Keagamaan Islam Politik Mengikis Kekuatan Aswaja
Jakarta, Kompas - Perkembangan berbagai aliran politik keagamaan yang berasal dari luar negeri belum mampu diantisipasi warga dan pendakwah atau mubalig Nahdlatul Ulama. Akibatnya, pemikiran dan ritual keagamaan NU yang bersumber pada ajaran ahlusunah wal jamaah (aswaja) dan bersifat ilmiah tidak dapat disampaikan kepada umat dengan tepat. Hadirnya pemikiran Islam politik mulai mengikis kultur keagamaan aswaja yang merupakan perpaduan antara nilai Islam dan budaya lokal. "Mubalig NU masih bersifat sebagai orator, belum mampu menjadi dai yang memberikan bimbingan dan advokasi," kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi dalam bedah buku berjudul Ahlussunnah wal Jamaah dalam Persepsi dan Tradisi NU karya KH M Tholchah Hasan, di Jakarta, Selasa (28/8). Sebagai sebuah pemikiran Islam, kekuatan ahlusunah wal jamaah terletak pada obyektivitas dan argumentasi ilmiahnya. Pemikiran dan keilmuan aswaja sendiri terus berkembang sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga kini. Namun, pemikiran keilmuan aswaja tersebut kini sulit kokoh dengan merebaknya pengaruh pemikiran Islam politik yang membawa pemikiran keagamaan berbasis kondisi politik di sejumlah negara Timur Tengah dan Asia Selatan. Di tengah maraknya berbagai pemikiran dan gerakan politik Islam, warga NU paling banyak terjebak. Kurangnya tradisi ilmiah pada warga NU membuat pemahaman mereka terhadap berbagai gerakan Islam politik sangat rendah. Kondisi itu diperparah dengan rendahnya kemampuan ulama NU menjelaskan masalah pemikiran Islam politik maupun tradisi NU kepada umatnya. (MZW) [Non-text portions of this message have been removed]
