Sayidina Ali ra Bicara Tentang Abu Bakr Ash-Shiddiq ra
Dari Buku Naqshbandi Sufi Way
Mawlana Syekh Hisyam Kabbani ar-Rabbani qs
  www.rumisuficafe.blogspot.com
   
   
  
Bismillah hirRohman nirRohim 
   
  Rahasia diteruskan dan mengalir dari Guru seluruh umat, Rasulullah saw kepada 
Khalifah Pertama, Imam dari semua Imam, Abu Bakr ash-Shiddiq ra.  Melalui 
beliau agama mendapat dukungan dan kebenaran dilindungi.  Allah swt menyebut 
dan memujinya dalam beberapa ayat suci Alquran, 
   
  “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan 
membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami sediakan jalan 
yang mudah” [92:5-7].
  “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling bertaqwa dari neraka itu, yang 
menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada 
seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi dia 
(memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha 
Tinggi” [92:17-20]. 
   
  Ibn al-Jawzi menyatakan bahwa seluruh ulama Muslim dan para Sahabat yakin 
bahwa ayat-ayat tersebut merujuk kepada Abu Bakr ra.  Di antara orang banyak, 
beliau dipanggil dengan sebutan “Al-Atiq,” artinya “yang paling saleh dan 
dibebaskan dari api neraka.”
  Ketika ayat ke-56 Surat al-Ahzab diturunkan, yaitu bahwa, “Allah swt dan 
malaikatnya berselawat kepada Nabi Suci saw,”  Abu Bakr ra bertanya apakah 
beliau termasuk yang mendapat berkah tersebut.  
   
  Kemudian ayat ke-43 diturunkan dan dinyatakan bahwa, “Dialah yang memberi 
rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia 
mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia 
Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” [33:43].
   
  Ibn Abi Hatim ra menerangkan bahwa ayat ke-46 Surah Ar-Rahman merujuk kepada 
Abu Bakr ash-Shiddiq ra, “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap 
Tuhannya ada dua surga” [55:46]. Merujuk kepada Abu Bakr ash-Shiddiq ra, Allah 
swt berfirman, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua 
orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya 
dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh 
bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun 
ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang 
telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat 
berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan 
(memberi kebaikan) kepada anak cucuku. 
   
  Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk 
orang-orang yang berserah diri. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari 
mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni 
kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang 
benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” [46:15-16]
   
  Ibn `Abbas ra berkata bahwa ayat ini merupakan deskripsi tentang Abu Bakr 
ash-Shiddiq ra, Allah swt memuliakan dan mengangkat kedudukannya di antara 
seluruh Sahabat Nabi saw.  Selanjutnya  Ibn `Abbas ra mencatat bahwa ayat 158 
Surah Al-Imran diturunkan dengan merujuk kepada Abu Bakr ra dan Umar ra, 
“Mintalah nasihat mengenai masalah-masalah penting kepada mereka.”
   
  Akhirnya, kehormatan terbesar bagi Abu Bakr ra yaitu dalam menemani Nabi Suci 
saw dalam hijrahnya dari Mekah ke Madinah, ditunjukkan oleh ayat, “Ketika 
orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia 
salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia 
berkata kepada temannya: ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah swt 
beserta kita’” [9:40].
   
  Sebagai tambahan terhadap pujian Allah swt kepadanya, Abu Bakr ash-Shiddiq ra 
juga menerima pujian dari Nabi Suci saw dan para Sahabatnya.  Hal ini dicatat 
dalam banyak riwayat hadis yang terkenal. Allah swt akan menunjukkan 
Keagungan-Nya kepada orang-orang secara umum, tetapi Dia akan menunjukkannya 
secara khusus kepada Abu Bakr ra. 
  Tidak pernah matahari menyinari seseorang lebih terang daripada Abu Bakr ra, 
kecuali ia seorang nabi. Tak satu pun yang diturunkan kepadaku yang tidak 
kuberikan ke dalam hati Abu Bakr ra. 
   
  Nabi saw berkata, "Tidak ada seseorang pun di mana aku mempunyai kewajiban 
tetapi tidak perlu membayar utangku kembali kecuali Abu Bakr ra, karena Aku 
berhutang banyak kepadanya dan Allah swt akan menggantinya di Hari Pembalasan 
nanti". 
  Jika aku akan mengangkat seorang sahabat karib (khalil) selain Tuhanku, aku 
akan memilih Abu Bakr ra. Abu Bakr ra tidak mendahuluimu karena banyak 
melakukan salat atau puasa, tetapi karena rahasia yang ada dalam hatinya.  
   
  Bukhari meriwayatkan dari Ibn `Umar ra bahwa, “Di masa Nabi saw kita tidak 
mengenal seseorang yang lebih tinggi daripada Abu Bakr ash-Shiddiq ra, lalu 
Umar ra, dan Utsman ra.”  Bukhari juga meriwayatkan dari Muhammad ibn 
al-Hanafiya ra (putra Sayidina Ali ra) bahwa, Aku bertanya kepada ayahku, 
‘Siapa orang terbaik setelah Rasulullah  saw?’  Beliau menjawab, ‘Abu Bakr ra.’ 
 Aku bertanya, ‘Siapa lagi?’ Beliau berkata, ‘Umar ra’  Aku takut berikutnya 
beliau akan mengatakan ‘Utsman ra, jadi aku berkata, ‘lalu bagaimana dengan kau 
sendiri?’  Beliau menjawab, ‘Aku hanya orang biasa saja.’” 
   
  Tabarani meriwayatkan melalui Mu`adz ra bahwa Nabi saw bersabda, Aku 
mempunyai penglihatan spiritual di mana aku diletakkan di salah satu timbangan 
dan umatku berada di sisi yang lain dan ternyata aku lebih berat.  Kemudian Abu 
Bakr ra di tempatkan di satu sisi dan umatku di sisi yang lain, ternyata Abu 
Bakr ra lebih berat.  Kemudian Umar ra diletakkan di satu sisi dan umatku di 
sisi yang lain, ternyata Umar ra lebih berat.  Kemudian Utsman ra diletakkan di 
satu sisi dan umatku di sisi yang lain, ternyata Utsman ra lebih berat.  Lalu 
timbangan itu terangkat.
   
  Hakim meriwayatkan bahwa  `Ali as pernah ditanya,  ‘Wahai Penguasa yang 
beriman, terangkanlah kepada kami tentang Abu Bakr ra.’  Beliau menjawab, 
‘Beliau adalah orang yang Allah swt panggil dengan sebutan ash-Shiddiq dari 
lidah Nabi saw dan beliau adalah seorang khalif (penerus) Nabi saw.  Kita 
menerimanya untuk agama kita dan kehidupan dunia kita.’
   
  Banyak hadis lain yang menunjukkan  pencapaian Abu Bakr ash-Shiddiq ra yang 
lebih tinggi dibandingkan para Sahabat yang lain. Abu Bakr ra merupakan teman 
terbaik dan Sahabat tercinta dari Nabi Suci saw.   Selama hidupnya beliau 
diberkati untuk menjadi orang yang pertama dan utama, baik dalam hal keyakinan, 
dukungan, maupun cinta terhadap Nabi Suci saw.  Untuk itu beliau diberi 
kehormatan dengan gelar ash-Shiddiq, atau yang benar.
   
  Beliau adalah orang dewasa pertama yang merdeka yang menerima Islam dari 
tangan Nabi saw.  Beliau tidak pernah bergabung untuk menyembah berhala yang 
dilakukan para leluhurnya.  Beliau memeluk Islam tanpa keraguan.  
Bertahun-tahun kemudian Nabi Suci saw mengingatkan, “Setiap kali Aku menawarkan 
Islam kepada seseorang, orang itu selalu menunjukkan keengganan atau keraguan 
dan mencoba untuk berargumentasi.  Hanya Abu Bakr ra yang menerima Islam tanpa 
keraguan dan argumentasi.”
   
  Beliau yang pertama dalam hal dukungan spiritualnya.  Beliau selalu kukuh 
dalam memberi dukungannya selama masa-masa sulit di Mekah.  Beliau yang pertama 
berbicara ketika terjadi kejadian-kejadian di luar pemahaman akal, khususnya di 
antara Muslim baru, seperti halnya dalam kasus Isra’ dan Mi’raj.   Kemudian di 
Madinah ketika perjanjian Hudaybiyya ditandatangani, hanya Abu Bakr ra yang 
kukuh imannya.  Beliau menasihati para sahabatnya agar tidak bersifat kritis, 
melainkan tetap patuh dan setia kepada Nabi Suci saw.
   
  Beliau juga yang pertama dalam hal bantuan material.  Ketika  Muslim lain 
memberi banyak harta untuk memperkuat iman mereka, Abu Bakr ra adalah orang 
pertama yang memberikan seluruh harta yang dimilikinya.  Ketika ditanya apa 
yang ditinggalkan untuk anak-anaknya, beliau menjawab, “Allah swt dan Nabi-Nya 
saw.”  Ketika mendengar ini Umar ra berkata, “Tidak ada yang bisa melebihi Abu 
Bakr ra dalam memberi pelayanan kepada Islam.”
   
  Beliau juga yang pertama dalam hal keramahan dan belas kasihan kepada mukmin 
pengikutnya.  Sebagai pedagang yang sangat makmur, beliau selalu memperhatikan 
orang yang lemah dan miskin.  Beliau membebaskan 7 orang budak sebelum 
meninggalkan Mekah, di antaranya termasuk Bilal ra.  Beliau bukan hanya 
membelanjakan uangnya yang sangat banyak untuk membebaskan mereka tetapi beliau 
juga membawa mereka ke rumahnya dan mendidik mereka.  
   
  Ketika beliau menjabat sebagai khalif  beliau berkata,  Tolonglah aku, jika 
aku benar dan koreksilah aku jika aku salah.  Orang-orang yang lemah di antara 
kalian harus menjadi kuat bersamaku sampai atas Kehendak Allah swt, haknya 
telah disyahkan.  Orang-orang yang kuat di antara kalian harus menjadi lemah 
bersamaku sampai, jika Allah swt menghendaki, aku akan mengambil apa yang harus 
dibayarnya.  Patuhilah aku selama aku patuh kepada Allah swt dan Nabi-Nya saw, 
bila aku tidak mematuhi Allah swt dan Nabi-Nya saw, jangan patuhi aku lagi.  
   
  Di masa-masa awal agama Islam, penafsiran mimpi dianggap sebagai praktik 
spiritual.  Hanya mereka yang mempunyai hati yang suci dan penglihatan 
spiritual yang bisa mengalami mimpi yang bermakna, dan hanya mereka yang 
hatinya suci dan mempunyai penglihatan spiritual yang dapat menafsirkan mimpi 
tersebut. Abu Bakr ra merupakan penafsir mimpi yang terkenal.  Nabi saw sendiri 
hanya akan berkonsultasi dengan beliau dalam mencari kejelasan tentang mimpi 
kenabiannya.  Sebelum perang Uhud, Nabi Suci saw dalam mimpinya melihat bahwa 
beliau menggembalakan ternak, tetapi  beberapa di antaranya telah disembelih.  
Pedang yang beliau pegang patah.  Abu Bakr ra menafsirkan bahwa binatang yang 
telah disembelih menunjukkan adanya kematian beberapa Muslim, dan pedang yang 
patah menandakan akan ada salah satu kerabat Nabi saw yang meninggal.  
Sayangnya kedua prediksi ini menjadi kenyataan dalam perang Uhud. 
   
  Abu Bakr ra juga seorang penyair sebelum menjadi Muslim.  Beliau dikenal 
dengan deklamasinya yang luar biasa dan ingatannya yang sempurna terhadap puisi 
yang panjang yang menjadi kebanggaan bangsa Arab.  Kualitas ini menjadikan 
beliau menonjol dalam Islam.  Bacaan Qurannya sangat jelas dan menyentuh 
sehingga banyak orang yang masuk Islam hanya karena mendengar bacaan beliau 
ketika sedang berdoa.  Orang-orang Quraisy berusaha melarang beliau berdoa di 
halaman rumahnya untuk menghindari agar orang-orang tidak mendengarnya. 
   
  Juga karena ingatannya, banyak Hadis penting yang sampai pada kita sekarang.  
Di antaranya adalah hadis yang menunjukkan tata-cara salat yang benar dan yang 
menjelaskan secara spesifik mengenai proporsi yang tepat dalam zakat.  Tetapi 
tetap saja di antara ribuan Hadis yang telah dibuktikan kesahihannya, hanya 142 
saja yang berasal dari Abu Bakr ra.  Putri beliau, ‘Aisya ra menyatakan bahwa 
ayahnya mempunyai buku berisi lebih dari 500 Hadis tetapi suatu hari beliau 
menghancurkannya.  Pengetahuan yang tetap disembunyikan oleh Abu Bakr ra adalah 
yang berhubungan dengan pengetahuan surgawi, `ilmu-l-ladunni, yang menjadi 
sumber bagi pengetahuan para Wali, pengetahuan yang hanya dapat diteruskan dari 
hati ke hati. 
   
  Meskipun beliau seorang yang lemah lembut, beliau juga menjadi orang pertama 
dalam pertempuran.  Beliau memberi dukungan kepada Nabi Suci saw dalam semua 
kampanyenya baik dengan pedang maupun dengan nasihatnya.  Ketika yang lain 
gagal dan melarikan diri, beliau tetap berada di sisi Nabinya yang tercinta.  
Diriwayatkan bahwa suatu ketika  Ali as bertanya kepada para sahabat siapa yang 
mereka anggap paling berani.  Mereka menjawab bahwa Ali as-lah yang paling 
berani.  Tetapi beliau menjawab, “Bukan!  Abu Bakr ra-lah yang paling berani.  
Dalam perang Badar di mana tidak ada satu pun yang berdiri untuk menjaga Nabi 
Suci saw salat, Abu Bakr ra berdiri dengan pedangnya dan tidak membiarkan musuh 
mendekat.” 
   
  Sudah tentu beliau yang menyusul Nabi Suci saw sebagai Khalifah dan pemimpin 
yang jujur.  Beliau mendirikan Departemen Keuangan Umum (Baytu-l-mal) untuk 
memelihara orang miskin dan orang-orang yang membutuhkan.  Beliau juga yang 
pertama dalam mengkompilasi seluruh Alquran dan menyebutnya sebagai "Mushaf."
   
  Dalam hal transmisi spiritual, beliau adalah orang pertama yang memberi 
instruksi dalam metode membaca Kalima (La ilaha ill-Allah) yang keramat untuk 
memurnikan hati dengan cara berzikir, dan sampai sekarang, metode itu masih 
dilakukan dalam Tarekat Naqsybandi.   Bukhari meriwayatkan dari Mabad ibn Hilal 
al-Anzi ra Hadis terkenal tentang tawasul melalui “la ilaha ill-Allah.”
   
  Kami, yaitu beberap orang dari Basra , berkumpul dan pergi menjumpai Anas ibn 
Malik.  Kami pergi dengan ditemani oleh Tsabit al-Bunnani agar ia dapat 
menanyakan tentang Hadis mengenai Tawasul atas nama kami.  Lihatlah, Anas ada 
di rumah dan kedatangan kami bertepatan dengan salat Zuhurnya.  Kami meminta 
izin untuk masuk dan beliau memersilakan kami masuk ketika masih berada di 
tempat tidurnya.  Kami berkata kepada Tsabit, ‘Jangan bertanya tentang hal lain 
dulu sebelum menanyakan Hadis tentang Tawasul.’  Ia berkata, ‘Wahai Abu Hamza!  
Ini ada beberapa saudaramu dari Basra yang ingin menanyakan Hadis tentang 
Tawasul.’
   
  Kemudian Anas berkata, ‘Muhammad saw berkata kepada kami, “Pada Hari 
Kebangkitan, orang-orang akan berbondong-bondong satu sama lain bagaikan 
gelombang.  Lalu mereka akan datang kepada Adam as dan berkata, ‘Tolong berikan 
kami syafaat dengan Tuhanmu.’  Beliau akan berkata, ‘Aku tidak berhak untuk 
itu, tetapi sebaiknya kalian pergi menemui Ibrahim as karena ia adalah 
Khalilullah, sahabat karib Allah swt Yang Maha Pemurah.’  
  Mereka akan pergi menemui Ibrahim as dan ia akan berkata, ‘Aku tidak berhak 
untuk hal itu, sebaiknya kalian pergi menemui Musa as, karena ia adalah 
Qalamullah, yang berbicara secara langsung dengan Allah.’  Jadi mereka pergi 
menemui Musa as dan ia akan berkata, ‘Aku tidak berhak untuk itu, sebaiknya 
kalian pergi menemui Isa as, karena ia adalah Ruhullah, roh Allah swt dan 
Firman-Nya.’  Mereka akan menemui Isa as dan ia akan berkata, ‘Aku tidak berhak 
untuk hal itu, sebaiknya kalian pergi menemui Muhammad saw.’
   
  “Mereka akan datang padaku dan aku akan berkata, ‘Aku bisa melakukannya.’  
Lalu aku akan memohon izin dari Allah swt dan syafaat itu akan diberikan.  Lalu 
Dia akan menginspirasikan diriku untuk memuji-Nya dengan puji-pujian yang belum 
kuketahui sekarang.  Aku akan memuji-Nya dengan puji-pujian itu dan akan 
bersujud di hadapan-Nya.  Lalu akan dikatakan, ‘Wahai Muhammad saw, angkatlah 
kepalamu dan bicaralah karena ucapanmu akan didengar.  Mintalah, karena 
permintaanmu akan dikabulkan.  Berikanlah syafaatmu, karena perantaraanmu 
(tawasul) akan diterima.’  Aku akan berkata, ‘Wahai Tuhan, umatku, umatku!’  
lalu akan dikatakan, ‘Pergilah keluarkan dari api neraka, mereka yang mempunyai 
iman di dadanya sebesar biji gandum.’…
   
  “Aku akan pergi dan melakukan hal itu dan kemudian kembali untuk memuji-Nya 
dengan puji-pujian yang sama, dan bersujud di hadapan-Nya.  Lalu akan 
dikatakan, ‘Wahai Muhammad saw, angkatlah kepalamu dan bicaralah karena 
ucapanmu akan didengar.  Mintalah, karena permintaanmu akan dikabulkan.  
Berikanlah syafaatmu, karena perantaraanmu akan diterima.’  Aku akan berkata, 
‘Wahai Tuhan, umatku, umatku!’  lalu akan dikatakan, ‘Pergilah keluarkan dari 
api neraka, mereka yang mempunyai iman di dadanya walaupun hanya 
seringan-ringannya biji mustard.”
   
  Ketika kami meninggalkan Anas, aku berkata kepada beberapa sahabatku, ‘Mari 
kita mengunjungi Hasan yang menyembunyikan diri di rumah Abu Khalifa dan 
memintanya untuk menceritakan apa yang telah dikatakan oleh Anas ibn Malik 
kepada kita.’  Kami lalu pergi menemuinya dan memberi salam.  Beliau menerima 
kami.  Kami lalu berkata, ‘Wahai Abu Said!  Kami mendatangimu setelah bertemu 
saudaramu Anas ibn Malik.  
   
  Beliau menceritakan kepada kami Hadis mengenai Tawasul yang belum pernah kami 
dengar sebelumnya.’  Beliau berkata, ‘Seperti apa itu?’  Kami lalu menceritakan 
Hadis itu kepadanya sampai kami mengatakan, ‘Beliau berhenti di situ.’  Hasan 
berkata, ‘Seterusnya bagaimana?’  Kami berkata, ‘Beliau tidak melanjutkannya 
lagi.’
   
  Hasan berkata, ‘Anas menceritakan Hadis itu kepadaku dua puluh tahun yang 
lalu ketika ia masih sangat muda.  Aku tidak tahu apakah ia lupa atau ia tidak 
ingin membuat kalian tergantung kepada apa yang mungkin telah ia katakan.’  
Kami berkata, ‘Wahai Abu Said, ceritakanlah hal itu kepada kami.’  Beliau 
tersenyum dan berkata, ‘Manusia diciptakan sebagai makhluk yang terburu-buru.  
Aku menyebutkannya karena memang aku akan menceritakannya kepada kalian.  Anas 
mengatakan hal yang sama kepadaku sebagaimana yang diceritakannya kepada kalian 
dan kemudian ia menambahkan, “Kemudian aku (Nabi saw) akan kembali untuk 
keempat kalinya dan memuji-Nya dengan cara yang sama dan bersujud di 
hadapan-Nya.  
   
  Kemudian akan dikatakan, ‘Wahai Muhammad saw, angkatlah kepalamu dan 
bicaralah karena ucapanmu akan didengar.  Mintalah, karena permintaanmu akan 
dikabulkan.  Berikanlah syafaatmu, karena perantaraanmu (tawasul) akan 
diterima.’  Aku akan berkata, ‘Wahai Tuhan, izinkanlah aku memberikan syafaat 
kepada setiap orang yang mengucapkan, “La ilaha ill-Allah.”’  Kemudian Allah 
swt akan mengatakan, ‘Demi Kekuasaan dan Kemuliaan-Ku, Kebesaran dan 
Keagungan-Ku, Aku akan mengeluarkan dari neraka siapa pun yang mengucapkan, ‘La 
ilaha ill-Allah’.”’
   
  Meskipun Allah swt memuliakan Abu Bakr ra dengan menjadikannya orang yang 
pertama dalam segala hal,  Allah swt bahkan memberinya kemuliaan lebih banyak 
ketika beliau memilih untuk menjadi yang kedua.  Karena Abu Bakr ra 
satu-satunya Sahabat Nabi Suci saw dalam hijrahnya dari Mekah ke Madinah.  
Mungkin sebutan akrab bagi beliau adalah "yang kedua di antara berdua ketika 
mereka berada dalam gua," seperti yang telah disebutkan dalam Surat [9:40].  
Umar ra berkata, “Aku berharap suatu hari nanti, seluruh amal dalam hidupku 
akan setara dengan amalnya.” 
   
  Ibn `Abbas ra berkata bahwa suatu hari Nabi saw sakit.  Beliau pergi ke 
masjid dengan kepala yang ditutupi sehelai kain.  Beliau duduk di mimbar, dan 
berkata, “Jika aku harus mengangkat seseorang sebagai teman akrabku (khalil), 
aku akan memilih Abu Bakr ra, tetapi teman terbaik bagiku adalah persahabatan 
dalam Islam.”  Kemudian beliau memerintahkan agar semua pintu rumah di sekitar 
masjid yang terbuka ke arah masjid Nabi saw agar ditutup kecuali pintu milik 
Abu Bakr ra.  Dan pintu itu tetap terbuka sampai hari ini. 
  Keempat Imam dan para Syekh Tarekat Naqsybandiyyah memahami dari Hadis 
tersebut bahwa seseorang yang mendekati Allah swt melalui ajaran dan teladan 
Abu Bakr ra akan menemukan dirinya melewati satu-satunya pintu yang tetap 
terbuka kepada hadirat Nabi saw.
  
Dari Kata-katanya Abu Bakar ra
   
  Tidak ada pembicaraan yang baik jika tidak diarahkan untuk memperoleh rida 
Allah swt.  Tidak ada manfaat dari uang jika tidak dibelanjakan di jalan Allah 
swt.  Tidak ada kebaikan dalam diri seseorang jika kebodohannya mengalahkan 
kesabarannya.  Dan jika seseorang tertarik dengan pesona dunianya yang rendah, 
Allah swt tidak akan rida kepadanya selama dia masih menyimpan hal itu dalam 
hatinya. 
   
  Kita menemukan kedermawanan dalam Taqwa (kesadaran akan Allah swt), kekayaan 
dalamYaqin (kepastian), dan kemuliaan dalam kerendahan hati. Waspadalah 
terhadap kebanggan sebab kalian akan kembali ke tanah dan tubuhmu akan dimakan 
oleh cacing. 
  Ketika beliau dipuji oleh orang-orang, beliau akan berdoa kepada Allah swt 
dan berkata, ‘Ya Allah swt, Engkau mengenalku lebih baik dari diriku sendiri, 
dan Aku lebih mengenal diriku daripada orang-orang yang memujiku.  Jadikanlah 
Aku lebih baik daripada yang dipikirkan oleh orang-orang ini mengenai diriku, 
maafkanlah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui, dan janganlah jadikan Aku 
bertanggung jawab atas apa yang mereka katakan.’ 
   
  Jika kalian mengharapkan berkah Allah swt, berbuatlah baik terhadap 
hamba-hamba- Nya. 
  Suatu hari beliau memanggil Umar ra dan menasihatinya sampai Umar ra  
menangis.  Abu Bakr ra berkata kepadanya, ‘Jika engkau memegang nasihatku, 
engkau akan selamat, dan nasihatku adalah “Harapkan kematian selalu dan hidup 
sesuai dengannya.’” 
   
  Mahasuci Allah swt yang tidak memberi hamba-hamba- Nya jalan untuk mendapat 
pengetahuan mengenai-Nya kecuali dengan jalan ketidakberdayaan mereka dan tidak 
ada harapan untuk meraih pencapaian itu. 
   
  Abu Bakr ra berpulang ke Rahmatullah pada hari Senin (seperti halnya Nabi saw 
sendiri)  antara Maghrib dan Isya pada tanggal 22 Jumadil Akhir, 13 AH.  Semoga 
Allah swt memberkatinya dan memberinya kedamaian.  Nabi Suci saw pernah berkata 
kepadanya, “Abu Bakr ra, engkau akan menjadi orang pertama dari umatku yang 
masuk Surga.”
  Rahasia Kenabian diteruskan dari Abu Bakr ra kepada penerusnya, Salman 
al-Farisi ra.
   
  Wa min Allah at Tawfiq
   
  PENDAFTARAN PESERTA PEMECAHAN REKOR DUNIA PARADE MAWLID NABI SAW TERBESAR 
DIDUNIA & FESTIVAL WHIRLING DERVISHES RUMI TERBESAR DI INDONESIA
 
  Pendaftaran Peserta Mawlid Nabi, baik gurp maupun perorangan dapat melalui 
email, Fax, sms atau telepon, dengan Menyebut Nama Kelompok, Pimpinan Kelompok, 
Jumlah Peserta. Dan No HP/Tel Kontak person yg dapat dihubungi ke :
 
Yayasan Rabbani Sufi Institut Indonesia. Jl. Nipah IX No.8, Telp. 021-7255508. 
Fax 021-7255508 Alamat e-mail [EMAIL PROTECTED] Kontak : Arief Hamdani Hp. 0888 
133 5003, 0816 830 748
 
Pendaftaran Pemecahan Rekor Tari Sema Rumi Yang Berputar, Whirling Dervishes 
Rumi Terbesar di Dunia & Indonesia maka kami mengundang Tariqah Mawlawiyah, 
Para Pecinta Rumi, Para Penari Rumi dimanapun berada untuk bergabung Menari 
Rumi bersama2, saat ini sudah terdaftar 100 orang Penari Rumi, untuk memecahkan 
Rekor Jumalah Peserta Whirling 'Sema' Rumi Terbanyak, Whirling Terlama, Peserta 
Termuda. Mari Bergabung belajar Whirling Dervishes Rumi dan Ikut Mengambil 
bagian dalam pemecahan rekor yang langka ini bersama Tariqah Naqshbandi Haqqani 
melalui Yayasan Rabbani Sufi Institut Indonesia.
   
  Donasi :
Bank Mandiri -  Cabang Melawai JakartaYayasan Rabbani Sufi Institut IndonesiaNo 
Account  : 126 000 490 6136
   
  wasalam, arief hamdani
President Rabbani Sufi Institut Indonesia
www.rumisuficafe.blogspot.com

       
---------------------------------
Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke