Saya memang bukan ahli atau pengamat politik, tapi menarik sekali yang 
diungkapkan oleh Sdr. M. Lutfi, bahwa beberapa Kiai yang berpolitik masih 
banyak yang amatiran. Dan kelompok inilah yang menjadikan citra politik kiai 
merosot.
   
  Kemerosotan kharisma Kiai lebih jatuh lagi pada saat Presiden Gus Dur 
menjelang jatuh dari Kursi Kepresidenannya. Saat itu, nama Kiai Khos selalu 
menjadi umpan untuk diewer-ewer. Sedih sekali kalau mengingat masa-masa itu. 
Namun tidak berhenti sampai di situ, setelah kejatuhannya pun, makhluk yang 
diberi titel Kiai ini masih menjadi bahan untuk legitimasi politik. Saya faham 
dari Lutfi bahwa itu syah-syah saja. 
   
  Yang mungkin perlu dikaji adalah, bahwa apa benar yg menyandang titel kiai 
yang disebut-sebut itu adalah benar-benar sudah berhak memakai surban kiai?. 
Bagaimana seorang kiai itu kemudian ujug-ujug menyandang titel tersebut. Ini 
mungkin kaum muda NU perlu kritis. Termasuk Gus-Gus yang akan menyandang gelar 
Kiai, hendaknya mengkritisi diri sendiri, apa benar saya sudah pantas sebagai 
Kiai.
   
  Kalau dilihat dari kualitasnya, belakangan ini banyak sekali Kiai yang sama 
sekali tidak mewarisi ilmu, wawasan, perilaku, akhlak dan sum`ah Kiai. Mungkin 
mereka itu --mohon maaf kalau dianggap kurang sopan-- kebetulan adalah 
putra-putra Kiai yang ditinggal mati oleh orang tuanya, lalu mewarisi pesantren 
dan santrinya, lantas disebut Kiai. Apakah syarat seperti itu sudah cukup. Atau 
mungkin hanya mewarisi ilmu Bapaknya, tapi zuhudnya tidak, atau zuhudnya saja 
tapi ilmunya Nol.
   
  Mungkin belum pernah ada yang melakukan penelitian, kira-kira berapa persen 
para kiai sekarang ini yang menyandang titel kiai hanya karena dia pewaris 
harta, bukan pewaris ilmu dan perangkat kiai lainnya. Kalau penelitian itu ada, 
dan membuktikan bahwa memang penyandang titel kiai yang sering mengorbit di 
media dan panggung politik saat ini hanyalah pewaris darah (biru) moyangnya, 
maka Umat Islam (NU) ke depan perlu merumuskan pola panutan bagi orang awam. 
Kiai-kiai mana saja yang memang benar-benar Kiai.
   
  Berangkat dari sini, kiranya perlu memberikan saran kepada Para Gus-Gus, 
untuk ada yg memulai memposisikan diri sesuai Kualitas dan Predikat dirinya. 
Yang Dokter dan tidak mencapai level Kiai, sebaiknya jangan mau menyandang 
Kiai, Yang Pengusaha dan bukan level Kiai dalam Ilmu, zuhud, perilaku, kharisma 
dll, juga coba mengelak jika diberi lebel Kiai. Dari situ, nanti tidak ada lagi 
istilah Gus, dan Kiai warisan darah --biru--. Dari situ baru nanti ada 
peribahasa "seorang pemuda (berprestasi) adalah yang mengatakan inilah aku, 
bukan yg mengatakan ayahku begini dan begitu".
   
   
   
   

"M. Luthfi Thomafi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Salam,

Kritikan kepada (oknum) kiai supaya tidak dekat-dekat dengan politik
sebenarnya sudah lama. Itu seiring dengan gerakan secara massif kaum
pesantren setelah reformasi politik terjadi. Sebenarnya, memang sah-sah saja
kiai berpolitik, tetapi inti permasalahan ini muncul karena selama ini yang
muncul adalah perilaku dan pergerakan politik yang amatir. Kalau memang yang
bersangkutan profesional, mungkin tidak akan ada kritikan semacam itu.

Saya katakan kepada P Maftuh Basyuni ketika Ahad kemarin (20/5) ke Lasem.
Beliau mengakui adanya kiai yang tidak sreg dengan statemen beliau di RMI,
tapi saya tetap setuju dengan statemen beliau, agar para kiai politik yang
merasa gagal ya sebaiknya kembali ke baraknya masing-masing, kembali
nelateni pengajian kitab kuningnya.

Kalau kita menolak pergerakan kiai secara total dari politik ya jelas tidak
bisa, sebab semua kita tahu bahwa kiai itu juga termasuk yang membidani
bangsa ini. Pasukan Hizbullah dan sebagainya itu ikut urun darah demi bangsa
ini. Hanya SOEHARTO dan tuyul-tuyulnya saja yang tidak mau mengakui
kepahlawanan mereka.

Jadi, bagi saya, hanya gerakan politik amatir-lah yang paling layak untuk
ditinggalkan para kiai. Jika mampu menyuguhkan pergerakan yang menarik, ya
monggo saja. Kenyataannya, kalau kita dialog dengan oknum-oknum itu secara
lebih dekat, memang bukan saja mereka amatir, tetapi mereka juga miskin
visi--secara umum dunia pesantren sekarang ini bisa dikatakan miskin visi.

Uniknya pesantren, saat ini, adalah bahwa sekalipun posisi kiai dalam
praktek politik sudah menurun, namun bagi saya pesantren tetap menarik untuk
tetap menjadi pusat perhatian. Kita berharap ia akan selalu menjadi agen,
bukan menjadi obyek.

Okey, saya mencoba memahami bahwa ini semua terjadi dan masih akan terjadi
karena saat ini memang era politik. Dan kita membidik kiai karena kita
bagian dari pesantren. Tidak perlu kita membidik semua politikus bangsa,
nanti terlalu lebar perbincangannya. Semoga saja politikus amatir itu cepat
bosan... dan pesantren kembali berkibar..

Wassalam,

Luthfi

----- Original Message -----
From: Yunika Ainia
To: [email protected]
Sent: Monday, May 21, 2007 2:40 PM
Subject: Re: [kmnu2000] Pesantren sebagai Grass Root Power - Kasihan Wong
Ndeso

Pesantren memang sebagai kekuatan besar di tanah air, karena memiliki banyak
santri dan alumni yang punya massa. Namun sebagai lembaga pendidikan, tidak
seharusnya pesantren dilibatkan ke dalam politik praktis, rebutan kekuasaan,
legitimasi politik dan semacamnya. Sehingga tidak jarang terjadi, antar
pimpinan pesantren dan antar panutan umat saling berseteru karena perbedaan
orientasi politiknya.



         

       
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke