http://www.kompas.co.id/
 
Mengikis Komersialisasi Ramadhan 


Zainal Alimuslim Hidayat 

Sudah puluhan kali berjumpa Ramadhan, tetapi wajah masyarakat kita seolah tidak 
banyak berubah. Indikatornya, menurut KH Salahudin Wahid (Kompas, 21/9/06), 
korupsi masih marak, jual beli perkara tak berkurang, kemiskinan dan kelaparan 
pun menjamur di tengah bumi yang makmur. Lalu apa yang kurang dengan puasa umat 
Muslim sebulan penuh dalam setahun itu? 

Ramadhan memang selalu diharapkan akan membawa perbaikan. Ibarat pit stop dalam 
sebuah balapan, setelah melewati bulan suci tersebut, setiap umat Muslim 
semestinya mendapat energi baru untuk "berlomba-lomba dalam mengerjakan 
kebajikan" sebagaimana diperintahkan dalam Al Quran. 

Sayangnya, kini Ramadhan tidak sebatas wahana untuk menyucikan jiwa dan 
menjalankan berbagai ritual agama. Selama puluhan tahun, Ramadhan ikut 
berproses dengan berbagai fenomena "global" sekaligus tradisi "lokal". 
Akibatnya, banyak praktik yang secara intrinsik tidak ada hubungannya dengan 
agama, bahkan menurut sebagian orang tak kompatibel dengan ajaran agama itu 
sendiri, justru lebih menonjol selama Ramadhan. 

Merangsang konsumsi 

Sosiolog University of Oxford, Walter Armburst (2004), menyimpulkan bahwa 
Ramadhan selanjutnya menjadi peristiwa yang dapat dipergunakan untuk tujuan 
yang multiguna. Ramadhan menjadi "sesuatu" yang lebih jauh bisa dipakai untuk 
mewujudkan agenda yang berbeda-beda; mulai dari menjual produk, merangsang 
konsumsi, hingga mempromosikan sikap politik. 

Para pemasar kelas dunia sejak lama menandai kedatangan Ramadhan sebagai the 
most important business period, dan tentu saja pada hari-hari besar agama lain. 
Pada bulan ini umat Muslim memang tidak makan dan minum seharian, sebulan 
penuh, tetapi ajaibnya konsumsi makanan meningkat signifikan (Indonesian 
Consumers, 2004). 

Akibat larut dalam budaya konsumen, Ramadhan tidak lagi sekadar bulan untuk 
mengonstruksi kesalehan, merekatkan kasih sayang, atau mengurangi ketimpangan 
sosial-ekonomi. Alih-alih menghilangkan kesenjangan, yang banyak kita baca 
justru promosi paket menginap dan makan sahur seharga ratusan ribu rupiah di 
hotel-hotel berbintang. Di layar kaca, penonton disuguhi kuis dengan hadiah 
miliaran rupiah. 

Terjadinya persinggungan antara gairah beragama masyarakat dan motif mengeruk 
keuntungan pebisnis merupakan kecenderungan yang merata di negara- negara 
Muslim. Modernitas dan globalisasi telah mereproduksi apa yang disebut oleh 
para sosiolog sebagai "komersialisasi Ramadhan", mirip komersialisasi yang 
terjadi pada Hari Natal dan Hanukah (Islam in the Market Place: Does Ramadhan 
Turn into Christmas?, Sandicki & Omeraki, 2006). Pada titik inilah muncul 
seruan tentang perlunya purifikasi hal-hal ritual dari yang sekular. 

Purifikasi tradisi 

Terciptanya keadilan tetap mensyaratkan penegakan hukum tanpa pandang bulu 
serta kehadiran institusi yang berwibawa. Demikian halnya, selain memerlukan 
kedermawanan dan solidaritas sosial yang ditumbuhkan dengan ritual puasa, 
kemiskinan hanya akan dapat diatasi dengan pilihan kebijakan yang tepat dan 
sungguh-sungguh prorakyat miskin. Dalam hal ini, langkah Komisi Pemberantasan 
Korupsi (KPK) melarang pemberian parsel merupakan contoh yang baik sebagai 
upaya kecil mengikis korupsi sekaligus membantu menegaskan posisi agama. 

Seorang warga asing yang sudah 20 tahun bermukim di Arab Saudi mengaku enggan 
keluar rumah di sore hari selama Ramadhan. Pasalnya, di negara tersebut setiap 
bulan puasa angka kecelakaan lalu lintas meningkat signifikan akibat banyak 
warganya tergesa-gesa pulang ke rumah menjelang buka puasa (The Washington 
Times, 7/11/04). 

Berpuasa harus menjadi kekuatan yang mendorong perubahan dan perbaikan berbagai 
segi kehidupan. Menurut ulama besar Mesir, Yusuf al-Qardhawi, di antara hikmah 
penting Ramadhan adalah menimbulkan kehendak (iradah) dan membangkitkan 
semangat (Fiqh Shiam, 1995). Tekad dan semangat yang kuat inilah yang perlu 
dipergunakan oleh umat Islam untuk merebut lagi "kendali diri", dan bukan malah 
sebaliknya semakin dikendalikan syahwat konsumtivisme sehingga melanggengkan 
berbagai akhlak buruk di tengah-tengah masyarakat. 

Zainal A Hidayat Aktivis Forum Kajian Sosial dan Kemasyarakatan 



[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke