Mukadimah (Mukadimah untuk kelanjutan membahas posting Sdr. Irwan Masduki, insyaallah)
Kita sering terburu-buru menilai sesuatu, sebelum kita tahu persis sesuatu yang kita nilai tersebut. Begitu pula, kita sering melihat sesuatu yang tampaknya saling berlawanan dan bertolak belakang, padahal keluar dari sumber yang sama. Kita akan selalu menemukan hal seperti itu, dan akhirnya kita akan menyebutnya, "inkonsisten". Akan tetapi, benarkah hal itu?! Contoh seperti di bawah ini barangkali perlu kita renungkan terlebih dahulu, sebelum kita membuat suatu kesimpulan apakah sesuatu itu konsisten atau inkonsisten, apalagi berkaitan dengan Hadits. Alkisah, si A bertanya kepada si B. "B, berapa umurmu?" tanya A. B menjawab, "25 tahun." Beberapa tahun kemudian si A bertanya lagi, "B, berapa umurmu?" Si B menjawab, "29 tahun." Dari sini kita masing-masing bisa menilai apkah B konsisten atau inkonsisten! (secara eksplisit tentu inkonsisten, karena jawaban yang diberikan tidak sama. Tapi, jawaban itu tentu 100% konsisten jika kita memperhatikan keadaan dan penjelasan yang ada: "beberapa tahun kemudian". Semua orang tahu itu. Yang menjadi permasalahan jika keadaan atau penjelasan itu tidak disebutkan dan jawaban yang ada berbeda. Nah, apakah serta merta kita akan mengaggapnya inkonsisten?! Sekilas kita akan menjawab, ya, inkonsisten. Tetapi jawaban ini tidak bisa diterima begitu saja jika kita sebelumnya telah mengetahui dan mengakui kualitas dan kapabilitas B dalam masalah tersebut, tanpa mencari sebab yang menjadi penjelasan latar belakangnya. Di sinilah poinnya! apa pasalnya [baca: penjelasannya] kok, pertanyaan yang sama dijawab dengan jawaban yang berbeda.) Keadaan seperti inilah yang sering saya temui ketika seseorang menilai sesuatu itu inkonsisten, termasuk yang ada dalam imel-imel ini. ======================== (1)Rasulullah saw melihat bahwa di syurga itu kebanyakan orang orang miskin, sedangkan dalam neraka kebanyakan wanita2HR Muslim-Bukhary. ======================== Adakah yang aneh dari Hadits ini jika kita bisa memahami, menyaksikan dan barangkali melakukan bahwa kebanyakan orang-orang yang ditindas dan dizalimi adalah orang-orang lemah dan orang-orang miskin! Dan sebaliknya adalah benar. Berapa banyak orang kuat dan kaya yang kekayaannya diperoleh dengan cara-cara pengibulan terhadap orang lemah, belum lagi kewajiban-kewajiban yang menjadi hak orang lain yang tidak dipenuhi karena takut mengurangi kekayaannya? Tentang wanita, tentu bukan karena kewanitaannya, tapi karena kebanyakan perilaku wanita. Jadi Hadits ini bisa dipahami, bukan karena miskin, kaya atau gendernya, melainkan karena mayoritas perilaku dari tiap-tiap golongan tersebut. Seseorang tidak dibalas atau disiksa karena golongannya, tapi kerena perilakunya "bi maa kuntum ta'maluun". ===================== (3). Rasulullah berdoa kepada Allah swt," Yaa Allah jadikanlah aku seorang miskin dan matikanlah aku dalam kemiskinan"HR Muslim ===================== Selain itu, Nabi juga berdoa kepada Allah untuk kaya: Allahumma inni asaluka al-huda, wa al-tuqa, wa al-`afafa, wa al-ghina (poin pada kata al-ghina) Nabi juga berdoa, Allahumma ikfini bi halalika `an haramik, wa aghnini bi fadllika `an man siwak (point pada, "ikfini bi halalik" dan "aghnini bi fadllik") Dan kabar al-Qur'an tentang Nabi Muhammad, "wa wajadaka `aailan fa aghna" (poin pada kata fa aghnaa) Disamping juga "kaada al-faqru an yakuna kufran!" Dari itu semua kita harus berhati-hati membuat kesimpulan. Catatan Sirah tidak menempatkan Nabi sebagai orang yang bergelimang harta, juga bukan orang kere yang menghiba-hiba meminta belas kasihan manusia. Jadi, kaya dan miskin hanyalah ujian. Kalau kaya apakah seseorang akan sadar dengan kewajiban dan hak-hak orang lain yang ada pada kekayaannya dan kalau seseorang itu miskin apakah ia mampu bersabar dan tidak terjebak dalam kekufuran? Jika sesorang sudah mampu membuat perhitungan yang tepat untuk dirinya, maka silakan berdoa dengan yang mana saja, mau minta kaya atau miskin adalah pilihan yang mendapat "pembenaran" dari contoh doa-doa Nabi. Tentang hisab orang kaya yang lama, bukankah itu sebanding dengan kesabaran orang yang telah memilih miskin di dunianya? Hanya beda tempat dan waktu saja, bukan?! Asalkan, kesabaran si miskin dan kekayaan si kaya bisa dipertanggungjawabkan, bukankah masing-masing akan tetap sampai pada tujuan yang mulia?! Tentang kemakmuran bumi, Kemakmuran bumi tentu saja tidak terbatas pada sisi material semata. Tidak terbatas pada tingginya bangunan menjulang dan majunya teknologi. Kemakmuran manusia dan bumi juga meliputi aspek moral dan mental. Kaya dan miskin, sebagai sarana pengujian untuk manusia, keduanya menemukan perannya dalam membangun moral dan mental yang lurus, tidak bengkok atau berat sebelah. Salam, ocHie Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
