ASWAJA. "Asal Wajar-wajar Saja". Begitu kira-kira yang berkembang di
kalangan sahabat-sahabat muda NU sekarang. Tentu saja, ungkapan itu tidak
asal *nyeplos *dari gurauan sehari-hari kita. Meski sekilas lucu dan
sarkastik, tapi ungkapan itu begitu berkesan. Karena setelah dipikir-pikir,
ditimang-timang, "kok ada benernya juga ya, ungkapan itu?" kata seorang
sahabat suatu saat.

Praktik asal wajar-wajar saja, ternyata tidak semudah dengan istilah "wajar"
itu sendiri. Sebagaimana saat kita berakting dalam pementasan atau di depan
kamera, berlagak wajar yang disengaja lebih sulit dari berlagak tidak wajar.
Ya, jika kita berakting, kita dituntut benar-benar membayangkan sosok kita
sebagai orang yang kita lakonkan, baik secara pikiran, jiwa maupun raga,
agar kita benar-benar mempresentasikan sosok yang kita bayangkan tersebut.
Dan hasil dari imajinasi tersebut kita akan tampak wajar sebagai karakter
yang kita aktingkan. Berbeda sekali dengan orang yang berakting, tapi meniru
gerak-gerak fisiknya saja. Matanya akan tampak kosong. Gesturnya tak
berenergi. Sangat hambar. Tentu saja, tidak semua orang bisa merasakan itu.
kecuali dia mengerti tentang dunia akting (seperti saya). Begitulah jika
saya teringat dengan teater.

Lalu apakah kewajaran dalam bermadzhab juga seperti itu? Sekiranya
ber-Aswaja dipahami secara ideologis oleh penganutnya, ia akan tampak wajar.
Apa yang dijalankan oleh pengikutnya tampak wajar saja, tapi ada metaenergi
yang, hanya, dapat dilihat oleh orang-orang yang mengerti tentang kehidupan
bermadzhab, tentunya. Bagi kaum awam, seperti saya, tentu tidak terlalu
paham tentang ini. Karena orang awam, seperti saya, pemahaman tentang Aswaja
telah terdistorsi oleh berbagai pemikiran yang berkembang saat ini.
Sedangkan corak-corak pemikiran yang berkembang saat ini tampaknya madzhab
yang tidak jelas ujung pangkalnya. Ada semacam keterputusan sinyal yang
menghubungkan pada jaringan-jaringan yang sangat rumit. Suatu saat kita
mendapati sinyal kuat madzhab Mu'tazilah atau apapun namanya, pada saat yang
lain ia redup dan diterjang madzhab yang lainnya. Saya pribadi merasakan ada
jaringan multimadzhab yang berkelindan di alam lingkungan kita sekarang.
Sampai saya pun merasa lupa dengan ajaran-ajaran parsial Aswaja di masa lalu
saya.

Saat ini, di mana masa kita bergulat dengan berbagai pemikiran, kita
menemukan Aswaja yang begitu kaya. Ajaran yang, bisa dikatakan, holistik
dalam kehidupan. Tapi kita juga merasakan ada penonjolan-penonjolan pada isu
tertentu, semisal fiqh, tapi ada yang sekilas lewat, semisal tasawuf.
Padahal masing-masing isu, mempunyai pemikiran tersendiri yang kaya. Dalam
bidang Fiqh, kita menemukan berbagai pemikiran dan tema. Ada Fiqh Muamalah,
Fiqh Siyasi, Fiqh Nisa' dan sebagainya. Belum lagi bidang Tasawuf, atau
Teologi dan sebagainya. Lalu kita kembali kepada Aswaja yang pembatasannya
begitu luas lagi. Saya pun harus memilih satu diantara mereka yang paling
nyaman di pikiran secara meyakinkan, tentunya. Namun, pikiran kita ternyata
tidak sendirian. Ada pikiran-pikiran lain yang bisa saja menghambat
keyakinan yang nyaman itu. Menghadapi yang demikian, Madzhab Asal
Wajar-Wajar Saja saya kira yang paling relevan.

Pada saat ada tarikan ke kanan, kita sedikit bergeser ke kanan. Pada waktu
ada yang menarik ke kiri, kita pun lengser ke kiri sedikit. Tapi posisi
masih tetap di Tengah. Antara kiri dan kanan. Antara Fundamentalis dan
Liberalis. "Ya sudahlah," kata teman saya. "Takperlu terlalu risau urusan
itu. Tuhan pun Maha Tahu kalau kamu tidak tahu. Wajar-wajar saja," begitulah
pesan teman kepada saya.




On 9/3/07, ahmad shidqi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Kawan-kawan
> Aku mau nanya: Buku "aswaja" Pak Tolhah Hasan yang baru itu penerbitnya
> siapa ya...? Please dech...!
>
> Shidqi
>
> Anis Masduki <[EMAIL PROTECTED] <anismasduki%40softhome.net>>
> wrote:
> Yang akan mengancam aswaja sesungguhnya bukan hanya Islam politik,
> tapi juga politisasi aswaja.
>
> Faktanya banyak elit dan kyai yang berkampanye menyeret aswaja kedalam
> wilayah politik praktis. Walkhasil, kalangan awam jadi tidak mengerti
> wawasan ilmiah aswaja, yang mereka mengerti justru dukung mendukung
> partai dengan pendekatan aswaja yang dangkal.
>
> Yang dikenal dari aswaja kemudian bukan khazanah ilmiahnya akan tetapi
> simbol dan jargon yang sudah dipolitisasi.
>
> Masalahnya juga, selama ini pesantren tidak menyediakan kurikulum yang
> mencukupi untuk mengkaji khazanah pemikiran aswaja dan begitu juga
> sejarah dialektisnya dengan sekte-sekte Islam yang lain. Tidak ada
> desain kurrikulum yang bisa menjamin anak didik mampu membaca secara
> histroris pemikiran aswaja semenjak Abu Hasan Al Asy'ari misalnya, di
> mana secara geneologis aswaja seringkali dinisbatkan kepadanya, sampai
> Hasyim Asy'ari, sebagai konseptor aaswaja versi NU.
>
> Padahal, sudah waktunya dalam internal NU ada generasi yang menguasai
> betul tradisi ilmiah aswaja dan historisitas sekte-sekte Islam. Belum
> lagi harus ada upaya mengembangkan tradisi aswaja dalam konteks
> modernitas.
>
> Salam
>
> --- In [email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com>, "Mukhlisin"
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >
> > Keagamaan
> > Islam Politik Mengikis Kekuatan Aswaja
> >
> >
> > Jakarta, Kompas - Perkembangan berbagai aliran politik keagamaan
> yang berasal dari luar negeri belum mampu diantisipasi warga dan
> pendakwah atau mubalig Nahdlatul Ulama.
> >
> > Akibatnya, pemikiran dan ritual keagamaan NU yang bersumber pada
> ajaran ahlusunah wal jamaah (aswaja) dan bersifat ilmiah tidak dapat
> disampaikan kepada umat dengan tepat.
> >
> > Hadirnya pemikiran Islam politik mulai mengikis kultur keagamaan
> aswaja yang merupakan perpaduan antara nilai Islam dan budaya lokal.
> >
> > "Mubalig NU masih bersifat sebagai orator, belum mampu menjadi dai
> yang memberikan bimbingan dan advokasi," kata Ketua Umum Pengurus
> Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi dalam bedah buku berjudul
> Ahlussunnah wal Jamaah dalam Persepsi dan Tradisi NU karya KH M
> Tholchah Hasan, di Jakarta, Selasa (28/8).
> >
> > Sebagai sebuah pemikiran Islam, kekuatan ahlusunah wal jamaah
> terletak pada obyektivitas dan argumentasi ilmiahnya. Pemikiran dan
> keilmuan aswaja sendiri terus berkembang sejak zaman Nabi Muhammad SAW
> hingga kini.
> >
> > Namun, pemikiran keilmuan aswaja tersebut kini sulit kokoh dengan
> merebaknya pengaruh pemikiran Islam politik yang membawa pemikiran
> keagamaan berbasis kondisi politik di sejumlah negara Timur Tengah dan
> Asia Selatan.
> >
> > Di tengah maraknya berbagai pemikiran dan gerakan politik Islam,
> warga NU paling banyak terjebak. Kurangnya tradisi ilmiah pada warga
> NU membuat pemahaman mereka terhadap berbagai gerakan Islam politik
> sangat rendah. Kondisi itu diperparah dengan rendahnya kemampuan ulama
> NU menjelaskan masalah pemikiran Islam politik maupun tradisi NU
> kepada umatnya. (MZW)
> >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>
> ---------------------------------
> Building a website is a piece of cake.
> Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke