Ah, 
  Gus Anam bisa aja,
  mas Supriyadi kan hanya menyampaikan keluh kesahnya saja,
  dan itu memang sesuatu hal yang wajar bagi orang NU secara umum,
  terutama orang NU yang hidup di perkotaan,
  mereka melihat apa yang ada di depan mata,
  mereka melihat apa yang tersaji di media masa,
  dan sebenarnya mereka menginginkan adanya orang NU yang seperti itu,
  tidak orang NU yang rame karena rebutan posisi politik,
  atau mungkin karena orang NU tidak secerdas Din Samsudin dalam memanfaatkan 
momen,
  atau tidak secerdas Aa' Gym dalam memanfaatkan situasi,
  atau tidak secerdas Ari Ginanjar dalam ilmu marketing dengan pemanfaatan 
agama dalam
  meraih keuntungan yang sebesar-besarnya (he he he)
  karena memang mereka itu bergerak berdasarkan kepentingan.
  atau memang orang NU itu hanya diwakili oleh Gus Dur dengan kenyelenehannya
  karena adakalanya pandangan Gus Dur bukan mencerminkan NU, betul tidak?
  karena adakalanya Gus Dur itu berbicara atas nama dirinya sendiri saja,
  buktinya apa? Beliau mendirikan Gus Dur Center bukan NU Center (ini menurut 
saya lho)
  beliau memiliki situs sendiri, NU memiliki situs sendiri, yang artinya 
adakalanya
  beliau berbicara atas nama dirinya sendiri, bukan atas nama NU
   
  gak nyambung ya ? :D
   
  salam
   
  kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Assalamualaikum
Sekedar urun rembug,
Saya kira yang kurang dari mas Supriadi adalah perasaan "menjadi bagian dari
orang NU", kalau memang anda adalah bagian dari warga nahdliyyin. Ibaratnya
NU itu adalah sebuah keluarga, dan kita adalah bagian dari keluarga itu,
maka semisal keluarga kita dicap jelek oleh orang (padahal ya belum tentu
jelek) maka kita akan berusaha menutupi kejelekan keluarga kita, sembari
secara pribadi berusaha memperbaiki citra jelek keluarga, bukan malah
ikut-ikutan menjelekkan keluarga sendiri, mengutuk diri sendiri.

Perasaan "menjadi bagian dari orang NU" itu juga penting untuk
sekedar memandang positif apa pun yang terjadi dengan NU; bahwa apapun
tindakan NU itu dilambari oleh "khittahnya", punya dasar pemikiran dan tidak
serta merta memperturutkan hawa nafsu.

Kalau anda mau "membaca" informasi, kurang apa NU dalam memberangus korupsi,
memberantas kemaksiatan, membela Palestina, Irak dan Iran. Hanya saja NU
tidak senang "berkoar-koar" dalam mimbar Jum'at yang justru malah membikin
panas suasana membakar kebencian umat, dan kadang memicu emosi untuk
melakukan tindakan anarkhis. Yang begini-ini justru kontra produktif dan
tidak menyelesaikan masalah. Artinya ya NU saya kira punya metode dakwah
sendiri, bil hikmah wal mauidzatil hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan.

Soal anda tidak setuju kiai yang ikut "berpolitik" itu sah-sah saja. Tapi
bukan kemudian mengeneralisir bahwa kiai haram untuk berpolitik. Kalau sudah
begitu berarti dari awal anda sudah ga percaya bahwa kiai bisa mengubah
iklim politik yang acakadul. Belum-belum anda menaruh curiga dan menuduk
kiai-kiai itu amoral semua. Ini namanya gak fair. Saya kira juga aneh: anda
tidak antusias dengan sistem politik indonesia, tapi anda melarang
orang-orang yang baik untuk ikut masuk di dalamanya.

Saya bukan kiai, bukan keluarga kiai, juga tidak pernah punya cita-cita
punya istri anaknya kiai, tapi saya menghormati para kiai sebagai pimpinan
keagamaan saya. Maka kalau kiai digugat dan dihinakan, hati saya
akan bergolak.

Kalau anda mau "membaca" informasi (maaf sekedar biar anda tidak terlalu
fanatik) tahukah anda bahwa beberapa orang yang anda banggakan di atas itu
juga sering tidak konsisten. Sekedar menyebut contoh, taukah anda bahwa
pelatihannya pak Ariginanjar, misalnya, dirumuskan oleh para aktor zinonis
yang dalam mimbar-mimbar jum'at mereka kecam. Kira-kira anda juga perlu baca
buku tentang "agama sebagai spirit kapitalisme" biar tidak terlalu fanatik
dengan apapun yang tampil di permukaan. Pada banyak hal agama dan "syariah"
hanya menjadi simbol dan tameng untuk menutupi maksud terpendam, dan itu
bisa jadi terjadi secara tak disadari.

Terakhir, menurut saya, yang pantas diteladani bukanlah yang sering muncul
di media publik, atau anda bilang "vokal". Ingat bahwa yang diam itu
menghanyutkan. Assukutu nisful ilmi. Sikap, tindakan, dan teladan itu tidak
harus diomongkan.

jadi begitu,

Salam

On 6/16/07, suprayadi kay <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Salamualaikum..
>
> Beberapa hari yang lalu, saya diajak kawan-kawan untuk mengadakan kajian
> Islam komprehensif yang akan diadakan per 3 bulan di komplek saya. Rapat di
> gelar dan ketika memunculkan nama-nama pembicara yang muncul nama Ari
> Ginanjar, AGym, Uje, Syafii Antonio, dan Jalaludin Rahmat
>
> Ketika saya memunculkan nama kyai NU, jawab sebagian dari hadirin adalah
> mereka kyai majelis ta'lim kelas bawah, bukan untuk pengajian kelas menengah
> ke atas.
>
> Dari yang saya perhatikan di tingkat nasional saja, segala permasalahan
> umat, terutama kepedulian terhadap perjuangan Islam di Palestina atau Irak,
> yang vokal memperjuangkan adalah MUI dan yang muncul pasti Dien Syamsudin
> atau Hidayat Nur Wahid. Saya sendiri bingung dimana kyai-kyai NU ...
>
> Saya melihat kayaknya ada krisis kepercayaan terhadap kyai-kyai NU. Yang
> saya temui di daerah saya. Kyai NU hanya untuk digunakan demi kepentingan
> partai dalam merebut suara. Atau kyai NU hanya untuk digunakan untuk meminta
> "air sakti" demi kelancaran dagang dan kenaikan jabatan.
>
> Dalam memberantas kemaksiatan misalnya, pemberantasan miras atau PSK, yang
> maju pasti laskar Hizbuttahrir, Forum Umat Islam, atau pemuda Muhammadiyah.
>
> Bahkan dalam mengkritik masalah korupsi PEMDA, misalnya. organisasi muslim
> lain non NU sangat pedas memperingatkan pihak pemerintah untuk menghindari
> korupsi dan bersikap tegas terhadapnya.
>
> Kalangan Kyai NU kayaknya terhadap hal-hal di atas, kurang peduli dan acuh
> saja. Mereka lebih berkonsentrasi pada pendidikan Pesantren.
>
> Saya sendiri ngeri, melihat "generasi muda NU" maksudnya yang orang tuanya
> NU, ternyata anak-anaknya masuk dalam pengajian Islam PKS, HT, atau
> pengajian-pengajian anak muda yang saat ini lagi marak. Dan mereka itu,
> meskipun bapaknya NU, tapi sikap mereka sangat ANTI NU. Waduh, saya
> berfikir,... bisa-bisa.. sedikit-sedikit... jamaah NU akan merosot
> jumlahnya.
>
> ini dulu aja ah... ntar yang lainnya bisa diskusikan..
>
> Suprayadi
>
> nagan singosari <[EMAIL PROTECTED] <mbiru7777%40yahoo.com>> wrote:
> pancen Gus Mus iku wong top
> maqam-e wis duwur kasuwur
>
> tugas-e ngemong wong akeh
> nggawe adem atine wong kabeh
>
> tapi kadang gak dianggep karo Kiai liyane
> sing senengane mung golek rame
>
> tapi mergo Gus Mus sabar
> kabeh iku yo podo diumbar
>
> salam
>
> Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED] <mukhlisin%40polytama.co.id>> wrote:
> Masih Banyak Kiai yang Tak Suka Politik
> Kamis, 14 Juni 2007 16:40
>
> Jakarta, NU Online
> Meskipun belakangan ini, tepatnya semenjak reformasi, banyak kiai yang
> terjun dalam dunia politik praktis, namun dari pengamatan Mustasyar PBNU KH
> Mustofa Bisri, ternyata masih banyak kiai yang tak berpolitik dan mengurusi
> dzikir, majelis taklim dan sebagainya.
>
> "Banyak masyarakat yang suka politik, tapi banyak juga yang tidak suka.
> Mereka yang tidak suka politik merasa tidak dikancani kiai. Lalu muncul kiai
> yang menyatakan jangan khawatir kamu tidak suka politik, masih ada kiai yang
> masih mengurusi dzikir dan sebagainya," tuturnya dalam perbincangan dengan
> NU Online beberapa waktu lalu di kantor Komunitas MataAir.
>
> Pengasuh Ponpes Roudhatut Thalibien ini menjelaskan bahwa ia telah
> penggelar pertemuan dengan para kiai di berbagai daerah. Para ulama ini
> merasa resah melihat banyaknya kiai yang berpolitik. Namun akhirnya dalam
> pertemuan ini mereka lego ternyata banyak kiai yang tak mengurusi politik.
>
> Dijelaskan oleh Gus Mus bahwa pertemuan ini sekaligus untuk menyerap
> pemikiran dari bawah sebagaimana yang diminta oleh Rais Aam PBNU KH Sahal
> Mahfudz.
>
> "Urusan kekiaian ini kan hanya membantu dengan pemikiran, menyampaikan
> aspirasi masyarakat. Fikiran kiai-kiai di bawah ini kita titipkan ke
> syuriyah,. Selanjutnya PBNU yang menindaklanjuti untuk kerja nyatanya.
> Mereka ini orang NU semua, tidak ada orang luar," imbuhnya.
>
> Kiai yang juga Penyair ini menjelaskan ada tiga kategori tindakan politik
> yang dilakukan oleh para kiai, yaitu politik kebangsaan, politik kerakyatan,
> dan politik kekuasaan. Politik kebangsaan ini seperti yang dilakukan oleh
> Hadratusyaikh Hasyim Asy'ari ketika mengeluarkan fatwa jihad melawan
> penjajah, ini politik untuk Indonesia, politik kebangsaan. Demikian pula
> mengangkat Bung Karno sebagai wali ad dhoruri bis syaukah.
>
> Sementara itu, politik kerakyatan merupakan pembelaan para kiai yang
> dilakukan terharap rakyat. Ini yang paling rajin dilakukan oleh para kiai.
> "Ketika rakyat berhadapan dengan penguasa atau dengan pengusaha, maka rakyat
> larinya ke kiai. Mereka yang mbelani," tandasnya.
>
> Berkaitan dengan politik kekuasaan, Gus Mus berpendapat politik yang ini
> sebetulnya banyak menguras energi dan tak karuan juntrungnya. Menurutnya
> dalam politik kekuasaan, harus ada perencanaan yang matang bagaimana nanti
> kalau berkuasa, bukan hanya memikirkan politik tapi tanpa melakukan
> perencanaan yang matang, kalau sudah berkuasa mau apa.
> "Jangan-jangan kalau kita sudah kuasa seperti zaman Gus Dur. Sendirian Gus
> Dur karena yang siap berkuasa cuma Gus Dur. Mestinya semuanya harus siap
> kalau memang mau berpolitik kekuasaan," paparnya.
>
> Gus Mus juga merasa prihatin dengan banyaknya partai politik yang
> mengatasnamakan warga NU. Banyaknya partai membuat suara yang diperoleh
> semakin kecil karena pasar yang diambil sama sehingga posisinya semakin
> tidak berarti.
>
> "Kalau berfikir bikin partai biar kecil asal baik, tidak ada itu, ini
> majelis taklim. Kalau partai politik ya harus besar wong partai-partai besar
> saja berkoalisi kok. Dulu zaman orde baru, PDI dan PPP tidak ada artinya
> sama sekali, karena apa, karena kecil. Orang-orang kita itu, kalau bicara
> soal partai, soal politik, itu jangkauannya hanya sebatas menjadi anggota
> legislatif, tak lebih, itu ngapain, ya cari kerja saja," tuturnya.
>
> Secara organisatoris, Gus Mus sepakat bahwa NU tidak boleh berpolitik
> praktis, namun politk kebangsaan dan politik kerakyatan harus terus
> dilakukan. Tugas NU adalah membela rakyat yang sampai saat ini banyak yang
> masih mengalami kesulitan hidup.
>
> "Umumnya orang NU itu petani di desa-desa, sekarang petani paling tidak
> karuan hidupnya, Kalau sekarang harga pupuk mahal, siapa yang menyuarakan
> aspirasi mereka kalau tidak kiai. Jadi politik kebangsaan dan politik
> kerakyatan ini yang perlu dijangkau, jadi politik kekuasaan ya biarkan
> mereka yang memang tahu dan suka, jangan seluruhnya," tuturnya. (mkf)
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> ---------------------------------
> Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo!
> FareChase.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web
> links.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>

[Non-text portions of this message have been removed]



         

 
---------------------------------
Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke