Aceh akan selalu menjadi daerah modal bagi Republik Indonesia, tidak terkecuali 
ketika masa Revolusi Fisik dengan memberikan sumbangan pesawat Seulawah. Jauh 
setelah itu Aceh akan tetap memberikan kontribusi besar bagi Negeri Pulau 
Kelapa ini, khususnya setelah berakhirnya konflik Aceh dan ditandatanganinya 
MoU Helsinki.
  
Kekerasan jiwa orang-orang Aceh yang mereka warisi dari leluhurnya telah 
mengajarkan kepada suku-suku lain bagaimana menuntut hak yang selama ini 
dieksploitasi habis untuk membangun Jakarta. Ketidakberdayaan TNI memadamkan 
pemberontakan di Aceh dan ketidakberdayaan TNA (Tentara Neugara Acheh) untuk 
meraih apa yang mereka impikan, ditambah dengan tragedi Tsunami yang menewaskan 
puluhan ribu jiwa telah memaksa kedua belah pihak duduk dalam meja perundingan. 
Dan, perundingan adalah cara terbaik untuk mengkompromikan jalan tengah tatkala 
senjata tak mampu lagi menyelesaikan masalah.


  Kekerasan jiwa inilah yang seharusnya dimiliki suku-suku lain di luar Aceh, 
jika ingin pemerataan kemakmuran. Pada paruh kedua tahun 50-an dan awal 60-an, 
PRRI/Permesta pernah menuntut hal sama, yaitu keseimbangan keuangan 
pusat-daerah, tapi akhirnya gagal akibat patah arang. Pada jaman Soeharto tak 
satupun dari anak bangsa ini berani menggugat ketimpangan ini, semua takut pada 
Baju Hijau. Terkecuali mereka yang ada dalam hutan-hutan di Serambi Mekkah sana.


  Keputusan yang diambil pemerintahan SBY melalui Wakil Presidennya Jusuf Kalla 
amatlah tepat, meski mendapat tantangan tidak kecil dari para mantan petinggi 
militer, partai-partai ultra-nasionalis, dan tokoh-tokoh nasional lain seperti 
Gus Dur dan Megawati.

  Jelas, hasil kesepakatan Helsinki akan memangkas hasil sumber-sumber alam 
yang selama ini dinikmati Jakarta sejak kemerdekaan. Namun demikian kesepakatan 
ini telah memenuhi rasa keadilan.
  
MoU Helsinki jika ditegakkan apa adanya--tanpa anulir DPR-RI--akan memberikan 
wewenang yang lebih banyak bagi Pemerintahan Aceh, termasuk akan menjadikan 
Aceh sebagai kawasan terbuka sebagaimana negara-negara maju lainnya. Yang 
terakhir inilah yang tidak pernah ada dalam sejarah berdirinya negara Republik 
Indonesia.


  Kita terbiasa dicekoki jargon nasionalisme sempit, sikap curiga berlebihan 
pada hal yang ada di luar kita, menutup diri dari pergaulan bangsa-bangsa lain, 
hingga pun pada aturan kewarganegaraan kita tidak mengenal kewargaan ganda. 
Padahal sejarah Nusantara ini tidak pernah mencatat demikian sejak awal. Kita 
merupakan bangsa-bangsa terbuka, mau menerima hal-hal baru dari bangsa lain: 
budaya, agama, dan lainnya. Bangsa Bugis pelaut ulung dengan perahu layar 
Pinisi mengarungi Samudera Hindia hingga Tanjung Harapan, kapal-kapal dagang 
Sriwijaya berlayar hingga Cina, kekuasaan Majapahit meliputi Semenanjung 
Melayu, Kesultanan Demak mengirimkan ekspedisi militer mengusir Portugis yang 
menguasai Malaka. Karena nenek moyang kita menyadari, pada hakekatnya kehidupan 
ini--termasuk membangun sebuah peradaban besar--adalah tak lepas dari memberi 
dan menerima (mengambil) dari bangsa-bangsa lain.


  Ketakutan dan sikap despotisme setiap rejim penguasa yang dimulai dari 
Soekarno dan diwarisi Soeharto terhadap hal-hal yang mampu menggoyang kekuasaan 
mereka, pada akhirnya menjadikan kita sebagai bangsa yang berwawasan sempit, 
bangsa inferior, takut pada keterbukaan dan perbedaan.


  Satu hal akhir yang mesti kita ingat bahwa negara Republik Indonesia yang 
sepakat kita dirikan bersama bukanlah pelanjut negara Hindia Belanda. Negara 
Kesatuan Republik Indonesia adalah pelanjut kejayaan masa lalu Negeri Pulau 
Kelapa ini dengan sebuah entitas baru--meski melalui penaklukan dan pasifikasi 
yang dilakukan Hindia Belanda. Kita melanjutkan kebesaran masa lalu dalam satu 
bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air, yang tak lagi terpecah oleh feodalisme 
kekuasaan sultan-sultan lokal. Melainkan sebuah kekuasaan integral yang 
dikelola bersama anak-anak Negeri Pulau Kelapa; berdiri sama tinggi duduk sama 
rendah.


  Terpilihnya Irwandi Yusuf "Tengku Isnandar Pasee" mantan Menteri Propaganda 
Gerakan Aceh Merdeka dan Muhammad Nazar Ketua Presidium SIRA dalam pemilihan 
Kepala Pemerintahan Aceh beberapa waktu lalu akan menjadi tonggak ujian. 
Mampukah Aceh memberi inspirasi bagi bangkitnya kembali kejayaan Islam 
sebagaimana masa Kesultanan Samudera Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam sebelum 
kedatangan bangsa-bangsa Barat, keadilan pusat-daerah, dan kemakmuran merata di 
Negeri Pulau Kelapa ini pada masa mendatang, ataukah justeru awal dari sebuah 
percobaan politik yang membawa petaka seperti bekas Uni Soviet. Semua akan kita 
saksikan setelah pemilu 2009, dimana partai-partai politik lokal Aceh akan 
bertarung dengan partai-partai politik nasional di Serambi Mekkah. *****

  http://farhankournia.blogspot.com/


The Mind Advances by Evolution, not by Revolution ---*****
 
---------------------------------
Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels 
in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke