http://www.kompas.co.id/
     
       Senin, 16 April 2007  
     
     
     

      Ultah ke-73
      GP Ansor Memantapkan sebagai Organisasi Massa Terbesar 


      Memasuki usianya yang ke-73, Gerakan Pemuda Ansor semakin memantapkan 
diri sebagai organisasi pemuda terbesar di Indonesia. GP Ansor hadir di seluruh 
provinsi (33 provinsi) dan 417 kabupaten/kota. Mereka mengorganisasi sekitar 
enam juta pemuda yang tercatat aktif di organisasi yang hadir sejak zaman 
pra-kemerdekaan ini. 

      Anggota Gerakan Pemuda (GP) Ansor ini tersebar di sekitar 20.000 desa dan 
kelurahan, baik di Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa. Dari jumlah di atas, 
sekitar 350.000 hingga 400.000 merupakan kader inti GP Ansor yang diwadahi 
dalam Barisan Ansor Serbaguna (Banser). 

      Keberadaan GP Ansor tidak dapat dipisahkan dengan sejarah perjuangan 
kemerdekaan RI. GP Ansor berdiri sejak tahun 1934, turut berjuang merebut 
kemerdekaan. Pasca-kemerdekaan pun, Ansor tetap komit mempertahankan 
kemerdekaan. Ini terbukti dengan peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Saat 
itu, Ansor turut serta dalam perang di Surabaya. Pada 1965 pun, Ansor menjadi 
pasukan terdepan memberantas Partai Komunis Indonesia. 

      "Itu periode emas Ansor. Orang tidak akan lupa dengan dua peristiwa itu," 
ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) GP Ansor A Malik Haramain. 

      Kini, dalam organisasi yang bermarkas besar di Jalan Kramat Raya 65, 
Jakarta Pusat, yang selalu meriah itu sedang berbenah diri. Ini dilakukan di 
bawah kepemimpinan Saifullah Yusuf dan pengurus pusat, seperti H Tatang 
Hidayat, Umar Syah HS, Endang Sobirin, A Hasyim Hadrawi, Choirul Sholeh Rasyid, 
Abdullah Azwar Anas, Machmud Yunus, Mukhtar Hadyu, Ismail Sangadji, MB Idham 
Chalid, Maskut Candranegara, Harianto Oghie, Ridwan Balia, dan HNM Dipo 
Nusantara. 

      Menurut Malik Haramain, GP Ansor sedang membangun kapasitas organisasi. 
Konsolidasi internal diperkuat. 

      "Kami sekarang sedang mencoba mendata ulang anggota Ansor. Kami ingin 
mengefektifkan semua struktur dari tingkat pusat hingga ranting 
(desa/kelurahan)," ujarnya. 

      Menurut Haramain, Saifullah Yusuf-sekarang menjabat Menteri Negara 
Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal- memberikan kontribusi besar dalam 
bidang ini. Pada masa kepemimpinannya, kantor-kantor Ansor dibangun, jaringan 
baik di dalam organisasi maupun luar organisasi diperkuat. 

      Menurut Malik, Saifullah merupakan salah satu pimpinan Ansor yang sering 
turun ke daerah, baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa. "Sosoknya sebagai menteri 
juga mengangkat citra Ansor sebagai organisasi yang memiliki komitmen terhadap 
pemuda," kata dia. 

      Reformasi tak hanya menyentuh kalangan Ansor. Banser pun juga 
direformasi. Banser, yang semula dikenal dalam bidang pengamanan, kini mulai 
menyentuh kebutuhan masyarakat yang lebih nyata. Banser menambah satuan-satuan 
baru, yaitu Search and Rescue (SAR), Balakar (khusus membantu penanganan 
kebakaran), dan Medical Evakuasi. 

      "Pembentukan satuan-satuan ini disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi 
saat ini. Belakangan ini kan banyak bencana alam dan sosial," ungkap Malik. 

      Memasuki usianya yang ke-73, GP Ansor dan Banser ingin lebih mendekat ke 
masyarakat. Mereka ingin menjawab kebutuhan sosial dan menyumbangkan sesuatu di 
negeri yang kini sedang dilanda bencana ini. (Susana Rita K)
     



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke