Kalau saya lihat, posisi PMII ini hampir "mirip" dengan PKB, dalam hubungannya dengan sang induk, NU. Lahirnya dari jama'ah dan tokoh NU terus perjalanannya katanya pengen "mandiri" alias "disapih" tapi tetep ngga bisa.
Bedanya manifestasi independen PMII dinyatakan jelas tahun '73, tapi PKB tidak, karena muktamar NU terakhir 2004 kemarin, katanya dibebaskan politik kemana aja, tp dianjurkan milih parpol yang dilahirkan PBNU (implisitnya PKB). Mungkin juga sama halnya anak/mahasiswa NU yang dianjurkan masuk ke PMII daripada masuk ke KAMMI, yg kini "hampir" menjadi sayap politik PKS. Mudah2an PMII makin maju dan dekat di hati :) --- Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Refleksi Ultah Ke-47 PMII > http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=280812 > > Memberi Makna Kearifan Sejarah > Umur Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) > menapaki usia ke-47 tahun pada 17 April 2007, usia > yang cukup matang untuk organisasi kemahasiswaan. > Namun, sebagai organisasi mahasiswa, dinamika PMII > juga mengalami pasang surut, baik itu di dalam > (internal) maupun di luar dirinya (eksternal). > > PMII sebagai organisasi kemahasiswaan pada awalnya > lahir dari para mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) yang > berideologi Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Pada > saat itu, kondisi sosial politik mendukung munculnya > organisasi kemahasiswaan yang menampung para > mahasiswa NU untuk menyuarakan aspirasi politik yang > sesuai dengan ideologi Aswaja. > > Minimal ada lima alasan lahirnya PMII. Pertama, > carut-marutnya situasi politik bangsa Indonesia > dalam kurun waktu 1950-1959. Kedua, tidak menentunya > sistem pemerintahan dan perundang-undangan yang ada. > Ketiga, keluarnya NU dari Masyumi karena NU tidak > banyak diberikan peran dan dipinggirkan. Keempat, > terpinggirkannya mahasiswa NU yang tergabung dalam > HMI. Kelima, kedekatan HMI dengan Masyumi. > > Hal-hal tersebut menimbulkan kegelisahan dan > keinginan kuat di kalangan intelektual-intelektual > muda NU untuk mendirikan organisasi sendiri sebagai > wahana penyaluran aspirasi dan pengembangan potensi > mahasiswa-mahasiswa yang berkultur NU. Selain itu, > ada hasrat yang kuat dari kalangan mahasiswa NU > untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang > berideologi Ahlussunnah wal Jamaah. > > Pada awal berdirinya, PMII sepenuhnya berada di > bawah naungan NU. PMII terikat dengan segala garis > kebijakan induknya, NU. PMII merupakan perpanjangan > tangan NU, baik secara struktural maupun fungsional. > Selanjutnya, sejak 1970-an, ketika rezim Orde Baru > mulai mengerdilkan fungsi partai politik sekaligus > penyederhanaan melalui fusi partai politik secara > kuantitas dan isu back to campus serta > organisasi-organisasi profesi kepemudaan mulai > diperkenalkan melalui kebijakan NKK/BKK, PMII > menuntut pemikiran realistis. Pada 14 Juli 1971 > melalui musyawarah besar (mubes) di Murnajati, PMII > mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi > mana pun (terkenal dengan Deklarasi Murnajati). > Kemudian, pada kongres 1973 di Ciloto, Jawa Barat, > diwujudkanlah Manifest Independensi PMII. > > > Tak Lepas dari Ciri > > Betapa pun PMII mandiri, ideologi PMII tidak lepas > dari paham Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan > ciri khas NU. Itu berarti secara kultural-ideologis, > PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan. Ahlussunnah > wal Jamaah merupakan benang merah antara PMII dengan > NU. Dengan Aswaja, PMII membedakan diri dengan > organisasi lain. > > Keterpisahan PMII dari NU pada perkembangan terakhir > lebih tampak hanya secara organisatoris formal. > Sebab kenyataannya, karena keterpautan moral, > kesamaan background, keduanya susah untuk > direnggangkan. > > PMII lahir sebagai gerakan mahasiswa yang berbasis > Islam Aswaja. Ia lahir tidak serta-merta, tetapi > melalui proses pergulatan, termasuk rumusan > ideologinya sebagai dasar perjuangan. > > Hal itu dapat di lihat dari Nilai Dasar Perjuangan > PMII yaitu, "Secara esensial Nilai Dasar Pergerakan > PMII adalah sublimasi nilai keislaman dan > keindonesiaan dengan kerangka pemahaman keagamaan > Ahlussunnah wal Jamaah yang menjiwai berbagai > aturan, memberi arah, dan mendorong serta > menggerakkan kegiatan-kegiatan PMII. > > Sebagai pemberi keyakinan dan pembenar mutlak, Islam > mendasari dan menginspirasi Nilai Dasar Pergerakan > itu. Yakin, mencakup akidah, syariah dan akhlak > dalam upaya memperoleh kesejahteraan hidup di dunia > dan akhirat. > > Dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan Islam > tersebut, PMII menjadikan Aswaja sebagai pemahaman > keagamaan yang paling benar. NDP menunjukkan bahwa > PMII tetap memiliki hubungan kultural dan ideologi > dengan Nahdlatul Ulama. > > Nilai Dasar Pergerakan PMII berkonsekuensi langsung > terhadap gerakan yang diusung, terutama pada gerakan > keislaman di Indonesia. Peran keislaman PMII ikut > menjadi motor pemikiran Islam di Indonesia. Ketika > banyak ormas Islam menyerukan syariat Islam dan > Piagam Jakarta, PMII dengan tegas tetap menjunjung > tinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Toleransi > agama, suku, ras, dan etnis juga disemaikan PMII. > Sikap toleran terhadap kelompok minoritas > menunjukkan pandangan keagamaan PMII yang selalu > berada di tengah-tengah (tawasut). > > Visi dan misi PMII berlandasan dua pijakan, yaitu > keislaman inklusif, toleran, dan moderat serta > kebangsaan yang demokratis, toleran, dan dibangun di > atas semangat bersama untuk mewujudkan keadilan > sosial. Sikap keislaman PMII adalah sikap Islam > Indonesia, yang kontekstual dengan kondisi > masyarakat Indonesia. > > Paradigma yang dibangun PMII adalah paradigma kritis > transformatif. Paradigma itu dibangun atas > nilai-nilai universal Islam yang berdialektika > dengan pemahaman Islam tradisional dan realitas > sosial politik Indonesia. > > Sikap PMII yang menolak formalisasi agama, baik > dalam bentuk UU maupub peraturan daerah (perda) > dalam negara, menunjukkan dengan jelas sikap > keislaman PMII yang khas Indonesia. > > Walaupun ada titik konvergensi antara Islam formal > dan Islam substantif yang diusung PMII agar Islam > mewarnai kehidupan masyarakat -tidak hanya jadi > agama privat-, keduanya berbeda dalam soal bagaimana > tujuan tersebut efektif diaktualisasikan. PMII > cenderung menginginkan Islam sebagai dasar etik > dalam mengatur kehidupan masyarakat, tanpa harus > terlibat jauh dalam formalisasi. > > Bagi PMII, bentuk negara dan institusi politik dalam > pandangan Islam bukanlah bagian dari dogma agama > sehingga bersifat sakral. Melainkan, semua itu > -meminjam istilah Ali Abdul Raziq- merupakan naw'an > lâ dîniy (masalah profan) yang dipasrahkan Tuhan > pada manusia untuk dikreasi sesuai kemaslahatan > zaman. > * Adhe H M. Musa Said, wakil Sekjen Pengurus Besar > Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia periode > 2005-2007 dan mahasiswa Pascasarjana FISIP UI > > > > [Non-text portions of this message have been > removed] > > Regards, [EMAIL PROTECTED] __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
