Salamualaikum..

Beberapa hari yang lalu, saya diajak kawan-kawan untuk mengadakan kajian Islam 
komprehensif yang akan diadakan per 3 bulan di komplek saya. Rapat di gelar dan 
ketika memunculkan nama-nama pembicara yang muncul nama Ari Ginanjar, AGym, 
Uje, Syafii Antonio,  dan  Jalaludin Rahmat 

Ketika saya memunculkan nama kyai NU, jawab sebagian dari hadirin adalah mereka 
kyai majelis ta'lim kelas bawah, bukan untuk pengajian kelas menengah ke atas.

Dari yang saya perhatikan di tingkat nasional saja, segala permasalahan umat, 
terutama kepedulian terhadap perjuangan Islam di Palestina atau Irak, yang 
vokal memperjuangkan adalah MUI dan yang muncul pasti Dien Syamsudin atau 
Hidayat Nur Wahid. Saya sendiri bingung dimana kyai-kyai NU ... 

Saya melihat kayaknya ada krisis kepercayaan terhadap kyai-kyai NU. Yang saya 
temui di daerah saya. Kyai NU hanya untuk digunakan demi kepentingan partai 
dalam merebut suara. Atau kyai NU hanya untuk digunakan untuk  meminta "air 
sakti" demi  kelancaran dagang dan kenaikan jabatan.

Dalam memberantas kemaksiatan misalnya, pemberantasan miras atau PSK, yang maju 
pasti laskar Hizbuttahrir, Forum Umat Islam, atau pemuda Muhammadiyah. 

Bahkan dalam  mengkritik  masalah korupsi  PEMDA, misalnya. organisasi muslim 
lain non NU sangat pedas memperingatkan pihak pemerintah untuk menghindari 
korupsi dan bersikap tegas terhadapnya.

Kalangan Kyai NU kayaknya terhadap  hal-hal di atas, kurang peduli  dan  acuh 
saja. Mereka lebih berkonsentrasi  pada pendidikan Pesantren.

Saya sendiri ngeri, melihat "generasi muda NU" maksudnya yang orang tuanya NU, 
ternyata anak-anaknya masuk dalam pengajian Islam PKS, HT, atau 
pengajian-pengajian anak muda yang saat ini lagi marak. Dan mereka itu, 
meskipun bapaknya NU, tapi sikap mereka sangat ANTI NU. Waduh, saya 
berfikir,... bisa-bisa.. sedikit-sedikit... jamaah NU akan merosot jumlahnya.

ini dulu aja ah... ntar yang lainnya bisa diskusikan..

Suprayadi

nagan singosari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
pancen Gus Mus iku wong top
   maqam-e wis duwur kasuwur
    
   tugas-e ngemong wong akeh
   nggawe adem atine wong kabeh
    
   tapi kadang gak dianggep karo Kiai liyane
   sing senengane mung golek rame
    
   tapi mergo Gus Mus sabar
   kabeh iku yo podo diumbar
 
 salam
   
 Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
           Masih Banyak Kiai yang Tak Suka Politik 
 Kamis, 14 Juni 2007 16:40 
 
 Jakarta, NU Online
 Meskipun belakangan ini, tepatnya semenjak reformasi, banyak kiai yang terjun 
dalam dunia politik praktis, namun dari pengamatan Mustasyar PBNU KH Mustofa 
Bisri, ternyata masih banyak kiai yang tak berpolitik dan mengurusi dzikir, 
majelis taklim dan sebagainya.
 
 "Banyak masyarakat yang suka politik, tapi banyak juga yang tidak suka. Mereka 
yang tidak suka politik merasa tidak dikancani kiai. Lalu muncul kiai yang 
menyatakan jangan khawatir kamu tidak suka politik, masih ada kiai yang masih 
mengurusi dzikir dan sebagainya," tuturnya dalam perbincangan dengan NU Online 
beberapa waktu lalu di kantor Komunitas MataAir.
 
 Pengasuh Ponpes Roudhatut Thalibien ini menjelaskan bahwa ia telah penggelar 
pertemuan dengan para kiai di berbagai daerah. Para ulama ini merasa resah 
melihat banyaknya kiai yang berpolitik. Namun akhirnya dalam pertemuan ini 
mereka lego ternyata banyak kiai yang tak mengurusi politik.
 
 Dijelaskan oleh Gus Mus bahwa pertemuan ini sekaligus untuk menyerap pemikiran 
dari bawah sebagaimana yang diminta oleh Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudz.
 
 "Urusan kekiaian ini kan hanya membantu dengan pemikiran, menyampaikan 
aspirasi masyarakat. Fikiran kiai-kiai di bawah ini kita titipkan ke syuriyah,. 
Selanjutnya PBNU yang menindaklanjuti untuk kerja nyatanya. Mereka ini orang NU 
semua, tidak ada orang luar," imbuhnya. 
 
 Kiai yang juga Penyair ini menjelaskan ada tiga kategori tindakan politik yang 
dilakukan oleh para kiai, yaitu politik kebangsaan, politik kerakyatan, dan 
politik kekuasaan. Politik kebangsaan ini seperti yang dilakukan oleh 
Hadratusyaikh Hasyim Asy'ari ketika mengeluarkan fatwa jihad melawan penjajah, 
ini politik untuk Indonesia, politik kebangsaan. Demikian pula mengangkat Bung 
Karno sebagai wali ad dhoruri bis syaukah.
 
 Sementara itu, politik kerakyatan merupakan pembelaan para kiai yang dilakukan 
terharap rakyat. Ini yang paling rajin dilakukan oleh para kiai. "Ketika rakyat 
berhadapan dengan penguasa atau dengan pengusaha, maka rakyat larinya ke kiai. 
Mereka yang mbelani," tandasnya.
 
 Berkaitan dengan politik kekuasaan, Gus Mus berpendapat politik yang ini 
sebetulnya banyak menguras energi dan tak karuan juntrungnya. Menurutnya dalam 
politik kekuasaan, harus ada perencanaan yang matang bagaimana nanti kalau 
berkuasa, bukan hanya memikirkan politik tapi tanpa melakukan perencanaan yang 
matang, kalau sudah berkuasa mau apa. 
 "Jangan-jangan kalau kita sudah kuasa seperti zaman Gus Dur. Sendirian Gus Dur 
karena yang siap berkuasa cuma Gus Dur. Mestinya semuanya harus siap kalau 
memang mau berpolitik kekuasaan," paparnya. 
 
 Gus Mus juga merasa prihatin dengan banyaknya partai politik yang 
mengatasnamakan warga NU. Banyaknya partai membuat suara yang diperoleh semakin 
kecil karena pasar yang diambil sama sehingga posisinya semakin tidak berarti. 
 
 "Kalau berfikir bikin partai biar kecil asal baik, tidak ada itu, ini majelis 
taklim. Kalau partai politik ya harus besar wong partai-partai besar saja 
berkoalisi kok. Dulu zaman orde baru, PDI dan PPP tidak ada artinya sama 
sekali, karena apa, karena kecil. Orang-orang kita itu, kalau bicara soal 
partai, soal politik, itu jangkauannya hanya sebatas menjadi anggota 
legislatif, tak lebih, itu ngapain, ya cari kerja saja," tuturnya. 
 
 Secara organisatoris, Gus Mus sepakat bahwa NU tidak boleh berpolitik praktis, 
namun politk kebangsaan dan politik kerakyatan harus terus dilakukan. Tugas NU 
adalah membela rakyat yang sampai saat ini banyak yang masih mengalami 
kesulitan hidup.
 
 "Umumnya orang NU itu petani di desa-desa, sekarang petani paling tidak karuan 
hidupnya, Kalau sekarang harga pupuk mahal, siapa yang menyuarakan aspirasi 
mereka kalau tidak kiai. Jadi politik kebangsaan dan politik kerakyatan ini 
yang perlu dijangkau, jadi politik kekuasaan ya biarkan mereka yang memang tahu 
dan suka, jangan seluruhnya," tuturnya. (mkf)
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 ---------------------------------
 Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! 
FareChase.
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                       

       
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally,  mobile search that gives answers, not web links. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke