. 

Dan barulah muncul kutipan kontroversial itu "Tunjukkan kepadaku, apa yang baru 
dibawa Muhammad, dan kamu akan menemukan yang buruk-buruk dan tidak manusiawi, 
seperti misalnya perintah (Muhammad) untuk menyebarkan agama dengan pedang." 
Manuel menambahkan, "Tuhan tidak menyukai darah. Bertindak irasional adalah 
bertentangan dengan sifat Tuhan. Iman adalah buah dari jiwa, bukan badan. Untuk 
mengarahkan seseorang ke arah keimanan, yang diperlukan adalah pembicaraan yang 
baik dan argumen yang benar, bukan kekerasan dan ancaman. Untuk meyakinkan 
sebuah jiwa, yang diperlukan bukanlah tangan yang kuat ataupun senjata, ataupun 
ancaman kematian".

Jadi kutipan menghebohkan di atas sesungguhnya didasarkan atas argumen 
sebelumnya, yaitu "Islam disebarkan dengan pedang" yang ternyata memakai dasar 
yang salah yaitu - sekali lagi - Al-Baqarah:256 adalah ayat yang turun setelah 
Nabi Muhammad mempunyai kedudukan yang kokoh di Madinah, sehingga ayat ini 
bukanlah "ayat basa-basi" yang diturunkan ketika Nabi Muhammad lemah. Argumen 
Manuel II yang dikutip oleh Profesor Khoury dan dikutip lagi oleh Paus 
Benediktus XVI menunjukkan seolah-olah Islam adalah "contoh agama di mana iman 
disebarkan dengan paksaan dan kurang rasional".

Lebih lanjut Paus menambahkan - kali ini bukan lagi kutipan dari Manuel II, 
melainkan komentar Profesor Khoury - "Tuhan dalam Islam adalah transenden. Dia 
tidak terjangkau oleh pikiran kita dan juga rasionalitas." kali ini Khoury 
mengutip "ahli Islam" Prancis R. Arnaldez yang juga mengutip cendekiawan muslim 
Andalusia (Spanyol) abad ke-11. Dengan demikian kutipan dari kutipan ini 
menyiratkan bahwa dalam Islam sungguh-sungguh tidak dikenal rasionalitas. 

Semestinya kalau bicara soal rasionalitas Paus mengutip juga kenyataan, bahwa 
pemikir-pemikir muslim Andalusia lah yang meneruskan pemikiran-pemikiran 
filosofis-rasional dari Yunani kepada Eropa, setelah pemikiran Aristotelian 
sempat tidak dikenal di Eropa sendiri. Pemicu "Abad Pencerahan" atau Aufklarung 
di Eropa sesungguhnyalah buku-buku Averroes (bahasa Latin dari Ibnu Rusyd) dan 
Avicenna (bahasa Latin dari Ibnu Sina), dengan perdebatannya dengan Algazen 
(bahasa Latin dari Al-Ghazali) yang mewakili kubu lainnya. Buku-buku Ibnu Rusyd 
dan para pengagumnya di Eropa sempat menjadi "buku subversif" yang dilarang 
Gereja Katolik pada masa itu (Assyaukanie, 2005).

Kemarahan tak terkendali

Pepatah mengatakan, seorang mukmin itu tidak akan terantuk batu dua kali. Atau 
dalam kata-kata lain, tidak masuk lubang dua kali. Akan tetapi tampaknya 
pepatah ini tidak berlaku di tahun 2006 ini. 

Awal tahun 2006 terjadi kemarahan besar kaum muslimin di seluruh dunia terhadap 
koran regional Denmark Jyllands-Posten. Kemarahan itu ternyata tidak membuahkan 
hasil yang diinginkan karena Jyllands-Posten dan pemerintah Denmark tidak 
merasa perlu meminta maaf. Belakangan malah anarkisme yang ditimbulkan oleh 
kemarahan itu menjadi makanan empuk media massa Eropa betapa Islam dan umat 
Islam memang akrab dengan kekerasan. 

Mungkin akibat ini tidak dirasakan oleh kaum Muslimin yang tinggal di negara 
yang banyak berpenduduk Muslim, tetapi sangat dirasakan oleh kaum Muslimin yang 
tinggal sebagai minoritas di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Demikian juga 
kali ini, ketika kemarahan kaum Muslimin di berbagai negara akibat orasi Paus. 
Seorang biarawati di Somalia tewas tertembak oleh orang tak dikenal. Gelombang 
demonstrasi berupa orang yang berteriak-teriak dengan muka beringas menghiasi 
media-media utama Eropa. Politisi-politisi Eropa mulai menuntut kepada Muslim 
minoritas untuk "menyatakan sikap dan perbuatan tegas terhadap tindak 
kekerasan". 

Kalau sudah begini, yang paling menjadi korban adalah para imigran lugu yang 
tidak tahu apa-apa. Kebanyakan imigran Turki di Jerman adalah pekerja rendahan 
tapi jujur dan lugu, mereka tidak bermaksud jahat kepada orang-orang Jerman. 
Kelemahan mereka adalah karena demikian banyaknya jumlah mereka di Eropa, 
kemampuan berbahasa mereka juga tidak terlalu lancar. 

Sikap kaum Muslimin yang berbuat di luar kewajaran itu turut mendukung dugaan, 
bahwa tindakan-tindakan terorisme seperti percobaan peledakan pesawat terbang 
sipil dan kereta api memang diinspirasikan oleh ajaran agama. Tendensi itu 
lebih terasa seteleh kemarahan pascaorasi Paus. 

Ronald Pofalla, Sekretaris Jenderal Uni Kristen Demokrat, partai berkuasa di 
Jerman, dengan marah mengatakan bahwa kekerasan berbasis agama adalah masalah 
yang timbul dari kaum Muslimin, Dia menuntut agar kaum Muslim Jerman yang 
jumlahnya hampir 4 juta orang membuktikan dengan nyata tiga hal: penerimaan 
kebebasan berpendapat, persamaan hak laki-laki dan perempuan, serta penolakan 
penggunaan kekerasan. Kebebasan berpendapat di sini berarti juga hak mengritik 
bahkan menghina agama sebagaimana yang biasa dilakukan terhadap agama-agama 
lain di Eropa - kecuali Yahudi tentu karena bisa-bisa langsung dianggap 
antisemit. Tuntutan itu mengandung pesan anggapan sebaliknya, yaitu bahwa kaum 
Muslimin memang tidak toleran, menindas perempuan, dan absah menggunakan 
kekerasan. Suatu hal yang harus dibuktikan oleh kaum Muslimin sendiri.

Tindakan reaktif hanyalah merugikan secara jangka panjang. Sayang sekali, 
"prestasi" pemimpin-pemimpin Muslim Indonesia yang megimbau untuk tidak 
bersikap reaktif kepada Paus sama sekali tidak dimuat oleh media-media massa 
dunia yang berpengaruh. Ketua Umum PP Muhammadiyyah Din Syamsuddin menyesalkan 
ucapan Paus tetapi menyerukan agar umat Islam memaafkannya. Ketua Umum 
Nahdlatul 'Ulama yang disebut-sebut memiliki 60 juta anggota dan simpatisan, 
Hasyim Muzadi, mengatakan "Paus hanya seorang manusia yang bisa berbuat salah". 
Akan tetapi, usaha menyejukkan dari dua pemimpin ormas Islam terbesar di muka 
bumi itu tidak sampai di media-media Barat.

Adalah mungkin satu usaha mulia untuk mulai melakukan upaya pengiriman 
statement resmi ke media-media seperti al-Jazeera, CNN, BBC, Sueddeustche 
Zeitung, der Spiegel, dan lain-lain, dalam bahasa internasional seperti bahasa 
Inggris. Upaya klarifikasi lewat media ini harus dilakukan secara profesional 
dan biaya yang tertentu pula. Model yang sekarang harus dicoba adalah model 
"jemput bola" secara internasional, tidak lagi "menunggu jemputan". Ini bisa 
jadi projek media paling penting sepanjang sejarah umat Islam Indonesia dan 
bangsa Indonesia.***  

Alumni ITB kelahiran Bandung, mantan aktivis Salman ITB, bekerja di Jerman.





[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke