Pesantren memang sebagai kekuatan besar di tanah air, karena memiliki banyak 
santri dan alumni yang punya massa. Namun sebagai lembaga pendidikan, tidak 
seharusnya pesantren dilibatkan ke dalam politik praktis, rebutan kekuasaan, 
legitimasi politik dan semacamnya. Sehingga tidak jarang terjadi, antar 
pimpinan pesantren dan antar panutan umat saling berseteru karena perbedaan 
orientasi politiknya.
   
  Menurut saya --sebagai orang awam-- sebaiknya pesantren dan lembaga 
pendidikan apapun di tanah air ini, menseterildiri dari politik praktis. Para 
Kiai, jika ingin jadi politisi, sebaiknya tidak membawa-bawa pesantrennya ke 
panggung politik, dan jika ia kembali ke pesantrennya, dia juga rela melepas 
atribut politiknya.
   
  Saya pernah membaca penegasan salah seorang yg disebut sebagai Kiai, bahwa 
jika mereka tidak boleh berpolitik, apakah kita rela negara ini diatur oleh 
orang-orang yg tidak bijaksana. Ada yg benar dalam ungkapan tersebut, tapi 
tidak di dalam prakteknya.
   
  Saya setuju bahwa yg mengatur negara ini harusnya adalah orang-orang yang 
memiliki komitmen perjuangan demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. 
Dan tidak sedikit Kiai atau cendekiawan yang merasa bahwa dirinya adalah tokoh 
yang dimaksud. Dan mereka ini lupa --entah lupa atau pura-pura tidak tahu-- 
bahwa pendekar politik yang sudah malang melintang selama ini juga merasa 
paling tepat untuk mengatur negara ini.
   
  Nah, ketika sama-sama turun ke lapangan, masing-masing mencari legitimasi 
dari rakyat. Di sini mulai permainan tidak fair. Yg Kiai memobilisasi kekuatan 
dari para kaum santri, biasanya pesantren terlibat, termasuk orang-orang Islam 
kampung yang tidak ngerti apa-apa tentang kekuasaan, mereka ditarik-tarik, 
sambil memakai jarit dan sarung kedodoran --masya Allah, kasihan benar nasib 
mereka--.
   
  Selanjutnya, para pendekar politik yang bukan Kiai mendekati Kiai-kiai, 
lagi-lagi santri dan wong ndeso ditarik-tarik. Antara gang Kiai yang berpolitik 
dan Gang Kiai yang massanya diambil oleh Pendekar politik lalu bersitegang. 
Kasihan, lagi-lagi wong ndeso jadi korban.
   
  Waduh, kalau sudah ngomong kayak gini, rasanya pedih, perih, kerongkongan 
kering, dan dada membara. Mending ke Karaoke, berhaha hihi dengan anak-anak 
muda lainnya, menikmati masa yg penuh duka di negara yg sangat kaya ini. Dari 
pada yg menikmati hiburan Jakarta hanya orang-orang sipit termasuk yang dari 
negeri tetangga, mending kita ikut ngerasain, siapa tahu ketemu politisi 
pendekar, kan lumayan bisa diajak menikmati hiburan gratis.....

nagan singosari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bagus dan berkesan
pengamatan yang mendalam dan tepat
usulnya pun mengena

tetapi permasalahannya

apakah para kiai itu faham dengan itu
apakah para kiai itu ikhlas dengan itu
bukan pondok pesantren digunakan sebagai alat
untuk kepentingan politik
untuk kepentingan pribadi

semoga tidak demikian adanya
semoga para kiai faham akan kedudukannya
semoga ada reformasi cara pandang tentang itu

semoga NU semakin Aduhai

amiin

salam



kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pesantren sebagai Grass Root Power
Ahad, 20 Mei 2007 10:08

Jakarta, *NU Online*
Pesantren adalah kekuatan sosial tertinggi atau *grass root power *di
Indonesia. Pesantren bisa memberi masukan bahkan mendesak pemerintah untuk
melakukan perubahan.

"Jika kekuatan pesantren difungsikan maka banyak sekali masalah di Indonesia
yang dapat diatasi," kata Sosiolog Universitas Indonesia Robert MZ Lawang
usai memberikan ceramah di hadapan para Kiai Pengasuh Pondok Pesantren di
Asrama Haji, Pondok Gede Jakarta, Sabtu (19/5).

"Salah satu masalah yang paling penting adalah dekadensi moral. Pesantren
bisa membangun moralitas dalam pengertian yang lebih umum, bukan hanya
moralitas dalam pengertian agama, tapi moralitas bagaimana kita
mempertangungjawabkan tindakan kita pada lingkungan dan tindakan pada
sesama," katanya.

Pesantren perlu membuktikan bahwa dengan pendidikan pesantren itu para
santri bisa berbuat sesuatu untuk orang lain, menerapkan ilmu yang diperoleh
di pesantren untuk kesejahteraan masyarakat.

"Bukan dengan *ngomong-ngomong* umpamanya jangan berdosa, tetapi dengan
tindakan yang langsung dapat mengubah dan memperbaiki kondisi masyarakat
dengan karya nyata," katanya.

Dikatakan, perlu ada penataan ulang atau reorientasi pendidikan di lingkunan
pesantren. "Kalau sekarang kurang berorientasi kepada lingkungan harus
dirobah lagi. Agama yang diajarkan di pesantren adalah agama untuk
meningkatkan kesejahteran masyarakat sekitar, agama yang berfungsi untuk
masyarakat," katanya.

Para kiai dan santri juga perlu mengambil peran pendampingan masyarakat yang
saat ini sedang diterjang arus globalisasi. Pesantren harus dapat memberikan
penjelasan dan mengarahkan masyarakt dalam menyikapi berbagai fenomena
sosial-budaya yang disodorkan oleh media massa.

"Misalnya siaran TV itu harus menjadi pokok pembahasan di dalam kehidupan
pesantren. Misalnya ada satu sinetron yang bercerita tentang hubungan suami
istri yang begitu-itu, apa yang harus dilakukan. Pengarahan itu bisa
dilakukan oleh pesantren karena orang pesantren sudah terbiasa hidup
bersama, nonton bersama," kata Lawang.

Dikatakan Lawang, pemerintah tidak mungkin dapat mengatasi semua persoalan
masyarakat tanpa masukan dan dorongan dari masyarakat itu sendiri.

"Dalam Islam, menurut saya, kelebihan yang luar biasa itu adalah bisa
mendesak pemerintah untuk melakukan sesuatu. Nah kekuatan Islam di Indonesia
yang terbesar itu adalah pesantren," kata Lawang.(nam)

[Non-text portions of this message have been removed]

---------------------------------
Get the free Yahoo! toolbar and rest assured with the added security of spyware 
protection. 

[Non-text portions of this message have been removed]



         

       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke