Membahas, membincang, membicarakan atau me-ngobrolin PMII, saya teringat 
pernyataan seorang teman yang pernah melakukan penelitian tentang kepemimpinan 
di PMII dari awal berdirinya hingga sekarang. Singkatnya, teman saya itu punya 
kesimpulan, "era keemasan" (kalau boleh disebut seperti itu) PMII adalah saat 
kepemimpinan Muhaimin Iskandar. Di situ, organisasi kemahasiswaan yang konon 
berbasis mahasiswa NU itu, menemukan dirinya yang paling tepat. Sistem politik 
yang represif kala itu justru membuat PMII menjadi organisasi yang layak 
diperhitungkan.

Selebihnya, menurut teman saya itu, PMII seakan tidak pernah menemukan dirinya 
sendiri. Organisasi itu seakan tidak memiliki tujuan dan arah yang pasti. Jika 
ada, itu cukup sebatas formalitas semata bahwa sebuah organisasi mesti memiliki 
tujuan. Tidak heran jika kemudian PMII begitu gagap ketika menghadapi persoalan 
kekinian. Jangankan untuk menentukan sikap atas sebuah persoalan, persoalannya 
saja tidak mengerti. Begitu katanya.

Tapi, di luar kebenaran dan ketepatan analisa teman saya tadi, dalam 
kenyataannya memanglah demikian. PMII memang cukup gagap ketika merespon sebuah 
(apalagi banyak) persoalan masyarakat, bangsa dan negara, kekinian. PMII seakan 
tidak mampu berbuat banyak ketika dengan sadar bahwa di depannya terdapat 
ancaman yang begitu besar.

Kita hitung saja sejak tahun 2006 hingga sekarang. Begitu banyak persoalan 
rakyat, bangsa dan negara yang seharusnya PMII memiliki sikap yang jelas dan 
tegas tentunya. Tapi toh tidak dilakukannya. Organisasi ini seakan membiarkan 
begitu saja masalah lewat di depan matanya, tanpa perhatian sedikit pun. 
Kalaupun ada, ya, sebatas seremonial belaka.

Akibatnya, jangankan merebut hati rakyat secara luas, merebut hati para 
mahasiswa di kampus-kampus pun sangat sulit. Akibatnya lagi, organisasi ini 
seakan ditinggalkan anggotanya sendiri. Lebih parah lagi, organisasi semacam 
KAMMI, jelas seperti sebuah lawan yang tak lagi mungkin ditandingi. PMII merasa 
sangat subordinat ketika berhadapan dengan organisasi yang seumur jangung jika 
dibandingkan dengan PMII.

Mencari penyebab dari rumitnya persoalan PMII itu, jelas bukan di sini 
tempatnya. Tapi, setidaknya saya hendak mengemukan sejumlah yang menurut saya 
adalah bagian dari penyebab itu. Pertama, persoalan ideologi. Konon ideologi 
PMII adalah Ahlussunnah Wal Jamah (plus) Manhaj al Fikr (sebagai metode 
berpikir).

Jika ada orang, apalagi tokoh PMII atau tokoh NU yang dulunya PMII yang 
mengatakan demikian, saya selalu tertawa dalam hati. Karena, hingga komentar 
ini ditulis, saya tidak pernah mengangggap Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja) 
Manhaj al Fikr itu merupakan ideologi, apalagi menjadi sebuah ideologi PMII. 
Sama sekali tidak pernah. Meski PMII secara tegas menyatakan bahwa Aswaja 
Manhaj al Fikr adalah ideologinya, maka sebetulnya sia-sia saja.

Ideologi, sederhananya dapat diartikan sebagai sebuah gagasan, konsep, teori 
tentang sesuatu keadaan yang diidealkan, dicita-citakan, diperjuangkan atau 
dipertahankan. Biasanya ideologi bersifat doktriner, tafsir tunggal atau tidak 
ada penafsiran lain kecuali yang sudah ditetapkan. Tidak ada ruang dialektika 
di dalamnya, karena semuanya telah diyakini sebagai sebuah kebenaran, 
kebijakan/kebijaksanaan, dan sebagainya.

Nah, kembali lagi pada PMII, dari namanya saja Aswaja Manhaj al Fikr itu sudah 
tidak doktriner, terbuka lebar bagi proses dialektika di dalamnya. Semua 
orang/kader bebas menafsirkan ideologinya, Aswaja Manhaj al Fikr itu. 
Celakanya, tidak tampak di dalamnya, di dalam Aswaja Manhaj al Fikr itu, sebuah 
gagasan ideal atau sebuah cita-cita yang hendak diperjuangkan atau 
diperjuangkan. Kalaupun PMII pernah menyatakan tegas untuk terus mempertahankan 
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila, menurut saya, itu 
tidak lebih dari ikut-ikutan saja. Karena, sepengetahuan saya, di dalam 
ideologi Aswaja Manhaj al Fikr itu tidak pernah menyebutkan bahwa PMII harus 
mempertahankan NKRI dan Pancasila. Pancasila hanya ada di azas organisasi saja.

Jika ada, maka percuma saja. Sebab, setiap kader PMII di seluruh penjuru Tanah 
Air ini dipersilakan untuk berbeda pendapat tentang NKRI dan Pancasila itu. 
Setiap kader PMII bebas membuat tafsir sendiri atas ideologi organisasinya. 
Setiap kader PMII tidak diwajibkan menerima, memperjuangkan atau mempertahankan 
NKRI dan Pancasila. Mengapa demikian, jawabannya jelas, ideologi PMII adalah 
ideologi yang multi-tafsir, tidak doktriner, semua bebas menafsirkan. Namanya 
saja Aswaja sebagai Metode Berpikir.

Akibatnya jelas, kader PMII memiliki cita-cita sendiri-sendiri apa yang hendak 
diperjuangkan. Kader PMII Jawa Barat bisa jadi berbeda cita-citanya dengan 
kader PMII Jawa Timur. Begitu seterusnya. Bisa jadi pula, dalam setiap otak 
kader PMII, terdapat banyak cita-cita, idealisme, obsesi dan sebagainya. 
Semuanya akibat ideologi yang Manhaj al Fikr itu.

Berbeda dengan KAMMI, misal. Meski saya tidak tahu persis bagaimana ideologi 
resminya sebagai sebuah organisasi. Tapi tampak sangat jelas sekali tentang 
sesuatu yang diidealkan dan hendak diperjuangkan. Apa itu? Negara Islam atau 
negara yang diatur berdasarkan syariat Islam. Bisa dipastikan, dari ujung 
Sabang sampai ujung Merauke, semua kader KAMMI sependapat dengan cita-cita dan 
ideologi itu. Apa yang dimaksud sebagai Negara Islam itu, semua kader KAMMI 
tidak ada yang menolak pengertiannya, apalagi gagasannya, meski caranya bisa 
beragam.


"[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
Kalau saya lihat, posisi PMII ini hampir "mirip"
 dengan PKB, dalam hubungannya dengan sang induk, NU.
 Lahirnya dari jama'ah dan tokoh NU terus perjalanannya
 katanya pengen "mandiri" alias "disapih" tapi tetep
 ngga bisa. 
 
 Bedanya manifestasi independen PMII dinyatakan jelas
 tahun '73, tapi PKB tidak, karena muktamar NU terakhir
 2004 kemarin, katanya dibebaskan politik kemana aja,
 tp dianjurkan milih parpol yang dilahirkan PBNU
 (implisitnya PKB). Mungkin juga sama halnya
 anak/mahasiswa NU yang dianjurkan masuk ke PMII
 daripada masuk ke KAMMI, yg kini "hampir" menjadi
 sayap politik PKS.
 
 Mudah2an PMII makin maju dan dekat di hati :)
 
 --- Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
 > Refleksi Ultah Ke-47 PMII 
 >
 http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=280812
 > 
 > Memberi Makna Kearifan Sejarah
 > Umur Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
 > menapaki usia ke-47 tahun pada 17 April 2007, usia
 > yang cukup matang untuk organisasi kemahasiswaan.
 > Namun, sebagai organisasi mahasiswa, dinamika PMII
 > juga mengalami pasang surut, baik itu di dalam
 > (internal) maupun di luar dirinya (eksternal). 
 > 
 > PMII sebagai organisasi kemahasiswaan pada awalnya
 > lahir dari para mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) yang
 > berideologi Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Pada
 > saat itu, kondisi sosial politik mendukung munculnya
 > organisasi kemahasiswaan yang menampung para
 > mahasiswa NU untuk menyuarakan aspirasi politik yang
 > sesuai dengan ideologi Aswaja. 
 > 
 > Minimal ada lima alasan lahirnya PMII. Pertama,
 > carut-marutnya situasi politik bangsa Indonesia
 > dalam kurun waktu 1950-1959. Kedua, tidak menentunya
 > sistem pemerintahan dan perundang-undangan yang ada.
 > Ketiga, keluarnya NU dari Masyumi karena NU tidak
 > banyak diberikan peran dan dipinggirkan. Keempat,
 > terpinggirkannya mahasiswa NU yang tergabung dalam
 > HMI. Kelima, kedekatan HMI dengan Masyumi.
 > 
 > Hal-hal tersebut menimbulkan kegelisahan dan
 > keinginan kuat di kalangan intelektual-intelektual
 > muda NU untuk mendirikan organisasi sendiri sebagai
 > wahana penyaluran aspirasi dan pengembangan potensi
 > mahasiswa-mahasiswa yang berkultur NU. Selain itu,
 > ada hasrat yang kuat dari kalangan mahasiswa NU
 > untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang
 > berideologi Ahlussunnah wal Jamaah.
 > 
 > Pada awal berdirinya, PMII sepenuhnya berada di
 > bawah naungan NU. PMII terikat dengan segala garis
 > kebijakan induknya, NU. PMII merupakan perpanjangan
 > tangan NU, baik secara struktural maupun fungsional.
 > Selanjutnya, sejak 1970-an, ketika rezim Orde Baru
 > mulai mengerdilkan fungsi partai politik sekaligus
 > penyederhanaan melalui fusi partai politik secara
 > kuantitas dan isu back to campus serta
 > organisasi-organisasi profesi kepemudaan mulai
 > diperkenalkan melalui kebijakan NKK/BKK, PMII
 > menuntut pemikiran realistis. Pada 14 Juli 1971
 > melalui musyawarah besar (mubes) di Murnajati, PMII
 > mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi
 > mana pun (terkenal dengan Deklarasi Murnajati).
 > Kemudian, pada kongres 1973 di Ciloto, Jawa Barat,
 > diwujudkanlah Manifest Independensi PMII. 
 > 
 > 
 > Tak Lepas dari Ciri
 > 
 > Betapa pun PMII mandiri, ideologi PMII tidak lepas
 > dari paham Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan
 > ciri khas NU. Itu berarti secara kultural-ideologis,
 > PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan. Ahlussunnah
 > wal Jamaah merupakan benang merah antara PMII dengan
 > NU. Dengan Aswaja, PMII membedakan diri dengan
 > organisasi lain. 
 > 
 > Keterpisahan PMII dari NU pada perkembangan terakhir
 > lebih tampak hanya secara organisatoris formal.
 > Sebab kenyataannya, karena keterpautan moral,
 > kesamaan background, keduanya susah untuk
 > direnggangkan.
 > 
 > PMII lahir sebagai gerakan mahasiswa yang berbasis
 > Islam Aswaja. Ia lahir tidak serta-merta, tetapi
 > melalui proses pergulatan, termasuk rumusan
 > ideologinya sebagai dasar perjuangan. 
 > 
 > Hal itu dapat di lihat dari Nilai Dasar Perjuangan
 > PMII yaitu, "Secara esensial Nilai Dasar Pergerakan
 > PMII adalah sublimasi nilai keislaman dan
 > keindonesiaan dengan kerangka pemahaman keagamaan
 > Ahlussunnah wal Jamaah yang menjiwai berbagai
 > aturan, memberi arah, dan mendorong serta
 > menggerakkan kegiatan-kegiatan PMII. 
 > 
 > Sebagai pemberi keyakinan dan pembenar mutlak, Islam
 > mendasari dan menginspirasi Nilai Dasar Pergerakan
 > itu. Yakin, mencakup akidah, syariah dan akhlak
 > dalam upaya memperoleh kesejahteraan hidup di dunia
 > dan akhirat. 
 > 
 > Dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan Islam
 > tersebut, PMII menjadikan Aswaja sebagai pemahaman
 > keagamaan yang paling benar. NDP menunjukkan bahwa
 > PMII tetap memiliki hubungan kultural dan ideologi
 > dengan Nahdlatul Ulama.
 > 
 > Nilai Dasar Pergerakan PMII berkonsekuensi langsung
 > terhadap gerakan yang diusung, terutama pada gerakan
 > keislaman di Indonesia. Peran keislaman PMII ikut
 > menjadi motor pemikiran Islam di Indonesia. Ketika
 > banyak ormas Islam menyerukan syariat Islam dan
 > Piagam Jakarta, PMII dengan tegas tetap menjunjung
 > tinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Toleransi
 > agama, suku, ras, dan etnis juga disemaikan PMII.
 > Sikap toleran terhadap kelompok minoritas
 > menunjukkan pandangan keagamaan PMII yang selalu
 > berada di tengah-tengah (tawasut).
 > 
 > Visi dan misi PMII berlandasan dua pijakan, yaitu
 > keislaman inklusif, toleran, dan moderat serta
 > kebangsaan yang demokratis, toleran, dan dibangun di
 > atas semangat bersama untuk mewujudkan keadilan
 > sosial. Sikap keislaman PMII adalah sikap Islam
 > Indonesia, yang kontekstual dengan kondisi
 > masyarakat Indonesia. 
 > 
 > Paradigma yang dibangun PMII adalah paradigma kritis
 > transformatif. Paradigma itu dibangun atas
 > nilai-nilai universal Islam yang berdialektika
 > dengan pemahaman Islam tradisional dan realitas
 > sosial politik Indonesia.
 > 
 > Sikap PMII yang menolak formalisasi agama, baik
 > dalam bentuk UU maupub peraturan daerah (perda)
 > dalam negara, menunjukkan dengan jelas sikap
 > keislaman PMII yang khas Indonesia. 
 > 
 > Walaupun ada titik konvergensi antara Islam formal
 > dan Islam substantif yang diusung PMII agar Islam
 > mewarnai kehidupan masyarakat -tidak hanya jadi
 > agama privat-, keduanya berbeda dalam soal bagaimana
 > tujuan tersebut efektif diaktualisasikan. PMII
 > cenderung menginginkan Islam sebagai dasar etik
 > dalam mengatur kehidupan masyarakat, tanpa harus
 > terlibat jauh dalam formalisasi.
 > 
 > Bagi PMII, bentuk negara dan institusi politik dalam
 > pandangan Islam bukanlah bagian dari dogma agama
 > sehingga bersifat sakral. Melainkan, semua itu
 > -meminjam istilah Ali Abdul Raziq- merupakan naw'an
 > lâ dîniy (masalah profan) yang dipasrahkan Tuhan
 > pada manusia untuk dikreasi sesuai kemaslahatan
 > zaman. 
 > * Adhe H M. Musa Said, wakil Sekjen Pengurus Besar
 > Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia periode
 > 2005-2007 dan mahasiswa Pascasarjana FISIP UI
 > 
 > 
 > 
 > [Non-text portions of this message have been
 > removed]
 > 
 > 
 
 Regards,
 
 [EMAIL PROTECTED]
 
 __________________________________________________
 Do You Yahoo!?
 Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
 http://mail.yahoo.com 
 
     
                       

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke