03 Oktober 2006
Menanti Kejujuran Habibie, Prabowo, dan Wiranto
Abdul Halim Mahally
Pengajar War and Peace pada FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta
Peluncuran buku memoar mantan presiden BJ Habibie menjadi isu hangat
belakangan ini. Pasalnya, sejumlah isinya, terutama rumor kudeta pada 22
Mei 1998, sarat dengan kontroversi. Media massa pun beramai-ramai
mengulas kasus menghebohkan delapan tahun silam. Dalam bukunya
"Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Menuju Demokrasi (Jakarta:
THC, 2006)' setebal 549 halaman, Habibie menulis adanya pengerahan
pasukan di sekitar Istana Negara setelah dirinya dilantik menggantikan
Soeharto pada 21 Mei 1998.
Pangkostrad waktu itu, Letjen Prabowo Subianto, dituding sebagai aktor
yang menggerakkan pasukan. Habibie bergegas melengserkan Prabowo dari
jabatan Pangkostrad agar posisinya aman. Karena, isu kudeta saat itu
begitu mengemuka. Tetapi, Prabowo justeru membantah dirinya melakukan
pengerahan pasukan, baik di sekeliling Istana Negara maupun di kediaman
Habibie di Patra Kuningan untuk menggulingkan Habibie. Ia malah ingin
mengamankan Ibukota dari kepanikan setelah lengsernya Soeharto. Prabowo
bahkan menganggap -seperti dinyatakannya baru-baru ini di pelbagai media
massa- ada disinformasi yang ditiupkan pihak ketiga sehingga ia harus
dicopot dari Pangkostrad.
Dalam argumen Prabowo, kalau ia memang berniat kudeta, sangat mudah.
Apalagi, 34 batalyon pasukan ada di bawah komandonya. Hal ini terlepas
dari pernyataan Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin (mantan Pangdam Jaya yang
kini Sekjen Dephankam dengan pangkat Letjen) bahwa kendali pasukan di
wilayah Ibukota saat muncul isu kudeta ada di bawah kewenangannya, bukan
Pangkostrad atau Danjen Kopassus (Republika, 29/9/06). Sebagai Panglima
Komando Operasi (Pangkoops) sekaligus Pangdam Jaya kala itu, Sjafrie
memegang kendali seluruh pasukan dan ia bertanggung jawab langsung
kepada Panglima ABRI, yaitu Jenderal Wiranto.
Apakah sebenarnya ada rencana kudeta di balik pengerahan pasukan di
sekitar Istana Negara beberapa saat usai pengunduran diri Soeharto? Hal
ini menyisakan misteri yang sulit dijawab. Mengapa Habibie nekad
melengserkan Prabowo dari jabatan Pangkostrad tak dijawab dengan
memuaskan. Apakah Wiranto selaku Panglima ABRI pemberi informasi kudeta
kepada Habibie menyimpan ambisi tertentu? Hal ini juga tak jelas. Pun,
seperti tak ada yang mengulas betapa repotnya Jenderal Subagyo HS selaku
KSAD ketika ia harus mencopot Prabowo dari Pangkostrad dan Mayjen Muchdi
PR dari jabatan Danjen Kopassus.
Sebenarnya, ingin sekali penulis bertanya kepada Jenderal Subagyo HS
(kini purnawirawan) ketika beliau menghadiahkan bukunya berjudul 'KSAD
Dari Piyungan (Jakarta:2005)' pada halal bihalal di kediamannya, Puri
Cikeas, 10 November 2005 lalu. Sayang, waktunya agak mepet, sehingga
upaya menelisik peran besar beliau selaku sosok yang ditugasi Jenderal
Wiranto untuk melepas tongkat komando di tangan Letjen Prabowo dan
Mayjen Muchdi terpaksa penulis urungkan. Namun, dalam opini penulis
pribadi, ada tiga hal yang, setidaknya, perlu dicermati.
Tiga argumen
Pertama, langkah Presiden BJ Habibie agar Jenderal Wiranto melepas
jabatan Prabowo selaku Pangkostrad merupakan hal tepat. Logikanya, jika
Anda sebagai seorang kepala negara diinformasikan ada pengerahan pasukan
di luar kendali waktu itu, sudah pasti Anda akan segera meminta Panglima
ABRI untuk menindaknya. Paling tidak, Anda mengamankan posisi selaku
presiden dari kemungkinan bahaya kudeta.
Kedua, pembelaan Prabowo bahwa dirinya tidak bermaksud kudeta juga bisa
diterima. Setidaknya, seorang jenderal seperti Prabowo tentu sudah
mengalkulasi betapa kudeta hanya akan meninggalkan preseden buruk bagi
citra TNI. Itu belum termasuk perpecahan yang bakal terjadi di kalangan
internal militer karena bisa dipastikan tak semua elite ABRI seirama
dengan Prabowo. Menantu Soeharto ini ternyata legowo dan tidak mengumbar
bubuk mesiu sampai ia diberhentikan dari dinas kemiliteran pada Agustus
1999.
Ketiga, isu kudeta yang disampaikan Jenderal Wiranto selaku Panglima
ABRI kepada Presiden Habibie perlu diselidiki. Apakah Wiranto
menyampaikan hal tersebut berdasarkan laporan dari bawahannya atau
sejatinya merupakan inisiatif sendiri. Jika yang pertama, maka posisinya
sebagai pimpinan tertinggi ABRI tidak boleh dipersalahkan. Tetapi, jika
yang kedua, maka perlu pula ditelusuri lebih jauh apa yang
melatarbelakangi seorang Wiranto berbuat demikian. Kepentingan negara
ataukah cemas bila Prabowo -salah satu jenderal populer di kalangan
pasukan- melebihi popularitasnya. Sehingga, mendepak Prabowo dengan isu
kudeta dianggap paling tepat untuk menjegal kariernya? Bila yang
terakhir adalah fakta, maka sesungguhnya telah terjadi unfair
competition di kalangan para jenderal.
Menyikapi kontroversi di antara Habibie, Prabowo dan Wiranto, kita hanya
bisa menunggu ketiga sosok penting tersebut untuk berlaku jujur. Hanya
kejujuran merekalah yang mampu menjawab silang sengketa ini. Ya,
kejujuran itu bukan lempar batu sembunyi tangan. Jika Habibie tidak
bicara apa adanya, jika Prabowo tidak segera 'memutihkan' dirinya, jika
Wiranto juga enggan membuka kata, maka sejarah bangsa Indonesia
selamanya akan tetap buram, untuk tidak mengatakan hitam.
Walhasil, penegasan Letjen (purn) Prabowo Subianto untuk menulis buku
guna menjawab isu kudeta -dan besar kemungkinan termasuk pelbagai
tudingan miring yang dialamatkan kepada dirinya selama ini- layak
diacungi jempol. Siapa tahu, akan bermunculan pula sejumlah buku lainnya
yang isinya tidak jauh beda: saling memutihkan diri masing-masing. Bagi
Prabowo, apa yang akan ditulisnya bisa jadi ikut menjawab keraguan
Jenderal Kiki Syahknakri (mantan wakil KSAD) dan Jenderal Soeyono
(mantan Kasum ABRI) terhadap dirinya (Republika, 28/9/06). Yang jelas,
kita berharap makhluk bernama kejujuran memang masih bernapas di negeri
yang diharu biru oleh krisis multidimensi ini.
_____
Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di :
http://www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=266951&kat_id=16
<http://www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=266951&kat_id=16>
[Non-text portions of this message have been removed]
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/