Surat Sutera Putih:

"JAMPI-JAMPI" SEBAGAI POLA PIKIR DAN MENTALITAS 


1.


Artikel Harian Kompas, Jakarta, [lihat:Lampiran]  berjudul "Berhentilah 
Berjampi-jampi", menarik perhatianku karena masalah ini termasuk soal yang lama 
kuperhatikan baik melalui kehidupan langsung,  media cetak, media elektronik 
mau  pun radio dan tivi.  Masalah "berjampi-jampi" dalam menghadapi keadaan, 
apalagi malapetaka bertubi, memang bisa dilihat dari berbagai segi seperti 
psikhologi, filsafat, antropologi, ekonomi, sosial, budaya,  dan tentu saja 
politik serta pola pikir dan mentalitas. Malapetaka dan kesulitan menapis kadar 
kita sebagai anak manusia. Menyaring cinta dan mimpi kita. Terkadang kelimpahan 
hartabenda pun termasuk jenis ujian bagi tingkat kemanusiaan kita. 


Masalah pola pikir dan mentalitas di Perancis merupakan salah satu bagian dari 
cabang antropologi yang intensif ditangani.  Aku mengikuti tidak sedikit milis, 
justru antara lain dengan maksud mengenal secara relatif gampang tentang pola 
pikir dan mentalitas suatu angkatan dari bangsa ini, terutama angkatan muda 
yang menjadi penanggungjawab timbul-tenggelamnya bangsa dan negeri. Pola pikir 
akan menjelmakan diri pada mentalitas, kemudian mencerminkan diri di berbagai 
bidang seperti politik, sastra-seni, dan lain-lain..... Pola pikir, kukira erat 
kaitannya dengan pandangan hidup dan budaya. Mereka banyak ditentukan oleh 
keadaan sosial  serta latar sejarah, termasuk pendidikan yang membentuk 
penganut pola pikir dan mentalitas tersebut serta melahirkan suatu rangkaian 
kepentingan. Saat kita berbicara tentang latar sejarah, di sini kita akan 
sampai pada masalah tradisi dan modern [modern bagiku tidak identik dengan 
Baratisasi, tapi lebih terletak pada kemampuan memberi jawaban tanggap dan 
aspiratif pada persoalan kurun zaman yang dihidupi oleh suatu angkatan]. 
"Jampi-jampi" dan "nalar" adalah dua bentuk pola pikir yang berhadapan , paling 
tidak sejak masa Heraclitus. Ia merupakan dua kubu filsafat yang sekarang 
sering dikatakan sebagai kubu idealisme dan materialisme [bukan materialisme 
dalam pengertian keseharian yang lebih tertuju pada usaha meraup harta-benda 
dan uang]. Hal ini juga kukira menyangkut soal wahyu [divine truth] dan 
kebenaran dari sumber lain, seperti yang dikatakan oleh Mohammad Arkoun, 
pengajar pada Universitas Sorbonne, Paris, dalam ceramahnya di depan rombongan 
mahasiswa IAIN yang dihadiri juga oleh Gus Dur di Paris puluhan tahun lalu 
[lihat: Laporan Boedhi S di Harian Media Indonesia, Jakarta, nomor 1990an. 
Walau pun memalukan dari segi kesungguhan akademis, tapi aku minta maaf, lupa 
tanggal, bulan dan tahun tepatnya karena dokumentasiku tentang soal ini dan 
soal-soal lainnya seperti konflik etnik,   ada di Jakarta dan sebagian lagi ada 
di Palangka Raya serta tempat-tempat lain disebabkan oleh lika-liku kembaraku]. 
 


Mengacu pada bahan-bahan itu, aku melihat bahwa "jampi-jampi" termasuk satu 
keluarga dengan idealisme dan "divine truth" yang menghentikan kebebasan 
pertanyaan. Satu keluarga dengan idealisme sebagai aliran filsafat. "Divine 
truh" yang saudara kandung dari "otoritarisme, "feodallisme", "militerisme dan 
"paternalisme", dan pola-pola  pikir jalan pintas atau mie instan, membunuh 
"libre d'ésprit".  Sementara pertanyaan , simbol dari "libre d'ésprit" 
memerlukan kebebasan berpikir dan mencari seperti yang dikatakan oleh Chairil 
Anwar: "jangan tambatkan kuda pada siang dan malam","isi gelas lantas 
kosongkan" dalam mencari "pantai keempat". "Kuda nalar" tak punya lelah memacu 
di padang kenyataan hidup yang garang mengancam dan menantang. Sedangkan 
"jampi-jampi" memperlihatkan manusia tidak percaya pada dirinya, tidak percaya 
pada kemampuannya memecahkan masalah nyata, suatu bentuk eskapisme dan jalan 
pintas -- pola pikir dan mentalitas sekarang, yang tercermin antara lain dalam 
bentuk KKN dan penyalahgunaan kekuasaan [power abuse]. Barangkali pola pikir 
dan mentalitas inilah yang membawa kita terlalu berat untuk bangkit dari 
keterpurukan dan dilecehkan, bahkan oleh Malaysia dan Singapura. Aku mencurigai 
bahwa pola pikir dan mentalitas ini pula yang menyebabkan kita secara sukarela 
karena tak mau susah [suatu etos kerja] menjadi "bangsa tempe", kenyataan 
kekinian yang bertentangan dengan evaluasi Bung karno dulu. Menjadi terlalu 
berat keluar dari krisis majemuk. Fanatisme adalah salah satu juga dari 
"jampi-jampi" dan pola pikir serta mentalitas jalan pintas. Dalam sastra, 
berujud pada sastra wangi, jalan "jampi-jampi" meraup uang dan ketenaran -- 
pengaruh dari globalisasi kapitalis dalam dunia sastra kita. Otofiksi dan 
nihilisme, seperti yang dikatakan oleh Todorov, barangkali adalah ujud sastra 
dari jalan pintas dan pola pikir serta mentalitas "jampi-jampi" juga. Yang 
paling gampang terjangkit pola pikir dan mentalitas ini adalah kelas menengah 
ke atas.     Sedangkan lapisan mayoritas di bawah lebih dikeraskan oleh 
garangnya hidup hingga lebih realis terungkap misalnya dalam mimpi "ratu adil" 
|[Soal ini banyak dibicarakan oleh sejarawan dari Universitas Gajah Mada, 
Yogyakarta, Sartono Kartodirjo]. Jadi "jampi-jampi" pun punya jenis dan ragam.


"Jampi-jampi" sebagai pola pikir dan mentalitas akan menjadi sangat 
memprihatinkan ketika ia menyusup dan menguasai pola pikir dan mentalitas 
penyelenggara kekuasaan.  Mengapa?


Paris, Maret 2007
-----------------------
JJ. Kusni


[Bersambung.......]



 Lampiran:

      Kompas Sabtu, 10 Maret 2007  
     
     
     

      Berhentilah Berjampi-jampi 


      Rentetan bencana membuat penyelenggara kekuasaan kehilangan nalar. Kok 
polisi-bukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi-menyimpulkan human error 
sebagai penyebab terbakarnya pesawat Garuda di Yogyakarta? 

      Setelah kecelakaan Adam Air 1 Januari 2007 muncul pro dan kontra tentang 
tarif murah versus keselamatan. Namun, hidup jalan terus seperti biasa karena 
setelah itu banyak pesawat gagal terbang, tergelincir, atau mengalami masalah 
di udara. 

      Banyak korban banjir di Jakarta Februari silam kecewa kepada aparat 
Pemerintah Provinsi DKI yang tak kelihatan batang hidungnya. Mereka biasanya 
nongol kalau ada peresmian mal atau acara kunjungan pejabat. 

      Pemprov memindahkan patung, merenovasi air mancur, membangun busway, atau 
memungut bayaran dari kendaraan-kendaraan lewat proyek electronic road pricing 
(ERP). Sibuk cari duit, lupa banjir. 

      Kebakaran hutan juga masalah lama tanpa solusi. Kereta api anjlok, feri 
tenggelam, lumpur panas Lapindo, semuanya merupakan man-made disasters alias 
bencana akibat ulah kita semua-bukan bencana alam. 

      Cuaca buruk sering dijadikan kambing hitam yang mengakibatkan kecelakaan 
berbagai jenis transportasi. Gubernur DKI Sutiyoso menuding "fenomena alam" 
atau banjir kiriman sebagai penyebab banjir. 

      Teriknya matahari musim panas suka dituduh sebagai penyebab kebakaran 
hutan. Alam, air, udara, pohon, atau tanah yang tak henti-hentinya memberi 
tanpa meminta justru kita jadikan sebagai musuh. 

      Intelijen asing biasanya dijadikan tersangka penyebab meledaknya bom-bom 
buatan para teroris. Tsunami di Aceh pun konon merupakan hasil uji coba senjata 
nuklir negara asing dan "Segitiga Bermuda" ala Indonesia telah mencelakakan 
AdamAir. 

      Penyakit hilang nalar ini diderita penyelenggara negara dan mewabah ke 
berbagai lapisan masyarakat. Hanya di sini ada "pengamat intelijen", ahli 
handphone sekaligus pakar kotak hitam pesawat terbang, penyantet George W Bush, 
atau ilmuwan gothak-gathuk. 

      Sejak tahun 2004 nasib negeri ini mirip dengan judul film komedi 
Hollywood, Nothing but Trouble (1991). Bencana buatan manusia pun menerkam 
sampai ke Arab Saudi ketika para anggota jemaah haji kita menderita wabah 
kelaparan. 

      Solusi nyaris tak ada, kecuali hiburan kata-kata saja. Apa iya para 
pengembang yang tamak keuntungan mau diwajibkan membangun situ (danau kecil) 
untuk menghindari banjir? 

      Sebulan atau dua bulan lagi orang juga akan lupa pada terbakarnya Garuda 
karena tak mungkin lagi menghidupkan Gatotkaca. Illegal logging terus 
berlangsung selama cukong, pejabat, dan buruh sama-sama menikmati si rupiah. 

      Penyakit hilang nalar membuat kita menjadi bangsa pelupa. Itulah sebabnya 
mengapa pejabat dan politisi kita tak akan kapok berbohong atau melakukan 
korupsi berjemaah. 

      Selain man-made disasters, Indonesia sejak tahun 2004 didera berbagai 
jenis bencana alam. Orang yang paling rasional pun sekarang mulai mengaitkan 
ketidakharmonisan makrokosmos dan mikrokosmos sebagai penyebab bencana alam. 

      Waktu kecil saya dilarang duduk di pintu karena bisa sakit dilewati 
setan. Padahal maksudnya baik, yakni jangan menghalangi orang yang lalu lalang. 

      Jangan duduki bantal, bokong bisa bisulan. Maksudnya, bantal dipakai 
untuk kepala, organ terhormat karena di dalamnya terdapat akal. 

      Setiap rumah pasti mempunyai penunggu, pohon beringin banyak setannya. 
Kalau menabrak kucing harus berhenti menyopir selama 40 hari-kalau menabrak 
orang kabur saja. 

      Kita kaya dengan tradisi gaib, banyak orang sakti mandraguna dan telah 
mengenal budaya eling (mawas diri) sejak kecil. Tetapi, kok Belanda bisa 
menjajah kita selama tiga setengah abad ya? 

      Waktu berkuasa, Pak Harto antara lain dibekali pula dengan kekuatan 
kelangitan yang bernama Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) yang pusatnya 
berada di Goa Semar di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Namun, banyak yang 
memelesetkan singkatan itu dengan "Sudah Persis Seperti Marcos". 

      Ada pendapat yang mengatakan, kalau tidak kuat ngelmu, ya Anda jangan 
coba-coba. Seperti ungkapan dalam bahasa Inggris, I have nothing against it. 

      Tradisi yang diwarisi turun- temurun itu wajib dipelihara sampai dibawa 
ke liang kubur. Namun, lain ceritanya kalau ia dibawa ke wilayah pemerintahan. 

      Nah, kembali ke laptop. Bencana-bencana alam yang terjadi lebih mudah 
dijelaskan secara nalar daripada gonjang-ganjing pemakaian rekening Departemen 
Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk menerima dana dari simpanan Tommy Soeharto di 
Inggris. 

      Suka atau tidak, bencana alam merupakan event politik. Ia bisa menjadi 
katalisator perubahan yang dilancarkan masyarakat yang peduli, yang kadang kala 
menunjukkan pembangkangan karena terjangkit penyakit hilang nalar tadi. 

      Kita semua amat lelah didera fenomena Nothing but Trouble karena 
eksekutif, legislatif, dan yudikatif kurang mampu meresponsnya. Ada usul, 
pertama, bagaimana jika mereka yang berkuasa istirahat selama enam bulan? 

      Kalau dalam enam bulan tersebut bencana alam masih terjadi, mereka kita 
install lagi di jabatan masing-masing. Andai dalam enam bulan tersebut bencana 
alam berhenti, berarti merekalah yang membuat alam marah. 

      Ide kedua, mereka dikumpulkan di Monas untuk memohon dukungan dari kita 
sambil bersumpah takkan lagi mencalonkan diri tahun 2009. 

      Mungkin cara ini lebih baik daripada jampi-jampi perombakan kabinet atau 
makna huruf ganjil yang menjemukan itu. ****

           
             
           
     


 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke