Salam, Kritikan kepada (oknum) kiai supaya tidak dekat-dekat dengan politik sebenarnya sudah lama. Itu seiring dengan gerakan secara massif kaum pesantren setelah reformasi politik terjadi. Sebenarnya, memang sah-sah saja kiai berpolitik, tetapi inti permasalahan ini muncul karena selama ini yang muncul adalah perilaku dan pergerakan politik yang amatir. Kalau memang yang bersangkutan profesional, mungkin tidak akan ada kritikan semacam itu.
Saya katakan kepada P Maftuh Basyuni ketika Ahad kemarin (20/5) ke Lasem. Beliau mengakui adanya kiai yang tidak sreg dengan statemen beliau di RMI, tapi saya tetap setuju dengan statemen beliau, agar para kiai politik yang merasa gagal ya sebaiknya kembali ke baraknya masing-masing, kembali nelateni pengajian kitab kuningnya. Kalau kita menolak pergerakan kiai secara total dari politik ya jelas tidak bisa, sebab semua kita tahu bahwa kiai itu juga termasuk yang membidani bangsa ini. Pasukan Hizbullah dan sebagainya itu ikut urun darah demi bangsa ini. Hanya SOEHARTO dan tuyul-tuyulnya saja yang tidak mau mengakui kepahlawanan mereka. Jadi, bagi saya, hanya gerakan politik amatir-lah yang paling layak untuk ditinggalkan para kiai. Jika mampu menyuguhkan pergerakan yang menarik, ya monggo saja. Kenyataannya, kalau kita dialog dengan oknum-oknum itu secara lebih dekat, memang bukan saja mereka amatir, tetapi mereka juga miskin visi--secara umum dunia pesantren sekarang ini bisa dikatakan miskin visi. Uniknya pesantren, saat ini, adalah bahwa sekalipun posisi kiai dalam praktek politik sudah menurun, namun bagi saya pesantren tetap menarik untuk tetap menjadi pusat perhatian. Kita berharap ia akan selalu menjadi agen, bukan menjadi obyek. Okey, saya mencoba memahami bahwa ini semua terjadi dan masih akan terjadi karena saat ini memang era politik. Dan kita membidik kiai karena kita bagian dari pesantren. Tidak perlu kita membidik semua politikus bangsa, nanti terlalu lebar perbincangannya. Semoga saja politikus amatir itu cepat bosan... dan pesantren kembali berkibar.. Wassalam, Luthfi ----- Original Message ----- From: Yunika Ainia To: [email protected] Sent: Monday, May 21, 2007 2:40 PM Subject: Re: [kmnu2000] Pesantren sebagai Grass Root Power - Kasihan Wong Ndeso Pesantren memang sebagai kekuatan besar di tanah air, karena memiliki banyak santri dan alumni yang punya massa. Namun sebagai lembaga pendidikan, tidak seharusnya pesantren dilibatkan ke dalam politik praktis, rebutan kekuasaan, legitimasi politik dan semacamnya. Sehingga tidak jarang terjadi, antar pimpinan pesantren dan antar panutan umat saling berseteru karena perbedaan orientasi politiknya.
